Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Sejak Bee merasakan suka dengan seorang lelaki adalah Rigel yang menjadi pilihan hatinya. Banyak laki-laki tampan di dunia ini, banyak laki-laki pintar di dunia ini, dan banyak lelaki menawan di dunia. Tapi bagi Bee, Rigel adalah paket komplit, sebab itulah dia ingin memilikinya. Dan hanya Rigel, bukan yang lain. Sayangnya, semua rasa yang tersemat di dalam hatinya tak mendapatkan umpan balik dari orang yang dicintainya.
Sepuluh tahun mencintai, sepuluh tahun juga mendapatkan penolakan. Selama itu, entah sudah berapa kali dia merasakan rasa sakit yang selalu ditahannya. Rigel bukan orang yang akan berpura-pura tertarik padahal tidak. Tentu saja, seperti yang terjadi selama ini, Bee selalu diabaikan keberadaannya.
“Beri aku kesempatan satu hari,” Rigel akan pergi ketika Bee mencekal tangannya, “Hanya satu hari saja berkencan denganku.” Bee tahu ini adalah cara yang tidak akan pernah berhasil. Tapi setidaknya dia harus mencobanya. Bukankah ini juga yang dilakukan di novel-novel atau di drama-drama yang sering ditontonnya?
Bee menatap mata Rigel penuh dengan permohonan. Gadis itu sudah menyingkirkan segala macam harga dirinya hanya karena cintanya yang terlalu menggebu kepada Rigel. “Aku tahu ini tidak akan berhasil, tapi berikan setidaknya satu kali kebahagiaan dalam hidupku sebelum aku pergi dari hidup Abang.” Terlihat sekali mata gadis itu mengembun dan berusaha ditahannya agar embun itu tak meluncur menjadi butiran air.
“Abang tahu aku selalu memenuhi janjiku. Aku tidak akan pernah membuat Abang terbebani lagi karena perasaanku.” Permohonan dengan bumbu rasa sakit di dalam hatinya membuat Bee ingin sekali berteriak. Keterdiaman Rigel benar-benar membuat Bee merasa benar-benar putus asa. Sungguh, dia lelah sekali sekarang. Respon yang tidak diberikan oleh lawan bicaranya membuat Bee akhirnya menyerah. “Aku tahu.” Dilepaskan cekalan tangannya di lengan Rigel. Memberikan senyum kepada lelaki itu dengan ketulusan yang dimilikinya. “Tidak perlu hal-hal seperti itu. Aku tahu aku akan ditolak, tapi tetap saja nekat. Lupakan saja permintaanku.”
Inilah saatnya Bee harus mengambil keputusan dalam hidupnya. Inilah saatnya dia harus mundur setelah sepuluh tahun dia berusaha tapi hanya kegagalan yang didapatkan. Masa bodoh dengan usaha atau apa pun itu sebutannya, tapi dia tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang sudah menganga.
“Mulai sekarang, aku tidak akan lagi mengganggu Abang. Aku juga tidak akan menyapa Abang ketika kita bertemu, aku benar-benar akan mengambil jarak yang jauh ketika kita ada di tempat yang sama.” Bee menarik napasnya panjang sebelum melanjutkan. “Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku, aku tidak pernah menyesal sudah mencintai lelaki hebat seperti Abang. Aku berharap, aku bisa segera membunuh perasaanku yang tak tahu diri ini. Jagalah Kesehatan Abang. Aku akan pergi sekarang.”
Bee benar-benar pergi setelah mengatakan kalimat panjang itu dengan luka yang tak bisa dijabarkan bagaimana rasanya. Ini adalah saat yang begitu baik untuk melepaskan. Langkah Bee berat, perasaannya apalagi. Tapi tentu saja lambat laun dia akan bisa menyesuaikan itu. Rigel menatap kepergian Bee tanpa ekspresi yang berarti. Dia juga tidak akan pernah merasakan bagaimana rasa sakit yang sekarang dirasakan oleh Bee. Tapi, apakah Tuhan akan diam saja melihat hal semacam itu? Karena bisa saja suatu hari nanti dia akan di posisi yang sama seperti yang dialami oleh Bee saat ini.
***
Bee ingin di saat seperti ini, hujan turun dengan deras dan dia terguyur di bawahnya. Agar tidak ada yang tahu dia menangis, agar tidak ada yang tahu air matanya keluar. Tapi sayangnya, itu hanya sebuah harapan yang tidak akan pernah terjadi seperti Rigel yang tidak bisa membuka hatinya untuk dirinya. Menangis adalah hal yang wajar dilakukan. Tapi selama ini, Bee selalu membentengi dirinya dari kelemahan semacam itu agar tangis tak keluar dari matanya.
“Untuk kali ini saja,” katanya menarik napasnya panjang. “Biarkan aku mengeluarkan segala sesak yang aku rasakan dengan menangis.” Wajahnya ditelungkupkan di atas stir mobil dan air matanya benar-benar berderai tak karuan. “Aku Ikhlaskan semua ini, Tuhan. Aku ikhlas.” Katanya dengan nada yang terputus-putus. “Dia memang bukan diciptakan untukku. Aku seharusnya tahu diri.” Patah hati terberat dalam hidup Bee tampaknya terjadi saat ini. Dulu ketika dia mengetahui Rigel memacari Bella, dia bersedih tapi tak terasa semenyakitkan seperti sekarang.
Gadis itu bahkan tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengobati rasa sakit yang dirasakan. Lalu, bagaimana dia akan bersikap ketika pertemuan dengan Rigel terjadi suatu hari nanti setelah kejadian ini? Bee benar-benar tak bisa berpikir jernih. Badannya terasa panas tapi hatinya terasa beku. Untuk saat ini, dia hanya perlu diam dan berpikir. Berpikir bagaimana membunuh rasa suka yang dirasakan di dalam hatinya untuk Rigel.
Hari berlalu, tapi setiap detik yang Bee rasakan begitu lama. Bee masih menunggu wisuda sedangkan tak ada yang bisa dilakukan, maka dia terus saja memikirkan tentang masalahnya. Ada banyak lamunan yang menggerogoti hatinya. Berbeda dengan Bee saat masih muda dulu, Bee yang sekarang lebih menutup diri dan berusaha tak mengatakan masalahnya kepada keluarganya. Bahkan kalau sudah begini, Bintang pun tak akan bisa membantu adiknya.
“Rigel akan mengganti ayahnya sebentar lagi, Ma.” Pagi ini, ketika Bee akan ke ruang makan, dia mendengar kakaknya berbicara dengan ibunya. “Dia sepertinya akan benar-benar menjadi zombie karena sibuk dengan dokumen perusahaan.” Bee tak segera ke sana menunggu apa kalimat lanjutan yang mungkin akan dikatakan oleh Bintang.
‘Masih saja peduli dengan Rigel? Dasar bodoh’ Suara hatinya bahkan mengutuk dirinya sendiri karena melakukan tindakan yang semakin membuat lukanya terasa sakit.
“Dia memang bisa diandalkan. Mama suka melihat kegigihan dia sejak muda dulu.” Usia Bintang dan Rigel sekarang sudah dua puluh enam tahun. Rigel yang sejak kecil sudah dicekoki tentang perusahaan, membuat lelaki itu mampu berada di posisi yang akan diterimanya meskipun usianya masih begitu muda. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, tapi Rigel tentu sudah memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya.
Bee menunduk merasa kecil jika dibandingkan dengan Rigel. Rigel masih muda, tapi dia sudah bersedia menanggung tanggung jawab besar untuk menjadi pemimpin. Lalu dia, dia sudah dua puluh empat tahun, dia pengangguran dan hanya menunggu acara wisudanya diadakan sambil hanya menjadi orang tak berguna di dalam kamar. Berbelanja online, membaca novel, dan melakukan hal-hal yang jauh dari kata produktif. Lalu dia mencintai laki-laki modelan Rigel? Astaga! Bee, sepertinya kamu harus sadar diri mulai sekarang. Mungkin sekarang, itulah kalimat yang ada di dalam hatinya.
Tapi ketika sebuah rencana ‘jahat’ masuk ke dalam pikirannya. Bee, menyeringai. Masa bodoh ketika dia sudah bersumpah untuk tidak peduli dengan keberadaan Rigel, karena faktanya selalu ada sebuah ide yang muncul di dalam otaknya jika itu mengenai Rogel.
***