Stella mengambil kain lap yang tergantung di dekat pintu dapur. Dia mengibas-ngibaskan kain itu ke udara seolah sedang mengusir sesuatu yang tidak terlihat. Watson yang tengah membereskan meja di ruang tamu pun menoleh.
"Kau sedang apa?"
"Mengusir sisa-sisa Byke di ruanganmu."
"Astaga." Watson menepuk dahinya. "Dia bahkan tidak masuk ke dalam."
"Bau tidak enaknya masuk, Light. Aku menciumnya dari tadi."
"Itu bau lap yang kau pegang. Kapan terakhir kali kau mencucinya?"
"Ini lapmu, bukan lapku!" Stella langsung melempar kain itu ke arah Watson. Watson menangkapnya sambil tergelak. Mereka berdua pun kembali bekerja. Stella menyapu lantai ruang tamu sedangkan Watson membersihkan sudut-sudut ruangan yang jarang tersentuh.
Glarow milik Watson tidak terlalu besar. Bola transparan itu terbagi menjadi tiga bagian. Ruang tamu di bagian depan, dapur kecil di sisi kiri, dan kamar tidur di bagian belakang. Semua tertutup lapisan bening yang membuat penghuninya bisa melihat langit luar angkasa kapan saja. Watson selalu menyukai bagian itu. Setiap kali dia lelah, dia hanya perlu menengadahkan kepala dan hamparan hitam itu akan menyapanya.
"Light, aku serius soal tadi," ucap Stella tiba-tiba. Sapu di tangannya berhenti bergerak.
"Soal apa?"
"Byke. Dia datang kesini bukan untuk mengobrol. Dia datang untuk memastikan sesuatu."
"Memastikan apa?"
"Memastikan kau takut."
Watson berhenti sejenak. Dia menatap sahabatnya itu lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu dia pulang dengan tangan kosong."
"Justru itu yang membuatku takut." Stella meletakkan sapunya lalu duduk di lantai. "Orang seperti dia tidak berhenti kalau gagal sekali. Dia akan datang lagi dengan cara lain."
"Lalu aku harus bagaimana? Bersembunyi di dalam Glarow sampai proyek itu selesai?"
"Setidaknya kau waspada."
"Aku waspada," ucap Watson sambil kembali mengelap kaca. "Aku hanya tidak mau menghabiskan tenagaku untuk membencinya. Tenagaku sudah terpakai untuk hal lain."
Stella mengembuskan nafasnya panjang. Dia tahu percuma saja berdebat dengan Watson soal Byke. Sudah bertahun-tahun dia mencoba dan hasilnya selalu sama. Watson akan tersenyum, menjawab dengan tenang, lalu melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau tahu tidak, Light, kalau kau ini manusia paling menyebalkan di Gronium?"
"Terimakasih."
"Itu bukan pujian!"
Watson tergelak. Dia melempar kain lap itu kembali ke arah Stella dan mengenai wajah sahabatnya. Stella berteriak lalu bangkit dan mengejar Watson memutari meja ruang tamu. Mereka berdua tertawa hingga nafas keduanya tersengal. Sudah lama mereka tidak setertawa itu. Sejak proyek baru diumumkan, hari-hari mereka berisi rapat, latihan dan pengarahan yang tidak berkesudahan.
"Cukup, cukup. Aku lelah," ucap Stella sambil bersandar ke dinding.
"Padahal baru dua putaran."
"Dua putaran mengelilingi mejamu itu sama dengan lari 100 meter di bumi. Kau tidak tahu, 'kan?"
"Ngawur."
Tiba-tiba sebuah suara nyaring terdengar dari luar. Suara itu memenuhi seluruh area Glarow. Sirine pemberitahuan Gronium. Watson dan Stella pun langsung berhenti dan saling berpandangan.
"Pertemuan," ucap Watson.
"Sudah? Cepat sekali."
"Kau yang lama. Ayo cepat, ganti bajumu."
"Bajuku sudah bagus begini."
"Kau berdebu."
"Semua orang berdebu, Light. Ini planet imitasi, debunya juga imitasi."
Watson menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Setelah selesai, mereka berdua pun keluar dari Glarow. Watson mengunci pintu lalu berjalan bersama Stella menuju ke gedung pertemuan. Rerumputan hijau buatan itu terasa lembut di bawah sepatu mereka. Beberapa astronot lain juga berjalan ke arah yang sama. Ada yang berlari kecil karena terlambat, ada juga yang berjalan santai sambil berbincang.
"Menurutmu apa yang akan dibahas?" Tanya Stella.
"Teknis proyek. Mungkin juga soal siapa yang akan berangkat."
"Kau sudah siap?"
"Aku tidak tahu siap atau tidak. Aku hanya tahu aku akan ikut."
"Jawaban yang tidak menjawab."
"Itu jawaban paling jujur yang aku punya."
Mereka berdua pun sampai di depan gedung pertemuan. Pintu besar itu terbuka lebar. Di dalam sudah berkumpul ratusan astronot. Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi dan sebuah mimbar besi di bagian tengah depan. Di sisi kanan mimbar itu berdiri beberapa astronot senior. Watson melihat Byke di antara mereka. Byke juga melihat Watson. Keduanya bertemu pandang beberapa detik sebelum Watson mengalihkan pandangannya.
"Dia melihatmu," bisik Stella.
"Aku tahu."
"Aku bilang apa tadi."
"Ssst."
Salah satu senior astronot naik ke mimbar itu. Ruangan pun perlahan menjadi hening. Semua orang menghadap ke depan.
"Terimakasih sudah berkumpul. Ini pengarahan singkat sebelum proses seleksi dimulai," ucap senior itu. "Proyek kali ini berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Ini bukan soal siapa yang paling pintar. Ini soal siapa yang bisa bekerja tanpa kehilangan kepala saat keadaan berantakan."
Semua orang mendengarkan. Stella menyenggol lengan Watson.
"Dia bicara tentangmu," bisik Stella.
"Dia bicara tentang semua orang."
"Ada satu hal yang harus kalian catat," lanjut senior itu. "Seleksi ini tidak dilakukan sendiri-sendiri. Kalian akan bekerja berpasangan. Satu orang satu partner. Kalian sendiri yang menentukan."
Ruangan pun langsung menjadi gaduh. Semua orang mulai berbicara satu sama lain. Ada yang langsung berdiri dan mencari temannya, ada juga yang masih kebingungan.
"Kenapa berpasangan?" Tanya salah satu astronot dari barisan belakang.
"Karena di luar sana tidak ada yang bisa melihat punggungnya sendiri," jawab senior itu singkat. "Carilah partner kalian sekarang. Setelah semua mendapat pasangan, kalian akan mendapatkan pengarahan lanjutan. Ingat, partner kalian bukan sekedar teman berjalan. Kalau salah satu jatuh, keduanya dianggap jatuh."
Senior itu pun turun dari mimbar. Suasana semakin gaduh. Watson menoleh ke arah Stella. Stella sudah lebih dulu menatapnya dengan wajah datar.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Watson.
"Kau mau tanya sesuatu?"
"Tidak jadi."
"Bagus. Karena kalau kau berani bertanya, aku akan menganggapmu tidak pernah mengenalku selama bertahun-tahun." Stella melipat kedua tangannya. "Sudah jelas aku partnermu. Titik."
Watson pun tersenyum lebar. Dia menepuk-nepuk kepala Stella.
"Aku belum bilang iya."
"Kau tidak punya pilihan lain. Tidak ada yang mau denganmu."
"Kenapa begitu?"
"Karena kalau berpasangan denganmu, mereka harus berhadapan dengan Byke seumur hidup. Siapa yang mau?"
Watson terkekeh. Dia mengangkat tangannya lalu menyodorkannya ke hadapan Stella. Stella pun menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat.
"Deal," ucap Stella.
"Deal."
Di ujung ruangan sana, terlihat Byke tengah berbicara dengan Kyle dan Athura. Sesekali dia melirik ke arah Watson yang sedang tertawa bersama Stella. Rahangnya terlihat mengeras. Watson merasakan tatapan itu namun dia memilih untuk tidak menoleh.
"Dia masih melihat," bisik Stella.
"Biarkan saja."
"Kau tahu tidak, kalau tatapan bisa membakar, kau sudah menjadi arang dari tadi."
"Untung tidak bisa."
Tiba-tiba sebuah lengan merangkul pundak Stella dari belakang. Stella pun menjerit kaget dan hampir memukul orang itu kalau saja Watson tidak menahan tangannya.
"Kau!" Bentak Stella.
"Kenapa? Aku hanya menyapa," ucap Arthur sambil terkekeh.
"Menyapa itu pakai mulut, bukan pakai tangan!"
"Mulutku sedang tidak bisa dipakai. Aku baru saja makan."
"Kau ini benar-benar anak Titan yang lahir di atas ember." Stella menyingkirkan lengan Arthur dari pundaknya. Watson hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua orang itu.
"Hei," sapa Arthur kepada Watson.
"Hei. Kau sudah dengar soal partner?"
"Sudah. Makanya aku kesini."
"Jangan harap," sahut Stella cepat. "Watson sudah denganku."
"Siapa yang mau denganmu? Aku hanya mau bertanya apa kalian sudah dapat."
"Sudah!"
"Iya sudah. Aku juga sedang mencari."
"Cari saja sana. Jangan berdiri disini, kau menghalangi udara."
"Udara apa? Ini oksigentrium."
"Terserah!"
Watson pun tergelak melihat keduanya. Ketiganya berdiri di tengah ruangan yang masih ramai itu sambil menunggu semua orang mendapatkan pasangan masing-masing.