“Mulai hari ini, saya akan menyerahkan tanggung jawab saya kepada putra saya. Saya akan pensiun dan hanya akan memberikan support kepada Rigel dari belakang.” Tepuk tangan menggema mengiringi langkah kaki seorang lelaki berusia dua puluh enam tahun. Tubuhnya berperawakan tinggi, wajahnya terlihat tegas, matanya tajam, dan tak ada senyum yang tersungging di bibirnya meskipun itu hanya seinchi. Di atas panggung, Darel berdiri dan menatap putranya penuh dengan kebanggan yang luar biasa.
Pembawaan yang tenang, tampang yang rupawan, seolah menghipnotis orang-orang yang ada di hall besar perusahaan. Rigel yang menjadi putra satu-satunya pemilik In’Design yang dalam jangka waktu tiga puluh tahun sudah berkembang menjadi perusahaan besar dan bahkan bisa menggeser perusahaan lainnya di bidang yang sama. Bukan hanya itu, perusahaan yang sudah berganti nama menjadi RG Group itu kini bukan hanya bergerak di bidang Arsitektur, tapi juga merambah pada bidang yang lain.
“Bapak Rigel, mungkin ada yang ingin disampaikan?” Seorang pembawa acara mencoba untuk mencairkan suasana. Untuk beberapa saat, ruangan mendadak kaku sejak kemunculan Rigel di tempat itu. Sedikit menoleh ke arah lelaki yang memegang microphone, Rigel mengangguk.
“Terima kasih.” Suara beratnya menggema membuat para karyawan perempuan menelan ludahnya pelan. Jika itu dinamakan sexy, maka mereka membutuhkan kata yang lebih tinggi dari kata tersebut. Bahkan, Ketika Rigel memperkenalkan dirinya secara langsung kepada orang-orang yang ada di sana, keadaan terasa mencekam detik itu juga. Seolah lalat pun berhenti berterbangan hanya untuk melihat Rigel menyampaikan sedikit pidatonya.
“Saya hanya ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman yang ada di sini.” Alih-alih menggunakan sebutan karyawan, dia memilih kata yang sedikit bersahabat. Membuat beberapa perempuan menahan senyumnya. Bukankah itu hanya kalimat sederhana? Tapi dari kata sederhana tersebut, bisa mampu membuat orang lain bahagia.
“Saya, tidak akan mengubah apa pun yang sudah ditetapkan di perusahaan ini. Tapi satu hal yang perlu diingat, ketetapan peraturan perusahaan bukan untuk dilanggar. Bertindak berhati-hati perlu kalian lakukan selama bekerja. Meminimalkan kesalahan dirasa cukup bijaksana dibandingkan bertindak ceroboh yang pada akhirnya justru akan merugikan perusahaan.” Atmosfer di ruangan itu sudah tidak ada lagi kehangatan. Semua orang mendengarkan dengan seksama. Banyak dari orang di sana berpikir jika kepemimpinan Rigel akan lebih menakutkan dibandingkan dengan Darel. Itu sudah terlihat sangat nyata ketika ayah dan anak itu berdiri di depan sana. Rigel memiliki aura mencekik yang kuat. Sedangkan selama ini, Darel masih memiliki sifat lembut.
Tapi, memang sudah saatnya mereka memiliki pemimpin yang baru karena Darel sudah mempercayakan itu kepada putra satu-satunya. Lelaki itu akan pensiun dan menikmati waktunya bersama sang istri. Melakukan perjalanan ke beberapa tempat dan bersenang-senang.
***
“Selamat!” Bintang datang membawa sebuah kado di tangannya. Menyerahkan kepada sahabatnya itu sebagai ucapan selamat atas ‘jabatan’ baru yang diterima. Rigel memberikan sedikit senyum dan menerima dengan lembut. Rigel bisa memperlakukan Bintang dengan sangat baik, tapi dia tak bisa memperlakukan hal yang sama kepada Bee. Terkadang, Bee pun ketika melihat itu merasa iri setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa mengubah apa pun.
“Terima kasih!” Meletakkan dua minuman kaleng di atas meja, Rigel ikut duduk di sofa. Mulai mengobrol tentang banyak hal seolah tidak pernah kehilangan bahan untuk dibahas. Persahabatan yang sudah terjalin selama dua puluh tahun itu benar-benar membuat mereka saling memahami satu sama lain. Bahkan untuk urusan asmara antara Rigel dan Bee saja Bintang berusaha tak ikut campur di dalamnya. Mereka bisa menjaga sikap mereka masing-masing agar persahabatan itu tak putus hanya karena sesuatu yang tidak penting.
Hari berikutnya, Rigel yang sedang fokus dengan pekerjaannya mendapatkan berita yang kurang baik dari asisten pribadinya. Lelaki itu mengatakan jika sekretaris yang akan menggantikannya akan mulai bekerja besok. Awalnya Rigel tidak rela jika Rio akan meninggalkannya, tapi mau bagaimana lagi, sejak awal memang lelaki itu ‘dipinjam’ dari Direktur perusahaan tersebut. Maka meminjam harus mengembalikan. Dan saat itu tiba, hal yang mengejutkan terjadi.
Bee, berjalan di belakang staf HRD yang itu benar-benar membuat Rigel merasa sangat terkejut. Apa yang dilakukan oleh gadis itu di sini? Bukankah dia sudah berjanji untuk tidak lagi berada di jarak pandang Rigel? Lalu apa ini? Jika firasatnya memang benar, maka tentu saja Bee datang bukan tanpa alasan. Tapi lebih baik mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh staf HRD tersebut.
“Maaf, Pak saya mengganggu waktu Bapak,” Katanya dengan sopan. “Saya membawa Ibu Bee untuk membantu pekerjaan Bapak. Beliau yang akan menjadi sekretaris Bapak terhitung hari ini.” Tentu saja ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Bee, akan menjadi sekretarisnya? Apa perempuan itu bercanda? Mungkin beberapa orang di kantor tersebut tidak asing dengan Bee, karena bagaimanapun gadis itu pernah datang untuk bertemu dengan Rigel saat itu.
Bee membungkukkan badannya sedikit lalu memperkenalkan dirinya kepada Rigel. “Nama saya Bee, Pak. Saya akan bekerja bersama dengan Bapak mulai hari.” Hanya perkenalan singkat. Tatapannya tegas menatap ke arah Rigel tanpa gentar. Hanya saja tidak terlihat jika gadis itu ingin melakukan hal yang tidak masuk akal seperti biasanya.
“Baiklah.” Rigel menjawab tak kalah tegas. “Tunjukkan di mana meja kerja Bee dan tunjuk salah satu orang untuk membantunya mengenal tugasnya.” Yang perlu dilakukan sekarang ini adalah sikap profesional satu sama lain. Rigel bukan orang yang akan mencampur adukkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Selama Bee bisa melakukannya juga, tentu saja dia akan lebih menghargainya.
Staf HRD dan juga Bee pada akhirnya berbalik dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Rigel. Bee menahan mati-matian untuk tetap bersikap bijak dengan tidak membuat kesalahan mulai hari ini. Karena percaya atau tidak, dia sudah belajar tentang pekerjaan ini bersama dengan asisten ayahnya dan juga sekretaris ibunya. Dia datang kembali di depan Rigel tentu saja bukan tanpa persiapan. Persiapannya sudah matang dan tinggal mempraktekkannya. Inilah yang dia bilang rencana jahat yang dimilikinya. Berada di sekitar Rigel meskipun hanya di kantor, tapi ini adalah kesempatan terakhir yang dia miliki untuk dekat dengan lelaki itu. Benar-benar yang terakhir. Jika ini tidak berhasil, maka dia akan menyerah.
“Ada dokumen yang perlu Bapak tanda tangani.” Bee sudah mulai bekerja satu hari setelah dia belajar tentang tugasnya. Menyerahkan dokumen tebal dengan gerakan yang anggun namun cekatan. Tidak terlihat jika dia baru saja mengenal pekerjaan ini. Rigel tidak banyak bicara dan memberikan apa yang diminta oleh Bee. Menyerahkan kembali dan gadis itu menunduk sopan.
“Terima kasih, Pak,” Katanya. Kemudian berbalik untuk kembali ke tempatnya. Ruangan Rigel dengan ruangan Bee bersebelahan. Namun jika dilihat dari luar, mereka seperti berada di dalam ruangan yang sama. Bee, benar-benar tak melibatkan perasaan cintanya dalam menjalankan pekerjaannya kali ini.
***