"Arthur, kau sudah dapat partner?" Tanya Tara yang tiba-tiba datang menghampiri mereka bertiga. Sontak mereka bertiga pun terkejut.
"Belum. Kau sudah?"
"Denganku saja, aku dari tadi mencari tidak ada yang sesuai denganku."
"Oke diterima."
Tara langsung pergi begitu saja tanpa menyapa Watson dan Stella. Watson hanya menganggukkan kepalanya namun berbeda dengan Stella yang pada dasarnya hobi mengomel.
"Eh, dasar. Kita tidak dianggap, jahat banget."
Tiba-tiba Tara berhenti. Sontak Stella pun langsung terdiam. Seolah Tara mendengar ucapan Stella. Dia pun balik badan dan berjalan kembali ke tempat mereka bertiga bediri.
"Eh, dia dengar kamu tuh kayak nya," ucap Watson.
"Kau siap-siap ditendang ke bumi," ucap Arthur. Stella langsung menendang kaki Arthur. Arthur pun mengaduh sakit.
"Kau diam saja, Ember." Stella kemudian mengangkat wajahnya seolah dia menunggu kedatangan Tara yang sedang berjalan menghampirinya. "Aku bestienya Tara, apa yang perlu ditakutkan?" Terlihat Tara tengah mengeluarkan sarung tangan andalannya. Ketiga astronot itu pun menelan salivanya pelan.
"Nyawamu tidak akan tertolong, kau menantang preman Gronium," ucap Arthur.
"Kau diam saja. Aku sudah bilang kau tidak usah bicara. Tidak ada gunanya kau bicara apapun sekarang karena aku tidak peduli dengan omonganku."
Entah mengapa keringat Stella tiba-tiba menjadi sebesar jagung. Tangannya juga mulai keringat dingin. Tara terus berjalan menuju ke arah mereka.
"Tiga langkah lagi dia sampai," ucap Arthur. Stella pun langsung menginjak sepatu Arthur. Arthur pun mengaduh kembali.
"Ta .... " Stella sudah melambaikan tangan kepada Tara namun diluar dugaan, Tara berbelok arah, dia bergabung dengan astronot lain yang berada di belakang mereka bertiga. Stella pun tidak melanjutkan sapaannya.
"Ups," ucap Arthur. Tara hanya melewati mereka bertiga sambil menepuk pundak Arthur sebentar sambil berjalan berlalu dari mereka bertiga.
"Lah, aku kira dia mau kesini loh," ucap Watson yang sama-sama menganggap Tara akan datang menghampiri mereka bertiga.
"Berlalu saja."
"Aduh Tara gimana sih," ucap Stella yang berusaha tidak tertipu walaupun sebenarnya dia memang tertangkap basah menyapa Tara dan tidak jadi. Arthur pun tergelak lebih kencang. Sontak Stella langsung menonyor kepala Arthur
"Lama-lama kau bisa berubah jadi jelmaan Shakira. Dari tadi kau membuat badanku sakit semua."
"Jelmaan! Kau kira aku demit?!"
"Apapun itu namanya aku tidak tahu."
"Dasar, gagang pintu?!"
"Aduh, kalian bertengkar terus tidak capek apa?"
"Arthur yang memancing, Light. Bukan aku."
"Oke, aku pergi saja kalau begitu. Dah."
"Pergi-pergi. Cepetan!" Tiba-tiba Arthur sudah menghilang entah kapan perginya. Tiba-tiba Watson dan Stella sudah melihat Arthur berada di sudut ruangan bersama astronot lain.
"Dia pindah pakai flash ponsel iya?" Ucap Watson.
"Bukan flash ponsel tapi flash jadi-jadian."
"Apaan? Aku baru dengar?"
"Kau baru dengar juga kalau Arthur itu anak jadi-jadian Titan yang lahir diatas ember." Watson menepuk dahinya sendiri melihat temannya yang sudah emosi tingkat ubun-ubun dengan Arthur.
Di sebelah mimbar besi itu terlihat Byke tengah berkumpul dengan senior astronot yang notabennya adalah teman-temannya sendiri. Namun Watson tidak peduli dengan mereka.
"Bagaimana? Kalian sudah membicarakannya dengan Hendrik?"
"Kau pikir mudah berbicara dengan Hendrik?" Ucap Kyle. Byke nampak menyodorkan dagunya kearah Eggie yang sedang berbicara dengan Hendrik dan para profesor. Kyle dan Athura pun melihat kearah yang ditunjuk oleh dagu Byke.
"Dia sedang berbincang proyek Gronium bukan tentang permintaanmu."
"Kalian mau ingkar?" Tatapan tajam Byke mulai nampak kearah Kyle dan Athura.
"Kami tidak berbicara seperti itu, aku tadi hanya menyampaikan apa yang sedang mereka bahas."
"Lebih baik kau cari dulu partnermu siapa," saran Athura.
"Aku bisa mengambil itu kapan saja. Itu urusan belakang. Yang aku bahas sekarang soal meyakinkan kepada Hendrik."
"Mungkin nanti, kau keras kepala sekali," jawab Arthura.
"Jangan memnacingku, Athura. Kau tidak tahu sekarang aku mulai merasa panas di dalam kepalaku."
"Tunggu Eggie dulu," jawab Kyle. Mendengar itu Byke pun berhenti menatap Arthura. Dia menoleh kearah Eggie yang masih sibuk berbincang disana.
"Katakan kepada Eggie, pada akhirnya aku yang akan memimpin proyek itu. Kalian dengar?" Ucap Byke sambil berlalu dari hadapan Arthura dan Kyle. Mereka berdua hanya menghembus kan nafas panjang.
"Sampai kapan dia seperti itu."
"Sampai pensiun atau sampai Gronium menghilang."
"Kau bodoh sekali," ucap Arthura sambil menggosok kepala Kyle yang botak.
"Panas, kau menggosok pakai apa?" Kyle pun menghindar dari Arthura. Arthura tergelak kemudian menunjukkan lelehan plastik yang baru saja dibakar. "b******k, kulit kepalaku bisa cacat, kau t***l sengaja kau melakukannya? Hah?!"
"Itu reflek, anggap saja hadiah kejutan dari Arthura."
"Berikan itu padaku."
"Tidak."
"Berikan, t***l!" Arthura justru membuangnya dan tidak memberikan itu kepada Kyle. "Kau memang perlu diberi pelajaran." Arthura pun tergelak kembali dan menghindari serangan Kyle. Mereka pun kembali berkelahi dan memutari ruangan pertemuan itu.
***
Keesokan harinya, mereka kembali di kumpulkan di lahan hijau itu. Namun beberapa menit kemudian mereka digiring menuju ke dalam ruangan untuk seleksi pertama dan selanjutnya tidak ada seleksi lagi.
"Kenapa mendadak sekali? Tidak seperti biasanya?" Gumam Stella. Semua astronot juga nampak bingung begitu juga dengan Watson. Mereka digiring menuju ke ruangan yang luas dimana ruangan itu sangat berbeda dengan ruangan lain yang ukurannya normal.
"Wow," ucap Watson tidak menduga sebelumnya.
"Kau tahu ini ruangan apa?" Tanya Stella.
"Tidak sama sekali. Bertahun-tahun tinggal disini aku baru tahu ada ruangan seperti sabana."
"Apa ini ciptaan yang baru?"
"Ummm bisa jadi." Watson menghirup oksigentrium yang terasa seperti baru saja masuk ke dalam ruangan ini. "Aku bisa mencium udara segar disini."
"Udara?" Stella tergelak.
"Istilah seperti udara."
Namun tiba-tiba sebuah sinar menembus diantara astronot-astronot itu. Mereka pun terkejut. Kemudian dengan suara dentuman yang keras dinding itu pun menghasilkan cetakan cekung yang menggelap. Watson masih tidak mengerti.
"Wow, itu kecepatan diatas 10x lipat kecepatan cahaya," ucap salah satu astronot disana. Semua orang pun seolah tidak menyangka.
"Apa baru saja kita diserang?" Tanya Stella kepada Watson.
"Tidak, sepertinya ada sesuatu yang terjadi."
"Watson awas!" Teriak Stella. Semua orang pun berlari menghindar. Watson terpental ke arah dinding. Tiba-tiba cahaya itu kembali muncul. Cahaya itu menabrak Watson hingga Watson terpental ke dinding dan menabrak hingga baju yang dikenakannya berlubang dan berwarna hitam. Lubang kecil itu menembus baju pelapis yang berguna sebagai penangkal serangan bertegangan tinggi.
Baju pelapis itu pun terlihat. Watson langsung tersungkur ke lantai saat cahaya itu menghilang. Stella langsung berlari menghampiri Watson.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Sepertinya ada yang tidak beres disini."
"Aku juga merasa seperti itu. Tapi aku tidak tahu apa itu, Light?"
Semua orang mulai mewaspadai keadaan sekitar mereka. Semua terlihat bersiap untuk menghindari cahaya misterius itu.
"Kalau kau sadari, disini hanya para astronot umum. Sejak tadi kita tidak melihat Hendrik arau senior astronot lainnya," ucap Watson. Mendengar itu Stella pun merasa aneh. Dia baru sadar kalau yang dikatakan Watson benar. Stella melihat ke segala penjuru ruangan luas itu tidak ada siapapun.
"Kau benar, aku baru sadar, Light. Ja,jadi kita sengaja dimasukkan ke dalam sini?"
"Bisa jadi. Aku curiga ini adalah seleksi pertama."
"Kau, kau benar. Kalau begitu kita harus atur strategi."
"Tapi kita belum tahu apa maksud cahaya itu."