Stella melangkah kearah dinding, dia menggesekkan gelang perak itu kesana. Namun suara itu masih belum terdengar.
"Sudah?"
"Belum, teruskan."
Watson berpikir mungkin hanya salah satu saja yang bisa digunakan dan yang satunya seolah mendengar kode elektrik sehingga menghasilkan suara. Namun sudah beberapa menit suara itu masih belum muncul.
"Bagaimana?"
"Belum. Aku belum mendengarnya."
"Mungkin bukan seperti ini caranya."
"Aku juga masih memikirkan nya." Stella masih terus mencoba dan Watson tengah berpikir.
"Aku tadi tidak sengaja bersentuhan dengan gelang itu dan itu langsung mengeluarkan suara," batinnya.
Namun disaat seperti itu, sebuah sorot cahaya berwarna biru tiba-tiba meledak diatas mereka semua. Ledakan itu membentuk sebuah lubang hitam yang lebar. Seperti kepulan asap yang tebal.
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu."
Tiba-tiba semua orang terbatuk-batuk, termasuk Watson dan Stella.
"Rasanya gatal sekali, aku tidak bisa menahannya," ucap Stella.
"Gawat, kita butuh sesuatu untuk menutupi kepala."
Watson melihat kearah atas ruangan. Dia tidak menemukan apapun untuk bisa digunakan.
"Sepertinya kita harus menahannya. Yang kita butuhkan sekarang adalah perisai itu. Kau tidak sadar suara itu?"
"Dari tadi aku tidak mendengar suara apapun."
"Lalu apa hanya aku yang mendengar? Aku mendengarnya dari audio."
"Sungguh? Tapi aku tidak mendengarnya, Light. Mungkin hanya salah satu dari kita saja yang mendengar nya." Nafas Stella mulai tersengal. Dia menarik dan membuang nafasnya. "Sampai kapan kita menahan rasa gatal di tenggorokan ini? Semua orang sama seperti kita? Tapi aku penasaran darimana kau beranggapan gelang perak itu sebuah perisai? Bukannya ini hanya formalitas berpakaian Gronium?"
"Aku pernah mendengarnya dari Paman Willy. Tapi waktu aku baru pertama kali datang kemari. Aku pun hampir lupa karena gelang perak ini tidak menunjukkan apapun selama beberapa tahun aku disini dengan berbagai proyek Gronium. Baru kali ini suara itu muncul, jujur aku tadi juga terkejut."
"Apa orang-orang juga tahu?"
"Entahlah, tapi bukankah ada penjelasan saat semua barang dari Gronium diberikan? Setidaknya fungsi dan lainnya."
"Kau benar, mungkin kita semua sudah lupa." Stella nampak berpikir. "Jadi kalau kita dapat perisai itu kita berhasil dalam seleksi ini?"
"Aku tidak tahu apa yang akan muncul lagi setelah sorotan cahaya itu. Tapi yang jelas perisai itu akan sangat membantu."
(Boom) lagi. Cahaya itu hampir mengenai Watson. Watson pun terbanting ke dinding dan tidak sengaja gelang peraknya menyentuh gelang perak Stella. (BIP) mata Watson pun membelalak.
"Muncul," batin Watson yang terkejut. Watson langsung menoleh kearah Stella. Stella nampak khawatir dengan keadaan Watson.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ella, suara itu."
Yang dipikirkan Watson justru suara itu. Membuat Stella menjadi agak kesal.
"Hantaman tadi cukup keras. Kau masih saja memikirkan suara. Ayo aku bantu berdiri." Watson pun berdiri dibantu Stella. Perlahan Watson berdiri. Kemudian dia bersandar kembali ke dinding. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
"Tenangkan dirimu dulu. Dari tadi kau terus yang kena."
"Aku baru saja mendengar suara itu lagi."
"Lalu?"
"Tiba-tiba saja terdengar. Aku sendiri belum mengerti. Padahal tadi gelang itu hanya saling bersentuhan." Stella mengerutkan keningnya. Dia terlihat tengah berpikir. "Sebenarnya apa yang membuat suara itu muncul? Kau tahu sesuatu, Ella?"
Watson masih berputar-putar dalam pikirannya. Dia menatap gelang perak milik Stella. Dia mengulang lagi kejadian-kejadian tadi yang membuat suara itu terdengar. Stella hanya diam, dia masih sedikit tidak mengerti apa maksud Watson dengan suara gelang perak itu yang tiba-tiba terdengar.
"Apa mungkin itu muncul secara tiba-tiba, seperti 5 menit sekali atau 10 menit sekali?" Ucap Stella agak ragu. Watson berkacak pinggang, dia semakin penasaran dia menatap gelang perak Stella terus-menerus.
"Apa begitu?" Watson masih bertanya-tanya.
"Entahlah."
"Kalau begitu itu sudah berapa menit dari sejak dia berbunyi?"
"Aku tidak tahu, Light. Aku menghitung menit buat apa tadi? Coba kau pikir, astaga." Watson terkekeh.
"Benar juga kau. Lalu bagaimana?"
"Kita tunggu dia bunyi lagi."
Tidak disengaja Watson melihat 2 astronot disampingnya yang baru saja terhempas ke dinding karena hantaman sorot cahaya itu. Watson terkejut begitu juga dengan Stella. Namun mata Watson tiba-tiba membelalak. Matanya menjadi berbinar dan senyum pun terlukis di bibirnya. Beberapa astronot pun membantu 2 astronot itu berdiri.
"Aduh kasihan," ucap Stella saat melihat 2 astronot itu berusaha berdiri kembali. "Kau sudah 2x seperti itu, Light. Huft," tambah Stella.
"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir." Watson masih memasang wajah berserinya. Stella yang melihat kearah nya merasa ada yang aneh dengan Watson.
"Oke syukurlah. Tapi kau terlihat senang? Aneh." Tanya Stella penasaran.
"Ada satu hal yang membuatku terlihat senang?"
"Hah? Kau menemukan cara?" Watson mengangguk sambil tersenyum kearah Stella. "Hua," Stella berteriak senang hingga memancing beberapa astronot disekitar mereka melihat kearah mereka berdua. Sontak Stella langsung terdiam. "Ups." Astronot-astronot itu pun masih menatap tidak suka kearah Stella. "Sorry, kakiku baru saja terlepas dari serpihan besi jadi senang," jelas Stella. Seolah alasan Stella itu masuk akal, astronot-astronot itu pun perlahan mengalihkan pandangan mereka seperti semula.
"Kau sih," bisik Watson.
"Maaf, aku refleks." Stella pun mengikik pelan.
"Dasar." Watson pun tersenyum.
"Jadi apa yang kamu ketahui?" Watson pun tersenyum, dia menatap gelang peraknya. Entah apa yang dia lihat tadi benar atau tidak dengan fakta sesungguhnya. Atau hanya anggapannya saja dalam menarik kesimpulan dari kejadian tadi.
"Aku tidak sengaja melihat lampu berkedip dari gelang perak mereka berdua saat mereka berdua terjatuh tadi."
"Hah? Aku masih tidak mengerti, lampu berkedip?" Stella memeriksa gelang peraknya, dia mencari sebuah lampu di gelang peraknya. Dia memutar-mutar gelangnya berusaha mencari.
"Ini lampu yang ada di gelangku," ucap Watson.
"Hah?" Stella pun terkejut. Dia langsung meraih lengan tangan Watson dan melihat lampu itu. "Benar, ini lampu." Stella kemudian melihat lagi ke gelang miliknya. Dia perlahan memutar gelang peraknya. Hingga setelah beberapa lama mencari, mata Stella pun membelalak. "Light, Light, Ya Tuhan aku menemukannya." Ucap Stella senang.
"Wah, bagus, Ella."
"Jadi sekarang rencana kita apa?" Watson kembali berpikir. Dia juga belum tahu, setidaknya dia sekarang tahu bahwa jika lampu itu berkedip pertanda ada sesuatu yang memecahkan teka-teki gelang perak itu.
"Aku belum tahu, hanya itu yang aku tahu. Aku masih belum menemukan apa yang menyebabkan suara itu berbunyi. Bunyi itu pelan sekali."
Ruangan itu terus diterjang oleh sorot cahaya itu. Lantas dinding ruangan itu hampir sepenuhnya berwarna hitam karena gosong.
"Uh, sepertinya ruangan ini tidak akan bertahan lama," ucap Stella.
"Sepertinya begitu."
Namun tiba-tiba suara dentuman terdengar dari arah atas ruangan. Ruangan pun menjadi gelap, semua orang kembali terheran dan panik. Sebuah hologram selebar kurang lebih 10x30 meter itu menghadap tepat kearah para astronot disana. Ruangan pun tampak bercahaya biru.