"Apa? Bagaimana bisa seperti itu pasti terjadi kesalahan menghitung?" Teiriak Byke.
"Alat ini sangat akurat. Jadi tidak akan ada kesalahan sekecil apapun kalau ada alat ini akan rusak secara otomatis," seru Hendrik. Byke pun menatap tajam. Amarahnya semakin mendalam.
"Wow, selisih satu suara, hebat sekali," ucap Arthur takjub.
"Yey kau menang, Light. Aku senang sekali." Stella langsung memeluk sahabatnya itu.
"Baiklah sudah diputuskan kepemimpinan proyek tetap dipegang oleh Nona Watson. Sekian pengambilan suara kali ini. Terimakasih," seru Hendrik kembali. Hendrik dan profesor lainnya pun pergi meninggalkan ruangan aula melewati pintu lain. Semua tampak bersorak kecuali pihak Byke. Byke mengumpat tidak karuan.
"Kau sama sekali tidak akan mendapatkan kepemimpinan itu," ucap Byke tepat di hadapan Watson.
Tiba-tiba Byke sudah berada diantara 3 orang itu. Stella pun terkejut.
"Kapan kau berjalan kemari?"
Byke pun langsung berlalu. Watson hanya tersenyum simpul melihat punggung Byke yang perlahan berjalan menjauh dari pandanganya. Terlihat Kyle dan Athura merangkul pundak Byke. Sedangkan Eggie berada di belakang Byke. Watson memperhatikan mereka berempat dengan senyum menyeringai.
"Dia utusan anak Titan juga sama sepertimu," tambah Stella
"Sejak kapan aku punya saudara seperti Byke?"
"Mungkin ibumu dulu melahirkan dua anak satunya kau satunya Byke."
"Ngawur." Stella mengikik. Kemudian memeluk Watson. Dia senang akhirnya Byke kalah kali ini dan sahabatnya bisa melanjutkan tugasnya menjadi pemimpin dalam proyek itu.
Semua orang perlahan meninggalkan ruangan aula. Begitu juga dengan Watson, Stella dan Arthur. Mereka bertiga berjalan perlahan menuju ke arah pintu masuk aula. Watson masih tidak habis pikir bagaimana Byke begitu terhadap dirinya. Padahal dari awal dirinya tidak melakukan satu hal pun yang menyangkutkan dengan Byke.
"Haha, aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kaleng itu saat kesal. Pasti dia gosong seperti kaleng yang habis dimasukkan ke dalam tungku." Stella pun tergelak lebih kencang karena senang dapat mengumpati Byke. "Dia tidak sadar dia sebenarnya mempermalukan dirinya sendiri, astaga. Semoga dia cepat-cepat mendapatkan ilham," tambah Stella. Watson hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan sahabatnya itu.
"Lalu kapan kau mendapatkan ilham juga?" Tanya Watson.
"Kenapa aku? Aku tidak melakukan apa-apa."
"Semua orang pernah melakukan kesalahan sekali seumur hidup dan pasti berharap sebuah Ilham menyadarkannya." Mendengar itu Stella justru mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau begitu? Tidak terima dengan ucapan Watson?"
"Apa sih kau ikut-ikut saja."
"Benar bukan? Kau dengarkan apa kata Watson tadi."
"Kau bisa diam tidak? Aku tidak butuh pendapatmu."
"Dasar, jelmaan Shakira."
"Kau bilang apa?!"
"Jelmaan Shakira."
"Anak Titan kembaran kaleng ubun!"
"Whatever. Aku tidak peduli. Nanti aku mau buat klub dengan Byke kalau dia sudah berubah."
"Haha, mimpi apa kau, Boy. Mana ada dia berubah? Yang ada malah jadi rubah."
"Siapa tahu, 'kan?"
"Iya. Bisa saja dia berubah nanti tidak ada yang tahu."
"Yups."
"Kau pilih aku atau Anak jadi,-jadian ini, Light?"
"Bisa tidak kau tidak kekanak-kanakan?"
"Aku tidak peduli."
Malam pun semakin larut. Watson sudah berada di dalam Glarownya dan bersiap untuk pergi tidur. Dia menengadahkan kepalanya keatas. Dia melihat langit luar angkasa yang sama setiap waktu berjalan. Namun itu semua tampak cantik dan tidak membosankan. Dia tidak akan bisa melihat semua ini jika dia tidak berada di Gronium. Satu dari berjuta orang di dunia Watson merasa beruntung akan hal itu. Dia tidak akan pernah melupakan hal ini seumur hidupnya. Walaupun dia tidak akan kembali ke bumi dan akan menetap di Gronium.
Di Gronium semua dia anggap sebagai keluarga, terlebih profesor Willy. Dia sangat berhutang budi terhadap profesor itu. Sejak kecil dia diajarkan berbagai banyak hal tentang luar angkasa. Perlahan mata Watson pun terpejam dan hembusan nafas pun perlahan terdengar berirama. Watson pun larut dalam tidurnya.
***
Jam alarm terdengar berbunyi sejak 10 menit yang lalu. Watson terlambat bangun. Dia begitu nyenyak tidur semalam. Hingga dia tidak sempat untuk bermimpi.
"Aku terlalu capek kemarin, seleksi itu membuat tubuhku kekurangan tenaga. Aku lupa tidak meminum vitamin semalam. Astaga," gumamnya.
Watson kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan menuju kamar mandi dan bersiap menuju ke ruang makan yang berada di Sompalace. Itu adalah sebuah gedung luas yang berisi berbagai ruangan untuk kegiatan makan, jamuan makan dan cafetaria. Watson keluar dari Glarownya dan mengunci pintu. Dia berjalan sambil tersenyum kepada astronot lain yang tengah berpapasan dengannya. Sesekali dia disapa atau menyapa.
-------------
"Watson!" Panggil Arthur yang tiba-tiba muncul dari balik Glarow seseorang. Watson terlihat menyipitkan kedua matanya melihat siapa di depan pintu itu. Seorang wanita, Watson tersenyum kepada wanita itu.
"Hei," jawab Watson.
"Mau sarapan?"
"Iya."
"Sekalian saja."
"Kekasihmu?"
"Apa?"
"Dia, wanita itu. Dia kekasihmu?"
"Oh, bukan. Hanya teman." Watson hanya tersenyum dan tidak ingin membahasnya lagi. Dia sudah lapar. Dia ingin makan salad dan roti lapis dengan minuman jus yang menyegarkan. "Kau terlihat kurang sehat?"
"Ah, apa terlihat jelas? Aku lupa tidak minum vitamin semalam. Alhasil paginya badanku seperti ini."
"Coba kau buat alarm setiap kali akan meminumnya."
"Alarm? Seperti alarm tidur?"
"Iya."
"Iya bisa dicoba juga tapi itu terlalu berlebihan menurutku. Aku tidak selalu lupa, hanya semalam badanku ingin cepat-cepat tidur saja."
"Oh begitu. Tidak masalah. Yang tahu dan paham bagaimana dirimu iya hanya dirimu. Bukan begitu?" Watson tersenyum.
"Seperti itu." Watson menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum kembali.
"Mana putri tidur? Kau tidak bersamanya?"
"Sepertinya namanya, mungkin dia masih tidur."
"Haha, dia selalu tdiur di semua tempat. Dia merasa semua tempat terasa seperti kasur yang empuk" tiba-tiba telinga itu terasa panas. Arthur langsung menoleh kearah orang yang tengah menjewer telinganya. "Sakit, panas."
"Kau membicarakanku?! Hah!"
"Kau?? Kapan kau datang? Ternyata kau juga anak jadi-jadian datang tiba-tiba."
"Apa kau bilang?" Stella semakin menarik telinga Arthur.
"Aduh sakit, panas. Hentikan."
"Minta maaf!"
"Apa yang perlu dimaafkan?"
"Kau tidak tahu juga?? Minta maaf aku bilang!"
"Aduh, sakit."
"Ayo antri di belakangku. Aku sudah lapar," ucap Watson.
"Tunggu aku, Watson," ucap Arthur.
"Kenapa kau minta ditunggu, kau itu pria atau wanita?"
"Lepasin dulu."
"No!"
Watson berjalan menuju ke meja panjang itu. Dia mengambil makanan yang tadi dia bilang kepada Arthur. Saat ini dia ingin memakan makanan itu. Tidak ada yang lain. Setelah mengambil makanan itu, Watson beralih mengambil jus yang terlihat sangat segar. Dia sudah tidak sabar menikmati itu semua.
"Light, tunggu!" Teriak Stella yang masih mengantri dengan Arthur. Mereka terlihat masih bertengkar saat mengantri.
"Aku tunggu di tempat duduk!" Teriak Watson. Watson pun berjalan menuju ke salah satu meja kosong yang berada di dekat jendela. Watson pun berjalan kesana hingga dia tidak sadar dia tengah di dorong dengan sengaja oleh seseorang. Sontak Watson pun langsung tersungkur ke atas lantai.
"Light!" Pekik Stella. Stella pun langsung menghampiri Watson. Watson menoleh kearah orang yang mendorongnya itu. Dia tahu orang itu sengaja melakukan hal itu. Dia melihat makanannya berceceran diatas lantai. Ada perasaan kesal namun dia berusaha untuk menahan semua itu. Stella sampai di hadapan Watson. Dia menolong Watson untuk berdiri.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak."
"Aduh, duduk saja kalau begitu. Aku ambilkan makanan baru. Tunggu disini." Watson mengangguk. Stella kembali mengantri. Dia mengambil makanan yang tadi diambil oleh Watson. Arthur yang masih mengantri pun bertanya kepada Stella.
"Ada apa? Watson tidak apa-apa?"
"Ada yang mendorongnya. Dia tidak apa-apa."
"Kau kenal orangnya?"
"Aku hanya tahu baju yang dia kenakan."
"Iya sudah kau duduk disana, biar aku yang antri. Sebentar lagi aku selesai mengambil makanan." Stella pun mengangguk lalu duduk di kursi dekat antrian.
"Eh." Tidak sengaja orang yang tadi mendorong Watson berdiri di depan Stella. Dia pun langsung berdiri dan memukul wajah astronot itu. Astronot itu pun tersungkur ke lantai. "b******k! Cuih!" Stella meludahi astronot itu.
"Hei, sudah," ucap Arthur yang baru saja selesai mengambil makanan kemudian segera menghampiri Stella yang sudah mulai emosi.
"Fuck."
Arthur langsung menarik tangan Stella menjauh dari orang itu. Orang itu pun berdiri kembali dan mengantri. Stella masih tidak berhenti melotot kearah astronot itu. Dia tidak peduli segagah apa pria itu, yang jelas kalau berani melukai wanita berarti pria itu banci.
"Hei, jaga matamu itu," ucap Arthur yang sudah duduk di kursi bersama Watson. Arthur menarik kembali tangan Stella dan mendudukkannya di atas kursi. "Sekarang kau duduk, makan makananmu sebelum dingin," tambah Arthur.
"Sudah, Ella. Aku tidak apa-apa."
"Banci pakai popok itu perlu dikasih pelajaran, Light. Beraninya dengan perempuan. Mau jadi apa dia nanti? Hah?! b******k. Aku tidak selera makan jadinya."
"Terimakasih, Arthur makanannya."
"Sama-sama. Kau makan saja. Setelah itu minum obat lalu istirahat."
"Terimakasih."
"Eh, kalian ini kenapa? Sok manis. Kau juga anak Titan sok kasih perhatian."
"Sahabatmu sedang tidak enak badan," ucap Arthur penuh penekanan.
"Kau sakit? Sakit apa?"
"Tidak. Hanya lelah saja karena semalam aku lupa tidak minum vitamin jadinya sekarang badan terasa berat."
"Astaga, pantas wajahmu agak pucat. Aku kira kaubtadi belum mandi."
"Apa aku terlihat berantakan sekali?"
"Habis ini aku ke Glarowmu. Untung sekarang hari libur. Kau bisa istirahat seharian."
"Aku ikut dong."
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Watson sedang sakit dia butuh waktu untuk istirahat."
"Lalu kenapa kau justru main kesana? Aneh."
"Aku menemani, Light. Tidak ada yang aneh, jaga bicaramu." Stella mencubit lengan Arthur.
"Sakit, kau lama-lama mirip dengan Shakira. Sedikit-sedikit main tangan kenapa tidak main air aja!"
"Kau bisa diam tidak!"
Setelah sarapan, Watson dan Stella pun kembali ke Glarow. Mereka berdua masuk dan bersantai di dalam. Tidak lama terdengar suara ketukan dari luar.
"Iya!" Sahut Stella. Stella segera berdiri dari tempat duduknya dan membuka pintu. "Kau? Sudah aku bilang kau tidak boleh kesini!"
Tanpa memperdulikan perkataan Stella, Arthur langsung menerobos masuk. Stella langsung berteriak dan membanting pintu.
"Ella, hati-hati menutup pintunya. Kau mau mengganti kalau rusak?" Teriak Watson dari dalam kamarnya.
"Arthur ... Keluar!" Teriak Stella. Namun Stella tidak mendengar suara dari Arthur.
"Aku di dalam kamar bersama Watson. Kau cepat kesini."
"Dasar anak ini tidak mengerti bahasa manusia. Aku buang ke planet mars baru tahu rasa." Stella menghentakkan kakinya kemudian berjalan cepat ke arah kamar Watson. "Keluar!"
"Hei" Arthur terkekeh. Dia melihat Arthur tengah bermain game di bawah ranjang tidur Watson. Sedangkan Watson tengah duduk di atas ranjang.
"Keluar!!"
"Duduk sini, aku punya game baru."
"Kelihatannya seru tuh, La. Coba deh," ucap Watson. Mendengar itu Stella justru semakin geram dengan Arthur. Dia berjalan cepat menuju ke tempat Arthur duduk. Kemudian menarik telinga itu kembali.
"Kau tidak dengar apa yang aku bilang?!"
"Duduk saja. Itu tidak sakit."
"Kau ingin lebih sakit?!" Stella pun semakin menarik telinga Arthur. "Huaa, sakit."
"Kapok." Lengan Arthur ditarik oleh Stella namun itu tidak bergerak sedikitpun. Namun Stella tidak menyerah, dia justru menarik lebih kuat dari sebelumnya. Namun lagi, Arthur tidak berubah posisi. Watson yang melihat itu tampak terkekeh namun ditutupinya. "Light, bantu aku seret anak ini," ucapnya dengan susah payah menarik lengan Arthur. "Kenapa kau tidak bergeser sedikit pun? Hah?! Aku capek."
"Sudah biarkan saja."
"Tapi," ucap Stella menyangkal.
"Kau menyerah? Payah," sahut Arthur. Mendengar itu Stella langsung membelalak menatap Arthur yang asik bermain game.
"Kau diam saja tidak udah banyak bicara." Stella menarik bibir Arthur ke depan. Namun diluar dugaan, Arthur justru menyembur hingga ludahnya keluar mengenai jemari-jemari Stella. Sontak Stella langsung menarik tangan. "Jorok.. " Stella berdiri dan mengambil tisu di atas meja Watson. Arthur pun tergelak. "Jorok!"
Akhirnya Stella pun menyerah dan membiarkan Arthur disana.
"Kau tidak ingin mencoba?" Tanya Arthur menawarkan game itu.
"Tidak!" Jawab Stella ketus. Watson hanya heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua orang itu terus ribut setiap kali bertemu.
"Iya sudah. Kalau kau Watson? Kau mau, 'kan?"
"Mau, tapi lain kali saja aku ingin istirahat sekarang." Stella pun tergelak mendengar ucapan tolakan dari Watson.
"Kasihan.. Siapa suruh bermain game?"
"It's ok. Aku ada untuk game satu player."
"Terserah kau, Anak Titan."
Karena merasa kesal, Stella pun lebih memilih duduk di samping Watson yang perlahan menutup matanya. Kamar kembali hening. Hanya musik game Arthur yang meramaikan ruang kamar itu. Tidak lama terdengar dengkuran halus Watson.
"Eh, Watson tidur?"
"Iya."
"Efek obat itu."
"Sok tahu." Stella pun melempar bantal kearah Arthur dari belakang.
"Kaget aku."
"Haha. Enak tidak dikagetin?"
"Biasa saja."
"Hei! Kau tidak perlu berbohong kalau kau tadi terkejut dan itu rasanya kesal bercampur .... " Belum sempat Stella melanjutkan pembicaraannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Siapa?" Tanya Stella kepada Arthur.
"Lihat saja, aku tidak tahu."
"Kau masih menyebalkan ternyata, huft." Stella pun beranjak dari atas ranjang Watson dan berjalan menuju pintu Glarow.