Cuaca Witch Academy benar-benar unik. Lebih hangat di musim dingin, dan lebih dingin di musim panas. Entah siapa yang melakukan hal itu, namun sejarah hanya mengatakan jika itu akibat ketidak sengajaan seorang Kenzie Gabriella Scorpio. Itu juga demi keberlangsungan hidup makhluk hidup pada masa itu. Tidak ada kegiatan menarik sekiranya dalam waktu dua minggu ini, kecuali Volentia yang sering bolak-balik antara kamarnya dan ruang musim semi karena ulat api pemberian Penny yang rupanya cukup berisik dan terlalu memiliki banyak ketidak cocokan dengan Serenity.
"Ulat itu lagi?" tanya Ella pada Volentia yang baru saja turun di ruangan berkumpul, kali ini bergaya seperti persiapan halloween meski ini baru bulan April. "Aku tidak habis pikir, ini kali kedua ulat itu meminta bulu halus Serenity, kan?"
Ulat seukuran bola kasti yang berada di dalam toples tertutup yang dibawa Volentia menatap nanar ke arah Ella. "Bulu halus baik untuk pencernaanku, apa kau ingin aku mati dan usaha kalian menunggu benang sutra untuk teman kalian itu sia-sia?"
"Siapa yang peduli dengan jas konyol itu?" ucap Ella yang sedari pertama kedatangan ulat itu di asrama Sylvester sama sekali tidak memiliki kecocokan dengannya.
"Aku peduli," ucap Clark yang sibuk bermain sejenis play station dengan sebuah stick kayu biasa dengan Albus. "Hi, itu curang," keluhnya pada Albus yang mengambil kesempatan selagi ia berbicara.
"Itu tidak curang, itu namanya aku pintar memanfaatkan situasi," balas Album masih fokus dengan layar televisi ruangan berkumpul. Lebih tepatnya ruangan pertemuan koloni kelas dua, mengingat anak-anak kelas 1 lebih suka menghabiskan waktu mereka di ruang musim panas, dan kelas 3 yang lebih memilih untuk bergerombol di ruangan obsevatorium. "Benar, kan?" tanyanya pada Oliver yang sibuk menata ulang beberapa buku yang ada di rak buku yang tentu saja menjadi sangat tidak teratur setiap ruangan itu berganti wujud.
"Sebenarnya itu lebih diartikan ke arah licik," komentarnya.
"Aku pikir semua ulat hanya makan dedaunan." Ai yang sibuk merakit beberapa action figure miliknya berucap. "Apa ada yang tahu getah super lengket? Serenity sepertinya mengambil getah itu dariku," ucapnya menunjulkan sebuah toples getah yang kosong.
"Itu karena kau sudah membuatnya terduduk di kursi lobi selama dua hari penuh Ai," omel Clark. Sebuah toples tiba-tiba saja terlempar ke araha Ai. "Pakai saja punyaku, tapi itu hanya getah lengket," ucapnya. "Mau aku bantu?"
Ai menatap kepingan action figure miliknya. Ella duduk disampingnya, sibuk melepaskan beberapa kepingan yang masih menempel dengan bingkainya. "Bantu aku menempelkannya," ucapnya. "Apa kau ingin mencobanya Vol?"
"Sepertinya seru."
Suara kayu yang dibakar di perapian memenuhi ruangan yang diisi suara permainan Albus, dan Clark yang berganti dengan Albus yang melawan dirinya sendiri. Mengingat Clark yang sepertinya lebih memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar asrama. Tidak ada yang mencoba memulai pembicaraan karena fokus pada pekerjaan masing-masing. Volentia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela yang mulai menunjukkan titik-titik salju di bulan alhir Agustus, cuaca yang aneh di dimensi sihir. Beberapa dedaunan dengan cepat beterbangan berganti dengan kepingan salju.
Kriet.
Suara pintu yang dibuka paksa terdengar, memunculkan sesosok kelinci dengan jas yang serasa terlalu kekecilan. "Aku harap ruangan ini menjadi mansion mewah seukuran gedung putih," omel Serenity saat tubuhnya terjepit di ambang pintu. "Bisa bantu aku?"
Oliver, dan Albus dengan cepat beranjak dari duduknya dan menarik kedua tangan Serenity, perlu tenaga ekstra untuk menarik gumpalan bulu itu. "Terima kasih anak-anak," ucapnya membenarkan jas yang ia kenakan. "Tuan Lazuardi baru saja mengumumkan tahun baru Wicelin, semua murid dari segala angkatan dari seluruh asrama diperintahkan untuk ikut ambil bagian dalam Maid Magic."
"Apa itu Maid Magic?" tanya Volentia.
"Volentia sayangku, itu adalah acara seperti halloween yang diadakan di setiap peringatan tahun baru Wicelin. Kau, dan yang lainnya harus bersiap pergi ke dunia manusia untuk membeli sebuah atau beberapa pasang pakaiannya, Sayang," jelas Serenity. "Jika tidak begitu jelas kau bisa bertanya pada Oliv, apa yang bisa aku jelaskan mengingat aku hanya seorang kelinci."
"Apa tema kali musim dingin?" tanya Ai.
"Tentu saja Ai, seperti yang kau lihat disekitarmu, dedaunan musim gugur mulai berubah menjadi salju," jawab Serenity. "Tidak ada pertanyaan lagi? Kalau begitu bantu aku keluar dari ruangan ini."
--------
Tahun baru Wicelin, tahun baru yang terjadi setiap tanggal ke dua puluh delapan bulan ketujuh belas belas di tanggalan penyihir, sama dengan 999 hari dalam kalender manusia. Saat itu, semua penyihir dari setiap negara bagian, bahkan dimensi akan melakukan beberapa perayaan. Begitu juga Witch Academy yang memiliki empat jenis perayaan untuk menyambut datangnya hari itu sesuai dengan musim dimana hari itu berlangsung; Spring Tea, Summer Game, Auntumn Party, dan Winter Night.
Oliv menjelaskan semua pengetahuan yang ia ketahui tentang tahun baru Wicelin pada Volentia sedari mereka berada di dalam barisan murid yang mencoba untuk melakukan kerutan waktu yang dimiliki sekolah.
"Terdengar seru buatku," ucap Volentia saat mereka berempat baru saja melakukan kerutan ruang dari portal kepunyaan sekolah. Portal yang secara langsung mengirim mereka dan murid-murid lainnya ke sebuah butik di kawasan kota Paris.
Glam & Calm.
Volentia mencoba menyamakan langkah kakinya dengan murid-murid lain disaat pandangan matanya tidak bisa teralihkan dari pemandangan penuh sihir di depannya. Penyihir dengan kekuatan yang berhubungan dengan kain, dan benang terlihat berlalu-lalang melayani semua murid yang ada.
"Empat gaun gaya victoria dengan kesan perancis, kami ambil warna biru, merah, coklat, dan, warna apa yang kau inginkan Vol?" tanya Oliv saat seorang pelayan datang mendekat ke arah mereka bertiga.
Volentia mengedikkan bahunya pelan. "Mungkin, hitam, aku rasa," jawabnya.
Oliv memberi kode pada pelayan itu, setuju dengan apa yang dikatakan Volentia. Pelayan yang memahami kode itu segera undur diri, mencari gaun yang dipesan empat remaja itu.
"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan saat tahun baru Wicelin tiba?" tanya Ella menatap Volentia dengan tatapan hangat, entah sejak kapan ia mulai merubah warna rambutnya menjadi kecoklatan.
"Menerbangkan beberapa lentera ke langit malam," jawab Volentia jujur. "Sejak kapan kau mengecat rambutmu?"
Ella menyibak rambutnya sesaat. "Ah, kau memperhatikannya ya?" ucap Ella tersenyum kikuk.
"Dia memang sering mengecat rambutnya," ucap Ai. "Jangan bilang kau mengira jika kemarin itu warna rambutnya yang asli?"
Volentia hanya tersenyum kikuk seperti halnya Ella.
"Warna rambut Ella itu, merah keemasan," ucap Oliv memberitahu. "Dia tidak begitu menyukainya, dan mulai mengecat rambutnya setiap beberapa minggu sekali, bahkan dia pernah mewarnai rambutnya dengan degradasi hitam, putih, dan mutiara."
Ai, dan Oliv mencoba menahan tawa mereka saat mengingat mode rambut Ella kala itu. "Itu tidak lucu," ucap Ella.
Suara dentuman secara mendadak terdengar di arah barat daya butik, beberapa murid dan pelanggan mulai berlarian menjauhi tempat itu sementara para pelayan berlarian mendekati tempat itu.
"Kami pemilik butik Glam & Calm meminta maaf atas ketidak nyamanan ini. Para murid Witch Academy, dan para pelanggan dimohon mengikuti panel kuning darurat yang sudah disediakan. Sekali lagi kami minta maaf atas ketidak nyamanan ini."
"Clark?" gumam Volentia pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Ella yang berada di dekatnya.
"Ah, tidak, tidak ada apa-apa," jawab Volentia menyembunyikan sesuatu, membuat Oliv menatapnya cukup lama.
"Lebih baik kita segera pergi, Clark sedang berurusan dengan Silva," ucap Oliv menginterupsi.
--
"Segalanya akan indah jika dilaksanakan dengan senang hati."