Byke kemudian duduk kembali di kursinya. Dia bersedekap sambil melihat kearah Eggie, Kyke dan Athura. Sudah lama mereka berempat berteman. Bisa dibilang Eggie, Kyke dan Athura merupakan pihak Byke karena dari dulu mereka melakukan semua proyek bersama dan Eggie menjadikan Byke sebagai orang yang memimpin mereka karena Eggie berfikir Byke punya bakat lebih yang harus dikembangkan dengan cepat. Dan benar, selama tinggal di Gronium, Byke menunjuk kan perubahan yang pesat, hingga banyak astronot yang kagum dengan keahlian Byke dan rela menjadi anggota dibawah kepemimpinan Byke. Byke tidak keberatan justru karena itu Byke akan terus mengasah kemampuannya dengan mengambil proyek-proyek besar maupun kecil yang diadakan oleh Gronium.
Sampai saat Watson menginjakkan kaki di Gronium, semua berubah. Seolah yang awalnya semua astronot berpihak di kepemimpinan Byke, satu persatu mereka menjauh dan memilih bergabung dipihak Watson. Byke pun menjadi semakin geram karena pada kenyataannya Watson menjadi astronot karena dibawa oleh Prof. Willy. Mereka berempat bisa dibilang otak dari jalan kerjanya pihak Byke selama ini bahkan sampai sekarang. Semua orang tahu mereka berempat itu adalah pemimpin pihak Byke, namun yang lebih mereka unggulkan adalah Byke. Namun akhir-akhir ini ketiga senior itu seperti melihat sisi buruk Byke yang terlampau batas. Mereka ingin sekali menghentikan Byke namun Byke bukan tipe seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalanginya. Dari dulu dia orang yang ambisius. Apalagi dalam hal seperti ini, dia tidak akan menyerah sampai apa yang dia inginkan dia dapatkan.
"Jangan melakukan hal bodoh lagi, karena nama kita juga akan dipertaruhkan. Kau ingat itu bukan? Itu menjadi kesepakatan kita di awal," jelas Kyle. Eggie pun tersenyum mendengar ucapan bijak Kyle. Seperti ada sebuah peluang untuk menahan gejolak Byke yang berlebihan. Eggie setuju dengan apa yang disampaikan Kyle.
"Kau tumben sekali berkata seperti itu," ucap Athura.
"Kyle benar, kita ada batasan di Gronium ini. Aku berharap kau mendapatkan proyek itu dengan cara yang halus."
"Pikiranmu licik juga, Eggie," ucap Kyle.
"Byke yang mengajari kita melakukan itu. Aku hanya berharap dia tidak bersikap kotor."
"Tapi aku tidak yakin rencananya seperti yang kau pikirkan, Eggie." Athura menjadi mode serius kali ini.
"Kalian tenang saja. Dengan sedikit demontrasi keadilan bukanlah hal yang buruk."
"Demo?" Athura pun terkejut.
"Itu tidak terlalu seberapa. Baiklah lakukan saja. Ajak anggota kita, kita punya hak untuk bersuara. Mungkin kalau banyak suara akan dipertimbangkan oleh Hendrik," jelas Eggie. Byke tersenyum puas.
"Betul juga, aku rasa yang dikatakan Eggie benar," sahut Kyle. Athura hanya diam mengikuti apa yang menjadi keputusan teman-temannya.
"Kapan kau akan melakukan demonstrasi?" Tanya Eggie sambil menyeruput minuman yang memenuhi cangkir di depannya.
"Rencananya nanti malam. Anggota kita lebih banyak dari jumlah anggotanya. Aku bisa mengandalkan jumlah anggota untuk mengambil banyaknya suara."
"Tapi, Byke. Belum tentu Hendrik memutuskan untuk membuka vote suara. Bisa jadi dia tidak menerima pendapatmu," ucap Eggie kembali.
"Hei, kita punya hak untuk bersuara, kau sendiri yang bilang. Kalau Hendrik menolak berarti dia tidak bijaksana menjalankan aturan Gronium." Athura dan Kyle bertepuk tangan.
"Good. Sangkalan pendapatmu bisa menjadi skak untuk Hendrik," ucap Kyle. Athura mengacungkan jari jempolnya kearah Byke.
"Kau hubungi Jack sekarang, bilang kalau kita akan melakukan demonstrasi nanti malam soal keadilan karena Watson tidak memenuhi standard sebagai astronot yang harus mengemban proyek itu," ucap Byke kepada Athura.
"Oke." Athura pun menjangkau telepon radar di atas meja Eggie. Kemudian dia pun mengubungi Jack yang memang kaki tangan mereka berempat kepada para anggota.
***
Malam pun tiba, anggota pihak Byke pun berkumpul di depan gedung laboratorium Gronium. Mereka menyerukan suara 'Turunkan Watson dari kepemimpinan proyek'. Pada saat itu Hendrik dan para profesor tengah meeting membicarakan soal proyek itu. Di dalam juga ada Watson dan Stella yang tengah diberi penjelasan oleh Hendrik. Namun suara gaduh di depan membuat penjaga gedung harus bertindak sesuatu.
Seorang penjaga pun menghampiri Byke yang sedari tadi memimpin demonstrasi itu.
"Ada apa ini?"
"Kami mau demonstrasi soal kepemimpinan proyek baru, kami tudak setuju Watson menjadi pemimpinnya karena Watson belum memenuhi standard untuk mengemban proyek itu," jelas Byke. "Katakan kepada mereka, kami ingin keadilan," tambah Byke.
"Baiklah, tunggu disini." Penjaga itu pun berjalan masuk ke dalam gedung. Kemudian membuka pintu utama dan terbirit-b***t lari ke menuju ke ruangan yang mereka jadikan ruang meeting.
Di depan pintu ada penjaga lagi. Mereka pun saling berbicara dan menyampaikan apa yang sedang terjadi di luar. Penjaga itu pun menekan tombol urgent di sisi pintu. Sehingga bunyi urgent itu pun terdengar seisi ruangan.
"Ada sesuatu?" Tanya Hendrik.
Pintu pun terbuka, penjaga itu masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Hendrik. Terlihat penjaga itu berbisik di telinga Hendrik. Setelah itu dia keluar kembali dari dalam ruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Prof. Willy.
"Pihak Byke demonstrasi di depan."
"Astaga pria itu lagi," gumam Stella yang hanya dirinya dan Watson yang mendengar.
"Jadi kita akan menghampiri mereka? Bagaimana dengan meeting ini?"
"Aku saja yang akan menghampiri mereka," ucap Hendrik.
"Boleh saya ikut?" Tanya Prof. Willy.
"Baiklah."
"Hendrik, aku juga ikut," sahut Watson.
"Kenapa? Tidak perlu. Tapi kalian bisa melihat dari jarak 5 meter."
"Terimakasih."
Hendrik kemudian beranjak dari tempat duduknya disusul prof. Willy dibelakangnya. Kemudian disusul juga profesor yang lainnya serta Watson dan Stella. Mereka berjalan keluar dipandu oleh penjaga di depan mereka. Hingga sampai di pintu masuk gedung, salah satu penjaga menahan laju jalan Watson dan prosesor lainnya. Mereka pun berhenti dan menyaksikan dari jarak 5 meter di dalam lorong pintu masuk. Sedangkan Hendrik dan Prof. Willy terus berjalan hingga keluar dari pintu masuk gedung.
"Gila, dia mau demonstrasi apa?" Ucap Stella.
"Entahlah, tapi perasaanku mengatakan dia meminta keadilan."
"Hah? Keadilan apa? Memangnya apa yang tidak adil baginya? Dia aneh, tidak hanya aneh tapi juga payah." Watson menatap barisan anggota pihak Byke yang terdapat Byke di posisi tengah barisan paling depan. Dia berdiri berkacak pinggang saat Hendrik dan Prof. Willy sampai di hadapannya. "Lagaknya, aduh bikin muntah," tambah Stella.
"Jadi ada apa ini?" Tanya Hendrik.
Byke maju selangkah. Dia menatap wajah Hendrik dan Prof. Willy bergantian sebelum membuka suara. Senyum pun terukir di wajah Byke.
"Aku mau meminta keadilan."
"Keadilan?" Keadilan tentang apa?"
"Tentang astronot bernama Watson." Senyum tidak hilang dari wajah Byke. Hendrik menaikkan alisnya. Dia masih tidak mengerti dengan ucapan Byke.
"Bisa kau jelaskan lebih terperinci?" Byke pun berdehem kemudian maju selangkah kembali.
"Kami meminta keadilan" ucap Byke. Sontak Jack yang berada tidak jauh dari Byke pun menyerukan kata 'Berikan keadilan'. Serempak semua anggota pihak Byke pun menyerukan kata itu secara bersamaan sambil mengangkat salah satu tangan mereka ke atas. Byke pun tersenyum. "Jadi Hendrik, kau tahu bukan Watson itu bukan standard astronot Gronium jadi belum pantas untuk mengemban proyek sebesar itu. Seharusnya kau bisa bijak memilih seorang pemimpin. Kau tidak menginginkan proyek ini gagal juga bukan?"
Hendrik mengerutkan keningnya.
"Bukankah sudah dijelaskan sebelumnya?" Ucap Prof. Willy. Mendengar ucapan prof. Willy, Byke pun langsung mengalihkan pandangannya kearah prof. Willy.
"Itu hanya menurut Anda dan jajaran Anda, Prof. Termasuk Hendrik. Benar bukan Hendrik? Jadi, biarkan kami melakukan pengambilan suara untuk menentukan apakah Watson layak atau tidak."
Hendrik terlihat tengah berpikir.
"Apa yang dikatakan Prof. Willy benar. Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Watson sudah menjadi astronot di Gronium jadi dia bisa menjadi pemimpin kapan saja."
"Itu hanya kesimpulan pengelola disini, bisakah kalian melihat ketentuan aturan Gronium. Kalian tidak bisa menyembunyikan satu pun dari aturan-aturan itu. Kau harus bersikap bijaksana, bukan begitu seharusnya seorang pemimpin?" Tatapan tajam kembali dilayangkan Byke. Hendrik seperti mengembuskan nafasnya.
"Baiklah. Menjadi hak kalian semua untuk menyuarakan pendapat."
Byke pun tersenyum lebar.
"Huft, dia menyebalkan sekali. Padahal kita kemarin berjuang seperti mau mati," ucap Stella.
"Iya sudah biarkan saja apa mau dia. Kalau pun kita tidak memimpin proyek ini juga tidak masalah."
"Kau bilang apa?! Aku tidak terima, Light. Enak saja tidak masalah. Itu tidak sebanding dengan perjuangan kemarin." Stella pun menjadi kesal. Terlebih kepada Byke yang terus-menerus mencari celah untuk mencari kesalahan Watson. "Pria kaleng itu tidak bisa di ajak bercanda," tambah Stella. Watson hanya menghendikkan bahu tidak tahu.
"Nanti kau sampaikan itu kepada Hendrik saja itu lebih tepat."
"Kau menyebalkan sekali."