Tiba-tiba sorot merah itu keluar dari dinding sebelah kiri dan menabrak ke sisi yang berhadapan dengannya. Sontak semua pun mulai panik kembali. Cahaya itu kembali keluar dari arah berlawanan satu astronot lain pun tumbang. Watson dan Srella langsung menoleh kearah sana. Jantung mereka serasa dipermainkan.
"Seleksi macam apa ini?" Gumam Stella.
"Kita harus berhati-hati, jangan sampai terkena cahaya flash itu."
"Tapi itu apa?"
"Seperti nya sebuah serangan."
Tiba-tiba keluar sebuah layar hologram raksasa di atas dinding ruangan itu. Semua orang langsung menengadahkan kepalanya melihat kearah sana. Terlihat wajah Hendrik perlahan terlihat jelas.
"Selamat datang, ini adalah seleksi pertama kalian semoga berhasil."
"Hah? Sungguh? Itu saja? Bicara itu saja? Terlalu meremehkan kalau aku bilang." Stella mulai dipancing kembali emosinya. "Dia tidak menjelaskan bagaimana cara mainnya atau apapun itu setidaknya menjelaskan apa maksud flash yang tiba-tiba muncul itu? Serius?!" Watson nampak berpikir, dua tengah berpikir dalam kepalanya. Sama halnya dengan Stella, astronot-astronot lain juga mulai emosi karena pernyataan Hendrik yang hanya seperti itu. Alhasil mereka tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan dari tempat itu.
"Benturan itu," batin Watson. "Benturan itu akan terjadi secara tiba-tiba dan cepat seperti kecepatan flash." Watson masih terus berpikir, dia mengandalkan pikiran analisanya untuk menemukan maksud dari seleksi ini.
Namun tiba-tiba di sebelah sudut kanan ruangan terjadi dentuman lagi bahkan lebih keras sampai dinding itu tidak hanya cekung bahkan berlubang. Watson pun membelalak melihat itu.
"Itu sangat keras dan tajam. Bagaimana cara menghindarinya? Sedangkan nanti pasti hanya butuh beberapa detik benturan itu terjadi lagi," pikir Watson.
"Kita bertemu lagi," ucap Byke yang tiba-tiba berada di hadapan Watson. Watson pun terkejut.
"Kau? Ada apa kau mendekat kemari?"
"Kita tidak sengaja berhadapan disini." Boom, tiba-tiba dentuman itu kembali menabrak dinding. Temponya menjadi lebih cepat.
"Astaga, 15 detik," gumam Watson.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Tanya Byke.
"Bisakah kau tidak bertanya disaat-saat yang genting?" Byke justru tergelak. Dentuman itu terus terdengar. "11 detik," gumam Watson.
"Sudah tahu caranya? Arau belum?"
"Byke, kau kenapa kemari pergi sana!" Tiba-tiba Stella pun muncul menengahi mereka berdua. Namun Byke tidak berpindah tempat. Dia masih disana sambil tersenyum sinis kearah dua gadis itu. "Aku bilang pergi."
"Aku tidak akan pergi sebelum melihat dia kalah dalam seleksi ini."
"Apa yang kau bilang? Bisakah kau sekali saja tidak menganggu Watson?" Stella sudah mulai kesal dengan Byke yang selalu mengganggu Watson. Keadaan semakin tidak terkendali. Cahaya-cahaya itu tiba-tiba bermunculan lebih banyak membuat semua orang susah untuk menghindarinya. Dari sudut ruangan, sisi kanan dan kiri semua orang kalang kabut. Namun Byke justru tersenyum puas melihat Watson yang tengah memasang wajah pucat.
"Kita pindah saja dari sini," ucap Stella. Stella langsung menarik tangan Watson dan mengajaknya pergi dari hadapan Byke. Byke pun tertawa. Tawa Byke terdengar oleh Stella. Dia langsung menatap tajam kearah Byke namun Byke tidak peduli. Dia justru mengejar Watson dan Stella. "Dia gila, iya?"
"Kenapa?"
"Coba lihat, dia mengejar kita? Buat apa dia melakukan hal itu?"
Ruangan tiba-tiba berguncang, Watson dan Stella pun tersungkur ke lantai. Tiba-tiba lampu padam, semua menjadi gelap. Sorort cahaya keluar dari sela-sela lubang kecil itu, kembali meluncurkan aksinya. Semua orang menjerit.
"Bisa-bisa kita mati disini kalau tidak melakukan sesuatu!" Seru salah satu astronot yang nampak khawatir. Stella dan Watson masih disana, mereka berusaha berdiri kembali. Dari bekas sorot cahaya itu Watson sesekali melihat keadaan sekitar walaupun hanya beberapa detik.
Dentuman kembali terdengar. Stella menutup kedua telinganya karena kali ini dentuman itu terdengar mengerikan.
"Kita tidak bisa diam saja, Light. Bagaimana kita keluar dari sini atau menghentikan semua ini?"
Watson pun berpikir, dia terpikirkan dengan hal yang sama sekali tidak ia pikirkan sebelumnya.
"Pasti ada tombol atau semacamnya, ini hanya simulasi dentuman."
"Iya. Ini hanya rekayasa. Tapi dimana itu?"
"Kita harus mencarinya." Lagi, sorot cahaya itu kembali menghantam sisi kiri Watson. Jantungnya berdegup kencang. "Hampir saja," gumam Watson.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Stella panik.
Namun saat Watson menghindari cahaya itu, tidak sengaja suara bip tiba-tiba terdengar. Watson pun terkejut. Suara itu terdengar hanya di audio kecil yang terpasang di salah satu telinganya. Watson pun menoleh kearah lengan tangannya. Gelang perak itu mengeluarkan suara saat bersentuhan dengan gelang perak milik Stella. Dahinya pun menggeryit.
"Yang aku tahu gelang perak ini bisa menjadi perisai, bahkan dari hantaman meteoroid," pikir Watson. "Tapi yang diketahui semua orang gelang ini hanya sebagai formalitas berpakaian," tambahnya.
(Buk-buk). Watson kembali tersungkur ke lantai. Tiba-tiba Byke menghajarnya dari arah depan saat Watson tengah melamun.
"Light!!" Pekik Stella yang terkejut. Stella langsung berlari kearah Watson. "b******k!" Teriak Stella mengumpat ke Byke.
Watson mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah. Nafasnya menderu seolah badannya tidak kuat berdiri. Namun tiba-tiba Watson berdiri dia berlari dan (Buk) satu pukulan melayang di wajah Byke. Wajah Byke pun menoleh kearah samping. Lebam pun tercipta disana.
"Kau sudah merasa menjadi jagoan?"
(Buk) satu pukulan lagi didapat oleh Byke. Kali ini dari Stella.
"Beraninya kau dengan wanita?! Hah!" Teriak Stella. Tidak tinggal diam, Stella langsung memukulkan gelang perak itu tepat di tulang hidung Byke. Byke pun berteriak kesakitan. "Sakit? Kau pikir itu mainan?!"
(BIP) sekali lagi, suara itu terdengar di audio Watson. Sedangkan Stella itu masih ingin menghajar Byke hingga dia tidak sadarkan diri.
"Ayo," ajak Watson. Watson menarik tangan Stella dan menghilang di dalam kerumunan astronot-astronot lain.
"f**k!" Umpat Byke yang lagi-lagi kehilangan Watson. Namun dia masih terus mencari Watson hingga dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Yaitu melihat Watson kalah.
Watson terus menarik tangan Stella membelah kerumunan itu. Hingga sampailah mereka berdua di tepi ruangan. Mereka merapat ke dinding ruangan. Stella pun masih tidak mengerti.
"Kita mendapatkan jackpot," ucap Watson.
"Apa maksudmu?"
"Gelang perak."
Stella mengerutkan keningnya.
"Apa?"
Watson mencoba mendekatkan gelang perak miliknya ke gelang perak milik Stella.
"Hah?" Watson nampak bingung. Kali ini tidak terdengar suara bip itu.
"Apa? Kau sedang apa?"
Watson mengesek kedua gelang itu, tapi masih tidak terdengar. Watson pun kembali memutar otaknya. Sedangkan Stella terlihat seperti anak kecil yang menunggu antrian permen. Watson masih berusaha mengotak-atik gelang perak itu. Orang-orang masih gaduh dengan keadaan yang mulai genting.
"Bantu aku mengeluarkan suara 'bip' dari gelang perak ini," ucap Watson.
"Hah?" Stella justru melongo. Dia tidak tahu maksud konyol Watson. "Pikiranmu selalu jauh dari perkiraan. Aku kadang tidak paham apa yang kau katakan."
"Bantu saja. Entah itu kau pukulkan ke dinding, lantai atau lainnya."
"Kau ini bicara apa, Light?"
"Lakukan saja."
"Untuk apa? Kau membuang-buang waktu kita disini."
"Ini untuk situasi saat ini. Kita butuh perisai."
"Hah?" Lagi-lagi Stella tidak mengerti. "Perisai? Kau pikir ini di jaman perang kerajaan?"
"Entah apa itu namanya, aku lupa. Yang jelas itu bisa melindungi kita dari hantaman cahaya itu."
"Aku masih tidak mengerti tetapi iya sudah tidak masalah kalau kita coba."
"Bagus. Sekarang bantu aku."