Tara masih diam menunggu jawaban dari mereka berdua, termasuk Arthur yang juga penasaran dengan gelang yang dimaksud Watson dan Stella. Watson dan Stella masih saling berpandangan. Kemudian Stella mendekatkan wajahnya kearah telinga Watson. Stella membisikkan sesuatu kepada Watson, membuat Tara dan Arthur keheranan.
"Mereka sudah memutuskan tidak melanjutkan seleksi ini."
"Hah? Kenapa?" Tanya Watson.
"Tanya saja pada mereka."
"Ada apa?" Tanya Arthur. Watson pun berdiri, dia menghadap Arthur dan Tara.
"Kalian kenapa tidak melanjutkan seleksi ini?"
"Oh, tidak apa-apa. Iya, 'kan, Ra?"
"Yup," jawab Tara sambil bersedekap. "Aku penasaran dengan gelang yang kau maksud," tambah Tara. Watson menatap mata Tara. Dia ingin menyakinkan bahwa Tara tidak bermaksud apa-apa karena menanyakan gelang perak itu. Tapi pemikiran itu Watson buang jauh-jauh.
"Gelang ini yang akan menjadi perisai, gelang ini akan menghentikan sorot cahaya mematikan itu. Kita harus menyatukan dua gelang perak dan berdiri di atas altar itu." Arthur mengerutkan keningnya dia masih tidak mengerti. Namun berbeda dengan Tara, dia langsung menangkap maksud Watson. Terlihat dia diam dan menganggukkan kepalanya.
"Oke."
"Oke? Aku masih belum mengerti," ucap Arthur.
"Kau bodoh atau pura-pura bodoh, kaleng bekas?" Sahut Stella.
"Nanti kau akan tahu sendiri, Arthur."
(Boom) dentuman keras tiba-tiba terdengar. Menghantam dinding dan hampir cekung 90 derajat. Jantung Watson terus berdetak cepat.
"Kita harus cepat, tidak ada waktu lagi."
"Tapi bagaimana selanjutnya, kita tidak tahu apapun, Light."
"Kita coba berpegangan sepanjang berlari ke altar itu tapi dalam tanda kutip berpegangan dengan tangan yang memakai gelang perak." Stella pun menyodorkan tangannya yang memakai gelang perak itu kepada Watson. Watson pun langsung memegang tangan Stella.
"Kau yakin cara kerjanya seperti ini?" Stella masih ragu.
"Percaya saja, dengan kita terus menyatukan kedua gelang ini siapa tahu nanti tiba-tiba suara itu terdengar kembali." Stella pun mengangguk.
"Iya sudah terserah kau saja."
"Lalu kita bagaimana?" Tanya Arthur.
"Kalian ikut apa yang kami lakukan," jawab Watson.
"Baiklah. Kami akan berada di depan kalian. Kami akan membuka jalan ke altar," ucap Tara.
"Kau baik sekali, aku tidak menyangka kau tadi padahal cuek dan mengesal .... " Belum sempet Stella melanjutkan pembicaraannya, Watson langsung membungkam mulut Stella.
"Oke, ayo kita ke altar."
Tara dan Arthur pun pasang badan di depan Watson dan Stella. Mereka pun siap berlari menuju altar.
"Kalian siap?" Tanya Tara.
"Siap."
Perlahan mereka pun bergerak. Byke yang memperhatikan Watson dari tadi pun mengumpat dalam hati. Dia tidak akan membiarkan Watson menenangkan seleksi ini. Kemudian dengan cepat Byke pun bergerak mengikuti Watson. Dia memotong jalan agar cepat sampai menuju altar sebelum Watson. Dia menarik paksa astronot untuk membantunya menuju altar dengan cepat. Astronot itu lebih tegang dan gagah dari Tara dan Arthur. Byke yakin dengan perawakan astronot itu dia mudah memecah kerumunan.
"Byke, tapi aku ... " Astronot itu tampak berpikir. "Baiklah, aku berada di pihakmu selama ini, aku akan membantumu."
"Pemikiran yang bagus, aku tidak akan melupakan kesetiaanmu."
"Terimakasih." Mereka pun mulai bergerak dalam jalan pintas yang diambil Byke. Dengan mudah kerumunan itu ditembus oleh astronot itu, dalam hati Byke sudah tidak sampai sampai di altar itu.
Byke sudah mengetahui jika gelang perak itu adalah kunci dari seleksi kali ini. Dia sudah tahu juga bagaimana cara kerja gelang perak itu. Berbeda dengan Watson yang masih menerka-nerka namun dia tidak patah semangat dia yakin dengan anggapannya yang mengatakan bahwa gelang perak itu akan berkerja jika disatukan. Dia beranggapan itu sudah menjadi kunci untuk menyelesaikan seleksi ini. Byke dan partnernya berjalan dibelakang astronot gagah itu. Astronot-astronot lain tidak menyadari pergerakan mereka karena semua sibuk dengan urusan masing-masing mencari tahu teka-teki yang harus mereka selesai kan dalam waktu yang semakin menipis.
"Bagaimana ini waktu tinggal sedikit sedangkan kita belum tahu kita akan melakukan apa," ucap astronot kepada partnernya yang tidak sengaja Byke lewati. Byke pun tersenyum namun dia tidak peduli dengan mereka. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah bagaimana mengalahkan Watson dan memimpin proyek Gronium seri ke - 3.478. Dia sudah mengabdikan diri sejak dia menginjakkan kaki di Gronium ini. Tidak ada yang bisa menghalanginya bahkan mengalahkannya termasuk Watson yang dia anggap astronot selundupan profesor. Dia tidak suka ketidakadilan di Gronium dan tidak akan membiarkan ketidakadilan itu terjadi secara terus-menerus dan merajalela di Gronium.
Sekitar jarak 100 meter dati tempat Byke berada. Kerumunan semakin pekat di area ini, semua berputar-putar di ruangan ini dan tidak menemukan jalan padahal altar itu terpampang di atas mereka dengan jarak sedekat itu. Namun jika tidak mengetahui maksud seleksi ini tidak akan mengerti fungsi altar disana untuk apa.
"f**k! Lebih cepat!" Perintah Byke.
Mata Byke menjadi melotot. Jantungnya berdegup kencang dan sangat tidak sabar saat ini. Astronot yang di depannya sedang berusaha membelah kerumunan itu. Hingga tidak sengaja lengan astronot itu pun tergores benda tajam. Dia pun mengaduh sakit dan sempat terhenti beberapa detik. Byke semakin tidak sabar, dia tidak peduli dengan astronot itu dan ingin segera sampai di altar.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya astronot partner Byke.
"Tidak."
"Ayo cepat! Aku akan kehilangan kesempatan kalau kau lemah seperti ini."
Kedua astronot itu pun diam. Mereka tidak berani membantah ucapan Byke. Astronot gagah itu pun kembali memasang badan dan mulai bergerak. Byke mengikuti di belakang. Namun ada satu hal yang membuat Byke semakin geram. Dia melihat Watson di ujung ruangan. Dia berjalan dengan cepat di dalam kerumunan astronot itu.
"Sialan, aku sepertinya salah jalan," umpatnya. "Hei lebih cepat, ambil jalan tercepat," ucap Byke kepada astronot itu.
"Baiklah."
Astronot itu pun agak berbelok ke kanan, disana tidak begitu banyak kerumunan. Astronot itu pun dengan mudah menembus jalannya. Hingga sampailah Byke di jarak 50 meter dari altar. Altar sudah terpampang nyata di depannya. Dia terus bergerak cepat, dia merayap di sisi finding ruangan hingga sampai di sudut ruangan.
Altar itu berada di atas, tertutup oleh pintu kaca yang jernih. Anak tangga yang menuju kesana berjumlah kurang dari 20 anak tangga. Tangga itu berada di sisi kanan dan kiri kotak yang menyelubungi altar itu.
"Haha, akhirnya aku sampai di anak tangga. Tamat riwayatmu, Watson." Byke pun langsung berjalan menaiki tangga itu disusul partner dibelakangnya.
"Kita sampai," ucap Arthur.
Mereka baru saja sampai di anak tangga altar. Nafas mereka menderu begitu juga Tara terlihat keringat bercucuran di pelipisnya.
"Cukup menguras tenaga," ucap Tara sambil menyeka keringat.
"Terimakasih, kalian sudah membantu kami," ucap Watson.
"Sama-sama."
"Ayo, Ella. Kita naik."
"Tunggu, lalu kita melakukan apalagi sekarang?"
"Kau tidak dengar Watson? Naik keatas, Putri Tidur."
"Kau banyak bicara, aku tidak bertanya padamu!"
"Ayo, kita harus cepat."
"Dia yang mengulur waktu kita, Light."
"Hah? Bukannya kau sendiri, Putri Tidur? Jangan sampai kau tertidur di altar nanti."
"Hash." Kurang sedikit saja Stella menonyor kepala Arthur, namun tangannya berhasil diraih Watson lalu menariknya naik keatas tangga. "Urusan kita belum selesai, Titan jadi-jadian!" Teriak Stella yang sudah menaiki tangga. Arthur menjulurkan lidahnya kepada Stella. Stella tidak takut dia justru menunjukkan bogemnya kepada Arthur.