PTA berakhir, tetapi pemenang sangga terbaik akan diumumkan pada upacara bendera besok Senin. Seluruh peserta diperbolehkan untuk pulang, sehingga sudah banyak para orang tua yang berlalu lalang untuk menjemput anak mereka. Beberapa SIBA merasakan bahwa PTA memberikan pengalaman baru untuk mereka yang ingin mandiri, jauh dari keluarga, tetapi sebagiannya lagi justru menganggap kegiatan ini hanya membuat lelah.
Usai melewati pintu gerbang, Anya membuka topi pramuka dan menggantungkannya di lubang untuk memasukkan sabuk. Ia tampak mengedarkan pandangan untuk memastikan bahwa kakaknya menjemput tepat waktu. Karena demi apa pun, Anya paling tidak suka menunggu, apalagi berdiri seperti sekarang. Tempat duduk permanen di depan gerbang sisi kanan dan kiri sudah penuh dengan siswa-siswi yang berwajah penat.
Ia mengecek ponsel, tetapi hanya mendapati tanda centang biru dari WA kakaknya.
Anya
[Bang, udh nyampe blom sih?]
[Panas nih]
[Anya jg udh cape]
[Bang, ayo dong jemput]
[Anya gk kebagian tempat duduk nih]
[Suka ya liat adiknya kakinya gedhe?]
[Bang!!]
“Belum dijemput juga, Nya?”
Anya segera mengantongi ponselnya kembali, lantas menoleh ke orang tersebut.
“Belum. Kayaknya abang gue masih sibuk deh,” ungkap Anya sedih.
“Lo mau bareng gue?” ajak gadis yang Anya ketahui bernama Tri Feraya.
“Enggak usah. Lo duluan aja. Gue masih bisa nunggu, kok.”
“Oh, oke. See ya.”
Anya mengangguk dan memperhatikan langkah Tri menuju mobil jemputan. Setelah tubuh gadis itu sepenuhnya masuk mobil, Anya kembali mengedarkan pandangan, berharap ada kakaknya di antara semua orang. Namun, ternyata masih nihil. Ia pun mendengus pelan. Seolah tak kehilangan akal, Anya mengambil kembali ponselnya dan menekan tombol dial untuk menghubungi ponsel kakaknya.
“Angkat kenapa sih? Punya Kakak sombong banget enggak mau angkat telpon adiknya,” gerutu Anya.
“Siapa yang kamu bilang sombong?”
Suara berat itu membuat tangan Anya menurunkan ponsel dari telinga. Ia seketika menyengir saat mengetahui orang yang paling ia tunggu sudah berada di depannya.
“Bukan siapa-siapa, kok.”
“Gue curiga lo diam-diam selalu ngomongin gue di belakang.”
Arga menurunkan tinggi badannya untuk sejajar dengan Anya dan menyipitkan mata penuh selidik.
“Apaan sih. Enggak penting. Pulang aja ah, gue capek.”
“Dagu lo kenapa?”
“Nanti gue ceritain. Yang penting kita pulang dulu. Gue udah rindu kamar dan kasur yang empuk.”
Tanpa memedulikan perasaan cemas dan penasaran kakaknya, Anya langsung membuka pintu belakang mobil dan masuk.
“Heh, barang-barang lo enggak lo masukin ke bagasi?”
“Punya Kakak gunanya buat apa?”
Arga mendengus kesal. Ia mau tak mau harus memasukkan semua barang Anya ke bagasi mobil sendirian.
Arga menutup pintu mobil, lalu memposisikan diri senyaman mungkin sebelum memakai seat belt. “Duduk depan! Gue enggak mau jadi supir lo.”
“Ogah. Gue mau tidur bentar. Lumayan lima belas menit,” ucap Anya penuh semangat.
“Gue masukin juga lo ke kandang buaya.”
“Gue udah masuk kandang buaya kali. Kan lo buayanya.”
Arga mengambil kotak tisu dari dashboard, lalu melempar ke belakang. Tepat kotak tisu mendarat mulus, suara teriakan Anya terdengar. Membuat pemuda itu tertawa keras. “Makanya jangan rese jadi adik. Agatha itu selamanya akan jadi satu-satunya.”
***
Bukan Anya namanya jika tidak membuat keributan di rumah. Tepat gadis itu menginjakkan kaki di lantai rumah, ia sudah berteriak memanggil Mama seakan-akan Mama berada di rumah tetangga.
“Bisa enggak sih jadi cewek yang alus dikit.”
Arga tampak kesusahan membawa tiga tas yang menjadi barang bawaan Anya selama dua hari PTA. Ia memang tak tahu isinya, tetapi Arga yakin bahwa adiknya pasti membawa barang-barang sebenarnya tidak terlalu penting, contohnya boneka doraemon.
“Gue kalem nanti malah lo bingung,” sungut Anya. “Mama mana sih? Apa jangan-jangan pergi ke mini market?”
Arga tak menjawab lagi. Punggung pemuda itu hilang tepat memasuki kamar Anya di lantai dua.
Akhirnya Anya memilih untuk mengecek ponselnya. Satu notifikasi pesan dari Nara muncul, membuat gadis itu buru-buru membukanya. Satu video yang dikirim Nara berhasil mengerutkan dahi Anya.
Sambil menunggu download video selesai, ia menaruh ponsel di atas meja dan memilih duduk di sofa. Dengan malas, ia membuka sepatu hingga menselonjorkan kakinya.
“Ngapain lo senyum-senyum gitu?” tanya Arga saat melihat Anya tertawa pelan di depan layar ponsel.
“Kepo lo kayak dora.”
Tak menyahut lagi, Arga lebih memilih berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman dan camilan, jika ada.
“Assalamualaikum.”
Anya seketika menurunkan kakinya dan menoleh ke arah pintu. Di sana menampilkan wanita anggun yang sangat Anya kenal. Tanpa berpikir lagi, gadis itu segera berlari dan memeluk wanita itu.
“Anya kangen sama Mama.”
Anya memang tipe gadis manja yang tidak bisa jauh dari Bunda. Terbukti baru dua hari tidak bertemu dengan Kirana, Anya sudah merengek seperti sekarang.
“Lebay,” cibir Arga. Pemuda itu tanpa rasa bersalah segera meraih remote dan menyalakan televisi. Daripada melihat adegan adiknya yang super duper manja itu, lebih baik ia menonton serial televisi yang mungkin lebih berfaedah.
“Loh, dagu kamu kenapa? Kok diperban gitu?”
“Cuma jatuh aja kok, Ma. Kemarin pas estafet bola, Anya tiba-tiba aja jatuh tengkurap. Terus dagunya berdarah deh.”
“Astagfirullah, kenapa enggak hati-hati, sih? Pasti sakit banget ya.”
“Hehe, udah enggak, kok. Lihat Mama langsung ilang rasa sakitnya.” Anya menyengir padahal ekspresi Mama sangat khawatir.
“Lo memang ceroboh tingkat akut ya, Nya. Estafet bola aja sambil berdarah-darah gitu.”
“Yaudah kamu mandi. Nanti Mama akan ganti perban kamu. Mama juga mau lihat lukanya sedalam apa.” Kirana melepaskan kedua tangan putrinya. “Mama mau masak dulu.”
Sebelum pergi, Mama mengecup puncak kepala Anya seperti biasanya. Satu langkah Mama menjauh, Anya justru berlari kemudian kedua tangan dilingkarkan di pinggang dan pipi kanan bersandar punggung Mama. Walau sempat berhenti sejenak, tetapi Mama masih melanjutkan perjalanan dan Anya mengikuti dengan posisi yang tak berubah.
Dalam posisi ini, Anya dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi jengah kakaknya. Ia tersenyum puas.
Namun setelah Anya sudah sampai dapur, Arga diam-diam menggeleng dan mengulun senyum. Walau adiknya usil, bawel, bar-bar, tidak tahu malu, sering mendoakan yang jelek untuknya, Anya tetaplah seorang gadis yang sangat berharga di hidupnya. Ia bahagia, dan bangga memiliki gadis itu. Tak bisa dipungkiri bahwa ia sangat menyayangi Anya. Ia bahkan tidak segan menunjukkan ekspresi khawatir jika saja Anya terluka, seperti tadi. Meski pada akhirnya, ia harus mendengus karena sikap adiknya itu yang tak karuan menyebalkan.
Sikap Anya yang begitu childish, seringkali membuat satu keluarga harus benar-benar over proctetive. Apalagi, akhir-akhir ini mereka sering melihat luka-luka di tubuh Anya karena kecerobohan gadis itu yang sering kehilangan keseimbangan. Hanya saja, Anya suka dengan kepedulian semua orang. Gadis itu sama sekali tak pernah mempermasalahkan teguran-teguran dari orang yang dekat dengannya. Karena menurut Anya, mereka sering mengomel, berarti mereka juga memiliki rasa sayang yang begitu dalam padanya.
Tbc.