Lelaki tampan yang ada di depan Bee itu menatap gadis itu dengan tatapan mengintimidasi. Seharusnya hari ini mereka ada janji temu di sebuah restoran untuk makan siang bersama. Tapi nyatanya, saat ditunggu sampai jam makan siang selesai, Bee tak muncul sama sekali. Tentu saja Bee harus ‘diadili’ seadil-adilnya. Hari ini, Bee benar-benar ketiban sial sepertinya. Saat bekerja, Rigel yang mengintimidasinya. Sekarang, setelah dia sampai di rumah, lelaki berbeda melakukan hal yang sama kepadanya.
“Aku tahu aku salah. Aku minta maaf,” Kata Bee menyerah. “Aku nggak bisa bilang apa-apa selain itu.” Memeluk bantal sofa dengan kencang dan menyandarkan kepalanya di sana, Bee sedang ingin menghindari orang-orang yang sedang mengesalkan sekali hari ini, tapi kenyataannya tak bisa. Untung saja, ibu dan ayahnya tak ada di rumah. Bintang juga entah kemana, maka hanya ada dia dan lelaki mengesalkan itu sekarang.
“Hanya karena cintamu, kamu mau diperlakukan seperti itu olehnya?” Barulah setelah beberapa saat, lelaki itu berbicara.
“Archer!”
“Apa? Aku ada di sini!” Bee sebenarnya sangat lelah hari ini karena Rigel seharian mood nya buruk dan berdampak buruk pula kepadanya. Sekarang Archer mengeluarkan perannya sebagai sepupu posesif yang membuat dirinya harus mengulur lebih panjang lagi kesabarannya agar tidak meledak. “Berpikirlah lebih bijaksana, Bee. Kamu ini sudah dua puluh empat tahun. Sudah lulus S2. Gunakan juga akal sehatmu agar tidak bertindak bodoh seperti ini.” Archer memang tidak sekaku itu, tapi ketika melihat Bee melakukan tindakan yang baginya tidak wajar, maka dia yang paling marah.
Mungkin Avior – adik Archer juga akan melakukan hal yang sama nanti. Sayangnya lelaki itu masih kuliah di Singapura dan tidak pernah mendapatkan berita-berita tak penting terkait keluarganya.
Bee tak menjawab tapi hatinya semakin tertekan. Apa yang dikatakan oleh Archer adalah kebenaran mutlak. Dia memang bodoh, tapi jika itu adalah Rigel, maka dia bisa melakukan apa pun untuk lelaki itu bahkan menjadi pelampiasan mood buruknya.
“Biarkan aku yang turun tangan.” Archer sudah mengantongi semua penjelasan yang diberikan oleh Bee kepadanya. Berbeda dengan Bintang yang tidak bertindak, Archer bukan lelaki yang sabaran. Archer yang akan menggantikan peran kakak laki-laki untuk Bee menggantikan Bintang. Karena lelaki itu tahu, Bintang sudah memberikan peringatan yang cukup keras kepada adiknya jika Rigel bukan orang yang sanggup mengatakan ‘Iya’ hanya karena kasihan. Apalagi itu tentang sebuah hubungan cinta.
“Kamu mau lakukan apa? Jangan bertingkah yang aneh-aneh.” Namun siapa yang akan peduli, karena Archer masa bodoh dengan peringatan yang diberikan oleh Bee kepadanya.
Keesokan harinya, Bee dipaksa oleh lelaki itu untuk berangkat bekerja bersamanya. Kalau seandainya Rigel melihat keberadaannya dan bertingkah sama seperti kemarin, maka Rigel memang sudah memiliki perasaan lebih kepada Bee. Tapi kalau tidak, maka Archer tidak tahu apa isi pikiran lelaki itu. Bee bercerita, jika Rigel selalu datang sesuai jam yang sudah ditentukan. Jam operasional masuk kantor adalah pukul delapan pagi, maka meskipun telat, itu hanya lima menit saja. Archer sudah memprediksi dia harus sampai pukul berapa di tempat kerja Bee. Beberapa karyawan berbondong-bondong datang agar tidak telat dalam absen mereka.
“Kamu mau kemana?” Bee mencegah Archer yang akan keluar dari mobilnya.
“Membukakan pintu mobil buat kamu.”
“Jangan!”
“Aku nggak dengar!” Archer mengatakan itu dengan raut wajah yang mengesalkan dan itu membuat Bee geram bukan main. Mentang-mentang dia melakukan kesalahan kemarin, lantas lelaki itu dengan seenaknya membully nya sekarang. “Keluarlah!” kata Archer setelah pintu mobil terbuka. Ada sebuah seringaian yang muncul di bibirnya. Archer tahu, Rigel sedang melihat mereka.
Dengan lembut, Archer menggandeng tangan Bee meskipun gadis itu menolaknya dengan kuat. Tenaganya lebih kuat dibandingkan dengan Bee, maka itu tak akan berhasil. Bee merasa jika dia benar-benar akan mati detik itu juga. Dia bisa bertingkah kesetanan jika dia tak berhadapan dengan Rigel, sayangnya Rigel sudah berada di depannya sekarang dan menatap jalinan tangan Bee dan Archer yang terlihat begitu mesra.
“Sepertinya ini bukan taman yang memperbolehkan kalian menunjukkan kemesraan kalian.” Tampaknya, Rigel pun sudah lupa dengan Archer karena sudah lama tak bertemu.
“Hanya bergandengan tangan, itu bukan sebuah kemesraan.” Archer menjawab dengan dingin. “Kamu masuklah. Jangan sampai terlambat hanya gara-gara aku.” Dengan sebuah kecupan di dahi Bee, Archer kemudian melepaskan tangannya dan berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Bee yang akan menghadapi kebuasan Rigel terlihat dari ekspresi lelaki itu.
***
Bukankah Bee gadis yang dulu dijuluki preman oleh teman-temannya ketika masih SMP? Lalu kenapa sekarang seperti anak kucing yang tak berani menyerang ketika merasa perlakuan buruk menimpanya? Tentu saja ini hal yang berbeda. Bee akan berbuat bar-bar jika masalah ini tidak berkaitan dengan orang yang dicintainya. Bukankah cinta itu buta? Bukankah tak ada logika dalam cinta? Maka sekarang itulah yang terjadi pada Bee. Dia bisa menahan segala macam rasa sakit karena satu kata bernama cinta. Selama ini, dia sudah menjadi seorang ‘militer’ di bawah pimpinan sang bunda. Bagaimana dia ditekan oleh Embun agar tak mudah mengeluarkan emosi yang akan merugikannya.
“Apa yang kamu lakukan tadi?” Bee baru saja menyalakan komputernya ketika Rigel memanggilnya ke ruangannya. Lelaki itu berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Mengeluarkan aura hitam pekat. Jangan tanyakan bagaimana cara lelaki itu menatap Bee karena gadis itu merasa dia sedang berada di bawah guyuran hujan salju tanpa pakaian tebal. Sepertinya, musim dingin sudah tiba.
“Perlakuan yang mana, Pak? Bisa Bapak jelaskan?” Embun selalu bilang kepada Bee, seorang bos memang terkadang suka mengeluarkan kekesalannya kepada karyawan. Tapi, sebagai seorang karyawan, Bee tidak boleh melupakan sopan santunnya. Yang terpenting orang itu tidak melukai harga diri karyawan, maka masih bisa ditolelir.
“Bermesraan di wilayah kantor. Bukankah itu sudah ada ketentuan jika tidak boleh dilakukan?”
Bee dengan tenang merespon, “Maafkan saja, Pak. Berhubungan suami istri, berpangkuan, bertindak tak senonoh, atau hal-hal yang menjurus kepada zina, itulah yang dinamakan bermesraan. Saya tadi hanya bergandengan tangan sebuah kecupan ringan di dahi saya, saya rasa itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.”
“Kamu adalah sekretaris saya. Tindak tandukmu selalu menjadi perhatian karyawan lain di kantor ini. Kalau kamu tidak bisa menjaga sikap, itu juga akan membuat nama saya terlibat.”
“Saya pernah melihat sepasang kekasih melakukan hal yang sama seperti tadi di depan kantor, Pak. Saya rasa itu adalah sebuah hal yang lumrah untuk pasangan.”
Pasangan!
Satu kata itu entah kenapa terasa menusuk telinga Rigel membuatnya mengetatkan rahangnya kuat. Atmosfer di sekitar mereka benar-benar kaku tanpa bisa dikendalikan.
“Terserah kalau kamu mau melakukan itu, tapi tentu saja tidak di depan saya.” Bukankah ada kejanggalan di dalam kalimat Rigel kali ini?
***