Menggenggam tanganmu saat semua mulai terasa berat
Membagi semua masalah yang telah kita lewati
Banyak hal yang sudah terjadi
Banyak hal yang sudah kita lewati dengan bergenggaman tangan
Saat aku mulai merasa lelah
Genggam tanganmu, dan tidak melepasnya
Semua terasa indah, saat kau berada di sisiku
Semua terasa indah, waktu yang aku lewati bersamamu
Saat tanganmu lelah, dan genggaman ini mulai merenggang,
Aku akan menggenggam tanganmu lebih erat
Karena aku tahu kau juga akan menggenggam erat tanganku,
Saat aku mulai lelah untuk menggengammu
Aku akan berada di sisi terbaikmu,
Memelukmu dari belakang agar kau tidak terjatuh
Karena kau ada di sisi terbaikku,
Memelukku saat aku lelah dengan dunia ini
Aku menggenggam tanganmu lebih erat dari sebelumnya
Karena aku rasa saat ini kau memerlukannya
Aku harap kita tidak akan berubah jadi dewasa
Tidak akan pernah berubah dalam alam semesta
Kita tidak akan pernah berubah meskipun semesta berubah
Selamanya, kita tidak akan berubah
Aku mendengar isi hatimu selayaknya suara radio
Terus tersenyum seakan tidak memiliki keluhan
Aku akan menguatkanmu karena aku nyaman berada di sisimu
Setidaknya biarkan ini berjalan sampai matahari tenggelam hari ini
Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa ini
Yang kulakukan mungkin mengatakan "Semuanya baik-baik saja"
Saat matahari mulai tenggelam hari ini aku mulai bertanya-tanya
Apa kau akan menggenggamku lagi, atau tidak esok hari
Aku menggenggam tanganmu lebih erat dari sebelumnya
Karena aku rasa saat ini kau memerlukannya
Aku harap kita tidak akan berubah jadi dewasa
Tidak akan pernah berubah dalam alam semesta
Meski waktu terhenti di malam hari
Aku akan akan tetap menggenggammu
Meski musim berubah menjadi dingin
Aku tahu jika kamu tidak akan pernah pergi
Aku menggenggam tanganmu lebih erat dari sebelumnya
Karena aku rasa saat ini kau memerlukannya
Aku harap kita tidak akan berubah jadi dewasa
Tidak akan pernah berubah dalam alam semesta.
Karena meskipun kau pergi aku akan tetap menunggu di sini
Karena kau pasti kembali dan menggenggam tanganku
Melewati ribuan musim dingin yang ada di depan
Aku percaya itu
- - - -
Volentia membuka matanya. Ia ingat jika dirinya tadi masih berada di perpustakaan, dan kini saat dirinya membuka mata dia ada di sebuah padang gurun yang gersang. Mata Volentia menyipit beberapa kali guna menghindari debu pasir padang gurun yang terbang terbawa angin yang bertiup cukup kencang.
"Anginnya tidak akan berhenti bertiup, ayo berdiri." Sebuah tangan terlihat terulur ke arah Volentia, gadis itu tidak banyak merespon karena masih terkejut ataupun belum terbiasa dengan suasana sekitar yang terasa gersang. "Cepatlah, aku tidak bisa menampakkan dirinya lama-lama." Sosok itu mengeluh, membuat Volentia bergegas untuk berderi, meski akibatnyatulang punggungnya benar-benar terasa nyeri saat ini.
Volentia memgang lengannya yang sepertinya tadi dia jadikan tumpuan saat terjatuh. Tunggu, apa dia benar-benar terjatuh tadi? Mengedarkan pandangannya. "Ini dimana?" tanya Volentia. Rambut pirangnya berkibar bebas ditiup angin padang gurun yang tidak bersahabat.
"Alam bawah sadae Ella, kita ada di Benevolentia sekarang," jawab sosok itu. "Kau mengenalku?" Volentia tidak berekasi, namun matanya seakan menatap beberapa gerakan aneh yang menunjukkan jika sosok yang ada di depannya kini bukanlah arwah, melainkan sihir ingatan. "Aku Pevita Elaine Sparrow," ucap sosok itu memperkenalkan dirinya. Dapat Volentia perhatikan jika sosok itu memiliki beberapa kesamaan dengan Ella meski pakaian wanita itu cenderung lebih feminim.
Volentia tentu saja tahu jika Ella tentu saja tidak akan mau disuruh memakai rok dia tas lutut. Seperti yang saat ini dikenakan Pevita.
"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Volentia. "Aku harus kembali."
"Kau akan kembali sebentar lagi, maka dari irtu waktuku tidak banyak." Pevita berucap serius. Kedua tangannya memegang pundak Volentia kuat. Cenderung mencengkeram. "Saat kau bangun nanti, jangan pernah percaya dengan apapun yang pernah ditulis dibuku. Kami melakukan kesalahan, kesalahan besar yang akan terus berulang, yang sayangnya tidak dapat kami hentikan. Kau harus menghentikannya, kau harus menyelesaikan potongan puzzle yang kami tinggalkan."
Volentia tertahan dalam gerakannya. Tidak tahu harus menjawab apa, namun entah darimana dia memiliki keberanian untuk memberontak lepas hingga Pevita secara tidak sengaja mendorongnya menjauh. Volentia tidak melakukan perlawanan lain selain hal itu, selebihnya dia hanya mengikuti pusaran yang dia yakini adalah jalan keluar dari tempat yang menurutnya khayal ini.
Aku pasti terlalu banyak berkhayal.