Hendrik memanggil penjaga yang berdiri agak jauh darinya. Penjaga itu pun berlari menghampiri Hendrik. Terlihat Hendrik tengah membisikkan sesuatu di telinga penjaga itu dan penjaga itu pun menganggukkan kepalanya. Kemudian penjaga itu pun berlari masuk ke dalam gedung.
"Kalian bisa kembali masuk ke dalam ruang meeting," ucap Penjaga itu kepada para profesor dan Watson juga Stella. Akhirnya mereka pun kembali masuk ke dalam ruang meeting.
"Apa yang terjadi?" Tanya Stella kepada penjaga itu.
"Nanti akan dibahas, Byke akan dibawa masuk ke ruang meeting."
"Hah?"
Sesampainya di pintu ruangan meeting penjaga itu membukakan pintu untuk mereka semua, dan mereka pun masuk ke dalam.
"Silahkan masuk, sebentar lagi mereka akan datang," ucap Penjaga itu. Semua pun duduk di tempat duduk yang semula. Begitu juga Watson dan Stella.
"Kau dengar tadi yang dibilang penjaga itu? Astaga, Byke. Aku tidak tahu lagi pria itu minta diapakan nanti," gerutu Stella.
"Sudahlah, dengarkan saja dulu dia. Nanti kalau ada yang tidak ada sesuai denganmu sanggah saja, oke?"
"Dari lahir aku sama dia tidak ada yang sesuai. Kalau boleh aku mau protes gimana dia dulu lahir. Gimana parang tuanya itu bangga atau tidak sama dia!"
"Sabar, Ella. Lama-lama kau suka dengannya baru tahu rasa."
"Kalau bicara yang masuk akal sedikit bisa tidak, Light? Heran." Watson terkekeh. Stella hanya memasang wajah manyunnya.
***
"Baiklah, kau masuk denganku, nanti anggotamu masuk ke dalam aula untuk mengambil suara. Sebelum itu kau bicara dulu denganku dan lainnya."
"Oke."
Mereka bertiga pun masuk ke dalam gedung. Kemudian penjaga itu menggiring para anggota Byke masuk ke dalam aula. Masuklah mereka ke dalam ruangan meeting yang tadi.
"Silahkan duduk," ucap Hendrik saat masuk ke dalam ruangan meeting. Byke pun langsung mencari tempat duduknya. Dan dia pun duduk di salah satu kursi tepat di hadapan Watson.
"Kau lihat lagaknya yang sok itu, Light. Astaga aku tiba-tiba mual," bisik Stella.
Namun Watson tidak mempedulikan omongan Stella. Byke sibuk menatapnya dengan wajah penuh kemenangan. Terlihat jelas di wajah itu, Watson hanya menanggapinya biasa saja.
"Jadi, Byke akan menyampaikan apa yang menjadi keresahannya tentang identitas Nona Watson," ucap Hendrik. "Silahkan," tambahnya.
"Baiklah, terimakasih atas waktunya. Aku pasti sudah menganggu waktu penting ini." Ucap Byke sambil melihat kearah Watson, namun Watson tida bereaksi apa-apa justru yang heboh adalah Stella yang semakin memasang wajah ketidaksukaannya. "Banyak yang mengatakan kalau Nona ini tidak memenuhi standard astronot Gronium, jadi dia tidak pantas mengemban proyek ini."
"Sialan sekali, pingin aku sumpal mulutnya," geram Stella. Tangan Stella sudah mengepal di atas meja. Dia sudah ingin sekali menonjok mulut tajam itu.
"Jadi itu yang menjadikan Anda tidak menyetujui kepemimpinan Nona Watson?" Tanya salah satu profesor disitu.
"Benar sekali. Jadi saya ingin ada pengambilan suara disini. Yang mana jika sedikit yang menyuarakan di pihak Watson maka kepemimpinan akan digeser."
"Hei, tidak bisa begitu. Kau tidak tahu bagaimana kami mempertahankan nyawa di sorot cahaya itu," sanggah Stella.
"Itu bukan urusan saya. Salah sendiri tidak tahu diri."
"Eh, kalau ngomong dijaga ya! Dasar kaleng ubin."
"Haha, itu kenyataannya dia memang tidak berkaca."
"Sialan! Sini kau kau tidak tahu aku bisa melemparmu keluar gedung ini!" Stella sudah berdiri dari kursi duduknya. Namun Watson langsung menahannya. "Kau, kalau tidak di ruangan ini nyawamu sudah melayang!"
"Saya setuju saja, Hendrik. Silahkan mengambil suara untuk permohonan Byke," ucap Watson.
"Apa! Kau ini gila!" Bentak Stella. Byke pun tertawa.
"Keputusan yang tepat. Semoga setelah ini kau bisa sadar diri."
"Kau! Awas kau, urusamu denganku setelah ini!" Stella menatap tajam Byke.
"Yakin?" Tanya Hendrik kembali.
"Yakin."
"Baiklah." Kemudian Hendrik kembali menyampaikan sesuatu. "Dalam tanda kutip jika nona Watson tidak memiliki suara berarti akan diadakan seleksi ulang. Bagaimana?"
"Itu cukup masuk akal," ucap salah satu profesor disana.
Semua tampak menganggukkan kepala. Akhirnya keputusan pun berhasil dibuat.
"Kita tunda dulu meeting hari ini sampai waktu yang belum ditentukan. Kita menuju ke aula sekarang," tambah Hendrik.
Hendrik pun beranjak dari tempat duduknya. Disusul semua orang yang berada disitu. Mereka pun berjalan menuju ke aula. Dimana semua orang sudah berkumpul disana. Termasuk anggota pihak Byke juga anggota pihak Watson. Mereka pun memasuki aula itu kemudian berjalan ke depan. Hendrik dan para profesor itu berdiri di hadapan semua astronot.
Byke terlihat berdiri di samping kaki tangannya yaitu Jack. Sedangkan Watson dan Stella tiba-tiba dihampiri oleh Arthur. Sontak mereka berdua pun terkejut.
"Kau kebiasaan selalu muncul tiba-tiba," ucap Stella.
"Maaf, aku bingung ada apa sebenarnya, kenapa kita semua dikumpulkan disini?"
"Jadi, Byke tadi demonstrasi di depan gedung laboratorium. Dia bilang minta keadilan," jelas Stella.
"Keadilan? Soal apa?"
"Watson, katanya Watson bukan standard astronot Gronium jadi dia tidak berhak menjadi pemimpin dalam proyek apapun di Gronium."
"Kata siapa tidak termasuk standard?"
"Kata kaleng s**u itu siapa lagi? Masa aku?!"
"Jadi ini akan ada pengambilan suara?"
"Iya. Tumben kau pintar, Anak Titan." Stella mengelus kepala Arthur.
"Lalu kalau bukan Watson siapa yang menggantikan Watson?"
"Ini gila. Akan diadakan seleksi lagi."
"Hah? Kurang berat apalagi level seleksinya? Kenapa tidak tunjuk Byke aja yang kemarin hampir berhasil?"
"Eh, anak konde. Enteng banget mulutmu. Aku tidak rela kaleng panci itu jadi pengganti Watson cuma-cuma. Enak banget dia."
Suasana tampak gaduh. Semua oarang berbicara satu sama lain. Membicarakan apa yang akan terjadi di aula ini dan dengan maksud apa mereka dikumpulkan di aula ini. Terlihat Eggie, Kyle dan Athura menghampiri Byke yang tengah berdiri di samping Jack.
"Bagaimana? Berhasil dengan bersih?" Tanya Eggie.
"Tentu saja."
"Hebat sekali, kau ada kemajuan setiap tahun," ucap Athura.
"Kita lihat hasilbya nanti, semoga sesuatu dengan kemauanmu," ucap Eggie.
"Tentu saja." Byke sangat yakin jumlah anggotanya lebih banyak dan mereka akan memenangkan vote suara itu.
"Baiklah akan dimulai pengambilan suara," seru Hendrik. Pihak Byke tampak bersorak. Sedangkan pihak Watson hanya diam tidak mengerti maksud penjaga itu tadi mengumpulkan mereka semua disini. "Jadi kepemimpinan akan berganti jika jumlah suara untuk Nona Watson lebih sedikit dan akan diadakan seleksi ulang apabila hal itu terjadi," tambah Hendrik.
"Hah? Jadi intinya kepemimpinan Watson di proyek itu berada di ujung tombak? Begitu kah?" Ucap salah satu anggota pihak Watson kepada anggota astronot yang lain.
"Sepertinya begitu."
"Baiklah, kita mulai pengambilan suaranya," seru Hendrik kembali.
Satu persatu astronot-astronot itu pun berjalan menuju layar lebar untuk memberikan suara mereka. Layar itu berbentuk persegi panjang. Touchscreen dengan pena yang sudah disediakan oleh Gronium. Setelah selesai semua, ganti para astronot senior yang memberikan suara mereka. Kemudian para profesor dan yang terakhir adalah Hendrik.
Di layar lebar itu akan menampilkan berapa suara yang di dapat Watson antara setuju dan tidak. Hingga setelah 1 jam mengambil suara, akhirnya waktunya melihat berapa jumlah yang sudah terkumpul.
"Baiklah, sekarang kita lihat berapa jumlah yang di dapat dalam tanda kutip setuju agar Nona Watson memimpin proyek ini. Silahkan tampilkan jumlahnya."
Layar pun menampilkan pergerakan angka dan menghitung berapa banyak suara yang berada di pihak setuju. Angka pun berhenti di angka 1.200 suara. Byke masih tersenyum dia yakin suara anggotanya bisa lebih dari itu ditambah senior yang memang berada dipihaknya.
"1.200 suara. Selanjutnya suara tidak setuju jika Nona Watson memimpin proyek ini. Silahkan tampilkan jumlahnya."
Layar kembali menampilkan angka bergerak sesuai dengan berapa banyak suara untuk pilihan ini. Dan angka pun menunjukkan angka 1.199.