“Lo enggak mau berangkat sama gue?”
Raihan mengenakan sepatu hitam polet putih tanpa menoleh ke orang yang ia ajak bicara.
“Enggak. Lo tahu lah alasannya.”
Pemuda itu langsung mengangguk. Ia tentu tahu alasan adiknya selalu menolak ajakan untuk berangkat bersama.
“Gue enggak mau karena ketahuan kalau lo kakak gue, banyak fake friend yang deketin gue demi mendapat perhatian lo.”
Raihan cukup terkenal di sekolahnya karena pemuda itu aktif dalam organisasi dan ekstrakulikuler. Bukan hanya itu, Raihan juga memiliki fisik yang bisa dikatakan hampir sempurna. Jadi, siapa gadis yang akan menolak pesona Raihan? Rasanya tidak ada. Itulah mengapa adiknya enggan untuk mengakui diri sebagai adik Raihan. Bukan karena ia merasa tidak pantas, tetapi ia tidak ingin seseorang berteman dengannya karena ingin mencari muka pada Raihan. Lagi pula, sebuah hubungan tidak akan rusak hanya karena tidak diberitahukan kepada semua orang, bukan? Asal mereka saling menyayangi dan menjaga tanpa orang lain ketahui, sudah lebih dari cukup untuknya.
“Gue duluan. Sampai jumpa di sekolah.” Ia menunjukkan senyum terbaik kepada Raihan.
Gadis itu mengambil tasnya dari meja meja ruang tamu lantas mendahului langkah Raihan untuk menuju Papa yang sibuk membaca koran di halaman rumah dan Mama yang menyiram tanaman.
“Ma, Pa, aku berangkat ke sekolah dulu ya.”.
Ia menyalami Papa dan Mama bergantian.
“Loh, enggak bareng sama Kakak lagi?”
“Enggak lah, enakan naik ojek.”
Mama seketika terkekeh. Anak gadisnya ini memang aneh, jika gadis seusianya memilih naik mobil, anaknya justru lebih suka ojek dan panas-panasan.
“Kamu memang ada-ada aja.”
Usai gadis itu keluar dari pintu pagar, gantian Raihan yang pamit kepada kedua orang tuanya.
“Adikmu masih males mengakui kamu sebagai Kakak?” ucap Papa dengan intonasi jenaka.
“Begitulah.”
Papa dan Mama juga mengetahui alasan mengapa gadis itu tidak mau mengakui Raihan sebagai Kakak di sekolah. Meski begitu, selagi keduanya sama-sama nyaman, mereka tidak akan mengekang apa pun.
“Tumben Papa masih santai di rumah. Lagi libur?”
“Bentar lagi mau siap-siap. Masih menikmati pemandangan indah di depan.”
“Mama?”
“Benar sekali.”
Raihan memutar bola matanya malas. Meski sudah berumur setengah abad, Papa memiliki jiwa yang sangat muda.
“Jadi, koran itu hanya sebagai formalitas?”
Papa memukul lengan Raihan pelan, seakan-akan malu karena ketahuan oleh anaknya.
***
Sekitar seratus calon OSIS yang terdiri dari kelas 10 dan 11 berbaris di lapangan voli hanya untuk mengambil formulir pendaftaran OSIS. Tak peduli dengan terik matahari menyengat kulit mereka. Sudah hal lumrah di Bima, OSIS menjadi salah satu organisasi favorit yang banyak peminatnya. Karena bagi beberapa orang, organisasi ini termasuk organisasi yang dapat meningkatkan popularitas. Dengan menjadi bagian dari OSIS, mereka lebih dikenal. Lebih-lebih saat penerimaan siswa baru, dijamin mau tidak mau SIBA harus mengenali anggota OSIS karena challenge meminta tanda tangan.
“Lo beneran enggak ikut? Bukannya dari awal lo pengen banget masuk OSIS?”
Anya mengaduk-aduk minumannya menggunakan sedotan. “Enggak ah. Ada Kak Raihan. Males gue.”
“Dih, kenapa? Kak Raihan baik tahu.”
Anya menghentikan aktivitas mengaduk dan memilih untuk melipat tangan di meja dengan tatapan yang masih mengarah ke lapangan voli. Kebetulan letak kantin Bima dekat dengan lapangan voli.
“Baik dari mana? Kak Raihan itu terlalu disiplin jadi orang. Lo tahu kan kalau gue ceroboh? Bisa-bisa pas lihat muka gue, dia auto nolak.” Anya menyentuh dagunya yang terkadang masih terasa berdenyut.
“Dia kayak gitu karena dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Makanya dia selalu hidup dengan aturan. Karena menurutnya, sekali aturan dilanggar, hidup akan sulit dikendalikan.”
Anya seketika menatap Nara dengan tak percaya. “Lo apanya Kak Raihan? Kenapa bisa tahu sedetail itu?”
Nara tampak gelagapan seperti orang yang ketahuan nyolong ayam.
“Lo suka sama Kak Raihan?” selidik Anya hingga mendekatkan wajah ke arah Nara.
Melihat tatapan aneh Anya, Nara segera mendorong dahi gadis sahabatnya itu menggunakan telunjuk. “Ngaco!”
Anya masih enggan menurunkan ekspresi penasarannya. “Terus?”
“Ya .... ” Nara berusaha mencari jawaban yang masuk akal. “ya karena Kak Raihan sering digosipin sama anak-anak sejak gue SMP. Kita juga pernah satu SMP.”
Meski belum sepenuhnya percaya, tetapi Anya menerima jawaban tersebut. Lumayan masuk akal.
Sedangkan di dalam ruang OSIS, Raihan masih membaca beberapa berkas yang dikumpulkan calon anggota OSIS.
“Ya ampun, penggemar OSIS masih aja sebanyak ini,” keluh Cia yang juga anggota OSIS melihat beberapa berkas yang belum ia baca menumpuk di mejanya.
“Gue rasa tahun ini lebih banyak deh daripada tahun lalu.” Hana tak kalah berseru penat. Pasalnya sudah dua jam lebih dirinya, Raihan dan Cia mengecek berkas, belum kunjung selesai.
Pemberkasan ini merupakan tahapan utama calon anggota OSIS sebelum masuk di sekolah organisasi dan wawancara. Karena berkas yang membludak, ketiganya yang kebagian seleksi berkas harus berulang kali meregangkan otot.
“Gue udah selesai. Sini gue bantu.”
Raihan meletakkan berkas yang tidak lolos di bawah meja.
Baik Cia dan Hana seketika tersenyum senang kemudian mengambil beberapa berkas di meja mereka untuk dialihkan ke Raihan. Mungkin alasan ketua OSIS memilih Raihan dalam seleksi pemberkasan karena kerja pemuda itu yang cepat sekaligus cermat.
“Gue selalu suka kerja sama lo. Ngebantu banget,” ucap Hana sambil meletakkan map-map berwarna biru itu di meja Raihan.
“Pilih aja yang sekiranya ada embel-embel 'disiplin'. Terus kupas tuntas pas wawancara,” ucap Raihan santai. Ia kemudian mulai membaca lagi map-map yang sudah diserahkan Hana dan Cia.
“Gue sih milih kalau ada keterangan dia pernah ikut organisasi sebelumnya,” ungkap Hana.
“Kalau gue lebih ke arah gimana mereka menuliskan diri mereka apa adanya sih. Karena menurut gue, mau atau tidaknya mereka bekerja sama, pertama kali harus menghargai diri sendiri. Salah satunya jujur tentang diri mereka.”
“Emang lo tahu mana yang jujur dan enggak?”
“Kalau lewat tulisan paling yang dia jabarin kelemahan dia juga. Bukan kelebihannya aja.” Cia menutup map terakhir yang sudah ia cek. “Lagian gue juga bakal ikut di wawancara, gue kan bisa mendengarkan kata hati orang.”
“Jangan baca hati gue, Ci. Gue enggak suka privasi gue lo ganggu.”
Suara Raihan seketika membuat Cia tertawa keras. “Tenang aja. Gue penyimpan privasi yang baik.”
“Juga penyimpan rasa yang baik,” ungkap Hana, membuat Cia seketika melotot.
“Tenang aja Kevin bukan anak OSIS. Jadi, lo aman.”
Untung saja jarak tempat duduk Cia dan Hana lumayan jauh, jika tidak, Cia pasti akan melakban mulut Hana dengan sempurna. Bagaimana mungkin gadis itu enteng sekali mengatakan mengenai perasaan terpendamnya di depan orang.
“Oh, jadi Kevin SIBA itu? Anak kelas MIPA 4.”
Raihan mengambil satu tumpuk di meja Cia dan satu tumpuk map di meja Hana. Kemudian menyatukan atau menumpuk dengan map yang sudah ada di mejanya.
“Rai, plis jangan bocor ya. Jangan kayak Hana.”
“Sans.”
Cia kontan menghela napas lega lantas menatap Hana dengan tajam. Membuat Hana menyengir dan mengangkat kedua tangan dengan jari membentuk huruf “V”.
Raihan bukan tipe pemuda yang dingin, tetapi bukan juga pemuda yang slengekan. Jika ada yang biasa saja di dunia ini, maka seperti itulah sikap Raihan. Bisa dibilang, Raihan bisa menempatkan posisinya sesuai keadaan. Ketika ia diharuskan berpidato, maka ia bisa berbicara panjang lebar. Namun, jika ia diharuskan untuk pendapat, maka ia bicaranya seadanya. Bisa menjadi pendiam jika ia membutuhkan ketenangan. Bahkan Raihan bisa berubah menjadi cerewet, galak jika sudah menyangkut hal yang tidak seharusnya terjadi. Hanya saja, satu hal yang jarang orang lain suka darinya, adalah terlalu disiplin dan hidup di bawah aturan.
Tbc.