Tepat pukul 02:15 dini hari, Airin terbangun karena sudah tidak tahan lagi menahan untuk tidak buang air kecil. Airin melihat sekeliling, ia melihat teman-temannya tertidur pulas dengan beralaskan daun, ada kelelahan, ketakutan, dan kesedihan diwajah-wajah mereka. Karena tidak tega untuk membangunkan teman-temannya, Airin memberanikan diri untuk buang air kecil sendiri, ia kemudian melangkahkan kakinya ke tepi danau berharap tidak akan bertemu dengan makhluk yang mengerikan atau hewan buas yang bisa saja langsung membuatnya meninggal ditempat.
Disana ia bisa melihat samar-samar bangkai pesawat yang ia tumpangi bersama teman-temannya dan berpikir apakah hanya mereka yang selamat dari kecelakaan pesawat itu?. Airin kemudian kembali ke tempat dimana ia dan teman-temannya beristirahat malam itu. beruntung tidak ada hal aneh yang menimpanya. Namun belum jauh, langkahnya terhenti Airin seperti mendengar seperti ada orang yang sedang berenang di danau.
Untuk memastikan dengan apa yang ia pikirkan, akhirnya Airin kembali ketepian Danau. Airin melangkah pelan-pelan, napasnya tidak beraturan ia mengintip dibalik semak-semak belukar.
“Eh Rin!” panggil Juno sambil menepuk pundak airin dari belakang
“Astaga, ampuunnnnn….ampunnn” kaget Airin yang menutup matanya, belum mengetahui siapa yang ada didepannya.
“Eh ini gue Juno, lo ngapain tengah malam disini sendirian? Kita cariin lo tau”
“Eh Jun, lo kalo mau nyapa orang, jangan dikagetin dong”
“Dih, siapa yang amu nyapa lo? kita itu panik cari lo. Hanna tadi bangun, terus nggak liat lo ada disampingnya”.
“Iya iya sorry, gua kebelet pipis gak tega bangunin kalian”.
“Yaudah sini gue temenin pipisnya, tapi cepetan ya”
“Ya kali gua ditemenin sama lo, lagian gua udah kok” jelas Airin kemudian berlalu dari Juno.
Arumi, Hanna, dan Amel tetap berada ditempat mereka istirahat malam itu, Ellian, Fauzi, dan Juno melarang mereka untuk ikut mencari Airin.
“Hey guys sorry yah, udah bikin kalian kuatir. Gue nggak apa-apa kok” jelas Airin kepada teman-temannya.
“Eh Rin! Lo dari mana aja? Nggak apa-apa kan?” Tanya Fauzi yang baru tiba dengan Ellian.
“Dia nggak apa-apa, cuman kebelet pipis tadi, gak tega bangunin kita katanya”. Jawab Juno
“Iya gue gak apa-apa kok. Sorry yah”
“Lain kali, kalau ada yang mau ngelakuin sesuatu, harus ada yang nemenin. Kita nggak tau ada apa di hutan ini”. Jelas Ellian.
“Terus sekarang kita harus gimana?” Tanya Amel yang terlihat sangat lesuh.
“Sekarang masih pukul tiga, masih ada waktu untuk istirahat. Besok kita cari aliran sungai. Semoga kita bisa nemu jalan keluar dengan mengikuti aliran sungai itu” Jelas Ellian
Akhirnya mereka kembali tidur, Airin masih berkutik dengan pikirannya sendiri tentang apa yang ia lihat di danau tadi. Tidak ingin membuat temannya khawatir, akhirnya ia memutuskan untuk tidak menceritakannya malam itu”.
DAY 2
Keesokan harinya mereka dibangunkan oleh kicauan burung-burung. Ellian, Arumi, Airin, Hanna, Fauzy, dan Juno sudah terbangun.
“Huufft.. jadi ini emang beneran yah?” Gumam Arumi.
“Gue kira ini cuman mimpi buruk, tapi nyatanya ini emang terjadi” sambung Arumi masih belum percaya kalau mereka benar-benar terdampar di hutan.
“Udah, kita bertujuh harus tetap kuat, yang terpenting sekarang kita harus tetap bersama. Kita gak boleh sia-siain pengorbanan Henry”. Jelas Fauzy yang membuat semuanya terdiam dan mengingat Henry yang sudah tidak ada.
“Jadi sekarang kita harus apa? Gua laper banget nih” Tanya Juno, memecah keheningan
“Eh bentar dulu, kok Amel nggak bangun-bangun sih?” Tanya Airin, yang melihat Amel masih tertidur dengan wajah pucatnya.
“Mel… Amel lo bangun ih ini udah pagi” Airin menggoyang-goyangkan tubuh Amel yang tepat berada disampingnya.
Amel meringis kesakitan, wajahnya pucat dan berkeringat ia memegang perutnya.
“Mel lo kenapa? Lo laper juga ya?” Tanya Hanna
Amel hanya terdiam sambil terus memegangi perutnya. Arumi kemudian mengecek keadaan Amel. Ia membuka sedikit baju hitam Amel, lalu melihat perutnya. Arumi kaget, ternyata ada luka diperut Amel. Luka lebam yang sudah pasti Ia dapat dari kecelakaan pesawat.
“Mel, lo kok nggak bilang sih kalau lo punya luka ini?” Tanya Arumi
“Gue.. gue.. juga nggak tau ternyata bisa sampe lebam kayak gini” jawab Amel terbata-bata
“Lo bisa jalan gak?” Tanya Ellian
“Kayaknya untuk saat ini gue nggak bisa deh, untuk duduk aja gue musti pelan-pelan banget”. Jawab Amel.
“Yaudah, sekarang untuk sementara, kita disini dulu sampe Amel benar-benar sehat. Kasian juga kalau kita paksa dia untuk jalan berjam-jam”. Jelas Ellian.
“Iya, Ellian benar. Gue akan cari tanaman obat yang bisa ngebantu nyembuhin lebam Amel”. Sambung Arumi
“Nggak!” Sanggah Hanna
“Maksud gue, kita tetap jalan. Lagian Ellian, Juno, Fauzy bisa gantian buat gendong Amel. Gimana?” Kata Hanna
“Pokoknya kita harus tetap jalan buat cari bantuan atau nemuin jalan keluar guys. Jujur, gue baru satu malam aja udah gak tahan buat tinggal disini” Sambung Hanna mulai mengeluarkan air matanya.
“Han, lagian siapa juga yang tahan buat tinggal disini hah? kita semua juga mau cepat-cepat keluar dari hutan ini. Cuman gimana lagi, amel untuk duduk aja nggak bisa, apalagi untuk digendong nanti kalau makin parah kan lebih memperburuk keadaan”. Jelas Fauzy sedikit emosi
“Kita semua paham yang lo rasain Han, tapi kitar pikir matang-matang dulu oke?. Mending sekarang kita buat shelter dulu. Cari makanan, dan kayu bakar. Baiknya juga untuk beberapa hari kita tetap disini, semoga aja ada bantuan yang datang karena kita masih dekat dengan bangkai pesawat” Kata Ellian.
“Iya, sekarang kita harus buat tempat untuk tinggal sementara. Gue sama Ellian cari kayu bakar sama buah dulu, sekalian liat-liat hutan ini, yang lainnya tunggu di sini!” Kata Fauzy.
“Gue sama Airin mau cari obat. Juno sama Amel kalian disini jagain Amel”. Kata Arumi.
“Oke, kalian hati-hati, jangan pergi jauh-jauh yah. Sebelum sunset semuanya sudah ada disini”. Kata Ellian.
Akhirnya Ellian, Fauzy, Arumi dan Airin masuk kehutan untuk mencari kayu bakar, obat-obatan herbal, dan buah. Ellian dan Fauzy berhasil menemukan buah berry-berry an dan mendapat kayu bakar namun tidak menemukan adanya tanda-tanda aliran sungai.
“Guys, gue minta tolong ambilin air dong, gue haus banget” Kata Amel
“Oke, kalian tunggu disini aja, gue ke danau dulu?” Jawab Juno
“Yaudah, lo baring dulu aja Mel. Kata Hanna
Arumi dan Airin sedang mencari tumbuhan yang dapat mengobati luka Amel. Dengan bekal pengetahuan dari ayahnya yang seorang dokter, Arumi mengetahui beberapa hal dalam bidang kesehatan.
“Arum, lo benar tau kan tumbuhan apa aja yang bisa dijadiin obat?” Tanya Airin meyakinkan diri.
“Iya, rin gue tau kok, tenang aja” jawab Arumi.
“Oke, sekarang kita balik, gue udah dapat obatnya. Lo masih ingat jalan kan?” Tanya Airin yang sudah lupa jalan untuk kembali.
“Yakin ini obat? bukan racun kan? Kata Airin ragu
“Iya, Rin! Ini obat, kalau lo nggak percaya makan aja” Sahut Arum
“Kalau gue makan terus ini racun, mati dong gue! enak aja lo” Kata Airin
“Yakan untuk membuktikan Rin, coba aja haha” Kata Arumi sedikit tertawa.
“Udah ah, ayok lewat sini!” Kata Airin yang mengabaikan Arumi
Tak lama kemudian Airin dan Arumi kembali ketempat dimana Amel, Hanna, dan Juno berada. Arumi segera mengobati luka Amel dengan mengompresnya dengan tanaman yang ia dapat.
“Ellian sama Fauzy belum balik Jun?” Tanya Airin
“Tuh mereka” Jawab Juno sambil menunjuk kearah Ellian dan Fauzy yang sudah kembali dengan membawa kayu bakar, daun-daunan, dan beberapa jenis buah-buahan.
“Gimana Rum, lo dapat obatnya gak?” Tanya Ellian sambil meletakkan kayu bakar yang ia dapat
“Iya, udah gue obtain juga” Jawab Arumi
“Nah, sekarang kita buat tempat berlindung dulu” Kata Fauzy
Akhirnya setelah beberapa menit, jadilah dua gubuk kecil yang sementara dapat melindungi mereka dari hujan dan teriknya matahari.
“Oke, kita sekarang udah punya tempat berlindung sementara, gue, Fauzy, sama Juno bakal tidur digubuk yang ini. Arumi, Amel, dan Airin kalian tidur digubuk yang itu” Kata Ellian
“Karena nggak ada yang punya korek api, sekarang kita pikirin gimana caranya buat api unggun” kata Fauzy.
“Masa lo nggak tau sih? Disini yang sering sibuk dengan organisasi ekstra siapa?” Tanya Amel yang menyinggung Ellian dan Fauzy.
“Udah.. udah.. gue mau cari batu dulu, Jun tolong cari kulit kayu yang kering yah” Kata El
Akhirnya api unggun berhasil mereka nyalakan stelah beberapa kali percobaan. Juno, Airin, dan Ellian mencoba menangkap ikan di danau.
“Nih makan buah dulu” Kata Fauzy yang melihat Arumi duduk didekat api unggun sambil menatap Ellian, Juno, dan Airin yang terlihat sudah kesusahan menangkap ikan.
Arumi melihat kearah Fauzy, lalu mengambil buah yang ditawarkan
“Makasih” Jawab Arum tersenyum
“Kamu nggak mau ikut nagkap ikan sama mereka?” Tanya Fauzy
Arumi melirik Fauzy yang kini duduk disampingnya
“Zy, udah yah jangan mulai lagi, gue lagi malas bahas yang itu” Kata Arum
“Oke, fine. Gue gak akan pake aku kamu lagi saat kita cuman berdua, tapi tolong.. aku maksud gue.. gue gak akan nyakitin lo lagi Rum” Kata Fauzy menatap mata Arum lekat.
“Makasih” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Arum.
Semenjak dua tahun yang lalu, Arum dan Fauzy mengakhiri hubungan mereka. Hubungan yang bertahan selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Bukan Arum yang menghianati, melainkan Fauzy yang mabuk-mabukan dan berani mencium sahabat Arum tepat dihari Anniversary mereka. Terlepas dari itu, Arum tidak bisa benar-benar membenci Fauzy. Ia masih mepertahankan hubungan pertemanan diantara mereka. Hanya sebatas teman.
“Yaudah gue mau mandi di danau dulu, lo kalo butuh apa-apa panggil gue” Kata Fauzy yang hanya dijawab anggukan oleh Arum.
“El, kalau diliat-liat ledakan peswatnya gak sampe kebelakang ya?” Kata Airin
Peswat yang mereka tumpangi memang meledak, namun saat dilihat dari sisi lain, ledakannya tidak sampai pada bagian belakang pesawat. Ada kemungkinan beberapa barang-barang penumpang masih ada disana.
Di tepi danau Airin, Ellian, Juno, dan Amel melihat bangkai pesawat yang mereka tumpangi ternyata masih utuh dibagian belakangnya.
“Kalian berani kesana nggak?” Kata Hanna
“Yah, enggak lah. Bisa jadi makhluk itu masih ada disana. Liat nggak itu yang gerak-gerak apaan?” Jawab Juno memperhatikan bagian belakang pesawat.
“Mana..mana?” Tanya Airin penasaran
“Aaakhhh.. Gue dapat ikannya” Teriak Hanna kegirangan setelah tombaknya berhasil menusuk ikan
“Astaga Hana lo ngagetin tau” Kata Ellian yang kaget sambil tertawa
Setelah mereka mendapat beberapa ikan dan membersihkan badan di danau. Malampun tiba. Mereka duduk melingkari api unggun sambil menunggu ikan yang mereka bakar siap untuk disantap.
“Akhirnya bisa makan enak juga” Kata Juno sambil memakan kepala ikannya yang masih tersisa.
“Ini semua berkat gue lo bisa makan enak” Kata Hanna sambil mengangkat alisnya naik turun
“Mel, gimana perut lo? Masih sakit nggak?” Tanya Ellian
“Udah agak mendingan kok, Makasih ya Rum” Kata Amel dengan senyum manisnya.
“Santai aja Mel” Jawab Arumi membalas senyuman Amel
“Arumi emang the best kalau masalah obat mengobati, dulu yah waktu gue jatuh dari motor lukanya sembuh dalam dua hari” Kata Fauzy
“Cie mengenang masa lalu” Ledek Juno sambil tertawa
Ellian terdiam sambil sesekali melirik Arumi yang hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Ada rasa sakit yang El rasakan mengingat Arumi adalah cinta pertamanya namun sampai sekarang ia tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya.