"Kalian harus segera menemukan cara untuk keluar dari ruangan ini dalam waktu 15 menit, kalau kalian tidak berhasil kami akan mematikan raga kalian sementara sebagai formalitas kalian tidak lolos seleksi. Good luck." Hologram itu pun tiba-tiba menghilang. Lampu kembali terang, disusul sorot cahaya yang semakin banyak menyerang mereka. Tampak raut wajah serius di setiap astronot-astronot disana. Tidak ada yang main-main kali ini. Semua merasa punya kesempatan untuk lolos seleksi ini.
"Menurutmu mereka semua tahu tidak tentang gelang perak itu?" Tanya Stella.
"Entahlah, Ella."
"Byke tahu tidak menurutmu?" Stella menghendikkan bahu tidak tahu.
"Kalian membicarakanku?"
"Astaga!" Stella pun terkejut saat Byke tiba-tiba muncul didekat mereka. Watson juga terkejut dengan kehadiran Byke. Dia datang bersama partner nya yang tadi sempat mereka lihat sering berada di dekat Byke. Mereka sama-sama mirip kelakuannya karena Joy itu dalam pihak Byke sejak sebelum Watson menginjakkan kaki di Gronium. Yang tahu adalah Stella.
"Kau sudah tahu tentang gelang perak itu?!" Tanya Byke meledek. Dia tiba-tiba tepuk tangan dengan keras dihadapan Watson dan Stella. "Proud of you, Nona. Hebat sekali, aku tidak mengira kecerdasanmu sekarang perlahan meningkat dan berkembang."
"Kau akan kalah!" Bentak Stella.
"Oh iya?" Byke tergelak. "Aku takut kalah," ucap Byke dengan tatapan sinisnya kepada Watson.
"Pergi kau, b******k!" Bentak Stella.
"Kita bertemu di altar itu," ucap Byke menunjuk sebuah tempat jauh di depan sana. Disana terlihat sebuah tempat duduk yang terdiri dari tombol-tombol di semua sisinya, kanan dan kiri. Mata Watson menyipit melihat kearah itu. Seperti mendapat jalan keluar, dia mendapatkan satu petunjuk lagi. Byke tahunya Watson sudah mengetahui tentang altar besi itu padahal dia masih tahu sebatas lampu yang berkedip. Watson pun berteriak senang dalam hati. "Selamat berjuang lalu selamat atas kegagalanmu nanti," tambah Byke kemudian Byke pun berlalu dari hadapan mereka berdua.
"b******k! Pergi dan jangan muncul lagi di hadapanku! " Teriak Stella.
"Sudah. Dia sudah pergi," ucap Watson menenangkan Stella.
"Kesel aku sama dia, Light. Rasanya ingin aku lempar dia pake sepatu."
"Aku juga tapi buat apa dia sudah tidak terlihat."
"Kau juga ngeselin deh." Watson pun terkekeh.
Tiba-tiba muncul sebuah kotak stop watch di atas ruangan. Semua orang membelalak ketika waktu sudah menunjukkan waktu 13 menit 40 detik. Waktu itu terus berjalan mundur. Watson dan Stella pun mulai berpikir. Dia masih mencari bagaimana mereka dapat lolos seleksi ini.
Watson memperhatikan gelang perak miliknya. Dia mencoba menyambungkan semua hal yang dia ketahui tentang gelang perak itu. Hingga sebuah pemikiran tidak masuk akal terlintas di kepala Watson.
"Kita harus berlari ke arah altar itu," ucap Watson.
"Apa? Kau gila? Lihat saja sorot cahaya itu tidak ada jedanya, bagaimana kita melewatinya, Light. Bisa-bisa kita mati sebelum sampai altar itu."
"Kita punya gelang ini." Watson menunjukkan kembali gelang itu ke hadapan Stella. Namun saat menunjukkan itu tiba-tiba Byke meraihny dari pergelangan tangan Watson. Mereka berdua pun terkejut.
"Hei, kembalikan!" Bentak Watson.
"Kau lagi, sejak kapan kau disini, kembalikan itu, Brengsek."
"Haha, kalian mau ini?"
Byke justru melempar gelang itu ke dalam gerombolan astronot -astronot yang lain.
"Pergi kau, Bodoh! Pergi!" Stella sudah naik pitam. Byke pun pergi begitu saja. Watson yang terus memperhatikan gelang itu dari berada di tangan Byke hingga gelang itu dilemparkan. Watson langsung berlari kearah gelangnya dilemparkan.
"Aku harus menemukan gelang itu," batin Watson.
Dia merangkak di bawah astronot-astronot lain. Watson terinjak dan berteriak menahan sakit. Stella yang berada disana berteriak ke astronot lain agar memberi jalan kepada Watson. Namun kegaduhan di ruangan itu meredam teriak mereka berdua. Watson berusaha mencari gelang itu hingga tidak perlu waktu yang lama gelang pun berhasil dia dapatkan kembali. Watson cepat-cepat meraih gelang itu, namun tiba-tiba sebuah sepatu tidak sengaja menyentuh gelang itu sehingga gelang itu terlempar kembali ke jarak yang lumayan jauh dari jangkauan Watson.
"Watson!" Stella berteriak saat Watson semakin merangkak ke dalam kerumunan. "Hei, kalian beri jalan Watson!" Teriak Stella beberapa kali.
Stella kemudian berjalan maju, dia membelah kerumunan astronot itu sambil berteriak. Namun membelah kerumunan itu tidak semudah yang dibayangkan. Stella justru terpental ke luar setiap kali akan menelusup masuk ke dalam kerumunan itu.
"Hei, kau mau kemana?" Tiba-tiba Tara memanggil Stella yang masih berusaha masuk kesana. Stella sontak menoleh kearah belakang. Dia melihat Tara tengah menghampirinya. "Kau gila ya? Kau itu sedang apa?" Tara justru menarik Stella keluar dari kerumunan itu. Stella pun memberontak, dia tidak mau ikut Tara keluar dari sana.
"Tidak usah ikut campur, aku mau menghampiri Watson disana!"
"Hei, kau pikir kau bisa masuk kesana?! Kau tidak lihat astronot lain semakin gila?!"
"Aku tidak peduli, Watson disana gara-gara pria gila itu Watson masuk kesana sendiri, aku harus menyusulnya!"
"Kalian kenapa?!" Arthur tiba-tiba datang diantara mereka.
Stella masih berusaha masuk. Tara dan Arthur hanya saling bertatapan.
"Dia keras kepala," ucap Tara.
"Stell!" Panggil Arthur. Namun Stella tidak menoleh, dia masih berusaha masuk ke dalam kerumunan itu. "Stell!" Arthur pun terpaksa menarik lengan Stella.
"Lepas."
"Kau ini kenapa?"
"Aku mau ke Watson. Kau mundur sana!" Namun Arthur justru kembali menarik lengan tangan Stella membuat Stella langsung jatuh ke lantai. "Apa yang kau lakukan?! Kau gila ya?! Hah?!" Stella langsung berdiri dan menampar wajah Arthur. Namun Arthur tidak bergerak. Stella kembali berjalan menuju ke kerumunan itu namun lagi-lagi ditahan oleh Arthur. "b******k!"
"Kau lupa ini seleksi ini tidak bisa diselesaikan secara individu!"
"Aku tidak peduli! Watson ada disana sendiri aku harus menyusulnya." Stella masih bersikeras untuk menyusul Watson.
"Aku temani."
"Aku juga," ucap Tara.
Stella pun terdiam. Dia tidak mengerti dengan pemikiran mereka berdua. Namun Stella tidak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan, Stella kembali membalikkan badannya dan masuk ke dalam kerumunan itu. Arthur dan Tara berdiri di sisi kanan dan kiri Stella.
"Kalian juga akan berusaha memenangkan seleksi ini, mengapa kalian justru berada disini?" Tanya Stella yang masih kesal.
"Kami tidak peduli dengan seleksi ini. Ini seleksi gila sepanjang sejarah Gronium. Hanya akan ada satu yang berhak mendapatkan proyek itu," ucap Arthur.
"Aku tidak mengerti."
Stella melihat Watson tengah terduduk diantara kerumunan itu. Stella pun langsung memanggil Watson. Watson langsung menoleh. Dia melihat Arthur dan Tara disana.
"Ella!"
"Kau tidak apa-apa? Kau nekat sekali masuk kesini, astaga. Bodoh sekali!" Stella menonyor kepala Watson.
"Aku sudah menemukan gelangku."
Tara dan Arthur saling berpandangan.
"Gelang untuk apa?" Tanya Tara.
Watson dan Stella pun saling berpandangan.