Kalau Bee tidak ingat bagaimana ibunya mengutuk orang-orang yang suka mengumpat, mungkin gadis itu akan melakukannya dan menyumpahi Rigel sampai mulutnya berbusa. Rigel, entah setan apa yang mengganggu pikiran lelaki itu sampai-sampai bisa melakukan hal yang tidak wajar seperti yang dilakukan sekarang. Jika biasanya sosok Rigel adalah penuh dengan ketenangan, maka sekarang dia seperti gunung berapi yang sedang erupsi. Sungguh tidak bisa dikendalikan. Semua lahar panas yang ada di dalam tubuhnya seolah ingin dikeluarkan tak tersisa. Dan Bee menjadi sasarannya sebab dia yang terdekat dengan lelaki itu. Seandainya tidak takut mendapatkan kecaman dari Rigel, Bee sudah bertanya apa yang membuat lelaki itu menjadi bad mood seperti sekarang ini. Namun sayang, dia tak boleh membahas tentang apa pun yang bersifat pribadi.
Bee benar-benar terengah sekarang. Ini masih pagi dan beberapa supermarket belum ada yang buka. Maka dia terpaksa hanya masuk ke minimarket dan menemukan beberapa benda yang diperlukan. Membayarnya, kemudian pergi dari tempat itu. Ini benar-benar pagi yang menyebalkan. Tapi untung saja, ketika dia akan masuk kembali ke pintu gerbang kantornya orang yang menyetujui untuk membantunya datang. Memberikan wewangian yang diminta dan itu membuat Bee lega luar biasa.
“Bapak mau wangi yang mana?” Bee sudah meletakkan beberapa parfum ruangan di depan Rigel agar lelaki itu bisa memilih. Jangankan diangkat untuk dihirup wanginya, disentuh saja tidak.
“Pilihkan saja!” Katanya masih dengan raut wajah yang kaku. Tangannya masih lincah berlarian di atas keyboard berusaha tetap fokus dengan apa yang dikerjakan. Tak tahu jika sekretarisnya sudah merasa jiwanya sedang menyalakan api emosi. “Tidak perlu lagi.” Katanya ketika Bee ingin membuka tutup pewangi tersebut, pergerakan gadis itu juga terhenti. Hanya menatap Rigel barangkali ada yang tidak beres dengan pendengarannya. “Bereskan semuanya dan mulailah bekerja. Ambil semua dokumen yang saya minta karena saya perlu itu sekarang.” Ternyata telinga Bee masih cukup baik berfungsi dan dia tidak sedang berhalusinasi.
Menyebalkan! Itulah satu kata yang pantas disematkan untuk Rigel dengan segala tindakannya pagi ini. Sebelumnya memang lelaki itu bertingkah biasa saja, tapi nyatanya setelah dia memiliki kesempatan untuk melakukan hal buruk, Rigel menggunakan kesempatan itu dengan baik dan sangat maksimal. Membuat Bee harus menahan segala macam gejolak yang ada di dalam hatinya.
Mau tak mau, pada akhirnya Bee kembali ke ruangannya setelah membereskan ‘kekacauan’ yang dilakukannya, dan mengambil semua dokumen yang diminta oleh Rigel tanpa tersisa. Kemudian kembali ke ruangan bosnya tersebut dan meletakkan di atas meja Rigel.
“Saya sudah membawakan semua dokumen ini untuk Bapak. Kalau memang ada hal yang perlu saya lakukan, Bapak bisa panggil saya.” Bee lagi-lagi diabaikan. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Rigel. Layaknya seseorang yang sedang putus cinta, mood lelaki itu benar-benar terjun bebas. Bee tentu saja tak akan menanyakan ini dan itu karena dia tahu itu bukan ranahnya. Baginya sekarang adalah dia harus menjauhkan diri dari lelaki itu.
Ketika makan siang tiba pun, Bee menunggu Rigel keluar dari ruangannya tapi lelaki itu tak ada menampakkan dirinya sama sekali. Bee lapar dan dia memiliki janji temu dengan seseorang. Menunggu Rigel yang tak kunjung datang, maka Bee berinisiatif untuk ke ruangan Rigel. Ketika dia masuk ke dalam sana, aroma kesukaan Rigel segera tercium oleh hidungnya. Sayangnya, Rigel tidak ada di tempatnya. Bee tak melanjutkan langkahnya dan memilih diam di depan pintu. Barangkali, Rigel ada di toilet. Begitulah yang dipikirkan oleh Bee.
“Kamu sedang apa berdiri di sana?” Tak lama setelah itu suara Rigel terdengar. Lelaki itu sudah menggulung lengan bajunya sampai ke siku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan pandangannya mengarah pada Bee sepenuhnya. Meskipun itu sudah sering dilihatnya, tapi Bee masih belum terbiasa dengan semua itu. Semoga saja wajahnya tidak memerah karena malu.
“Sudah waktunya makan siang, Pak. Saya izin pergi untuk makan siang di luar.” Kata Bee. Menatap Rigel yang tampan di depannya membuat hati Bee benar-benar tak karuan. Gedoran dari dalam rongga dadanya terasa mencekam hanya saja dia berusaha mengabaikannya.
“Duduk!” Perintah Rigel dengan tegas. Lelaki itu mendaratkan bokongnya lebih dulu di sofa dan menunggu Bee mengikutinya. Seperti orang linglung, Bee hanya terdiam di tempatnya tanpa bergeser seinci pun. Kesabaran Rigel sedang tertinggal di rumah hari ini, maka tak ada stok kesabaran lagi di dalam dirinya. “Kamu tidak mendengarkan perintah saya?” Picingan matanya tak seperti kilatan petir yang siap menyambar. Sungguh buruk sekali hari ini bagi Bee.
Melangkahkan kakinya dengan pasti, mendekati Rigel dan duduk di kursi berseberangan dengan lelaki itu. Menumpukan kedua tangannya dia atas pahanya dengan anggun kemudian gadis itu bertanya, “Apa yang harus saya kerjakan, Pak?” Ulur saja kesabaranmu, Bee. Batinnya. Menantang Rigel saat ini sama saja meledakkan bom di tubuhnya.
Alih-alih berbicara untuk menjelaskan jawaban atas semua pertanyaan yang diberikan kepadanya, Rigel hanya tetap diam dan menatap Bee dengan raut yang dingin. Dengungan samar AC, detik jarum jam, bahkan suara CPU dari komputer milik Rigel terdengar mengerubungi telinga Bee saking heningnya ruangan tersebut. Bee tidak mau kalah, dia juga membalas tatapan Rigel yang seolah ingin mengulitinya itu dengan tatapan lembut miliknya.
“Kamu sudah boleh pergi!” Katanya dengan dingin. Terus mengarahkan tatapannya ke arah gadis di hadapannya tanpa henti. Bee tetap diam di tempatnya. Karena tidak ada yang dikatakan oleh Rigel kembali, maka Bee berdiri untuk pergi dari ruangan bosnya tersebut.
“Kamu, perlu memperbaiki kinerjamu.” Tiba-tiba saja suara Rigel kembali terdengar. Bee berhenti dan menatap lelaki itu dengan kening mengernyit heran. “Berlakulah seperti sekretaris yang bisa diandalkan. Jangan meminta orang membantu pekerjaan yang seharusnya kamu bisa atasi sendiri.” Ini masih tentang masalah tadi pagi. “Saya sangat benci orang yang tidak bisa melakukan pekerjaannya sendiri dan mengandalkan orang lain.” Bee menutup matanya menahan rasa amarah yang dimiliki.
“Apa ini tentang pekerjaan tadi pagi, Pak? Kalau memang iya, saya perlu menjelaskan sedikit. Karena dia bekerja di pabrik parfum ruangan, karena itu saya meminta agar dia membawakannya supaya bisa menyingkat waktu. Saya tidak mau Bapak merasa tidak nyaman….”
“Saya tidak menerima alasan apa pun.” Rigel tak mau kalah. “Saya tidak suka ada orang yang tidak profesional.” Jika dalam keadaan normal, bisa saja Bee membantah setiap ucapan Rigel dengan sengit, sayangnya sekarang dia tak bisa melakukannya karena tak ingin membuat masalah dengan lelaki itu.
“Pergilah!” Melihat ke arah pergelangan tangannya yang melingkar jam tangan di sana, menunjukkan istirahat makan siang tinggal lima belas menit lagi. Dan itu artinya, Bee harus mengatakan kepada siapa pun orang yang janjian dengannya jika dia sekarang tak bisa datang. Ulah Rigel memang sangat luar biasa.
Duduk dengan kasar di kursinya, Bee memijat pelipisnya. Dia tak berminat lagi untuk makan siang. Tiba-tiba saja Bee juga ingin marah karena lelaki yang suka sekali membuat hatinya berantakan itu berulah. Bukan hanya karena cinta, tapi juga karena tingkah bodoh yang dilakukan oleh Rigel sehingga membuat dirinya harus kewalahan.
***