Freya membuka matanya dan langsung mendudukkan dirinya. Dia mengedarkan pandangannya dan menunduk mengambil handphone miliknya. Dia menoleh dan terkejut melihat ada seorang pria yang kini tengah menatapnya tajam dan bersedekap d**a.
"Kali ini apa yang akan kau lakukan?!" tanya pria itu kesal. Freya tersenyum senang dan menunjukkan handphone miliknya. Dia langsung berdiri cepat menghampiri pria itu.
"Ayo kita foto sebagai bukti!" seru Freya senang. Dia langsung melompat dan merangkul pria itu lalu berfoto. Freya berdecak dan menarik pria itu dengan keras agar duduk di atas ranjang. Freya tersenyum dan langsung mencium pipinya dan berfoto.
"Hei apa yang kau lakukan?!" seru pria itu marah berusaha merebut handphone milik Freya. Freya mendelik dan langsung memasukkan handphone itu ke dalam dadanya. Pria itu terkejut dan tidak bisa mengambil itu. Freya tersenyum senang dan melompat senang.
"Yeyeye.., aku bisa berfoto dengan kau..., siapa?" tanya Freya menunjuk pria itu. Tidak ada balasan. Freya berhenti melompat menatap heran pria di depannya ini.
"Kau.., siapa? Kau bukan Reno yah?! Siapa kau katakan!" seru Freya dengan tubuh limbung berdiri aneh.
"Reno? Jadi kau mau bertemu dengannya?" tanya pria itu. Freya menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin berfoto dengannya di sini!" ucap Freya menunjuk ke atas ranjang. Pria itu mengernyit dan kemudian mendekat ke arah Freya lalu mencengkram rahangnya membuat Freya mendongak.
"Kau mau menjebak dia yah?! Katakan apa tujuanmu?!" amuk pria itu. Freya mengerjapkan matanya dan memejamkan matanya. Dia menyentuh tangan pria itu.
"Tanganmu dingin. Aku suka," gumam Freya. Pria itu tampak terkejut dan melepaskan Freya hingga dia jatuh terduduk. Kini Freya duduk dan bingung memegangi badannya yang terasa panas.
"Ada apa ini.., panas sekali!" seru Freya dan melepaskan jaketnya. Dia bahkan akan melepaskan pakaiannya.
"Tunggu! Biarkan aku pergi dulu!" seru pria itu panik. Freya mendongak menatap pria yang membawanya itu mau pergi. Dia langsung berdiri dan melompat memeluk tubuh pria itu dari belakang. Freya memejamkan matanya.
"Kenapa.., kenapa enak sekali?" tanya Freya bingung. Dia memeluk erat leher pria itu dan menciumnya pelan.
"Hentikan Freya..," geram pria itu. Bukannya berhenti Freya malah memeluknya semakin erat dan menjilat bahkan menggigit leher itu.
Geraman pria itu terdengar semakin keras. Dia melepaskan kedua tangan Freya dan berbalik menatap Freya yang sudah jatuh terduduk. Pria itu berjongkok dan mendongakkan wajah Freya. Tatapan sayu yang tertutupi oleh kabut gairah itu terlihat jelas. Pria itu tersenyum miring menatapnya.
"Jadi kau mau menjebak Reno? Tapi kau salah sasaran yah hingga salah minum?" ejek pria itu itu. Freya memegang tangan pria itu dan menariknya. Dia langsung mencium bibir pria di depannya itu menggebu-gebu.
Pria itu memegangi kedua pipi Freya membalas ciumannya tak kalah dalam. Dia bahkan menggigit dan memainkan lidah Freya membuatnya kesusahan mengimbangi ciuman itu. Pria itu melepaskan ciumannya.
"Bahkan berciuman saja kau tidak bisa," gumam pria itu. Freya menarik lagi untuk menciumnya dengan mata tertutup.
"Teruskan.., sentuhan ini membuat tubuhku tidak panas," gumam Freya. Pria itu mengerang dan memegangi tengkuk belakang Freya memperdalam ciumannya. Dia kemudian mengangkat Freya dan menjatuhkannya ke atas ranjang.
"Apa yang harus aku lakukan padamu? Menghukummu dengan menahan gairah semalaman atau.., memberimu kenikmatan?" bisik pria itu sambil menggigit telinga Freya membuat tubuhnya bergetar pelan. Freya memegangi lengan pria itu erat.
"Tolonghh..," gumam Freya dengan nafasnya yang kian berat. Pria itu menatap Freya dan tersenyum miring. Dia mendorong Freya untuk kembali tidur di atas ranjang lalu menindihnya.
"Aku ingin tahu sehebat apa dirimu sampai ingin menjebak Reno eh?!" sinis pria itu dan kemudian melepaskan dress Freya dengan menyobek pakaian itu di bagian depannya. Freya memejamkan matanya dan memegangi tangan pria itu.
"Jangan..," gumamnya pelan. Pria itu mendekat ke arah Freya dan berbisik.
"Kau tahu aku?" tanyanya. Freya membuka matanya menatap pria yang menindihnya itu. Tatapannya buram tertutupi kabut gairah yang menyelubunginya.
"Nathan.., panggil aku Nathan, teriakkan namaku di saat pelepasanmu datang nanti Freya..," bisik pria itu dan kemudian mencium bibir Freya dengan ganas. Freya memeluk leher pria itu dan mengerang pelang. Dia memejamkan matanya menikmati ciuman yang baru kali ini dia rasakan.
Tangan pria itu bergerak menyentuh dua gunung kembar milik Freya dan meremasnya pelan membuat Freya mengerang. Dia menggeliat pelan tidak sanggup menerima kenikmatan ini. Freya menarik rambut pria itu di sertai desahan pelan terdengar saat pria itu beralih mencium bagian lehernya dan menggigitnya di beberapa tempat di leher itu bahkan sampai dadanya.
Freya mengerang semakin keras saat ciuman itu perlahan turun ke dadanya menggigit, menghisap dan mengulumnya. Freya menggigit bibirnya dan masih memejamkan matanya menerima itu semua. Sementara itu, tangan pria itu beralih ke bagian bawah Freya. Dimana area paling sensitifnya berada. Perlahan masuk ke dalam dan menusuknya pelan dengan jarinya membuat Freya mendesah pelan. Freya mendesis kesakitan dan mencengkram erat rambut yang dia pegang itu.
"Bahkan jariku terasa sempit disana. Freya kau membuatku b*******h," bisik pria itu kembali mencium bibinya. Freya menerimanya. Dia menikmati ini semua. Tubuh Freya menggeliat dengan geraman pelan di mulutnya saat tangan pria itu bergerak keluar masuk dengan pelan.
Nathan membuka matanya cepat dan langsung menjauhkan dirinya dari Freya dengan cepat. Dia berdiri menatap Freya yang kini menghembuskan nafas tidak beraturan dengan keadaannya yang sudah berantakan. Freya kembali menggeliat pelan. Dia hampir menuju kenikmatannya tadi tapi pria itu berhenti.
"Are you still virgin?" seru Nathan terkejut menatap Freya tidak percaya. Freya mengerang pelan dan membuka matanya menatapnya. Dia mendudukkan dirinya.
"Lanjutkan..," ucap Freya. Dia menarik tangan pria itu dan menyentuhkannya disana.
"Tidak aku tidak bisa!" kesal pria itu. Dia mengacak rambutnya frustasi melihat keadaan Freya.
"Semuanya sudah terlanjur...," gumamnya pelan.
"Aku akan membantumu," lanjutnya bicara. Pria itu mendekat dan menciumnya. Hanya dengan tangan! Tidak ada yang lain. Dia tidak sebejat itu untuk mengambil kegadisan seseorang yang sedang dalam keadaan tidak sadar.
***
Freya mengerang pelan dalam tidurnya. Dia tersentak bangun dan terduduk. Dia meringis kesakitan memegangi bagian sensitifnya dan tubuhnya yang terasa remuk redam. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Sangat berantakan dengan baju yang berserakan dimana-mana. Mata Freya membulat melihat pakaiannya sudah koyak dan tidak berbentuk. Dia turun perlahan dari atas ranjang dan berjongkok mengambil pakaiannya itu.
"Pakainku..," gumamnya pelan. Dia menoleh ke arah suara shower yang terdengar dari kamar mandi. Freya reflek berdiri. Dia menatap nanar pintu itu dengan tangan terkepal. Siapa pria kejam yang merebut kesuciannya itu?! Dia menelan ludahnya susah payah dan kebingungan. Dia takut jika pria itu ternyata adalah Reno karena seingatnya. Pria terakhir yang dia lihat adalah Reno sebelum kemudian dia pergi.
"Jadi bukan dia?" gumam Freya. Dia menunduk menatap tubuh polosnya yang penuh dengan bercak merah itu. Kenapa dia tidak mengingat sedikitpun?! Freya meringis menahan tangisnya.
"Jika dia orang lain..," ucap Freya menggantung. Dia menggelengkan kepalanya dan buru-buru memakai dress yang sudah koyak bagian atasnya itu kemudian memakaikannya jaket dan menutupnya rapat.
Freya mengambil handphone miliknya di atas ranjang dan kemudian tas miliknya. Freya mengeluarkan beberapa lembar uang miliknya untuk membayar kamar hotel ini. Dia tidak mau menjadi seperti wanita bayaran. Setidaknya dia harus ikut membayar uang kamar bukan? Setelah itu Freya langsung berjalan pergi dari tempat itu tanpa alas kaki. Dia harus cepat pergi sebelum pria itu keluar dari kamar mandi dan membuatnya semakin malu.
*
Freya menangis dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia menatap handphone miliknya yang baterainya sudah habis. Dia ingin menghubungi Mila dan Asrial bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Freya khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada dirinya. Freya menggigit bibir bawahnya. Rencananya gagal dan dia kehilangan kegadisannya. Itu yang lebih menyebalkan! Sesuatu yang sangat dia jaga hilang begitu saja bahkan tanpa dia sadari.
"Katanya nikmat! Kenapa aku tidak tahu rasanya sialan!" seru Freya kesal. Dia kembali menangis dan berteriak kesal. Freya mengacak rambutnya frustasi. Dia harus tanya pada Mila dan Ashila bagaimana cara menghilangkan rasa sakit di area sensitifnya ini. Dia tidak mau berjalan seperti orang aneh di saat bekerja besok.
Freya mendudukkan dirinya dan berteriak menangis. Dia takut hamil. Dia takut sesuatu terjadi pada tubuhnya. Freya mengusap wajahnya kasar dan kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia harus tidur dan istirahat yang cukup untuk menghadapi hari esok. Sepulang dari tempat itu, Freya sudah mandi dan membersihkan tubuhnya sebersih-bersihnya agar jauh dari penyakit. Tubuh Freya merinding.
"Setidaknya yang melakukan itu denganku tidak memiliki penyakit mengerikan. Jangan sampai!" serunya kesal.
Suara gedoran pintu kamarnya terdengar beserta teriakan Mila dan juga Ashila. Freya menghentikan tangisnya dan langsung bergerak membuka pintunya. Dan kini dia bisa melihat wajah panik Mila dan Ashila menatapnya. Keduanya masuk dan langsung menutup pintunya.
"Kau baik-baik saja bukan?" tanya Mila. Mendengar itu Freya langsung menangis dan memeluknya erat. Ashila yang berdiri disana menjadi tidak enak. Semua ini salahnya.
"Mila aku melakukan itu tapi kenapa aku tidak ingat. Katamu nikmat tapi kenapa aku tidak ingat dan hanya terasa sakit?!" ucap Freya sedih. Wajah sedih Mila dan Ashila menjadi bingung saling pandang.
"Maksudmu? Kau tidak menyesal? Tidak sedih karena kehilangan-"
"Sedih tapi yang lebih menyebalkannya aku tidak tahu siapa yang melakukannya denganku Milaa.., bagaimana ini? Dan sakit, ituku sakit bagaimana aku takut sekali," ucap Freya sedih dan bingung. Kakinya menghentak kesal. Mila dan Ashila menatap Freya heran.
"Sakit sekali memang? Tapi kenapa kau masih bisa berdiri tegak dan loncat seperti itu?" tanya Mila. Freya menatap mereka bingung.
"Sebaiknya kau periksa saja dulu apa kau benar-benar habis melakukan itu atau tidak," ucap Ashila. Freya cemberut kesal.
"Saat aku bangun masih ada pria yang melakukannya bersamaku itu. Dia masih ada di kamar mandi dan aku langsung kabur!" jelas Freya kesal. Ashila dan Mila ternganga mendengarnya.
"Jadi kau tidak tahu siapa pria itu? Kenapa kau tidak menunggunya? Dan tanyakan apa yang terjadi semalam. Kau bilang kau tidak ingat," ucap Ashila kesal.
"Aku malu!" seru Freya kesal. Ashila dan Mila menepuk dahinya tidak habis pikir. Mereka menatap Freya.
"Dasar bodoh! Cepat minum ini untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi padamu," ucap Mila menyodorkan sebuah pil kecil. Freya mengernyit menatapnya.
"Cepat minum saja!" kesal Ashila dan ikut menyodorkan segelas air. Freya semakin bingung.
"Sejak kapan kau memegang gelas itu?" tanya Freya. Mila dan Ashila mengerang kesal mendengarnya.
"Minum saja!" seru mereka gemas. Freya langsung mengambil dan meminumnya.
"Maafkan aku. Ini semua karena aku. Aku salah mengambil obatnya," sesal Ashila. Freya meringis.
"Sepertinya aku juga salah minum," jawab Freya. Mila dan Ashila menghela nafas kesal menatap Freya.
"Tahu, karena kita melihat Reno masih baik-baik saja setelah meminum habis minuman yang kau berikan. Semalam kita mencarimu di seluruh kelab tapi kau tidak ada. Saat kita menghubungimu, handphone milikmu tidak aktif," jelas Mila. Freya menghela nafas.
"Aku takut sekali," ucapnya. Mila dan Ashila menepuk bahu Freya menenangkan.
"Tenang saja kau sudah minum pil itu kau tidak akan hamil," ucap Ashila. Freya menganggukkan kepalanya.
"Besok aku akan baik-baik saja bukan?" tanya Freya. Ashila dan Mila menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak sedih?" tanya Mila. Freya menatapnya dan menggeleng.
"Aku merasa.., aku masih tetap sama seperti dulu," jelas Freya.
"Kau pikir setelah melakukan itu kau akan berubah menjadi superhero?" tanya Ashila kesal. Freya menatapnya kesal.
"Bukan begitu! Aku merasa sepertinya aku tidak melakukan itu," kesal Freya.
"Tidak mungkin tidak melakukannya. Kau merasa sakit bukan?" tanya Ashila. Freya mengangguk lesu.
"Bisa saja Freya melakukannya hanya dengan jari?" tanya Mila. Ashila memutar bola matanya malas.
"Dengan jari saja tidak akan cukup untuk meredakan gairah dari obat perangsang Mila," ujarnya.
"Bisa saja dengan mulut juga?" tanya Mila. Ashila dan Mila saling pandang dan mendelik kaget. Keduanya menutup mulutnya menatap Freya dari ujung kaki ke ujung kepalanya membuat Freya bingung.
"Aku ingin tahu siapa pria yang melakukan itu," gumam Mila. Ashila menganggukkan kepalanya.
"Dia pasti sangat berpengalaman," gumam Ashila. Freya mengernyit kesal menatap kedua sahabatnya.
"Katakan dengan jelas aku tidak mengerti!" kesal Freya. Mila dan Ashila hanya tersenyum cengengesan.
"Katakan pada kami jika kau tahu siapa yang melakukan itu denganmu," ujar Ashila. Mila hanya menganggukkan kepalanya dengan semangat membuat Freya menatap mereka heran.
"Lebih baik tidak tahu! Itu menggelikan!" balas Freya.
"Lalu? Bagaimana denganmu?" tanya Freya pada Ashila. Dia diam cemberut lalu menghela nafas.
"Gagal total! Dia kesana dengan kekasih barunya," ucapnya sedih. Freya menatapnya prihatin dan menepuk bahunya.
"Yang sabar. Masih banyak pria di dunia ini," katanya. Mila terkekeh mendengarnya.
"Cih! Ingat kau juga sial!" kesal Ashila. Mila dan Freya saling pandangan langsung tertawa bersama dan Ashila hanya cemberut kesal.
"Sudah sudah.., Freya jangan pikirkan itu ayo kita makan. Aku membawa makanan untukmu," ucap Mila.
"Ayo! Aku lapar sekali. Kalian memang penyelamatku," ucapnya senang memeluk Ashila dan Mila erat. Dan mereka berdua hanya mengerang malas.