Watson duduk di tepi ranjang tidurnya sambil membuka buku catatannya. Dia menulis beberapa kejadian tadi pagi yang dia lihat. Watson mengungkapkan apa yang dia rasakan saat melihat fenomena itu. Lagi-lagi fenomena seperti itu membuat Watson tidak berhenti tersenyum dan bahagia. Tidak jarang dia melihat fenomena-fenomena luar angkasa di dekat Gronium. Terlebih kalau pun ada ponsel seperti di bumi, Watson langsung mengabadikan fenomena-fenomena itu.
"Watson?" Panggil seseorang dari luar bola transparan itu. Watson menoleh kearah pintu kamarnya. Dia berjalan kesana. Dia melihat dari balik layar persegi itu. Watson mengerutkan keningnya saat melihat seorang laki-laki sedang berdiri disana.
"Byke? Ada angin apa dia datang mengunjungiku?" Gumamnya.
"Keluarlah sebentar, ada hal yang mau aku katakan." Watson pun membuka pintu kamarnya. Dia keluar dari bola transparan itu dan mendekat ke tempat dimana Byke berada. Watson memasang wajah keheranan. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan sedikit menyipitkan mata kearah Byke.
"Ada apa?" Byke tersenyum sinis tipis, sangat tipis. Namun apa gunanya Watson menyipitkan matanya kalau tidak bisa melihat senyum ketidaksukaan itu. Watson menghembuskan nafasnya seolah berkata 'masih dalam konteks yang sama'.
"Aku tahu kau sudah menangkap maksudku menemuimu."
"Aku bukan cenayang. Katakan saja ada apa."
"Sebaiknya kau sadar diri dan tidak mengikuti proyek itu. Kau tahu kalau kita gagal resikonya berdampak pada bumi. Kau tahu maksudku, 'kan?"
"Oh itu. Semua astronot berhak ikut kenapa kau melarangku? Lagi pula sebelum diputuskan siapa yang mengemban proyek itu proses seleksi masih berlaku. Dan menurutku, Byke, ada banyak astronot yang lebih baik dariku dan kita akan berkompetisi secara kompeten dan bersih."
"Selain kompeten bukankah orang dalam juga berpengaruh? Bukan begitu, Nona Watson?" Sindir Byke namun Watson tidak peduli dia justru menyapa rekan astronot lain yang baru saja berjalan di dekat mereka membuat Byke merasa agak kesal.
"Kau sudah selesai bicara? Aku mau bersih-bersih sebelum pertemuan nanti dimulai." Byke hanya diam sambil berlalu begitu saja. Namun tatapannya tetap tajam kearah Watson. "Da .. sampai jumpa nanti di pertemuan," ucap Watson sambil melambaikan tangan kepada Byke.
Kemudian Watson pun kembali masuk ke dalam Glarownya. Istilah bola transparan itu adalah Glarow. Hanya para pengelola Gronium yang tahu arti istilah Glarow itu. Namun Watson pernah mendengar dari cerita prof. Willy arti dari istilah itu sama saja dengan gelas kaca berbentuk bulat. Meskipun Watson tidak mengerti dia selalu mendambakan ingin tinggal di Gronium sampai dia pensiun nanti.
"Watson?" Watson pun menghentikan langkahnya masuk ke dalam Glarownya. Dia membalikkan badannya melihat kearah Stella yang berdiri di depan Glarow miliknya. Namun yang Watson lihat Stella tidak melihat kearahnya. Watson pun mengikuti arah pandang Stella. Watson mengerutkan keningnya melihat Byke yang tengah diperhatikan oleh Stella. Stella masih memandang kearah Byke yang berlalu dari tempat Watson beberapa menit yang lalu.
"Hei, kau kenapa kesini?" Sapa Watson, Stella pun langsung menoleh kearah Watson.
"Ada apa dia kesini, Light?"
"Oh, Byke. Biasa kok, dia mengatakan hal yang tidak perlu aku pikirkan." Mendengar itu Stella pun agak memasang wajah kesalnya.
"Tidak ada bosan-bosannya dia mencari kesempatan seperti itu," ucap Stella sambil melipat kedua tangannya ke depan.
"Hanya dia yang memperhatikanku." Watson mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia penggemarku," tambahnya agak terkekeh.
"Kenapa bisa biasa saja? Kalau aku jadi kau aku sangat tidak nyaman. Pria seperti itu tidak pantas menjadi penggemarmu sekalipun penggemar bertolak belakang." Watson menaikkan sebelah alisnya, dia tidak paham apa maksud 'penggemar bertolak belakang' itu. Namun Watson tidak memikirkan hal itu, dia pun tidak peduli dengan Byke yang memang selalu mengganggunya setelah insiden pengangkatan anggota astronot beberapa tahun yang lalu. Dimana pada saat itu Watson lolos karena Watson merupakan kerabat dekat Prof. Willy yang notabenenya menganggap Watson layak mendapatkan pekerjaan itu. Puluhan sertifikat diperoleh Watson saat akan diserahkan tanggung jawab itu kepadanya. Namun pada saat itu terjadi sebuah pertentangan dari astronot senior sebelumnya karena merasa Watson masih belum memenuhi standard yang berlaku. Namun Watson pun berhasil membuktikan keahliannya dan itu cukup membuat dirinya pantas mendapatkan pekerjaan itu. Namun disisi lain pertentangan itu justru menimbulkan amarah Byke yang waktu itu memang yang berdiri di depan melakukan pertentangan itu. Dan hingga saat ini Byke masih sama. Dia masih tidak terima Watson menjadi astronot dengan begitu mudahnya menurut Byke.
Byke sering membandingkan perjuangannya dengan perjuangan Watson. Dia selalu melebihkan perjuangannya diatas perjuangan astronot-astronot yang lain. Namun hanya kepada Watson dia begitu menentang semua tugas yang diembankan kepada Watson. Hingga Watson pun hafal dengan siapa dia berhadapan. Watson tidak mempedulikan ocehan Byke yang sama sekali tidak membantu. Dia hanya perlu melakukan suatu hal untuk menutup ocehan Byke. Dia hanya perlu membuktikan apapun itu untuk membungkam mulut Byke. Selama beberapa tahun belakangan Watson melakukan hal itu dan Watson pun selalu menjadi astronot yang semakin disegani. Itu membuat Byke justru semakin gencar melakukan pertentangan terhadapnya. Namun Watson tidak sekalipun menghiraukan itu semua. Dia percaya dengan kemampuannya dan akan melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Semua astronot sudah mengetahui bagaimana pihak Watson dan pihak Byke terus berseteru dalam setiap kesempatan proyek yang diadakan Gronium. Hingga jajaran pengelola Gronium pun tahu tentang perselisihan mereka. Namun mereka juga tahu sebenarnya Watson tidak menganggap itu sebuah perselisihan. Dia menjadikan semua itu terasa biasa saja baginya. Dan soal mengemban tugas dan proyek yang diadakan Watson siap menerima semua itu. Berat ringannya proyek-proyek itu Watson tidak peduli. Dia hanya peduli dengan tanggungjawabnta terhadap pekerjaannya.
"Sudahlah, biarkan saja." Stella pun menghembuskan nafasnya karena heran dengan sikap Watson yang kelewat santai dan tidak peduli dengan keselamatannya. Watson hanya mengangkat kedua alisnya tidak peduli.
"Kau mau masuk, 'kan? Ayo cepat, bantu aku kalau kau mau," ucap Watson sambil terkekeh. Stella masih melihat kearah Byke. Dia bersedekap seolah menunjukkan betapa kesalnya dia dengan Byke.
Terlihat Byke tengah berjalan seolah dia menjadi pemimpin di atas planet Gronium ini. Ambisi kuat itu membuatnya buta dengan kekuasaan. Dia gila dengan kekuasaan. Dia ingin mendapatkan lebih dari sekedar seorang astronot. Stella menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak menyangka dia punya rekan kerja seperti Byke. Byke memasang wajah sok itu di depan astronot-astronot lain yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Stella masih dengan tatapannya. Membuat Watson juga ikut melihat kearah yang sama.
"Dasar, pria sok asik, sok kenal, sok terkenal, sok ganteng .... " Stella tidak berhenti mengomel sendiri. Watson yang berada disampingnya hanya diam menatap sikap Byke dari kejauhan. Namun seketika Watson terkejut dari lamunannya saat Stella menepuk pundak kirinya. "Kau mau bersih-bersih, 'kan? Aku bantu deh aku sedang tidak melakukan hal lain."
"Kau jangan terlalu kesal, nanti kau suka padanya baru tahu rasa."
"Kau bicara apa? Tidak mungkin aku suka dengan kardus kaleng seperti dia." Watson pun terkekeh geli.
"Tapi dilihat-lihat Byke itu keren." Stella tiba-tiba mual di hadapan Watson. Seketika Watson pun panik. "Kau kenapa?"
"Mual. Kau mengatakan hal yang sama sekali tidak tergambar di wajah kardus kaleng itu."
"Astaga .. aku kira kau sakit loh." Watson langsung menonyor kepala Stella.
"Haha, kau ini kenapa juga berpikir aku sakit? Dari tadi aku baik-baik saja."
"Bisa saja kau tiba-tiba masuk angin."
"Kau pikir ini di bumi? Bukan masuk angin tapi kemasukan black hole." Watson pun tergelak. "Ayo masuk, aku bantu deh."
"Iya sudah, makasih loh." Watson pun tersenyum. Mereka pun berjalan masuk ke Glarow milik Watson. Mereka berdua pun mulai bersih-bersih.