Freya menyerah! Dia tidak akan berusaha untuk menang dari Karina. Sudah cukup. Dia sudah dewasa. Kalah dan menang dari Karina juga tidak akan merugikannya. Freya mengepalkan kedua tangannya menganggukkan kepalanya. Dia menyangga kepalanya dengan kedua tangan menatap beberapa pasangan muda di cafe milik Ashila.
"Jadi bagaimana?" tanya Ashila. Freya menghela nafas menatap Ashila yang baru saja duduk di kursi depannya.
"Aku menyerah. Biarkan saja aku kalah. Toh itu tidak penting juga," jawab Freya. Ashila menaikkan sebelah alisnya.
"Kau yakin?" tanya Ashila dan menoleh ke arah belakang Freya. Freya menoleh ke arah pandang Ashila dan dia mengernyit melihat Karina tersenyum miring menatapnya. Dia duduk sendirian. Wanita itu berjalan mendekati Freya.
"Kenapa? Menyerah yah?" ejek Karina. Freya mengepalkan kedua tangannya.
"Tidak!" elaknya kesal. Freya mendongak menatap kesal Karina. Karina terkekeh dan bersedekap d**a.
"Yahh.., tidak heran jika tidak ada laki-laki yang mendekatimu. Siapa yang mau pada wanita konservatif seperti dirimu?" ejeknya lagi. Freya dan Ashila mendelik kesal mendengarnya.
"Heh! Jaga yah ucapanmu!" kesal Ashila. Dia berdiri menatap Karina kesal. Karina menatap Ashila dan tersenyum miring. Dia kembali menatap Freya.
"Aku sarankan untukmu.., sebaiknya kau mencari teman yang lain agar tidak terus bersikap konservatif seperti ini. Dan kedua temanmu juga," ejek Karina melirik Ashila yang menatapnya kesal. Dia menghela nafas menatap Freya.
"Yah jika kau masih ingin jauh di atasku, selamat berjuang perempuan konservatif," ejek Karina dan berlalu pergi. Ashila dan Freya ternganga kesal.
"Konservatif?! Cih! Dia pikir aku wanita seperti itu?!" gumam Freya kesal. Ashila menghela nafas dan bersedekap d**a.
"Sepertinya Karina benar. Aku ingat kau bahkan tidak pernah mau di cium oleh Bima dulu. Jangankan di cium, aku ingat kau aku ajak pergi ke kelab saja kau menolak," kesal Ashila. Freya mengernyit tidak terima.
"Aku bukannya tidak mau. Tapi hari minggu itu lebih enak di buat untuk tidur agar hari senin-"
"Yayaya.., konservatif," ejek Ashila. Freya mengernyit tidak suka.
"Hey! Kau juga konservatif! Karina tadi juga mengatakan jika kau juga konservatif!" omel Freya kesal. Ashila memutar bola matanya malas.
"Aku pernah s*x dengan Rama kau tahu. Kita sudah lebih dari sekedar berciuman," omel Ashila. Freya mencibir sinis.
"Mungkin ucapan Karina ada benarnya. Bagaimana jika kau menjebak Reno untuk tidur dengannya? Atau hanya bukti saja kau tidur dengan Reno dan tunjukkan pada Karina jika kau pernah tidur dengan pria hebat seperti Reno. Dia pasti tidak pernah," usul Ashila. Freya menatap Ashila.
"Apa harus seperti itu?" tanya Freya bingung. Ashila menganggukkan kepalanya. Freya menggelengkan kepalanya keras.
"Tidak tidak!" serunya kesal. Freya berdiri dari duduknya. Berada disini dia akan jadi semakin gila mendengarkan Ashila.
"Aku pulang saja!" gerutu Freya kesal. Ashila tidak mencegahnya dan hanya memutar bola matanya malas melihat Freya berjalan pergi dari cafe miliknya.
***
Konservatif
Kata itu terus terngiang di pikiran Freya. Freya mengerang kesal dan mengacak rambutnya frustasi. Dia mengerang kesal menyenderkan badannya ke kursi kerjanya. Dia duduk diam memandang kosong komputer di depannya. Freya terkesiap kaget saat tiba-tiba Ara mendorong lengannya dia menoleh kaget.
"Jangan melamun! Kita sekarang sudah di awasi oleh atasan!" desis Ara. Freya menaikkan sebelah alisnya heran.
"Bukankah sudah biasa bu Heni mengawasi kita?" tanya Freya. Ara memutar bola matanya malas menoleh ke arah Freya.
" Iya tetap saja!" kesal Ara. Freya diam dan kemudian mendekat ke arahnya.
"Apa aku konservatif?" tanya Freya. Ara menoleh menatapnya aneh.
"Apa kau tidak salah bertanya?" taya Ara balik dengan sinis. Freya meringis.
"Yahh.., kita sama memang," gumam Freya lesu. Dia menghela nafas kembali mendekat ke arah komputernya. Ucapan Karina terus mengusik Freya. Usul gila yang di katakan Ashila juga terus mengusiknya. Freya mengerang Kesal dan membenturkan kepalanya ke atas meja. Ara menatap Freya sembari menggelengkan kepalanya.
"Dasar gila," gumam Ara. Freya kembali menegakkan badannya.
"Aku tidak konservatif. Aku berpikiran terbuka tapi bukan berarti aku mau membuka bajuku di depan banyak orang bukan?!" ucapnya kesal. Dia kembali mengingat masa dimana dia berpacaran dengan Bima.
_
"Sayang kita pergi ke kelab yuk!" ajak Bima. Freya yang sedang bermain handphone di ruang tamu menoleh sinis ke arah Bima yang tersenyum seperti anak kecil menatapnya.
"Tidak mau ah.., besok senin nanti pusing saat bekerja," elak Freya malas. Bima cemberut kesal mendengarnya. Pria itu menyenderkan badannya ke lengan Freya. Freya mendesis dan menggerakkan bahu dan lengannya agar Bima menjauh darinya.
"Jangan begini ahh.., panas tahu," kesal Freya. Bima menatap Freya dengan kesal.
"Kenapa sih? Aku pacar kamu loh. Masa tidak boleh menyentuhmu?!" tanya Bima kesal. Freya menghela nafas panjang menatapnya.
"Panas sayang..," jelas Freya pelan. Bima menghela nafas.
"Ya sudahlah aku pulang saja," putusnya akhirnya. Freya menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati," ucap Freya. Bima berdiri dan mendekat ke arah Freya. Dan Freya yang merasa tidak nyaman mendelik kaget saat pria itu mendekat untuk mencium bibirnya. Freya memekik pelan dan mendorong wajah Bima untuk menjauh.
"Mau ngapain sih?!" tanya Freya kesal. Bima menatap Freya tak kalah kesal.
"Gak boleh cium kamu?! Astaga..," geram Bima kesal. Freya meringis.
"Bukan begitu.., tapi kita masih baru dua hari loh pacaran," jelas Freya. Bima memutar bola matanya malas dan berlalu pergi.
_
Freya mengerang kesal lagi. Dia kembali membenturkan kepalanya ke atas meja beberapa kali. Dia kemudian menegakkan badannya menatap komputer di depannya.
"Itu saat awal kita berpacaran. Wajar saja bukan aku menolak untuk di cium?! Lagipula.., setelah itu aku juga mau di cium olehnya," gumam Freya menolak membenarkan ucapan Karina. Freya menganggukkan kepalanya.
"Iya aku mau kok di cium!" ucapnya lagi. Ara yang mendengar itu menatap Freya aneh dan menatap OB di depan Freya. OB itu terkejut menatap Freya.
"Mbaknya mau saya cium?" tanya OB yang membawa kopi itu. Freya mengerjapkan matanya beberapa kali mendongak menatapnya. Dia tersentak kaget melihat itu.
"Ehh.., bukan pak. Saya tidak berbicara dengan bapak," ucap Freya panik. Ara tertawa mendengar itu. Freya menoleh sinis menatap Ara.
"Astaga Freya.., makanya jangan melamun," ucap Ara dengan tawanya. Freya cemberut kesal. Dia mendesis kesal mengepalkan kedua tangannya.
"Ini semua gara-gara Karina ish!" gumamnya kesal.
**
Freya berjalan cepat masuk ke dalam cafe milik Ashila. Dia berhenti depan meja kasir membuat karyawan Ashila bingung menatapnya. Freya mengedarkan pandangannya dia kemudian menatap karyawan Ashila itu.
"Dimana Ashila?" tanya Freya. Kasir itu menunjuk ke arah sampingnya dengan bingung. Freya mengernyit dan menoleh ke arah sampingnya melihat ternyata Ashila berdiri menatapnya dengan datar. Freya meringis melihat itu.
"Ilaa..! Bantu aku untuk melakukan caramu kemarin yang kau usulkan!" ucap Freya. Ashila mendelik tidak percaya. Dia kemudian berjalan mendekati Freya dan menariknya untuk masuk ke dalam ruangannya. Ashila menutup pintu dan menguncinya. Dia menarik Freya untuk duduk di sofa.
"Bagaimana?" tanya Ashila. Freya menggigit bibirnya merasa ragu. Dia menatap Ashila.
"Hanya tidur bukan? Tidak melakukan itukan?" tanya Freya. Ashila menganggukkan kepalanya.
"Aku terserah dirimu. Jika kau memang tidak mau melakukan itu, aku bisa mengaturnya," ucap Ashila senang. Dia menatap Freya.
"Tapi ini semua tidak gratis," ucapnya. Freya mengernyit.
"Kau juga harus membantuku agar Rama tidur denganku dan hamil," ucapnya. Freya mendelik tidak percaya.
"Apa?!" pekik Freya dan berdiri dari duduknya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Apa kau sudah gila?! Kau mau hamil anak pria b******k itu?!" kesal Freya. Ashila menghela nafas dengan sedih.
"Aku mencintainya," ucap Ashila sedih. Freya menghela nafas.
"Tapi tetap saja.., astaga hamil?" tanya Freya kesal. Dia kemudian berjalan pergi. Namun Ashila menahannya lagi dan memegang erat tangan Freya.
"Ayolah tolong aku.., hanya kau yang bisa membantuku," ucap Ashila. Freya menoleh kesal menatapnya.
"Memang aku bisa membantumu apa?! Untuk mendapatkan satu pria saja ku tak bisa dan kau memintaku untuk membantumu mendapatkan seorang anak dari pria b******k itu?!" tanya Freya kesal. Ashila menghela nafas sedih.
"Aku mohon bantulah aku untuk kali ini saja yah.., jika tidak berhasil baik aku akan menyerah," ucapnya. Freya menghela nafas menatap Ashila.
"Ashila-ku tersayang.., kau itu cantik. Kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Rama. Astaga kau ini," kesal Freya. Ashila menatapnya.
"Memangnya kau sudah move on dari Bima?" tanyanya kesal. Freya terdiam menatapnya.
"Belum bukan? Kau yang baru pacaran selama dua bulan saja masih mencintainya apalagi aku yang sudah setahun ini menjalin kasih?!" tanya Ashila kesal.
"Ayolahh.., jika kau membantuku, aku akan membantumu," ucap Ashila.
"Memang apa rencanamu?" tanya Freya. Ashila tersenyum senang.
"Aku akan memberinya obat nanti. Seperti Reno aku juga akan memberinya obat. Tenang saja. Obatnya biar aku yang mengurusnya," ucap Ashila senang. Freya menaikkan sebelah alisnya.
"Obat? Lalu? Bagaimana caranya?" tanya Freya. Ashila tersenyum miring dan bersedekap d**a.
"Setahuku.., Rama sering datang ke kelab dan dia bilang dia juga sering melihat Reno disana," jelas Ashila. Freya menaikkan sebelah alisnya.
"Bagaimana Rama bisa tahu Reno?" tanya Freya. Ashila tersenyum miring.
"Reno adalah rival abadi Rama. Mereka selalu bersaing dulu saat di sekolah," jelas Ashila. Freya mendelik tidak percaya.
"Apa? Mereka satu angkatan?" tanya Freya kaget. Ashila mengangguk.
"Sama dengan siapa itu atasanmu di kantor yang biasanya Mila bicarakan? Mila selalu mengeluh dulu karena bos yang satu itu sangat kejam," jelas Ashila. Freya ternganga takjub.
"Wahh.., tidak aku sangka teman Rama ternyata orang-orang hebat," gumam Freya. Ashila menggeleng.
"Bukan teman.., tapi musuh. Yah walaupun sekarang sudah biasa saja. Tapi dulu mereka bermusuhan," jelas Ashila. Freya mengangguk mengerti.
"Jadi?" tanya Freya. Ashila menoleh menatapnya dan tersenyum miring.
"Jadi, kita akan menjalankan misi ini di kelab itu. Bagaimana jika besok?" tanya Ashila. Freya menggeleng cepat.
"Tidak tidak itu terlalu cepat," ucap Freya sedikit takut. Ashila terkekeh.
"Okeh hari sabtu. Aku beri kau waktu lima hari dari sekarang," ucap Ashila. Freya bergerak mau protes namun Ashila sudah menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada penolakan," ucap Ashila. Dia berjalan pergi keluar dari ruangannya dengan hati senang. Berbeda dengan Ashila, Freya tampak lesu dan bingung. Haruskah dia melakukannya sampai sejauh ini?
"Apa yang kalian bicarakan sampai mengunci pintu?!" tanya Mila kesal. Freya menatap Mila dengan binar senang. Dia berjalan mendekat ke arah Mila dan memeluknya.
"Kau tahu? Kemarin Karina datang dan dia mengataiku dan Ashila perempuan konservatif!" cerita Freya kesal. Mila menoleh menatapnya.
"Memang benar bukan? Tapi itu hanya kau bukan Ashila," ucap Mila. Freya ternganga kesal mendengarnya.
"Kau jahat sekali," gerutu Freya melepaskan rangkulannya. Mila tertawa.
"Karena memang hanya kau yang masih virgin di antara kita," jelas Mila. Freya terdiam. Itu benar. Dia menoleh menatap Mila.
"Apa kau merasa hebat setelah melepas itu semua?" tanya Freya kesal. Mila mengedikkan bahunya.
"Bukan begitu. Hanya saja.., emm.., sekarang ini, jarang ada wanita yang sehebat dirimu bisa tidak melakukan itu di usiamu yang dua puluh tiga tahun," jelas Mila.
"Itu bukan hebat tapi memang dia tidak pernah dekat dan berpacaran. Baru Bima pria yang menjadi kekasihnya selama ini," sahut Ashila tiba-tiba. Dia menghampiri mereka yang sekarang sedang duduk di salah satu meja membawa dua gelas cokelat panas kesukaan mereka. Freya cemberut kesal dan minum coklat itu perlahan.
"Tapi aku takut," gumam Freya. Ashila dan juga Mila menatap Freya sendu. Mereka mengusap bahu dan tangan Freya sedih.
"Kita tahu apa yang kau rasakan. Tapi percayalah.., saat melakukan itu rasanya nikmat sekali," ucap Ashila. Mila memukul bahu Ashila tertawa. Freya menatapnya sinis.
"Jangan dengarkan dia. Kita tahu kau takut karena kau pernah mengalami masa buruk tentang itu. Tapi.., itu berbeda saat kau melakukannya dengan paksaan dan dengan sukarela," jelas Mila. Freya menatap Mila.
"Tapi dengan paksaan-pun aku tidak pernah," jawab Freya. Mila memutar bola matanya malas.
"Tapi kau hampir pernah di paksa melakukannya bukan? Iya itu sama saja!" kesal Mila. Freya mengernyit.
"Berbeda Milaa.., aku tidak pernah melakukannya. Aku masih ting-ting," ucap Freya. Mila menghela nafas dan mengambil cangkir coklat miliknya.
"Terserah!" gumamnya kesal dan mulai minum. Mila menghela nafas panjang merasa lega.
"Rasanya lega sekali setelah seharian ini sibuk dengan pekerjaan," ucap Mila. Ashila dan Freya menganggukkan kepalanya.
"Di antara kita kau memang yang paling sibuk," ucap Freya. Mila tersenyum kecil.
"Dan juga paling kaya. Jangan lupa dengan gajinya yang lebih tinggi dari kita," sahut Ashila kesal. Mila tertawa.
"Kau harus mentraktir kita!" ucap Ashila. Freya mengangguk menyetujui.
"Oke oke adik adikku kalian mau apa?" tanya Mila mengejek. Ashila dan Freya langsung merangkul mila.
"Traktir kita minum di kelab," ucap Ashila. Freya memejamkan matanya.
"Iya," jawab Mila spontan. Dia membuka matanya terkejut.
"Eh?"
"Apa?!" pekik Mila kaget. Freya dan Mila saling pandang dan menatap Ashila yang tersenyum senang. Dia mengedipkan sebelah matanya.
"Sambil menyelam minum air..," ucapnya. Mila memicingkan matanya menatap Ashila dan Freya yang terlihat panik.
"Apa yang sedang kalian rencanakan?!" tanya Mila curiga. Ashila dan Freya tidak membalasnya. Keduanya hanya saling pandang membuat Mila memutar bola matanya malas.
"Aku rasa rencana kalian sekarang ini terlalu gila," gumamnya kesal. Freya menghela nafas.
"Ku rasa juga seperti itu,"