Volentia meletakkan kepalanya sejajar dengan meja perpustakaan. Ia baru saja selesai menata ulang deretan buku biologi Binatang Eksotis Nan-Mistis karya Primrose Lily Raven yang entah mengapa mampu mengisi setidaknya dua rak besar yang ada di lantai dua. Oliv sibuk melakukan pengecekan ulang data yang masuk, disaat Ella dan Ai memilih untuk tenggelam di beretan rak buku Kimia, dan Seni Manusia.
Toples berisi ulat menemani lamunan panjang Volentia. "Hi, kau kenapa? Patah hati?" tanya ulat itu menatap lekat wajah Volentia yang hanya berjarak beberapa cm dengan sebuah kaca pelapis di antara mereka. "Aku dengar penyihir hanya bisa jatuh cinta sekali, jadi itu benar? Kau sedang patah hati?"
Volentia menatap balik ulat itu. "Siapa yang mengatakannya?" tanyanya pelan. "Aku hanya sedang memikirkan seseorang yang sudah aku susahkan sejak hari pertamaku di sekolah. Dia pasti sangat terpuruk," ucap Volentia mengetukkan jarinya di dinding toples.
"Apa ini tentang jas itu?" tanya ulat itu menunjuk jas yang sedari beberapa hari yang lalu selalu tersimpan di dalam tas Volentia. "Karena itu, kan, kau memerlukan benang yang aku miliki."
Volentia mengangguk lemah. "Maaf ya," ucapnya. "Aku hanya ingin mencoba membenarkannya."
Ulat itu menatap Volentia, bertukar pandangan selama beberapa saat. "Tidak apa." Satu kata terucap, dan seseorang secara paksa menarik jas Clark yang berada di dalam tas Volentia.
Seorang gadis yang terlihat lebih tua dari Volentia datang dengan dua temannya, ia terlihat memperhatikan jas itu dengan seksama. Pupil matanya seketika membulat saat ia mendapati sobekan yang ada di bagian punggung Clark. "Apa yang sudah kalian berdua lakukan, huh?" tanyanya sinis.
Volentia menatap seniornya itu dengan hormat. "Itu hanya kecelakaan, ia mencoba melakukan kerutan ruang dengan angin, dan hasilnya seperti itu," ucap Volentia menjelaskan sesuatu pada seniornya namun terasa layaknya angin lalu.
Plak.
Tamparan keras terasa di pipi kanan Volentia. Tangan senior itu masih terangkat di udara. "Sekali lagi aku bertanya padamu, apa yang kalian lakukan?" tanya dengan tatapan mata menginterogasi.
Volentia menahan gerakan tangan kanannya yang masih berbalut casa. "Aku sudah menjawabnya dengan jujur."
Plak.
Suara tamparan keras kembali terdengar, kali ini pipi kiri Volentia yang terasa berdenyut ngeri. "Sekali lagi bertan-"
"Apa?! Bertanya?! Aku, kan, sudah bilang yang sebenarnya kalian itu kenapa sih?!" bentak Volentia tidak tahan, jaraknya dan teman-temannya yang lain cukup jauh, mereka mungkin tidak mendengar teriakan itu.
"Beraniny-"
"Apa?!" potong Volentia menahan rasa sakit yang ia alami. "Apa kau ingin menamparku?!" tanyanya tajam. Volentia berdiri dari duduknya mensejajarkan posisi kepalanya dengan ketiga gadis yang ada di depannya itu. "Dandelion Beads," ucapnya setelah mengedarkan pandangannya pada ketiganya secara sekilas.
Volentia terduduk lemas di kursinya semula. Sementara tiga senior itu seakan terhipnotis, dan diam tanpa suara di tempatnya masing-masing. "SILVA!" Sebuah suara mendadak terdengar dari balik tumpukan buku-buku.
"Tidak bisakah kau diam sebentar?" tanya Oliv geram pada tingkah kekanakan Oliver yang mencoba mengobati lukanya akibat mengikuti kelas Bela Negara.
Siapa juga yang akan tahan dengan suara berat Oliver yang sedari tadi mengomentari tugas yang harus ia coba lalui. Siapa juga yang menyuruhmu memilih kelas itu? Sementara Oliv mencoba mengontrol emosinya, mengingat dia bukan Ella yang bisa membumi hanguskan Oliver dalam sekejap.
Satu hentakan, dan Oliver dengan cepat terkejut. Oliv duduk di sampingnya, dan mengambil beberapa casa, serta ramuan penghilang memar yang ada di sana. "Jangan terlalu berharap, aku membantu hanya karena suaramu itu benar-benar menganggu," keluh Oliv. "Aku penasaran bagimana mungkin afiliasi Paduan Burung Merpati menawarimu keanggotaan kala itu."
"Terima kasih," ucap Oliver singkat.
Hening. Hanya ada keheningan, dan canggung diantara mereka berdua. Namun begitulah, mungkin, cra mereka berdua untuk saling mengerti satu sama lain. Dalam diam, semua pertanyaan mungkin dapat di selesaikan.
"Selesai," ucap Oliv membuyarkan hening. Suasana yang dipenuhi hening kembali menyelimuti mereka berdua. "Aku akan kembali mengurus data peminjaman buku," ucap Oliv kembali membuyarkan hening yang justru membuat mereka semakin canggung.
Oliver mengangguk. Lidahnya seakan mati rasa untuk mengatakan sesuatu saat ini.
"Apa kau ingin membantuku?" tanya Oliv membaca pikiran Oliver yang ingin membantunya.
Oliver kembali mengangguk. Entah mengapa lidahnya seakan lumpuh, dan kedua bagian bibirnya itu serasa tertutup saat Oliv berada di dekatnya. "Apa yang harus aku bantu?"
"Memeriksa tanggal pengembalian buku?" tawar Oliv. "Jika tidak memeriksa tanggal peminjaman buku."
"Aku akan memeriksa tanggal peminjaman buku," ucap Oliver membuat kesepakatan.
Keduanya dengan cepat disibukkan dengan dua layar monitor berseberangan berisi data peminjaman, dan pengembalian buku. Oliver berkali-kali mencoba mengalihkan pandangannya pada Oliv diam-diam.
"Ada apa?" tanya Oliv menatap layar berisi daftar nama itu dengan intens. "Jika ada masalah kau bisa membicarakannya, kan? Jika ada masalah jangan kau simpan di dalam hati, pada akhirnya hal itu juga akan terungkap, bukan?"
Oliver kembali mengangguk untuk ucapan Oliv, dan kemampuan membaca pikirannya.
"Berhenti mengangguk," ucap Oliv muak terus-terusan dalam keadaan dia yang berbicara sedangkan Oliver hanya mengangguk mengiyakan. "Dan jangan bertanya pertanyaan konyol seperti; Bagaimana kabarmu?, kau tinggal satu asrama denganku, kan? Apa kau sudah makan?, kita selalu makan di meja yang sama bersama-sama sejak kelas 1, ingat? Bagaimana kelasmu hari ini?, kita berada di kelas yang sama, dan seperti yang kau lihat setiap harinya, aku baik-baik saja. Tidak bisakah kau menanyakan pertanyaan yang tidak konyol seperti itu?" Oliv membungkam mulut Oliver dengan ucapannya yang terdengar dalam meski ia mengucapkannya dengan nada biasa saja.
Oliver menatap Oliv yang masih sibuk dengan daftar nama itu. Semua pertanyaan yang tergambar di otaknya sekita diucapkan gadis itu sebagai pertanyaan konyol. "Apa kau menyukaiku?" tanya Oliver.
Oliv mengangkat kepalanya, sedikit tersenyum. "Pertanyaan bagus, tapi aku tidak memiliki jawabannya," jawab Oliv kembali pada daftar nama itu, begitu juga Oliver seakan pembicaraan tadi hanyalah sebuah omong kosong. "Ngomong-ngomong, untuk apa kau, Clark, dan Albus keperpustakaan?"
"Kami hanya menemani Clark, ia mengatakan jika Silva mungkin akan melakukan hal buruk di tempat ini, kami berpencar da-"
"Dan kau justru diam saja di sini?" tanya Oliv kembali membungkam Oliver.
"Maaf," ucap Oliver pelan yang hanya dijawab anggukan pelan dari Oliv.
Oliv tiba-tiba saja membulatkan pupil matanya ke arah salah satu barisan rak buku raksasa. "Apa yang terjadi?" tanyanya berjalan mendekat saat Clark muncul sambil menarik Volentia yang menundukkan kepalanya. Rambut parangnya coba ia menyebunyikan memar merah bekas tamparan yang terasa nyeri di pipinya. "Serahkan padaku."
Clark melepaskan genggaman tangannya pada Volentia, berjalan ke arah Oliver yang juga berada di tempat itu. "Pegang ini," ucapnya menyerahkan toples berisi ulat api. "Ada yang harus aku selesaikan," imbuhnya, dan segera memasuki salah satu barisan rak buku.
"Kau tenang saja," ucap Oliv pada Volentia yang terdiam. "Silva yang melakukan ini, kan?"
Volentia hanya terdiam, ia tidak mengenal senior itu, bahkan ia tidak mengenal semua seniornya. "Dia memang sangat keterlaluan, Clark pasti tidak akan memaafkannya kali ini, untuk kedua kalinya ia mungkin akan mengacaukan tempat ini selayaknya Paris," ucap Oliver meletakkan toples ulat di salah satu meja yang ada.
"Ide bagus di saat kami bertugas merapikan tempat ini," komentar Oliv. Ia menatap ke arah tas Volentia, dan ulat api selama beberapa saat. "Apa ini berhubungan dengan jas itu?"
"Gadis gila itu mengambil jasnya," jawab ulat api yang mendapat tatapan dari Oliv, dan Oliver.
"Gadis gila? Maksudmu Silva?" tanya Oliver. "Clark pasti bisa membumi hanguskan tempat ini lebih cepat dari pada Ella, dia sangat menyayangi jasnya itu, kan?"
"Jangan mulai," ucap Oliv memberi kode agar Oliver diam selayaknya saat hanya ada mereka berdua di tempat itu.
--
"Hidup bagaikan roller coaster. Kadang kau harus naik dan turun. Berteriak dan tertawa. Sebelum pada akhirnya permainannya selesai."