Usai mengikuti upacara pembukaan PTA, seluruh siswa baru diperintahkan untuk masuk ke dalam ruang kelas sesuai dengan sangga mereka masing-masing. Setidaknya ada dua puluh sangga putra dan putri yang nantinya akan bergabung dalam PTA tahun ini. Sangga dibentuk bukan berdasarkan nomor absen kelas, tetapi murni pemilihan random dari panitia. Hal tersebut ditujukan agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain, meskipun tidak dalam satu kelas yang sama.
Anya mengecek daftar nama anggota pada kertas yang tertempel di kaca kelas XII MIPA 2, beharap dirinya dan Nara berada di dalam sangga yang sama. Namun, Anya hanya menemukan namanya tanpa Nara pada sangga lima. Dengan berat hati, gadis itu menarik beberapa tas, masuk ke dalam kelas. Gita—gadis yang pernah mencari masalah dengannya—ternyata berada di dalam kelas yang sama. Semoga mereka hanya bersatu dalam ruangan yang sama, bukan sangga yang serupa.
Sayangnya, entah nasib buruk atau bagaimana, sesaat setelah ia bertanya mengenai siapa pemimpin sangga lima, realita menyebutkan bahwa Gita menjadi pinsanya.
“What the hell?” gumam Anya.
Sebelum akhirnya menaruh beberapa barang bawaan, ia sempat melihat tatapan dan tawa sinis dari gadis itu. Benar-benar menyebalkan.
Apakah mungkin penyatuan mereka akan menjadi rekor baru dalam daftar kesialan Anya?
“Perhatian semua. Untuk seluruh peserta PTA, silakan ke lapangan basket untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.”
Anya mengambil topi koboi berwarna cokelat tua khas anak pramuka, lantas berlari mengikuti teman-temannya yang sudah keluar lebih dulu. Kelas yang Anya tempati berada di lantai satu, tepat di sebelah UKS, berjarak sekitar sepuluh meter dari lapangan basket indoor. Sehingga perlu beberapa menit untuk sampai di tempat tujuan.
Sesampainya di lapangan, Anya menempatkan diri di barisan paling belakang dari sangga lima. Gadis itu tidak tertarik dengan apa pun yang disampaikan oleh panitia. Saking tidak tertariknya, terbesit keinginan untuk pura-pura pingsan. Siapa tahu, ia bisa ditolong oleh Dani—pemuda berseragam korporet lengkap dengan slayer orange berlogo PMI yang kini berada di samping peserta ujung kanan.
***
Anya tahu ini akan terjadi. Sebagai sosok yang dulu pernah berurusan dengan Gita pada situasi yang buruk, Anya sudah menduga hal ini sebelumnya, yaitu perlakuan Gita yang sewenang-wenang. Bagaimana mungkin Anya dan Widya ditempatkan di pos 3 dengan permainan estafet bola, sedangkan ada anggota lain yang berprofesi sebagai atlet maraton? Bahkan setahu Anya, Widya adalah gadis kutu buku yang pasti jarang olahraga.
“Gue sama Widya kan enggak pinter lari. Lo tahu itu. Si Rere yang notabennya sering ikut kompetisi maraton malah lo suruh buat tebak gaya. Gila aja! Keadilan macam apa ini?”
“Di sini siapa yang pinsanya?” tanya Gita dengan angkuh.
“Gue tahu lo pinsa di sini. Tapi, pemimpin harusnya bisa adil. Bisa bagi tugas dengan bener. Bukan serampangan kayak gini!” ucap Anya yang sudah meninggikan suaranya satu oktaf dari sebelumnya.
“Apa lo bilang? Serampangan?” Gita menyorot tajam.
“Lo punya kuping, ‘kan? Lo pasti denger apa yang gue katakan tadi.”
“Lo cuma bawahan, Nya. Ingat! Lo enggak berhak apa pun untuk ngatur-ngatur gue!”
Anya yang hendak mencerca Gita dengan kalimat pedas, mengurungkan niat saat tangan Widya menariknya untuk ke luar kelas.
“Kalau lo berurusan sama Gita, enggak akan ada habisnya. Nanti malah kita yang dianggap buruk oleh kakak bantara. Mending lo ngalah aja, kita usaha dulu.” Widya melepaskan cengkeramannya dari lengan Anya.
“Wid, orang enggak adil kayak dia itu jangan dibiarin. Nanti ngelunjak.”
Widya membenarkan letak kaca matanya, lantas mengangguk paham. “Gue tahu. Tapi, daripada lo membuang tenaga enggak guna, bukannya lebih baik menyiapkan diri buat nanti?”
Anya memalingkan muka dan mengembuskan napas berat. Widya benar. Daripada ia membuang waktu untuk hal yang tak bisa diubah, lebih baik mempersiapkan diri untuk permainan melelahkan nanti.
Jika saja tidak ada Widya, dua orang yang sama-sama keras kepala itu pasti sudah saling jambak atau bahkan dorong satu sama lain. Gita dan Anya sama-sama bukan tipe gadis yang mudah menyerah.
“Lo duduk aja dulu, biar lo lebih tenang,” ucap Widya.
***
“Kamu mau ambil jurusan apa setelah lulus?”
Gadis semampai berbalut seragam pramuka itu meletakkan buku tebal berjudul “TKA TPS SOSHUM UTBK SBMPTN” di atas meja, lalu duduk berseberangan dengan pemuda yang masih berusaha mencari nilai x dan y dari soal UTBK tahun lalu.
“Aku masih bingung, Tha.”
Gadis yang dipanggil Tha itu seketika berdecak. “Padahal sebentar lagi ada pendaftaran SNMPTN, bisa-bisanya belum tahu mau masuk jurusan apa.”
“Masih lama. Masih lima bulan lagi.”
“Lima bulan itu cepet banget Arga, Sayang,” jawabnya dengan gemas.
“Lumayan lah lima bulan buat mikir mau ambil jurusan apa.” Detik selanjutnya, Arga mengeluh keras sambil membanting pensilnya ke atas buku. Sepuluh menit berlalu, ia tak kunjung menemukan nilai x dan y. Pemuda itu mundur hingga bersandar pada rak buku di belakangnya. “Kalau masalah angka gini, aku kayaknya harus belajar banyak dari Anya.”
“Agatha juga bisa,” ucap gadis itu dengan lembut.
Arga memajukan tubuhnya kembali, mengikuti arah pergerakan tangan Agatha di atas kertas. Ia juga sesekali mencuri pandang.
Di mata Arga, pacarnya nyaris tidak memiliki celah. Agatha cantik luar dan dalam. Gadis itu bukan hanya memiliki otak yang cerdas, tetapi juga attitude yang sangat baik. Tak heran, ia sering merasa tidak pantas bersanding dengan gadis itu. Agatha begitu sempurna untuk dirinya yang biasa saja.
“Kenapa kamu enggak masuk kelas IPA? Secara, matematika aja kamu lahap sampai habis,” tanya Arga yang entah keberapa kali kepada Agatha.
“Kamu udah tahu jawabannya, 'kan? Itu pertanyaan ke lima puluh enam yang kamu lontarkan ke aku.”
Agatha yang sudah berhasil menemukan jawaban dari soal Arga, kembali melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda. Membuat Arga hanya terkekeh sembari mengacak rambut pacarnya gemas. “Thanks.”
“Btw, hari ini ikut ekskul modelling?”
“Iya. Kamu pulang duluan aja. Nanti biar supir yang jemput,” jawab Agatha tanpa menoleh.
“Aku juga masih ada latihan band. Sekalian pulang bareng aja. Kata mamamu, ‘Berani ngambil artinya juga harus ngembaliin’, bukan?”
Agatha sontak mencebik. “Kamu kira aku barang sampai dikembalikan segala?”
“Bukan, sih, lebih tepatnya bidadari tanpa sayap. Soalnya udah cantik, hatinya juga bersih.”
“Gombalan kamu enggak pernah ganti. Bosen ah.”
Arga lagi-lagi terkekeh. “Kamu jadi ambil manajemen?”
“InsyaAllah.”
“Kenapa harus manajemen? Bukannya kamu suka geografi? Enggak related banget loh, Tha.”
Geografi adalah salah satu alasan mengapa Agatha lebih tertarik bergabung di kelas sosial daripada sains, Arga tentu tahu itu. Bukankah aneh jika gadis itu akan mengambil jurusan yang sama sekali tidak relevan dengan apa yang selama ini ia sukai?
“Aku merasa sudah cukup puas mendapatkan geografi di SMA. Aku mau mencoba hal baru. Keluar dari zona nyaman. Bukankah dalam hidup, kita harus berani mengambil tantangan?”
Jawaban Agatha memang selalu logis, tetapi entah kenapa tidak memuaskan untuk Arga. Agatha bucin terhadap geografi. Saking bucinnya, gadis itu rela mengabaikan dirinya untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan geografi. Bahkan selama dua tahun ini, pacarnya sering menjuarai perlombaan geografi.
“Aku bahkan masih ingat waktu pertama kali MOS, kamu ingin menjadi guru geografi, kamu ingin menunjukkan ke seluruh dunia bahwa bumi itu memiliki banyak hal yang menarik dan harus dijaga.”
Agatha tampak menghela napas panjang, seperti tengah berusaha menurunkan beban tak kasat mata yang tengah ia pikul. “Impian juga bisa berubah, Ar.”
Hampir tanpa celah, berarti Agatha masih memiliki kekurangan. Dan inilah kekurangan gadis itu, enggan untuk membagi perasaan dan cenderung menikmati rasa sakit sendirian.
Meski tak pernah mengungkapkan kesedihan pada Arga, tetapi pemuda itu cukup peka bahwa ada hal yang tak baik-baik saja di balik perubahan halauan impian Agatha.
“Nanti mampir ke rumah sebentar gimana? Mama kangen sama kamu,” ucap Arga untuk mengganti topik pembicaraan, menghilangkan atmosfer aneh di antara mereka.
Agatha lantas tersenyum dan mengangguk kecil. Ia juga merindukan Tante Kirana.
Tbc.