Stella berjalan memuju ke pintu, dalam hatinya bertanya siapa yang berkunjung ke Glarow Watson. Stella membuka pintu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat astronot-astronot pihak Byke sudah berdiri di depan pintu. Mata Stella membelalak melihat mereka.
"Ada apa kesini?!" Tanya Stella ketus.
"Um, kami," ucap salah satu astronot itu terbata-bata. 3 orang itu berdiri di depan pintu dengan wajah tegang. Membuat Stella semakin penasaran.
"Ada apa sih?"
"Ka,kami minta maaf, kami tidak berpihak kepada Byke lagi. Mulai sekarang tolong maafkan kami." 3 orang itu menunduk. Stella melihat ketiga orang itu merasa menyesal.
"Masuklah," ucap Stella.
Tiga orang itu pun terkejut mendengar ajakan Stella. Dengan cepat mereka masuk ke dalam Glarow Watson. Stella mengajak tiga orang itu untuk masuk ke dalam ruang tamu. Disana Stella meminta untuk duduk dan menunggu dia untuk memanggil Watson. Ketiga orang itu pun menganggukkan kepala senang. Stella pun berjalan masuk ke dalam kamar Watson.
"Siapa?" Tanya Arthur.
"Entahlah, mereka sebenarnya orang-orangnya Byke."
"Hah? Lalu kenapa kau mengajak mereka masuk??"
"Lebih baik kau ikut nanti ke luar, aku mau membangunkan Watson dulu." Stella pun naik ke atas ranjang tidur Watson.
"Tunggu!"
"Apa?"
"Tidak perlu membangunkan Watson. Biar aku saja. Kasihan dia baru saja minum obat."
"Kau benar. Aku ikut kalau gitu."
Sedangkan di ruang tamu, ketiga orang itu tengah duduk menunggu Watson keluar. Namun mata mereka tidak berhenti melihat ruangan tamu itu. Kemudian mereka bertiga saling bertatapan. Hingga mereka bertiga pun beranjak dari tempat duduk mereka. Ada yang berjalan mendekat kearah pintu kamar Watson seolah mengawasi kapan mereka akan keluar dari kamar itu, satu yang lain berjalan menuju ke sudut-sudut ruang tamu. Sedangkan satu lagi membungkuk di lantai seperti mencari tempat yang tidak terlihat di bawah meja.
"Tapi nanti Watson tidak tahu."
"Iya dikasih tahu nanti." Stella terkekeh.
Mereka seperti tengah menaruh sesuatu di sudut-sudut ruang tamu dan di bawah meja.
"Sst," ucap yang berdiri di depan pintu kamar Watson. Ketiga orang itu pun langsung berlari pelan menuju ke sofa itu kembali dan duduk disana. Terlihat Stella membuka pintu kamar Watson disusul Arthur dibelakangnya. Ketiga pria itu kembali menundukkan kepala seperti semula. Stella tidak curiga sedikitpun kepada mereka bertiga. Karena mereka bertiga terlihat benar-benar serius.
Arthur mendekati mereka. Duduk di hadapan mereka disusul Stella duduk di samping Arthur. Arthur menatap gelagat dari ketiga orang itu. Berbeda dengan Stella, Arthur justru mendapati gelagat aneh dari mereka.
"Ada apa kesini?" Tanya Arthur.
"Kami mau minta maaf, kami sadar kami salah," astronot yang duduk tepat di hadapan Arthur.
"Minta maaf? Untuk apa? Sebutkan apa kesalahan kalian?" Arthur semakin curiga dengan ketiga orang ini. Mereka terlihat gelagapan seperti tidak tulus meminta maaf. Stella hanya diam mengikuti alur Arthur saat ini. Dia juga tidak tahu apa maksud ketiga orang ini. Dalam hati Stella menangkap ada yang tidak beres namun dia juga tidak tahu apa itu. Dia hanya merasa seperti itu, namun rasa kasihannya jauh lebih unggul kepada mereka bertiga.
Arthur masih menunggu jawaban ketiga orang itu. Namun lagi-lagi terlihat mereka tengah gelagapan. Arthur masih menunggu sambil lebih intens memperhatikan gelagat ketiga orang ini. Arthur sengaja membuat ketiga orang ini gelagapan.
"Kau menakuti mereka," ucap Stella.
Ketiga orang itu langsung mengangkat kepala mereka melihat kearah Stella lalu tersenyum.
"Benar begitu?" Tanya Arthur kepada ketiga orang itu lagi.
"Ti,tidak begitu menakuti," ucap salah satu dari mereka.
"Kau dengar, mereka biasa saja. Jadi sudah pasti mereka bisa menjawab pertanyaanku." Stella hanya diam dia tidak banyak bicara. "Sebenarnya siapa yang menyuruh kalian?" Pertanyaan itu membuat ketiga orang itu sontak saling berpandangan. Arthur pun tidak henti memperhatikan mereka bertiga. "Jujur saja sebelum ada sesuatu yang lebih buruk dari ini."
"Apa maksudmu?" Tanya Stella. Arthur hanya menatapnya tidak berbicara. Stella tahu dia sedang dalam mood serius. Stella hanya diam sambil mengikuti apa yang sebenarnya dimainkan oleh Arthur. "Aku sarankan kalian jujur sebelum hal buruk terjadi kepada kalian," ucap Stella kepada ketiga orang itu.
"Kami sungguh ingin meminta maaf," ucap salah satu astronot itu dengan nada agak ragu. Arthur semakin mengerutkan keningnya.
(Brakk) meja pun digebrak oleh Arthur membuat Stella dan ketiga astronot itu terkejut.
"Kalian aku tidak tahu apa yang baru saja kalian lakukan?"
"Ka,kami hanya melakukan tugas."
"Jackpot, apa yang tadi kalian lakukan??" Mata Arthur menatap ketiga orang itu. Stella semakin bingung. Memang apa yang diketahui oleh Arthur.
"Perasaan kau dari tadi denganku? Bagaimana kau tahu mereka tadi melakukan sesuatu?"
"Aku hanya menggertak mereka. Dan benar bukan mereka tadi melakukan sesuatu." Arthur kembali melihat kearah ketiga orang itu. "Katakan, apa yang kalian lakukan?" Mata tajam Arthur berhasil menakuti mereka bertiga. Namun tiba-tiba salah satu dari astronot itu berteriak 'Watson' sontak Arthur dan Stella pun langsung menoleh kearah pintu kamar. Namun disana tidak ada Watson. Mereka berbohong.
Pintu terbuka lebar, mereka kehilangan tiga astronot itu. Mereka kabur.
"Mereka lari!" Seru Stella.
"Biarkan saja."
"Biarkan? Kau pun tidak tahu apa yang mereka lakukan tadi?"
"Kita cari saja di sekitar ruangan ini."
"Kalau tidak ketemu bagaimana? Kita tidak tahu apa yang mereka bawa tadi."
"Disini ada cctv, kau tidak perlu berlebihan begitu." Stella menepuk dahinya.
"Aku lupa."
Ketiga astronot itu berlari hingga sampai di Glarow Byke. Mereka langsung masuk karena pintu itu tengah terbuka. Disana ada senior astronot Byke yaitu ketiga astronot yang kemarin. Eggie, Kyle dan Athura terkejut dengan kedatangan mereka bertiga.
"Kalian kenapa?" Tanya Eggie.
"Senior, kami tertangkap basah."
"Duduk dulu."
"Tertangkap basah siapa?"
"Watson." Nafas mereka masih tersengal-sengal. Athura langsung menyodorkan minumannya ke ketiga Astronot itu. "Terimakasih." Mereka pun berganti minum minuman itu.
"Apa yang baru saja kalian lakukan?" Tanya Eggie.
"Kami memasang penyadap di ruang tamu."
"Byke yang menyuruh kalian?" Tanya Kyle. Ketiga astronot itu mengangguk.
Tidak lama Byke pun datang. Dia berjalan dari dalam kamarnya menuju ke ruang tamu. Dia melihat tiga astronot yang tadi disuruhnya untuk memasang penyadap di Glarow Watson. Byke langsung duduk di hadapan mereka.
"Gagal."
"Payah!"
"Maaf, Byke. Arthur lebih pintar dari dugaan."
"Arthur?"
"Iya. Tadi ada Stella dan Arthur. Kami tidak bertemu Watson."
"Mereka kenal kalian?" Tanya Athura. Mereka menggelengkan kepalanya.
"Tidak."
"Masih aman kau," ucap Athura.
"Gagal! Kau tidak dengar?"
"Tapi kami sudah memasang penyadap itu. Hanya saja kami tertangkap basah saat Arthur bertanya maksud kedatangan kita."
"Berarti mereka tidak tahu apa yang kalian lakukan?" Tanya Kyle kepada tiga astronot itu. Mereka kompak menganggukkan kepala. "Kau aman sampai alat penyadap itu ketemu oleh mereka," tambah Kyle. Byke nampak berpikir.
"Berikan audio itu kepadaku."
Kyle meraih sebuah audio kecil dari atas meja. Dia memberikan nya kepada Byke.
"Bantu aku menyalakan audio itu," ucap Byke. Kyle pun menyetelnya. Dan tidak lama terdengar sebuah suara dari audio itu. Itu hanya suara mesin yang menyala. Byke pun menunggu mungkin ada sesuatu yang dapat ia dengar, seperti sebuah percakapan lain-lain.
Sedangkan Stella dan Arthur pergi ke dalam kamar kembali. Mereka waspada terhadap ruang tamu itu. Mereka lebih memilih di dalam kamar untuk mencari aman terlebih untuk Watson. Karena mereka tadi melakukan hal itu karena atas dasar Watson bukan mereka berdua. Mereka berdua tidak ingin membuat suasana menjadi semakin rumit karena saat ini mereka juga masih mencari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di ruang tamu tadi.