Perkenalkan, namanya Ellian, lebih tepatnya Ellian Anggara. Ia adalah seorang pemuda tampan yang berusia 22 tahun yang kini sedang menempuh pendidikan S1 nya di Universitas Indonesia. Ellian merupakan siswa yang ramah dan mudah bergaul, sehingga ia memiliki banyak teman hampir disemua fakultas yang ada di kampusnya. Namun, tidak ada yang menyaka bahwa Ellian yang pandai berbicara itu, tidak mampu mengungkapkan perasaannya kepada Natasha Arumi teman sekelasnya.
Seorang Ellian Anggara memiliki tujuh orang sahabat.Mereka adalah Henry, Juno, Fauzy, Hannah, Airin, termasuk Arumi.Walaupun diantara mereka ada yang tidak satu jurusan, mereka tetap berteman baik dan memiliki banyak kesamaan.
Pagi itu, Ellian berangkat ke kampusnya menggunakan motor matic berwarna hijaunya. Setibanya di parkiran ia berpapasan dengan Fauzy mantan Arumi. Walaupun Fauzy sudah lama putus dengan Arumi, terlihat jelas bahwa ia masih memiliki perasaan kepadanya. Hal itu juga yang membuat Ellian sedikit tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Arumi, melihat sahabatnya masih menyukainya.
“Hai!Ell, lo udah liat berita terbaru dari kampus nggak?” Tanya Fauzy setelah ia memarkirkan motornya lalu berjalan disamping Ell.
“Emangnya ada berita apa? Kalau berita tentang lo jatuh dari tangga kantin, gue udah tahu” jawab Ell, yang membuat Fauzy tertawa.
“Bukan itu, ini tentang study tour ke Australia.Kemarin, pak June ngumumin di grup angkatan. Katanya study tour ini, hanya memberikan kuota untuk sepuluh orang mahasiswa semester lima”
“Gue sama Henry, dan Juno mau ikut. Lumayan, persiapannya juga masih ada seminggu lagi. Kalau lo gimana?” Tanya fauzy setelah ia meneguk air putih yang ia bawa.
“kalau gue, belum daftar aja udah yakin bakal gak lolos Zy, secara otakku dan otak kalian kan beda jauh banget” balas Ell yang merasa tidak yakin dengan kemampuannya. Ellian bukan tidak pandai dalam bidang akademik, ia tidak ingin menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang membuatnya terlalu sibuk. Selain Ia sibuk dengan kegiatan organisasinya, Ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang sebagai mahasiswa.
“Ayolah Ell, lagian yang ditawarin duluan sama pak June kan kamu. Itu artinya, pak June percaya sama lo, dan yang serunya lagi Arumi, Amel, dan Hannah bakal daftar juga” Jelas Juno yang tiba-tiba muncul diantara mereka. “siapa tau kita lolos, kan bisa sekalian belajar sambil liburan bersama-sama”. Sementara Ell hanya terdiam, ia masih mempertimbangkan tawaran itu. Namun, setelah mendengar bahwa ketujuh sahabatnya tertarik mengikuti study tour itu, akhirnya Ell ingin mendaftarkan diri.
Sesampainya di kelas, Ellian bertemu dengan Arumi, dan Airin. Walaupun Ellian menyukai Arumi, ia tetap berusaha bersikap senormal mungkin.
“yaaakk… ngapain ditarik-tarik? pada mau kemana?” Tanya Ell yang baru duduk dikursinya, namun secara tiba-tiba Arumi menariknya keluar kelas, diikuti oleh Arumi.
“Kita dipanggil pak June. Katanya ada hal penting”. Ellian melirik Arumi, berharap Ia bisa memberikan jawaban. Namun, yang dilirik hanya mengangkat bahunya, kemudian mengikuti Airin yang sudah berjalan lebih dulu ke ruangan pak June. Dosen, PA mereka.
Arumi adalah anak seorang dokter ternama di salah satu rumah sakit Jakarta.Ia pertama kali bertemu dengan Ellian saat mereka mendaftarkan diri di kampusnya. Ia berpacaran dengan Fauzy saat mereka duduk dibangku SMA.
Setelah naik semester dua ia mengakhiri hubungannya dengan Fauzy. Walaupun sudah putus, hubunganya denga fauzy masih begitu akrab sebagai seorang sahabat katanya. Diantara mereka berdelapan, Ellian, Amel, dan Arumi yang baru menjalin persahabatan saat mereka pertama kali bertemu dalam kelas perkuliahan.
Sesampainya di ruangan Mr. June sudah ada Juno, Fauzy, Henry, Hannah, Amel, dan dua mahasiswa lainnya, sebut saja Lintang dan Naya. Mr. June menyampaikan bahwa mereka akan dipilih langsung sebagai perwakilan mahasiswa semester lima untuk mengikuti program study tour itu. Melihat bahwa perkembangan mereka selama di kampus dan nilainya yang bagus mendapat rekomendasi langsung dari kampusnya.
Persiapan yang mereka lakukan selama kurang lebih seminggu akhirnya terselesaikan. Hari diman mereka akan berangkat akhirnay tiba. Sementara itu, ibu Ellian mengecek ulang barang-barang bawaan yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk keberangkatan anaknya.
“Baju, celana, handuk, sikat gigi, dan cemilan kesukaan kamu, Ibu sudah masukin semuanya.Pokonya perlengkapan kamu selama dua minggu disana sudah beres”.
“Iya..bu’ iya… Ell ngerasa udah mau pergi selama setahun liat tas-tas ini” celoteh Ellian yang merasa barang bawaan yang ibunya siapkan terlalu berlebihan.
“Oiya, jangan lupa kotak P3K di kamar adikmu. Ibu pikir sudah memasukkannya kedalam tas, tapi mungkin Ia mengambilnya kembali untuk bermain-main dengan boneka sebagai pasiennya” Jelas Ibu Ellian setelah Ia membereskan barang bawaannya.
Pesawat mereka berangkat jam 16:30 pm. Sementara itu di bandara, sekitar lima belas menit yang lalu pendamping mereka Ibu Freya dan Pak Brian beserta Juno, Henry, Hannah dan mahasiswa lainnya sudah lebih dulu tiba disana.
“Pesawat lima belas menit lagi akan take off, Hannah tolong kamu hubungi yang lain. Mengapa mereka belum tiba?” pinta ibu Freya kepada Hannah.
“Kalau Fauzy sudah ada didepan bu, bentar lagi nyampe”. Kata Juno.
“Ellian dan Arumi gimana”? Tanya Pak Brian.
“Kalau Ellian, lagi nunggu Grab yang ia pesan pak, tapi harus putar balik dulu lewat jalan lain, soalnya jalanan biasanya ditutup karena ada acara nikahan”. Jelas Henry.
“Yaelah…Henry, lo tinggal suruh dia nebeng sama Arumi aja, kan rumah mereka kalau arahnya kebandara sini, searah. Biar Ellian gak kelamaan nunggu grab”. Hannah angkat bicara.
“Oiya ya..sorry-sorry, lupa kalau arahnya kebandara sini. Gue pikirnya tadi ke kampus, jadi gak fokus hehe” jawab Henry malu-malu.
Henry kemudian menelfon Arumi agar ia bisa berangkat bersama dengan Ellian.
Sementara itu, mobil Arumi sudah tiba didepan rumah Ellian.
“Ell, ayo cepetan… kita udah hampir telat” Arumi memanggil Ellian saat setelah ia membuka kaca mobilnya dan yang dipanggil hanya terdiam menatapnya.
“Malah bengong...Ell, Ayo!bentar lagi pesawatnya take off loh”. Panggil Arumi mengagetkan Ellian.
“Eh iya..iya.. Tapi tas ku dimasukin kebagasi dulu”.Supir Arumi kemudian memasukkan barang bawaan Ell kedalam bagasi.
“Eh, bukannya kamu udah dibandara?” Tanya Ellian, setelah ia duduk disamping Arumi.
“Ini buktinya masih disini Ell, lagian yang bilang aku udah di bandara siapa?”Jawab Arumi yang membuat Ellian terdiam kakuk. Setiap Ellian berhadapan langsung dengan Arumi ia memang tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya, namun ia berusaha tetap terlihat tenang walaupun terkadang membuatnya merasa malu sendiri dengan apa yang ia lakukan. Ellian berharap semoga saja Arumi tidak merasakan keanehan yang ada pada dirinya.
“Iya emang, kamu masih disini.Maksudku, kok kamu yang jemput sih? Kan kasihan grab yang aku pesan di cancel gitu aja, pasti juga masih bisa keburu sampai kesana”. Jelas Ellian.
Arumi kemudian menatap Ellian “Tadi Henry nelfon katanya grab yang kamu pesan harus muter dulu, takutnya pesawatnya udah take off kamu belum nyampe-nyampe. Untung aku belum lewatin rumah kamu. Kalau gak, mungkin kamu udah ditinggal… terus yang berangkat cuman aku sama yang lainnya aja. Kamu mau gitu?”.
Ell tersenyum, ia selalu tahu kalau gadis disampingnya itu sedikit panik kalau menyangkut masalah memburu waktu. “yah gak gitu juga” jawab Ell sambil menyenderkan kepalanya di senderan kursi sambil melihat lalu lalang kendaraan yang melintas menuju tujuannya masing-masing. Untung saja saat itu mereka tidak dijebak oleh kemacetan ibu kota.
Sepuluh menit mereka sudah berkendara, kurang lebih tujuh menit kedepan mereka akan tiba di bandara. Ell melirik Arumi yang hanya berfokus pada gawainya.Ell merasa diantara delapan sahabat mereka, Arumi tidak banyak bicara saat sedang bersamanya.Ia hanya berbicara secukupnya, bahkan terkadang terlihat cuek. Sama seperti keadaan mereka sekarang yang duduk bersebelahan, namun saling diam. Berbeda saat mereka berkumpul bersama atau sedang bersama. Ellian menggelengkan kepalanya, membuyarkan pikirannya mengenai gadis yang ia sukai itu.
Jika saat ini Ellian bisa mengungkapkan isi hatinya, tidak mungkin Arumi mau membalas perasaannya.Karena Ellian beranggapan bahwa Arumi sebenarnya masih menyukai Fauzy.
Selama kurang lebih tujuh belas menit berkendara, akhirnya mereka tiba di bandara. Untung saja masih ada tujuh menit sebelum pesawat mereka take off. “Baiklah karena semunya sudah lengkap, baiknya kita berdo’a terlebih dahulu semoga kita semua selamat sampai tujuan, dan kegiatan selama disana berjalan dengan lancar dan baik”.Jelas Mr. Brian.
Tak lama dari itu, satu persatu dari mereka menaiki pesawat yang mereka tumpangi. “Okay.. Australiaaa… we are coming” teriak Juno dan Hannah bersamaan sebelum mereka benar-benar masuk kedalam pesawat, membuat penumpang lainnya memperhatikan mereka.
“Perhatian, penerbangan no X1203 menuju Australia akan segera lepas landas, dimohon untuk para penumpang menggunakan sabuk pengaman.Atas perhatiannya terima kasih” terdengar suara pemberitahuan pramugari di dalam pesawat.
“Untung lo sama Arumi gak telat”. Kata Henry. “Iya, untung tadi ada Arumi” sahut Ell.
“Cie, akhirnya bisa berduaan” goda Henry yang duduk disamping Ell. Diantara mereka, Henry yang paling dekat dengan Ellian, tak jarang ia mengetahui hal-hal yang tidak diketahui teman-temannya yang lain. Bahkan, ia menyadari bahwa Ell menyukai Arumi. “Eh! apaan sih. Tadi bertiga kok, sama supirnya Arumi”.Jawab Ell sedikit tersenyum.
“Udah yah, gue ngantuk banget, mau tidur. Semalam nggak bisa tidur”. Kata Ellian, yang sudah malas mendengar Henry yang menggodanya.
“Nggak bisa tidur karena mikirin Arumi kan?”Ellian kemudian menutup mulut Henry sambil ngelirik kebelakang kursinya tepat dimana Airin dan Arumi duduk.“Lo kalo ngomong sekalai lagi, gue ikat di sayap pesawat yah” “Haha yaudah ikat sekarang aja” tantang Henry.
****
Akhirnya mereka semua tertidur pulas. Jam menunjukkan pukul 03:05 am, di bagasi khusus dimana hewan-hewan peliharaan ditempatkan, seorang pria kira-kira berumur tiga puluh tahun Pak Suryo, seorang dokter mantan narapidana malpraktek sedang melakukan eksperimentnya. Ia mulai menyuntikkan cairan berwarna hijau pekat ke salah satu anjing jenis Pug berwarna coklat. Namun, aksinya itu menimbulkan suara yang membuat salah satu petugas kargo mendengarnya kemudian pergi mengeceknya.
“Apa ada orang disini?” kata petugas kargo yang melihat salah satu kandang hewan yang terbuka.Pak suryo yang sudah mengetahui kedatangan petugas itu kemudian bersembunyi, dan berhasil kembali ke tempat duduknya semula.“Akh sial, percobaanku sepertinya gagal lagi” umpat pak Suryo karena praktiknya kali ini gagal lagi.
Benar saja, salah satu hewan itu lepas dari kandangnya dan sudah bertingkah aneh, ia menggigititi dirinya sendiri seakan sedang memakan makananan favoritnya. Petugas yang melihat itu merasa aneh dan ketakutan dan dengan susah payah Ia berhasil memasukkannya kembali ke dalam kandangnya.
Petugas itu meringis kesakitan setelah mendapat luka gigitan dari hewan itu dibagian lengannya, ia mulai merasa aneh. Ia menyembunyikan lukanya dan segera mengambil kotak P3K lalu mengobati lukanya didalam toilet tanpa memberitahu petugas lainnya.
Tiga menit sudah ia didalam toilet. Petugas itu kemudian muntah-muntah, ia mengeluarkan cairan berwarna hijau. Beberapa saat kemudian, ia semakin merasa aneh dengan tubuhnya, matanya memerah dan tubuhnya menghijau. Ia terjatuh kelantai toilet dan kejang-kejang.
Di kabin pesawat, seorang penumpang berlari kecil ke toilet.Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Pada saat ia ingin mengetuk toilet, pintunya tidak terkunci namun ia bisa mendengar suara orang dari dalam. Ia mencoba memanggil orang tersebut dari luar, dan menanyakan apakah ia baik-baik saja. Namun tidak ada jawaban yang ia dapatkan.
Dengan penasaran, lelaki itu kemudian mencoba mengintip, ia mendekatkan wajahnya ke arah pintu toilet dan membukanya sedikit demi sedikit hingga menghasilkan bunyi “kreek” dari pintu toilet. Ia melihat seorang pria sedang berdiri membelakanginya.
Pria tersebut adalah petugas yang mendapat gigitan dari hewan tadi.Ia yang mendengar suara pintu toilet, berbalik dan melihat seseorang didepannya. Dengan tiba-tiba petugas yang tergigit tadi menyerang lelaki tersebut dan menggigit lehernya dengan sadis.
Penumpang yang digigit itu mencoba berontak dan teriak, namun kekuatan dari petugas tersebut lebih kuat.Ia berhasil mencabik-cabik lehernya hingga mengeluarkan banyak darah dilantai dekat toilet.
Karena keberadaan toilet berdekatan dengan crew cabin, akhirnya pramugara dan pramugari yang mendengar teriakan pria tersebut kemudian berlari mendekat dan melihat dengan jelas kejadian tersebut sontak membuat pramugara itu kaget dan terjatuh. Alhasil petugas yang terinveksi itu mengigit pramugara tersebut tepat di perutnya.Sedangkan pramugari itu berlari ketakutan dan berteriak hingga mengagetkan dan membangunkan penumpang yang tertidur.
Beberapa saat kemudian, penumpang dan pramugara itu ikut terinveksi. Mereka mengalami gejala yang sama seperti yang dialami oleh petugas itu. Tidak lama dari itu, mereka yang terinveksi mulai memasuki kabin penumpang dan mengigiti mereka.Keadaan business class sudah sangat kacau.
Beberapa penumpang berhasil melarikan diri dari kabin kelas bisnis ke kabin kelas satu dan ekonomi mengagetkan Ellian dan teman-temannya yang masih tertidur pulas.
“Cepat tutup pintunya” kata salah seorang pramugara yang terlihat sangat panik
“Maaf, ini ada apa ya? Tanya seorang penumpang yang duduk di kursi sebelah Amel dan Hannah.Seketika penumpang lainnya ikut terkejut dan ketakutan saat melihat darah yang ada dibaju salah satu penumpang wanita yang berada di business class.Ia mencoba memasuki kabin dimana Ellian dan teman-temannya berada. Namun, ia berhasil digigit dan terjepit di pintu.
Henry yang tidak tahu apa-apa merasa kasihan terhadap wanita itu, ia membuka seat beltnya kemudian berdiri dan menolong wanita tersebut. Namun, ia segera dihadang oleh Mr. Brian. “Henry jangan mendekatinya”.Cegat Mr. Brian.“Untuk semua penumpang tolong satu persatu menjauh dari pintu”.Kata seorang pramugara yang muncul dibelakang Mr. Brian.
“Kita harus menutup pintu dengan rapat sebelum mereka yang sudah terinfeksi berhasil masuk kesini”.Jelasnya.
“Ini sebenarnya ada apa? Jangan membuat penumpang lainnya tambah panik”. Tanya Mr. Brian yang juga tidak mengerti kekacauan apa yang sedang terjadi. “Sstt.. pertama pelankan suara kalian, kita tidak memiliki banyak waktu. Nanti saya akan” Belum selesai pramugara itu berbicara, wanita yang terjepit di pintu tadi kini sudah terinfeksi dan mengigit Henry yang sedari tadi berdiri membelakangi pintu”.
“Akkhhh…” Teriak beberapa penumpang panik kemudian berlari ke belakang setelah itu pesawat mengalami goncangan. Kini Ellian yang masih duduk dikursinya teridam kaku, tidak memperdulikan goncangan dari pesawat. Untung saja sabuk pengamannya masih terpasang dengan baik. Entah apa yang ia pikirkan melihat Henry kini terbaring dilantai pesawat bersimpuh darah.
Keadaan kabin pesawat benar-benar kacau, awak kabin bahkan sudah tidak bisa mengatasi masalah ini lagi. Kepala pramugari telah melaporkan masalah tersebut pada pilot sehingga ia berharap dengan ini pilot dan co-pilot mampu mengambil keputusan dengan cepat.
Goncangan dari pesawat itu mampu membuat yang sudah terinfeksi terombang ambing.Mr. Brian yang sedari tadi berdiri terjatuh. Ia mencoba menggapai Henry dan mengikatnya menggunakan dasinya dikaki kursi, lalu setelah itu menusuk kepala wanita yang sudah mengigit Henry menggunakan garpu. Ellian kemudian tersadar dan membuka seat beltnya mengambil kesempatan mencoba menutup pintu penghubung antara business class dengan kabin tempatnya berada.
Setelah pintu berhasil tertutup, mereka yang selamat akhirnya bisa sedikit bernafas dengan lega. Henry memperhatikan tangannya yang kena gigitan sebelumnya, tapi ia mengabaikan gigitan itu dengan membungkusnya kain yang ia robek dari kemejanya sendiri.
“ Apa yang harus kita lakukan sekarang.?”
“ Aku takut, aku mau pulang.”
“ Aku menyesal ikut penerbangan ini.”
Semua orang jelas sangat ketakuan, di tambah lagi mereka tidak bisa melarikan diri dengan kondisi di atas udara seperti itu, bahkan perjalanan mereka belum sepenuhnya tiba di tempat tujuan.
Orang-orang yang terinfeksi di balik pintu rupanya sudah semakin memberontak, mereka hendak mendobrak pintu dengan sekuat tenaga meskipun beberapa pria menahan pintu agar tidak berhasil terbuka.
“ Henry, kulitmu.?” Tegur Amel saat melihat perubahan warna kulit yang di alami Henry.
“ Kau? Jangan-jangan kau terkena gigitan mereka barusan.?” Sahut pramugara menatap Henry serius.
“ Aa..aku baik-baik saja.” Balas Henry berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.
Tiba-tiba saja terdengar suara pilot yang memberitahu pada semua penumpag yang selamat untuk segera duduk di kursi masing-masing karena pesawat akan mengalami pendaratan darurat, hal ini di lakukan agar tidak bertambahnya korban.
Ellian dan teman-temannya serta para penumpang lain segera duduk di kursi peswat meski dalam keadaan terdesak, mereka saling berpegangan ketika pesawat mulai mengalami guncangan yang cukup kuat. Ellian melirik ke jendela peswat dimana tepat di bawah mereka bukanlah daratan melainkan sebuah danau, Ellian semakin takut entah mereka semua akan selamat atau tidak.
Guncangan pesawat semakin kuat hingga membuat tekanan yang begitu dahsyat di dalam kabin, tapi siapa sangka akibat korban yang mengalami gejala aneh baru saja merusak jendela pesawat bagian belakang dan membuat tekanan udara berubah.
“ Aku takut.”
“ Bagaimana ini?”
“ Tolong percayakan semuanya kepada pilot, dan mohon untuk tidak panik dan meninggalkan tempat kalian.” Seru salah seorang pramugari berusaha menenangkan penumpang yang semakin ketakutan.
Terdengar suara ledakan dari kabin belakang, rupanya ekor peswat telah mengalami ledakan yang entah di sebabkan karena apa. Lima menit sebelum pesawat berhasil mendarat, semua orang saling berpegangan hingga akhirnya sang pilot berhasil mendaratkan pesawat di danau dalam keadaan selamat.
“ Mohon semua untuk tidak panik ketika menuruni pesawat, agar tidak terjadi cidera yang serius.”
Para awak kabin kembali menjalankan tugasnya, meski dalam keadaan terdesak keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama bagi mereka.
Duarrr...
Pintu berhasil terbuka dan para korban terinveksi kini menyerang dengan cara membabi buta, Ellian memberikan ruang kepada teman-temannya untuk keluar terlebih dulu. Karena pendaratan darurat para penumpang harus masuk ke dalam air dan berenang ke tepian, salah satu dari teman Ellian tidak bisa berenang sehingga pramugari lekas memberikan pelampung kepadanya untuk segera menyeberang.
Ellian, Fauzi, Juno, dan Henry masih ada di atas menghadang para korban yang teriveksi itu agar tidak menyerang penumpang lain. Saat itu Henry terlihat menunjukkan gejala yang sudah mendekati mereka yang terinveksi, sehingga Henry dengan cepat menarik ketiga temannya dan mendorong mereka masuk ke air.
“ Cepat pergi, aku akan menahan mereka agar tidak mengejar kalian.” Serunya dengan penuh percaya diri.
“ Lo gila ya, kita mana mungkin ninggalin lo gitu aja Hen.” Sahut Juno tak terima.
“ Gue udaah terinveksi, gue nggak mau kalau di antara kalian ada yang kaya gue.”
Ellian segera menarik kedua temannya untuk segera berenang ke tepian, tepat saat mereka hampir tiba di tepian tiba-tiba saja pesawat mengalami ledakan yang sangat dahsyat. Bahkan para awak kabin yang menyelamatkan mereke bertujuh belum sempat keluar dari sana.
“ Kenapa kalian Cuma bertiga? Henry mana.?” Tanya Airin pada Ellian, Juno. Dan Fauzi ketika mereka sudah menginjak daratan.
Ellian menggelengkan kepalanya sambil menunduk, mereka bertiga juga sama terpukulnya dengan kepergian sahabat mereka itu.
“ Henryyyyyyy.” Teriak Airin sangat terpukul dengan pengorbanan Henry demi keselamatan mereka.
**
Di tengah hutan belantara yang gelap, rasa takut, dan sakit yang masih di alami oleh mereka bertujuh membuat mereka saling duduk berdekatan. Ellian kembali memberikan kekuatan kepada teman-temannya, meskipun tak ada yang bisa di harapkan untuk mereka bisa selamat dari hutan itu.
“ Semua barang kita bahkan sudah hangus terbakar akibat ledakan itu, apa yang akan kita lakukan sekarang.” Gumam Arumi sesegukan.
“ Malam ini terpaksa kita akan tidur di hutan ini, besok pagi kita akan mencari cara agar bisa selamat dari hutan ini.” Ujar Ellian kemudian.
“ Lo selalu aja ngegampangin apa-apa, ini hutan loh bukan kota, kita bahkan nggak tau ada apa di hutan ini.” Juno tampak kesal dan baru bisa melampiaskannya sekarang.
“ Udah..udah.., jangan berantem dong.” Lontar Hanna ketus.
“ Iya, kita nggak boleh berantem dan saling menyalahkan dulu di sini.” Sambung Fauzi.
Dan malam itu mereka tidur beralaskan pelepah daun, hanya dengan sinar rembulan serta suara alunan hutan yang terdengar horor tapi harus mereka lalui bersama.