Freya terduduk di atas ranjang dan menghembuskan nafas panjang seraya berteriak kesal. Dia mengacak rambutnya frustasi. Tangannya menggigit jari kukunya merasa bingung dan panik. Apa yang harus dia lakukan? Sudah satu bulan berlalu sejak dia putus dengan Bima. Semalam, tiba-tiba Karina menghubunginya dan bertanya perihal pria yang katanya lebih unggul dari Bima.
Freya ingat dia bilang pada Karina jika dia akan mendapatkan pria yang lebih kaya dan lebih baik dari Bima. Kini dia termakan omongannya sendiri. Pria? Lebih kaya dari Bima? Freya berdecih sinis. Pria yang pernah mendekatinya hanyalah Bima! Dan siapa pria yang lebih unggul dari Keluarga Bagaskara? Tentu saja ada. Pemilik tempatnya bekerja. Keluarga Abraham. Dan gila saja jika dia mendekati pria sudah menikah.
Setahu Freya, pemilik perusahaan LnA hanya memiliki satu putra dan dia juga sudah menikah. Dan tidak mungkin juga pria itu akan mau dengannya. Derajat mereka tidak sama. Bima adalah sebuah tiket lotre keberuntungan yang di dapatkan Freya. Sayangnya.., keberuntungannya tidak berlanjut.
Dada Freya terasa sesak saat mengingat Bima. Pria itu! Kedua tangan Freya terkepal marah. Karena dia! Bukan karena Bima saja. Pasti juga Karina si penggoda itu! Dan sekarang dia harus mencari dimana pria yang lebih di atas segalanya dari Bima? Mimpi! Memang mereka ada tapi tidak mungkin Freya bisa mendapatkannya. Freya mengerang kesal dan beranjak mandi untuk berangkat bekerja walaupun kini dia tengah frustasi.
**
Freya terkejut saat melihat ayahnya tengah duduk di meja makan meminum kopi. Dia mendekat ke arah ayahnya dengan ragu dan duduk disana. Pria paruh baya itu menoleh menatap Freya dan tersenyum kecil. Freya membalas senyumannya dengan canggung. Hal jang jarang sekali terjadi, melihat ayahnya duduk santai meminum kopi di pagi hari seperti ini.
"Baru pulang yah?" tanyanya melihat penampilan ayahnya yang masih memakai jas dokternya. Pria paruh baya itu mengangguk.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya ayahnya. Freya sedikit terkejut mendengar itu. Dia menatap ayahnya kaget membuat sang ayah terkekeh kecil.
"Setidak peduli itu yah aku padamu sampai kau terkejut mendengarku bertanya?" gumam sang ayah. Freya mengangguk pelan dan mengedarkan pandangannya. Dia merasa sangat canggung sekarang. Mereka tidak pernah duduk bersama dan berbincang. Biasanya hanya diam dengan kegiatan masing-masing.
"Maafkan aku, membuat hidupmu tidak sebahagia anak-anak di luar sana," ucap ayah Freya. Freya tertegun menatap ayahnya. Matanya memanas menatap pria paruh baya itu nanar.
"Kenapa.., tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Freya pelan. Pria paruh baya itu menghela nafas meletakkan cangkir kopi yang dia minum. Beliau tersenyum kecil.
"Aku hanya...," ujar ayah Freya menggantung namun kemudian menggelengkan kepalanya. Freya menatap ayahnya heran. Dia mengernyit melihat ayahnya yang terlihat sedikit pucat dan wajahnya terlihat lebih tirus dari biasanya.
"Ayah sakit?" tanya Kinara khawatir. Pria paruh baya itu menatap Freya tidak percaya. Namun kemudian beliau tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Hanya sedikit kelelahan," jawabnya. Freya mengernyit tidak percaya. Ayah Freya menatapnya.
"Bagaimana kalau minggu ini kita pergi jalan-jalan berdua?" tanyanya. Freya lagi-lagi terkejut mendengarnya. Ayah Freya menghela nafas saat tidak mendengar jawaban apapun darinya.
"Jika tidak mau tidak apa. Aku mengerti," ujarnya. Freya menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu! Freya mau yah! Minggu depan bukan?" tanya Freya. Ayah Freya menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang. Freya ikut tersenyum. Dia menunduk melihat jam di tangannya. Dan Freya terkejut saat jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang. Freya berdiri dari duduknya menatap ayahnya.
"Ayah Freya berangkat dulu. Sudah terlambat," ujarnya. Ayah Freya menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati," ujarnya. Freya menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi.
"Freya," panggil pria paruh baya itu lagi. Freya menghentikan langkahnya menoleh menatap ayahnya bertanya. Beliau tersenyum menatap Freya.
"Terimakasih," ujarnya. Freya mengernyit mendengar itu.
"Untuk apa ayah?" tanyanya.
"Untuk selalu ada di rumah ini," jawab ayahnya. Lagi-lagi Freya tertegun. Dia hanya mengangguk kaku berjalan keluar rumah.
Karena dia hampir terlambat, Freya akhirnya memilih naik taksi agar cepat sampai. Sayangnya.., dia lupa jika jalanan kota akan selalu ramai dan naik taksi akan membuatnya semakin terlambat. Tapi semua itu tidak terpikirkan oleh Freya. Yang dia lakukan di dalam taksi adalah diam menatap jalanan ramai dengan tatapan kosong. Lalu..., Air matanya satu persatu menetes mengalir ke pipinya.
"Mbak? Sudah sampai,"
Freya terkesiap kaget mendengar itu. Dia menoleh ke arah supir taksi dan menatap gedung tinggi tempatnya bekerja. Freya meringis dan menyeka air matanya. Dia memberikan nominal uangnya pada supir itu dan kemudian keluar dengan langkah cepat masuk ke dalam kantor. Langkah Freya sedikit cepat dan buru-buru.
Karena buru-buru, dia tidak melihat lift apa yang dia gunakan. Melihat lift yang terbuka Freya langsung masuk ke dalam. Dia memencet nomor lantai tempatnya dan menunggu dengan kaki tidak santai. Suara dering telepon terdengar nyaring. Freya terkejut dan mengambil handphone miliknya yang berbunyi. Dia meringis dan menoleh ke belakang melihat seorang pria bersedekap d**a menatapnya tajam merasa terganggu.
"Maaf mas..," gumamnya pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya. Dia langsung mengangkat panggilan dari Ashila itu.
'Fey! Maaf aku mengganggumu. Tapi apa kau tahu Bima dan Karina akan bertunangan?!' seru Ashila bertanya. Freya mendelik kaget.
"Apa?!" teriak Freya terkejut. Wajahnya langsung berubah kesal.
'eh? Ada apa dengan suaramu? Kau habis menangis yah? Apa kau sudah tahu berita itu? Aku baru tahu dari televisi,' ucapnya. Freya menghentakkan kakinya kesal dan mengerang.
"Aku baru tahu darimu! Ish! Bima sialan itu! Mereka pikir aku bisa di kalahkan dengan seperti ini?!" kesalnya.
'di kalahkan?! Kau itu sudah kalah sejak-'
"Kenapa kau juga membuatku kesal?! Hari ini moodku sedang tidak baik," kesal Freya.
'ada apa?' tanya Ashila. Freya diam sebentar dan menghela nafas.
"Ayah.., tadi tiba-tiba bicara padaku. Dia mengajakku untuk jalan-jalan bersama," ceritanya. Ashila memekik kaget di sebrang telepon. Lalu hening sejenak.
'Bukankah itu hal yang bagus? Apa kau bahagia?' Tanya Ashila pelan. Freya menghela nafas seraya mendongakkan kepalanya untuk menghalau air matanya yang akan keluar. Dia mengerjapkan matanya dan tersenyum kecil.
"Bahagia..," jawabnya pelan. Freya kemudian terkekeh.
'uhh.., jangan sedih. Kau pasti senang sekali yah?' Tanya Ashila.
"Sangat senang. Selama ini, baru sekarang ayah mengajakku pergi jalan-jalan," ucapnya. Freya mendongak dan buru-buru keluar dari lift saat lift itu berhenti dan terbuka.
'sudahlah kau tidak perlu memikirkan Bima dan Karina. Kau harus bahagia saat jalan-jalan dengan ayahmu nanti,' ujarnya. Freya menganggukkan kepalanya berjalan menuju mejanya.
"Terimakasih. Sudah dulu yah aku sudah terlambat ini, bye!" seru Freya dan langsung mematikan panggilannya. Freya duduk di kursi tempatnya dan menghela nafas lega. Dia mengedarkan pandangannya dan kemudian mendekatkan kursinya ke arah temannya.
"Apa Bu Heni sudah datang?" tanya Freya. Temannya Ara itu menoleh dan menggelengkan kepalanya. Freya menghela nafas lega. Dia aman. Absen datang dia tidak perlu mengisi. Anggap saja lupa. Yang terpenting adalah absen pulang. Freya merenggangkan badannya dan mulai melakukan pekerjaannya.
**
Mata mengantuk Freya terbuka lebar saat temannya Ara memukul bahunya sedikit keras. Dia menegakkan badannya memegangi bahunya sambil meringis kesakitan. Freya menoleh kesal ke arah Ara yang ternyata menatapnya kesal. Dia menatap Ara bertanya.
"Kau tidak mendengar Bu Heni sejak tadi?!" tanyanya kesal. Freya mengerjapkan matanya beberapa kali dan mendongak menatap Bu Heni yang ternyata juga menatapnya kesal.
"Kau dengar bukan Freya saya tadi berkata apa?! Ingat itu!" kesalnya dan kemudian berlalu pergi. Freya bingung menoleh ke arah Ara.
"Memangnya ada apa?" tanya Freya. Ara menghela nafas.
"Katanya tadi ada anak sini yang masuk lewat lift khusus. Dan gilanya, dia itu terlambat, berkata kasar, berteriak di depan bapak pimpinan. Bu Heni tadi memperingati kita untuk tidak mengulangi hal yang sama lagi. Eh.., tunggu! Bukannya kau tadi terlambat yah?!" tanya Ara berseru. Freya terkesiap dan memegangi dadanya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak aku masuk ke lift..," ucap Freya menggantung. Dia mendelik dan menutup mulutnya. Ara tertawa melihat itu.
"Astaga Freya..., Untung saja dia tidak tahu namamu. Bagaimana bisa kau ini..," ujar Ara sambil tertawa. Freya meringis.
"Aku bahkan tidak sadar jika naik lift itu. Pimpinan itu bukan pemilik perusahaan ini bukan? Hanya para petinggi di-"
"Sayangnya kau kurang beruntung Fey.., pimpinan yang Bu Heni maksud memang benar Bapak CEO kita yang terhormat putra Bapak Junario Abraham," potong Ara. Freya ternganga dan menutup wajahnya. Dia membenturkan kepalanya ke atas meja dengan pelan.
"Bodoh bodoh bodoh! Freya bodoh!" gumamnya kesal. Ara menghela nafas.
"Sudahlah tidak apa. Orang-orang besar seperti pak Junario dan anaknya tidak akan mengingatmu," ujarnya. Freya menghela nafas dan menoleh ke arahnya dengan lesu.
"Aku tadi sudah mengantuk di jam pulang seperti ini jadi segar karena ucapanmu tadi," ucapnya pelan. Ara terkekeh pelan mendengarnya.
"Sudah cepat selesaikan tugasmu agar bisa pulang cepat," suruhnya. Freya mengangguk lesu kembali mengerjakan tugasnya.
*
Malam itu suasana cafe milik Ashila tampak senggang. Beberapa meja tidak terisi. Di salah satu meja, Freya tengah diam menatap kosong ke depan dengan kepala yang dia letakkan di atas meja menjadikan tangannya sebagai bantalan. Mila dan Ashila yang baru saja duduk menatap Freya heran. Keduanya saling pandang bertanya namun kemudian mengedikkan bahunya.
"Ah yahh.., bagaimana pertunangan Bima dan Karina? Apa berita itu benar?" tanya Ashila. Freya menegakkan badannya menatap Ashila dengan kesal.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!" kesalnya. Mila dan Ashila mengernyit.
"Lalu apa yang kau sedihkan?" tanya Mila.
"Kau seperti ini tapi mengatakan tidak memikirkan itu!" sinis Ashila. Freya menghela nafas dan menyenderkan badannya menatap kedua sahabatnya.
"La.., buatkan aku coklat hangat!" pinta Freya malas. Ashila mendelik kesal dan di balas dengan tatapan heran oleh Freya.
"Kau pemilik cafe bukan? Aku ini pelangganmu tahu! Ayolahh.., moodku sedang buruk," ujar Freya. Ashila menghela nafas dan berjalan pergi. Mila mendekat ke arah Freya.
"Kenapa?" tanya Mila. Freya menghela nafas menatap Mila dengan sedih.
"Saat aku pergi setelah bertemu Bima dan Karina, Karina menghampiriku. Dia mengejekku dan bilang jika hanya Bima satu-satunya pria yang kaya dan memiliki segalanya yang mendekatiku. Dan..," ucapnya mrnggantung.
"Ucapannya benar bukan?" tanya Mila dengan malas. Freya cemberut kesal mendengarnya.
"Kau tahu egoku menolak untuk kalah darinya Mila.., dia itu menyebalkan! Nanti pasti dia akan mengejekku di pertemuan keluarga!" omel Freya. Mila menghela nafas kesal bersedekap d**a.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau kesusahan karena kebodohanmu sendiri," sinis Mila. Kedua tangan Freya terkepal.
"Aku akan mencari pria yang lebih di atas Bima! Pasti ada!" tekadnya. Mila menaikkan sebelah alisnya.
"Ada, kakaknya Bima, Reno," jawab Mila. Freya terdiam. Reno? Dia terlalu tinggi untuk di gapai.
"Maksudmu pemimpin perusahaan tempat Bima?" tanya Freya kesal. Dia menggeleng. Dia memang sedikit dekat dengan pria itu karena beberapa kali Bima pernah mempertemukannya dengan pria tampan yang gagah itu.
"Siapa lagi yang bisa menandingi keluarga Bagaskara? Abraham?" tanya Mila mengejek. Freya terdiam. Itu sangat tidak mungkin. Freya menutup wajahnya sambil mengerang kesal. Lalu dia kembali ingat tentang kejadian tadi pagi.
"Mila kau pernah bertemu Pak CEO?" tanya Freya. Mila menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa kau mau dengannya?" tanya Mila. Freya menggeleng cepat. Dia bukan pelakor.
"Aku bukan penyuka pria tua," gumamnya. Freya mengernyit mengingat-ingat wajah yang dia lihat di dalam lift. Yang Freya ingat bukan wajah bapak-bapak. Pria itu terlalu muda untuk di sebut bapak.
"Pria tua? Apa kau tidak salah? Pak Junario sudah di pindah tugaskan ke cabang lain bukan disini lagi. Sejak satu tahun yang lalu perusahaan disini di pegang oleh anaknya," jelas Mila. Freya berdecak menggelengkan kepalanya. Entah siapa dia kata Ara adalah bapak CEO.
"Itu..., apa dia pria yang memiliki ingatan yang tajam?" tanya Freya pelan. Mila memiringkan kepalanya dan diam.
"Yang aku ingat adalah wajahnya yang tampan dan wibawanya yang tidak bisa di tandingi oleh siapapun. Saat melihatnya.., rasanya aku sudah ingin menunduk dan menuruti semua ucapannya. Mungkin karena dia memang terlahir sebagai pemimpin jadi seperti itu. Jiwa pemimpinnya sangat kuat," jelas Mila melenceng jauh dari pertanyaan Freya. Namun mendengar itu Freya jadi penasaran. Dia tidak terlalu ingat dengan wajah yang dia lihat tadi.
"Hemm.., begitukah? Apa dia tampan? Sangat tampan?" tanya Freya ikut penasaran. Mila menggelengkan kepala.
"Jika ada kata yang melebihi tampan itu pasti dia," jelas Mila berlebihan membuat Freya ternganga geli. Dia tertawa.
"Begitukah? Baru kali ini aku melihat kau mengagungkan seorang laki-laki," ucap Freya. Mila tersenyum.
"Dia itu tipe idamanku sekali..," gumamnya. Freya semakin tertawa.
"Tapi.., aku tidak akan sanggup menghadapi sifatnya yang dingin dan kejam itu. Dia sangat menyebalkan dan berbeda jauh dengan wajahnya yang tampan. Sifatnya seperti iblis," gerutu Mila kesal. Tawa Freya otomatis terhenti. Ashila yang baru datang mendengar itu langsung mendekat ingin tahu siapa yang di bicarakan Mila.
"Satu kesalah kecil yang kau lakukan, dia akan terus mengingat dan akan terus dia perhatikan setiap pergerakanmu. Ish.., aku pernah melakukannya dulu. Padahal saat itu aku masih baru tapi dia kejam sekali," gerutu Mila. Freya memucat mendengarnya. Dia mengusap wajahnya kasar frustasi.
"Milaa.., kau membuatku takutt..," geram Freya. Mila dan Ashila menatapnya heran.
"Karena memikirkan tantang Karina, aku jadi salah masuk lift tadi. Aku terlambat, dan di dalam aku berteriak, mengumpat tanpa tahu jika orang yang mendengarkan di belakang adalah dia!" kesal Freya.
"Ohh telepon pagi tadi?" tanya Ashila yang di jawab dengan anggukan oleh Freya. Mila dan Ashila tertawa mendengar itu.
"Daripada memikirkan itu, lebih baik pikirkan saja cara agar bisa tetap bekerja di sana Fey..," ucap Mila. Freya mengangguk sedih.
"Walaupun bekerja disana melelahkan tapi fasilitas dan gajinya besar. Aku tidak akan membuang itu," gumamnya sedih.
"Tapi..., aku masih tidak mau kalah dari Karina," lanjutnya bicara penuh tekad. Mila ternganga mendengarnya. Ashila masih bingung. Freya menatap Mila.
"Kau benar Mil, aku harus mendekati Kak Reno. Hanya dia kenalanku dan aku tidak susah untuk mendekatinya," ucapnya. Mila menepuk dahinya tidak bisa berbuat apapun lagi. Ashila menatap mereka heran.
"Apasih? Kenapa?" tanya Ashila. Freya menarik tangan Ashila.
"Ashila, bantu aku untuk mendekati Kak Reno. Kau tahu bukan? Kakaknya Bima itu," ujar Freya. Ashila mendelik tidak percaya.
"Oke oke itu sedikit susah. Tapi.., kau juga harus membantuku untuk mendapatkan Rama lagi yah," ucap Ashila. Mila dan Freya mengerang kesal mendengar itu.
"Aku lebih mendukung Freya walaupun itu tidak mungkin daripada mendukungmu La," gumam Mila. Freya tersenyum senang mendengarnya. Mungkinkah dia bisa mendapatkan seorang Reno? Pria kelas atas sepertinya? Maukah dia dengan Freya seorang perempuan biasa yang tidak memiliki kelebihan apapun ini? Bisa saja! Pasti bisa! Apapun pasti bisa di capai dengan usaha bukan?