Sedangkan di ruang kendali, Hendrik dan semua profesor Gronium menyaksikan seleksi berjalan dengan baik. Layar berukuran lebih besar dari lapangan bola itu pun menampakkan dengan jelas bagaimana keadaan di dalam ruangan seleksi itu.
"Aku tidak menyangka ada yang berpikir gelang perak itu adalah kunci di seleksi kali ini," ucap Hendrik.
"Ini seleksi yang luar biasa karena proyek kita kali ini sangat besar resikonya," jawab slaah satu profesor itu.
"Dilihat keadaan galaksi saat ini, sudah mulai bermunculan batu-batu itu namun mereka belum bergerak. Akan bergerak sekitar 345 jam waktu luar angkasa."
"Semoga astronot yang memimpin kali ini bisa menyelesaikan proyek ini dengan baik, kita sudah mempersiapkan segala hal untuk keselamatan dan keamanan bumi dan Gronium jika terjadi sesuatu," tambah Hendrik.
Watson terus menaiki tangga. Namun dia merasa agak ragu karena bunyi BIP itu masih belum terdengar sejak tadi. Sedangkan Byke tinggal beberapa anak tangga lagu sudah sampai altar.
"Hah, Byke!" Pekik Stella.
"Mana?"
"Itu." Stella menunjuk ke tempat Byke berada. Byke pun juga tidak sengaja melihat mereka berdua. Dengan wajah kesalnya Byke pun langsung mempercepat langkahnya. Namun tiba-tiba (boom). Dentuman itu kembali muncul dan mengenai Byke hingga Byke pun terjatuh dari atas anak tangga. "Ups," ucap Stella tidak sengaja. Namun senyumnya tidak bisa berbohong kalau dia semakin senang.
"Sialan, b******k!" Umpat Byke yang baru saja mencapai lantai ruangan. Kemudian Byke menoleh kearah Watson. Dia semakin geram. Dia melihat Watson sempat menghentikan langkahnya karena melihat kearahnya. Setelah Watson melihat Byke yang masih berada di bawah, dia kembali melanjutkan naik ke atas altar. "f**k!!" Byke semakin marah. Dia berteriak tidak karuan, hingga memecah kegaduhan ruangan. Semua astronot pun melihat kearah Byke. Stella yang masih melihat Byke pun tersenyum sinis kepada Byke. Namun Byke tidak peduli. Dia sudah jelas kalah di seleksi kali ini. "Lanjutkan rencana kedua, kau tidak akan pernah memimpin proyek itu sekalipun aku kalah dalam seleksi ini," batin Byke.
"Hei lihat! Itu Watson!" Teriak salah satu astronot disana. Semua astronot pun melihat kearah Watson yang sudah berada di atas dan akan sampai di altar.
"Wow, hebat!"
"Dia memang berbakat!"
"Apa dia yang akan memenangkan seleksi ini?!"
Semua mulai membicarakan Watson yang sudah jelas akan menjadi pemenang dalam seleksi ini. Itu semua membuat telinga Byke panas dan emosinya semakin memuncak. Byke pun masuk ke dalam kerumunan astronot itu dan hilang di dalamnya. Dia akan membuat rencana selanjutnya untuk Watson.
"Ella, kita satukan gelang perak itu."
"Iya "
Sampailah mereka di depan pintu kaca itu. Nafas Watson pun menderu namun ada rasa bahagia yang tengah menghampirinya. Terdengar suara sorakan dari bawah, Watson melihat astronot-astronot lain tengah menyoraki mereka berdua. Dentuman terus terdengar menabrak dinding ruangan hingga asap mengepul memenuhi ruangan. Mereka berdua pun masuk ke dalam. Namun disana Watson nampak bingung.
"Lalu bagaimana?" Ucap Watson.
"Apa maksudmu? Aku kira kau sudah tahu akan berbuat apa?"
"A,aku tidak tahu."
"Serius?"
Watson pun berjalan melihat-melihat tombol-tombol apa itu di antara sisi-sisi altar. Hingga Watson mengerutkan keningnya. Dia melihat sebuah cekungan mirip dengan bentuk gelang perak itu namun itu ada dua tempat.
"Lepaskan gelang milikmu, Ella."
"Ada apa?" Stella pun melepaskan gelang perak itu. Kemudian memberikannya kepada Watson. Stella memperhatikan apa yang tengah dilakukan Watson dengan gelang itu. Terlihat Watson juga melepaskan gelang perak miliknya. Kemudian meletakkan dua gelang itu ke cekungan berbentuk itu.
(BIP) suara itu kembali dia dengar di audio telinganya.
"Bunyi."
"Hah? Maksudmu BIP itu?" Watson mengangguk senang. "Wah, apa kita berhasil?!"
Tiba-tiba cahaya biru memancar dari atas altar itu dan memecah ke segala sudut ruangan. Sorot cahaya merah itu pun berhenti. Yang tersisa hanya kepulan asap di bawah cahaya biru itu.
"Berhasil?" Gumam Watson.
"Mereka semua hilang, Light."
"Hantaman itu berhenti juga."
Tiba-tiba pintu masuk terbuka lebar. Terlihat Hendrik masuk dengan mengendarai Bruzarus. Sebuah hologram yang menyerupai kendaraan mirip tank perang di bumi. Namun itu tampak semua dan transparan. Dia naik bersama Prof. Willy.
"Selamat, Nona Watson. Anda memenangkan seleksi kali ini!" Seru Hendrik dari tepi pintu masuk itu.
"Light, kita berhasil!" Ucap Stella senang.
"Iya.'
"Jadi dengan itu kita sudah tahu siapa yang akan memimpin proyek kali ini. Semoga berhasil," tambah Hendrik.
Semua astronot pun bersorak. Hendrik dan prof.Willy pun kembali berjalan berlalu dari ruangan itu. Satu persatu astronot-astronot lain pun keluar dari ruangan itu. Watson dan Stella pun turun ke bawah. Mereka sudah disambut di bawah sana.
"Selamat!" Ucapan dari astronot-astronot lain tidak henti diterima Watson.
Mereka tidak hanya bersorak tapi juga senang karena akhirnya Watson lah yang memenangkan seleksi ini bukan Byke. Pihak Watson ridk berhenti bersorak sedangkan pihak Byke hanya diam dan berlalu begitu saja keluar dari ruangan itu.
***
"Jadi, apa yang sudah kau lakukan selama ini, Eggie?" Byke sudah marah di atas ubun-ubun. Dia menatap tajam Eggie yang sudah berjanji akan membantunya untuk mendapatkan proyek itu. Enggie menghembuskan nafasnya.
Byke menghampiri Eggie ke dalam Glarownya dan mereka tidak berdua saja. Kyle dan Athura juga berada disana. Mereka bertiga seolah tengah dihakimi oleh Byke. Secangkir minuman di masing-masing dekat mereka pun belum terjamah karena Byke terus mengintimidasi Eggie. Kyle dan Athura berusaha menenangkan Byke namun sepertinya itu tidak berhasil.
"Maaf, aku tidak bisa membujuk Hendrik," ucap Eggie.
Meja pun terguling. Byke menggulingkannya. Kyle dan Athura pun terkejut. Namun berbeda dengan Eggie, dia hanya menatap meja itu dan terlihat tenang.
"Seharusnya kau lebih berusaha, kau sengaja melakukan itu? Hah?"
"Tidak, Byke. Memang tidak semudah yang kau bayangkan. Hendrik bukan orang yang seperti itu."
"Kalian itu teman bagaimana bisa dia tidak bisa berubah pikiran."
"Ya sudahlah biarkan Watson yang memimpin proyek itu, apa salahnya?" Ucap Athura dengan polosnya. Tidak segan Kyle langsung menonyor kepala Athura.
"Kau justru memperkeruh suasana, Dasar Bodoh!"
"Sakit, Bodoh! Kau tidak berhak memukul kepalaku."
"Jadi orang jangan bodoh!"
"Kau yang bodoh!"
"Kalian ini kenapa justru berkelahi?" Ucap Eggie.
"Kalian harus membantuku di rencana keduaku, aku tidak mau tahu, setelah ini aku yang harus menggantikan." Eggie menghembuskan nafasnya, dia tidak tahu apa lagi yang akan dia lakukan untuk mencegah perbuatan Byke. Tapi yang jelas, Eggie sedikitpun tidak akan membantu karena bagaimanapun dia tidak ingin Gronium ikut hancur.
"Iya sudah, nanti kau kasih tahu apa rencanamu."
"Tidak ada kata nanti, ini harus segera diselesaikan."
"Kau ini selain keras kepala juga tidak sabaran," ucap Athura.
"Aku tidak peduli denganmu, jadi percuma saja kau bicara apapun, aku tidak peduli."
"Rasakan," ucap Kyle.
"Kau ini tidak sopan dengan seniormu." Byke pun memajukan langkahnya, dia menarik kerah baju Athura sampai dia terangkat ke atas dan menempel ke dinding.
"Eh, turunkan aku."
"Kalau kau bicara lagi, aku parahkan lehermu!"
"Oke-oke aku tidak akan bicara lagi." Athura pun menelan salivanya. Namun pukulan Byke tidak akan pernah dia lewatkan. Satu pukulan di wajah Athura. Lebam pun dia dapatkan. "Sialan," batin Athura.
"Kalau kau masih bicara, aku akan mematahkan hidungmu."
"Jangan, maafkan aku."
"Sudah cukup, hentikan," ucap Eggie. Dia menghembuskan nafasnya kembali. "Jadi katakan apa rencanamu sekarang." Senyum pun terukir di bibir Byke.