Anya membungkuk dan menyentuh kedua lututnya dengan napas yang terengah. Ia tak berhenti bermonolog dalam hati karena permainan yang tak kunjung selesai. Dari sepuluh bola yang harus dirinya dan Widya pindahkan, mereka baru sampai pada bola kelima, yang artinya masih perlu usaha keras agar bisa mengakhiri permainan.
Dalam posisi ini, Anya merapalkan sumpah serapah pada dirinya karena tidak mau olahraga sejak liburan tiba. Jiwa-jiwa rebahan yang menariknya kuat, memberikan efek mengesalkan seperti ini.
“Kurang lima lagi. Ayo lebih semangat!” teriak kakak kelas yang Anya yakini sebagai dewan ambalan, memakai topi yang berbeda dari bantara lainnya.
Meski sebenarnya teriakan tersebut sejatinya untuk membuat Anya dan Widya semangat, tetapi di telinga Anya justru terdengar seperti ejekan.
Lima menit berlalu, permainan estafet bola tinggal selangkah lagi selesai. Anya menggenggam kuat bola plastik di tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga agar segera sampai di tempat tujuan. Namun, sekitar beberapa detik setelah ia berlari, tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga jatuh dengan posisi tengkurap.
Hal tersebut mengundang teriakan dari tiga orang yang berada satu tempat dengan Anya. Mereka tak kalah terkejut saat mengetahui dagu gadis itu mengeluarkan darah.
Rasa perih menjalar di dagu Anya, membuat matanya turut memanas hingga mengeluarkan air mata.
Dani yang kebetulan lewat langsung mendatangi kehebohan yang terjadi di pos tersebut. Ia dengan cekatan mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka darah agar tidak keluar terlalu banyak. Pemuda itu lantas memapah tubuh Anya untuk pergi ke UKS.
“Kak Dani tunggu, teman saya ada pingsan di pos lima.”
Langkah Dani terhenti ketika suara berat yang tersengal-sengal itu mengintruksi.
Dani menimang ragu. Satu sisi, ia tak bisa meninggalkan Anya di sini, yang jelas-jelas butuh bantuannya. Namun di sisi lain, ia tentu tak bisa mengabaikan korban pingsan. Ia tidak memperkirakan keadaan rumit seperti ini sebelumnya, sehingga berani untuk mengirimkan anggota PMR lain untuk berjaga di pos permainan luar sekolah.
“Biar gue yang bawa Anya ke UKS. Lo ke pos lima aja.” Raihan mendadak muncul dan menawarkan diri. Meski sempat terjadi rasa canggung di antara keduanya, Dani tetap tak bisa menolak.
“Oke.”
Jika saja dalam kondisi normal, Anya pasti lebih memilih menahan Dani daripada harus berurusan dengan Raihan. Toh, anggota PMR juga banyak, bukan Dani saja. Sayangnya, Anya tak diberi kesempatan untuk mengomel karena dagunya nyeri. Ia juga tidak mau memperparah keadaannya sendiri dengan tetap berdebat di tempat ini.
Sesampainya di UKS, Anya duduk di bibir brankar dengan kaki masih menjuntai ke lantai, sedangkan Raihan membersihkan luka gadis itu dengan berdiri.
“Beneran lo bisa mengobati gue? Jangan asal-asalan.”
“Diam. Udah tahu luka, masih aja cerewet.”
Anya sesekali meringis, tetapi tak lagi membantah saat Raihan mengobati lukanya. Dalam posisi sedekat ini, Anya menjadi semakin penasaran mengenai siapa Raihan yang sebenarnya? Kenapa pemuda itu memiliki tatapan yang sangat familier? Apakah mungkin mereka pernah berada di masa lalu yang sama? Namun, masa lalu seperti apa? Anya sama sekali tak menemukan setitik jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.
“Lo masih inget kan kalau hidup itu harus ada aturan? Biar lo enggak jatuh-jatuh mulu kayak gini.”
Pertanyaan Anya kembali menguap tanpa jawaban karena suara Raihan. “Katanya harus menaati peraturan. Kok manggilnya udah lo-gue?”
“Lo lupa MOS udah berakhir? Nggak ada aturan kayak gitu lagi.”
Anya menghapus sisa air matanya. “Oh.”
“Kenapa bisa jatuh?”
“Kenapa kepo?” Anya balik bertanya.
Raihan membuka etalase UKS, meletakkan kotak P3K ke tempat semula.“Jangan lupa ganti kasa rutin.”
Tak ada basa-basi lebih lanjut, Raihan meninggalkan Anya sendirian.
“Lah, dia pergi gitu aja? Nyebelinnya enggak pernah hilang. Dasar.” Padahal, jauh di lubuk hatinya paling dalam, Anya ingin Raihan bertanya kembali.
Anya membaringkan tubuh setelah punggung Raihan sudah tak terlihat. Ia menghela napas pendek sambil menerawang kejadian sebelum dirinya jatuh tengkurap. Setahu Anya, jalanan tempat ia berlari bebas dari bebatuan atau sampah. Ia juga sudah memastikan bahwa setelah jatuh tadi, tali sepatunya tidak lepas.
Jadi, apa alasan dirinya kehilangan keseimbangan seperti tadi?
Apa ada makhluk halus yang mendorong tubuhnya?
Anya bergidik ngeri. Pikirannya benar-benar absurd. “Mana ada makhluk halus yang berani mendorong gadis cantik kayak gue?” pikir Anya.
Namun, apa pun alasannya, Anya memang harus lebih berhati-hati. Malu rasanya jika ia terus menerus jatuh tidak feminim seperti itu.
***
“Tumben lo peduli sama orang lain,” ucap Fero tegas.
Dibanding dengan Fero yang ingin mengetahui isi pikiran Raihan mengenai insiden jatuhnya Anya, Verrel lebih memilih diam dengan tangan yang tak berhenti memainkan bola basket.
Fero dan Verrel bukan bantara, mereka hanya bertamu demi bertemu Raihan. Namun, saat mereka berjalan menuju lapangan basket, peristiwa mengejutkan terjadi. Keduanya tak sengaja melihat Raihan memapah tubuh Anya ke UKS, bahkan sampai mengobati gadis itu.
Sesuatu yang tidak pernah Raihan lakukan kepada perempuan asing mana pun.
“Gue cuma kasihan. Apalagi posisinya Dani juga harus ngurus adek kelas cowok yang pingsan. Gue kebetulan lewat terus nolongin.” Raihan tak sepenuhnya berbohong. Ia memang tak sengaja lewat dan menolong demi rasa kemanusiaan. Namun, tentu ada alasan lain mengapa Raihan tak berpikir dua kali untuk menawarkan diri. “Sebenarnya ada alasan lain juga, sih.”
“Gue udah yakin pasti ada udang di balik bakwan,” ungkap Fero.
“Gue sebenarnya pengen tahu alasan gadis itu jatuh. Manusia normal pasti kalau jatuh tengkurap gitu, tangannya refleks menyangga tubuh. Anya enggak. Alhasil, dagunya berdarah.”
“Artinya Anya enggak normal?” Verrel ikut berpikir.
“Parah lo, Rai. Anya yang cantik, imut, pintar, manis gitu masa enggak normal? Mengada-ada aja lo. Benci sama adik kelas boleh, tapi jangan sampai fitnah kalau Anya enggak normal, dong.”
Jika bukan sahabat, Raihan sudah menendang kaki pemuda itu dengan keras. “Bukan gitu maksud gue.”
“At least, gue setuju dengan cara berpikir lo, Rai.” Bola basket yang semula ada di tangan, ia buang hingga mengenai dinding lapangan basket, memantul berulang kali. “Tindakan impulsif seseorang saat jatuh, tangan pasti refleks sebagai penyangga tubuh.”
Fero yang mulai paham dengan alur pembicaraan mereka, bertanya, “Lo enggak niat tanya gitu sama dia?”
Raihan mengedikkan kedua bahunya. “Udah lah, enggak penting. Mending kalian pergi dari sini. Sebelum gue panggil keamanan.”
Raihan bangkit sembari memakai baretnya lagi, lantas keluar dari lapangan basket. Ia sudah tidak mau pusing dengan keadaan orang yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.
***
Suasana jauh dari kata tenang tengah menyelimuti malam Anya. Setelah kembali ke dalam kelas, yang pertama kali ia dengar bukanlah kalimat prihatin atas insiden yang menimpanya justru omelan panjang yang menyalahkan. Gita mencerca dirinya dengan rentetan kalimat yang menyudutkan dan menuduh seolah-olah insiden jatuh tadi adalah rekayasa. Padahal, tidak ada manusia normal yang mau melukai diri sendiri hanya untuk mendapat perhatian orang lain. Tidak ada.
Widya sudah mencoba menjelaskan, tetapi Gita seolah buta dan tuli enggan untuk melihat dan mendengar fakta yang ada.
“Gue juga mau sangga kita menang. Bukan lo aja,” bela Anya.
“Tapi, karena lo jatuh, sangga kita jadi dapat nilai jelek. Lo tahu itu, 'kan?”
“Gue harus ngulang berapa kali, sih? Gue enggak tahu kenapa tiba-tiba bisa jatuh. Kalau pun gue sengaja, gue enggak akan milih jatuh dalam posisi jelek kayak gitu. Lo enggak ngerti kan perihnya dagu gue?” Anya menatap Gita dengan sinis. Sepertinya memang tidak akan pernah ada kata baik-baik saja di antara keduanya.
“Tetep aja lo yang salah!”
“Kalian mau berantem apa ikut acara api unggun?”
Katya berdiri, bersandar pada pintu dengan tangan bersedekap di depan d**a. Ia melihat Anya dan Gita secara bergantian dengan tatapan tak terbaca. “Padahal baru semalam. Kalau seandainya gue enggak datang, mungkin kalian bisa saling mencekik. Ada kalanya mengalah itu perlu. Karena hidup bukan cuma tentang keegoisan.”
Begitulah kalimat Katya sebelum gadis itu menjauh dari kamar mereka. Anya sempat takjub dengan kalimat rapi yang keluar dari mulut kakak kelasnya itu, sebelum meninggalkan Gita.
Tbc.