Minggu ini cuaca begitu cerah. Freya tersenyum menoleh menatap ayahnya yang kini tengah fokus mengendarai mobilnya. Dia mengulum bibirnya menahan senyumnya yang kian melebar. Akhirnya setelah sekian lama mereka bisa pergi bersama. Lalu setelah itu bagaimana? Freya meremas tangannya gugup. Dia bingung harus bicara apa. Freya menghela nafas panjang. Menenangkan diri.
"Kita mau kemana?" tanya sang ayah menyentak Freya. Dia langsung menoleh menatap ayahnya. Dia diam berpikir.
"Bagaimana kalau nonton?" tanya Freya. Sang ayah menaikkan sebelah alisnya.
"Nonton? Mau nonton apa?" tanyanya. Freya tersenyum senang mendekat ke arah sang ayah.
"Ada film yang ingin Freya tonton yah. Bagaimana?" tanya Freya. Sang ayah mengangguk mengerti.
"Oke kita nonton. Setelah itu.., makan siang dan jalan-jalan di mall. Ayah ingin membelikan sesuatu untuk Freya," ucap sang ayah. Freya menatapnya berbinar senang.
"Beli apa yah?" Tanyanya excited. Sang ayah mengedikkan bahunya.
"Apapun yang di inginkan putri ayah," jawabnya. Freya tersenyum kecil menatap sang ayah.
'Aku hanya ingin ayah terus seperti ini,' batin Freya menjawab. Sang ayah menoleh sebentar ke arah Freya yang langsung di balas dengan senyum cengengesan olehnya.
**
Keluar dari bioskop Freya menceritakan pendapatnya tentang film itu pada sang ayah. Keduanya beradu pendapat dan menyetujui hal yang sepemikiran. Freya menunduk menatap tangannya yang merangkul ayahnya. Dia tersenyum kecil dengan mata nanar.
'Aku tidak apa untuk kehilangan Bima. Nyatanya memeluk ayah seperti ini lebih nyaman daripada merangkul Bima yang berselingkuh dariku,' batinnya sendu. Sang ayah menunduk menatap Freya yang terlihat sedih.
"Kenapa?" tanya sang ayah. Freya mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggeleng. Dia tersenyum kecil.
"Kau teringat kekasihmu? Tidak bisa pergi dengannya karena ayah yah?" tanya sang ayah. Freya terkekeh.
"Tidak yahh.., Freya tidak punya pacar," jawabnya.
"Ayah tidak percaya putri ayah yang cantik ini tidak memiliki kekasih," ucap ayahnya. Freya cemberut kesal.
"Cantik? Memang Freya cantik yah? Tapi kenapa dia berselingkuh dengan Karina?" gumam Freya kesal.
"Karina?" tanya sang ayah membuat Freya tersentak kaget.
"Ayah mendengarnya?" tanya Freya mendongak menatap sang ayah. Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
"Dia memang cantik," gumam sang ayah membuat Freya semakin cemberut kesal.
"Tapi.., jika pria itu memang mencintaimu, secantik apapun wanita di luar sana pasti yang terlihat paling cantik adalah orang yang dia cintai. Masih baik dia berselingkuh dan menunjukkan sifat aslinya di saat kalian belum menikah. Ayah juga tidak ingin putri ayah jatuh ke tangan pria yang tidak baik," ucap sang ayah. Freya menatap ayahnya nanar. Dia tersenyum kecil dan memeluk ayahnya erat.
"Sepertinya hanya ayah pria baik di dunia ini. Pasti ayah hanya melihat ibu yang paling cantik yah makanya sampai sekarang belum menikah," ucapnya. Freya menggigit bibir bawahnya. Dia menunduk dan memukul bibirnya kesal.
"Kenapa aku bicara seperti itu!" gumamnya kesal.
"Yah..., kau benar, bagi ayah ibumu memang paling cantik dari wanita lainnya. Tapi.., ayah pikir lagi, sekarang hanya putri ayah yang terlihat cantik di mata ayah," Freya menatap sang ayah nanar. Ayahnya memang kurang perhatian dan lebih sering mendedikasikan hidupnya untuk bekerja sebagai dokter. Tapi di luar itu, ayahnya adalah sosok yang paling hebat dari yang lain. Freya memegang erat lengan sang ayah saat mengingat perlakuan buruk suami ibunya yang baru padanya. Bahkan sampai sekarangpun Freya merasa jijik untuk mengingatnya.
"Kau mau membeli apa? Ayah ingin memberimu hadiah untuk ulang tahunmu," ucap sang ayah. Freya mengernyit.
"Ulang tahun Freya sudah lewat bulan lalu ayah," ucapnya kesal. Sang ayah mengangguk.
"Anggap saja sebagai tanda permintaan maaf ayah untuk Freya," katanya. Freya menatap ayahnya dan tersenyum kecil.
"Freya tidak membutuhkan itu yah. Ayah bersama Freya saja sudah cukup," ucapnya. Sang ayah menatap Freya dan tersenyum kecil mengusap ujung kepala Freya membuatnya tertegun.
"Putri ayah memang baik," ucapnya. Freya menatap sang ayah nanar. Ucapan yang selama ini ingin Freya dengar dari mulut ayahnya kini terucap. Dia mengerjapkan matanya menahan air matanya yang mau menetes.
"Tapi tetap saja ayah ingin memberikan Freya hadiah," lanjutnya bicara. Freya menganggukkan kepalanya dan matanya kini tertuju pada sebuah etalase toko sepatu. Dia tersenyum tepat sekali sepatunya juga waktunya untuk ganti. Dia menarik sang ayah untuk masuk ke dalam toko sepatu.
"Sepatu? Tidak mau yang lainnya lagi?" tanya sang ayah. Freya menoleh dan tersenyum. Dia melepaskan rangkulannya pada sang ayah mulai memilih pakaian.
"Ini saja cukup ayah. Untuk apa membeli barang yang tidak perlu? Sepatu Freya juga waktunya untuk ganti," ucapnya sambil mencoba salah satu wedges yang menurutnya bagus. Dia menoleh menatap ayahnya.
"Bagaimana?" tanyanya. Sang ayah menatapnya dan sepatunya bergantian sembari menyentuh dagunya berpikir. Beliau menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Cocok sekali," jawabnya melihat wedges berhak warna hitam itu. Freya tersenyum dan membawanya ke kasir. Untuk di bayar. Freya terus tersenyum menatap ayahnya. Dia merasa sangat bahagia hari ini. Sang ayah menoleh menatap Freya memberikan wedges yang sudah di bungkus itu padanya. Freya tersenyum menerima itu.
"Mau kemana lagi?" tanya sang ayah sambil melihat jam di tangannya.
"Ayah mau ke rumah sakit?" tanya Freya saat sang ayah melihat jam tangannya. Pria paruh baya itu mendongak dan menurunkan tangannya sembari menggelengkan kepalanya.
"Hari ini ayah libur," jelasnya. Freya mengangguk mengerti.
"Sudah siang bagaimana kalau kita makan?" usul Freya. Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya. Dia merangkul ayahnya membawanya ke salah satu cafe di mall.
Saat sudah masuk ke cafe, mata Freya berbinar senang melihat ada Reno disana. Tangan Freya terkepal senang. Dia menoleh ke arah ayahnya dan menariknya untuk duduk di samping meja Reno yang kosong.
"Hai kak Reno, sendirian aja?" tanya Freya. Pria itu menoleh dan sedikit terkejut melihat Freya.
"Fey? Kesini sama siapa? Bima?" tanya pria itu. Freya tersenyum kecil menggeleng dia menoleh ke arah ayahnya yang sudah duduk memilih makanan.
"Sama ayah kak," jelasnya. Dia sedikit mengernyit.
"Oh ku pikir dengan Bima. Masih sama Bima bukan?" tanyanya. Freya menatap heran. Jika memang Bima bertunangan, pastinya Reno tahu bukan jika dia sudah tidak bersama Bima?
"Loh bukannya Freya dengar Bima mau bertunangan yah kak sama Karina?" Tanya Freya. Reno mengernyit.
"Karina siapa? Yang aku tahu kekasihnya itu dirimu. Yahh.., dia memang sering bergonta-ganti pacar. Tapi yang pernah dia ajak ke rumah hanya dirimu," jelas Reno. Freya tersenyum kecil.
"Dia berselingkuh kak," jawab Freya. Reno mendelik kaget. Dia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Anak itu memang," gumamnya sambil makan. Freya tersenyum menatap Reno.
"Oh yah.., kak Reno kemari dengan siapa?" tanya Freya. Reno kembali menoleh ke arah Freya.
"Dengan sepupuku. Tapi dia sedang ada di kamar mandi," jelasnya. Freya mengangguk mengerti. Dia menggigit bibir bawahnya bingung. Bagaimana caranya dia mendekati Reno? Freya menggigit bibir bawahnya bingung. Dia berdehem pelan.
"Emm.., kak," panggil Freya. Reno menoleh heran.
"Boleh minta nomor kak Reno?" tanya Freya. Reno mengernyit heran menatap Freya. Dia tersenyum menatap Reno.
"Ekhm!"
Deheman itu membuat Freya terkejut dan mendongak. Freya mengernyit menatap pria yang kini bersedekap d**a menatapnya datar. Dia duduk di depan Reno membuat Freya mengerjapkan matanya.
"Oh sudah selesai? Tuh pesananmu," ujar Reno. Freya terus menatap pria itu. Dia sedikit tertegun. Apa memang semua keluarga Bagaskara tampan? Tapi pria itu terlihat lebih tampan. Dia bahkan tidak sadar kini sudah ternganga. Pria itu melirik ke arah Freya tajam membuatnya terkesiap dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya yang duduk di sampingnya.
"Ayah mau pesan apa biar Freya pesankan," ujarnya. Sang ayah menoleh dan menggeleng.
"Kau mau apa biar ayah saja yang pesankan. Kau bicara saja dengan temanmu," ucap sang ayah. Freya menggeleng.
"Sudah ayo pilih saja," paksa ayahnya. Freya menghela nafas menunjuk salah satu gambar pada ayahnya.
"Minumnya orange jus saja," ucap Freya.
Sanga ayah menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi. Dia menoleh sebenar menatap Reno dan sepupunya yang asik bicara. Freya berdigik ngeri. Dia mengusap leher belakangnya yang merasa merinding. Pria itu walaupun tampan tapi terlihat menakutkan. Auranya gelap sekali. Freya langsung berpindah duduk di tempat ayahnya tadi. Dia takut. Ayah Freya kembali dan beliau mengernyit melihat Freya sudah duduk di tempatnya tadi. Pria paruh baya itu akhirnya duduk di tempat Freya.
"Kenapa?" tanya sanga ayah. Freya meringis dan menggelengkan kepalanya.
"Lebih nyaman disini," jawab Freya. Dia menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan buku menu. Freya mengernyit dan mengumpat pelan.
"Sepertinya aku tidak bisa," gumamnya pelan. Freya menghela nafas dengan sedih menegakkan duduknya. Suara dering telepon terdengar. Freya menoleh menatap ayahnya yang mendapat panggilan. Beberapa menit kemudian pria itu menoleh menatap Freya sedih.
"Freya maaf kita harus pulang, ada panggilan mendadak dari rumah sakit," jelas pria paruh baya itu. Freya mendongak dan kemudian menatap salah seorang pelayan yang mengantarkan minumannya. Dia mengernyit.
"Ayah pulang saja. Sayang makanannya kalau tidak di makan," ucap Freya. Ayah Freya tampak tidak mau meninggalkan dia. Tapi dia juga khawatir meninggalkan Freya sendiri. Freya tersenyum.
"Tidak apa ayah.., Freya sudah biasa kok. Nanti juga bisa naik taksi," ucap Freya. Ayah Freya menghela nafas.
"Tapi..,"
"Sudah ayah pergi saja tidak apa," ucap Freya. Pria paruh baya itu menghela nafas dan berdiri dari duduknya.
"Yasudah ayah pergi dulu yah.., hati-hati," ucap pria paruh baya itu sembari mencium ujung kepala Freya yang membuatnya tertegun. Dia mendongak menatap ayahnya yang berlalu pergi.
Sepeninggal ayahnya Freya menundukkan kepalanya menahan air matanya yang mau keluar. Dia menghela nafas panjang dan meredakan emosinya. Dia mendongak dan tersenyum saat pelayan mengantarkannya makanan. Mata Frrya berbinar senang saat ayahnya ternyata memesan makanan yang sama dengannya.
"Mbak, yang ini tidak usah nasi yah..," ucap Freya mendorong nasi milik ayahnya. Dia akan kenyang memakan dua ayam ini. Freya mengulum bibirnya menahan liur yang mau menetes melihat makanannya.
"Kasihan ayah tidak makan," gumamnya. Dia tersenyum dan mulai makan. Dia makan dengan nikmat tanpa tahu jika kini dia menjadi tatapan seseorang. Dan tanpa sengaja tatapan Freya tertuju pada pria itu. Freya tersedak pelan dan menepuk dadanya. Dia menunduk dan mengalihkan pandangannya sembari menarik piringnya. Freya mengernyit.
"Kenapa dia terus melihatku?! Tatapannya menyebalkan sekali!" gerutunya kesal. Bagaimana tidak kesal jika saat makan enak dia di pandang aneh seperti itu.
"Loh Freya kemana ayahmu?" tanya Reno tiba-tiba. Freya menoleh dan meringis.
"Ada panggilan dari rumah sakit kak. Jadi ayah harus pergi," jelas Freya. Reno mengangguk mengerti. Pria itu terkekeh menunjuk pipi Freya.
"Itu ada nasi di pipimu," ucap reno. Freya mengernyit dan menyentuh pipinya dan tersenyum cengengesan.
"Maaf kak lapar ini hehe," ucap Freya. Dia langsung mengalihkan pandangannya dan mendesis kesal. Dia menutup wajahnya dengan buku menu di atas meja.
"Memalukan sekali!" gerutunya kesal.
"Oh iya Freya pulang naik apa?" tanya Reno membuat Freya menoleh lagi.
"Eh.., sepertinya naik taksi kak," ucap Freya. Reno mengangguk mengerti dan menoleh ke arah sepupunya itu.
"Oh iya Fey kau kerja di LnA bukan?" tanya Reno. Freya menoleh mengangguk pelan dengan bingung. Reno menunjuk sepupunya.
"Kenapa kau tidak mengenal dia? Kau tahu dia bukan?" tanya Reno. Freya tersentak kaget dan menoleh ke arah pria yang di tunjuk oleh Reno. Pria itu bersedekap d**a menatap Freya tajam. Freya meringis dan menggaruk kepalanya.
"Eh.., maaf..," gumamnya pelan tidak enak. Freya menggigit bibirnya takut. Jika dia sepupu Reno, pastinya dia termasuk petinggi di kantor. Dan Freya tidak pernah bertemu dengan mereka.
Freya hanyalah karyawan biasa. Yang dia tahu hanya wajah bapak Junario selaku pemilik perusahaan itu karena wajahnya biasanya terpampang besar menjadi banner tertempel di lift atau di beberapa tempat di perusahaan. Mereka orang sibuk tidak mungkin mau bertemu karyawan rendahan sepertinya. Reno tertawa.
"Dia ini Jonathan Abraham CEO di perusahaan tempatmu loh..," jelas Reno. Freya terbelalak kaget menatap pria itu yang masih menatapnya tajam. Dia meringis dan mengalihkan pandangannya. Dia segera menghabiskan makanannya dengan cepat.
'Jadi dia yang memergokiku di dalam lift? Sial! Dia pasti mengenalku. Astaga! Aku harus cepat pergi dari sini,' batinnya panik. Freya langsung minum dengan cepat tanpa peduli apapun. Mau pergi dia juga sayang pada makanannya. Freya bersendawa pelan dan kemudian berdiri dari duduknya.
"Kak Reno.., emm.., pak, saya pergi dulu," ucap Freya dengan canggung. Dia bahkan enggan menoleh.
"Eh sudah mau pergi?" tanya Reno. Freya tersenyum canggung.
"Iya nih kak buru-buru. Permisi," ucap Freya cepat dan berjalan pergi dengan langkah cepat. Freya memukul kepalanya kesal.
"Pantas dia menatapku seperti itu!" gerutunya kesal. Freya berjalan dengan cepat untuk pergi dari mall itu. Dia mengerang kesal.
"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa mendapatkan kak Reno. Lalu bagaimana aku bisa menang dari Karina?! Arghh! Menyebalkan!" kesal Freya. Kedua tangannya terkepal. Dia menolak untuk kalah. Freya menegakkan badannya. Dia harus bertanya pada Ashila. Dia pasti tahu caranya.
"Ashila bantu aku..,"