Baik-baik saja apanya?! Tangan Freya bergetar memegang handphone miliknya. Dia reflek langsung mematikan handphone miliknya kemudian menoleh ke arah Ara yang duduk di sampingnya yang sedang menatapnya heran.
"Mana fotonya?" tanya Ara. Freya menggelengkan kepalanya.
"Oh nanti saja yah aku kirim," ucapnya. Freya meringis dan menghela nafas. Dia kemudian berdiri dari duduknya berjalan cepat menuju toilet. Langkah Freya tampak buru-buru.
"Aku tidak salah lihat bukan?" gumamnya bertanya. Freya menggigit bibir bawahnya dan masuk ke dalam toilet dengan cepat menguncinya. Dia kembali membuka handphone miliknya dan Freya mendelik kaget dia bahkan membesar kecilkan foto itu dan kembali melihatnya.
"Ini benar..," gumamnya pelan dengan takut. Freya kembali melihat galeri handphone miliknya dan melihat ada tiga foto disana. Dan foto terakhirnya.., Freya terduduk di atas WC yang tertutup menatap kosong ke depan dengan pandangan kosong.
"Tidak mungkin aku tidur dengan.., Pak Jonathan?!" gumamnya dengan panik. Freya mengusap wajahnya dan memegang keningnya. Freya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak pasti aku sedang berhalusinasi. Aku akan cuci muka agar tidak mengantuk," gumamnya lagi. Freya langsung berdiri dan berjalan menuju wastafel mengusap wajahnya. Freya kembali mengingat kejadian pagi tadi. Dia mendongak menatap kaca.
Saat Freya datang tadi, sebuah amplop berisi tujuh lembar uang ada di atas meja. Freya yang baru datang menatap heran ke arah Ara yang sudah datang. Dia mengernyit melihat isinya.
"Uang siapa ini?" tanya Freya. Ara menoleh dan mengedikkan bahunya.
"Katanya itu milikmu," jawabnya. Freya yang tidak tahu apapun hanya tersenyum senang karena uangnya untuk membayar hotel tergantikan dengan uang itu. Yang tidak Freya tahu jika uang itu memanglah miliknya.
Freya mengerang kesal. Dia menghentakkan kakinya kesal. Dia kembali mengeluarkan handphone miliknya. Di lihatnya lagi foto itu melihatnya berkali-kali tetap saja foto itu tidak berubah. Freya menggigit bibirnya dengan gusar. Dia mengerang kesal.
"Aku tidur dengan suami orang?! Arghh! Bagaimana ini!" seru Freya kesal. Dia menghela nafas dan berjalan menuju mejanya dengan lesu. Freya menyesal tidak membuka galerinya saat di rumah hingga dia benar-benar syok di kantor. Sekarang dia harus apa? Tentu saja harus bersikap biasa saja. Tapi Freya tidak bisa.
Freya melangkahkan kakinya dengan lesu menuju meja kerjanya. Tatapannya kosong terus berjalan memikirkan apa yang terjadi sampai dia bersama pria itu. Tidak ada satupun ingatan terlintas di otak Freya. Kedua tangan Freya terkepal marah. Seharusnya pria itu tidak melakukannya dengannya. Dia beristri tidak seharusnya melakukan itu dengan dirinya. Freya mendesis kesal.
"Dasar pria b******k!"
**
Apa yang harus dia lakukan?! Freya tidak mungkin resign dari pekerjaannya sekarang. Dia tidak rela melepas pekerjaannya hanya karena tidur dengan pria b******k! Freya mengerang kesal dan menutup wajahnya di atas meja cafe Ashila dengan kesal. Mila menatap Freya heran. Dia mendorong bahu Freya.
"Kau kenapa?" tanya Mila. Freya langsung menegakkan badannya.
"Milaa.., haruskah aku resign? Apa yang harus aku lakukan?!" tanya Freya kesal. Mila menatapnya heran.
"Ada apa? Kenapa kau harus resign?" tanya Mila heran. Freya menelan ludahnya susah payah. Dia menggigit bibirnya ragu bercerita tentang ini.
"Kenapa?" tanya Mila bingung. Freya menghela nafas dan memejamkan matanya.
"Sepertinya.., aku tidur dengan Pak CEO," ucapnya dan langsung menutup wajahnya. Freya malu dan mengerang kesal. Mila menatap Freya tidak percaya dan tertawa.
"Mana mungkin!" seru Mila dengan tawanya. Freya menatap Mila kesal. Dia serius dan Mila menertawakan dirinya. Ashila yang mendengar tawa Mila buru-buru memberikan kopi yang dia buat pada pelanggan lalu mendekati kedua sahabatnya itu.
"Aku serius Milaa..," kesal Freya.
"Ada apa ada apa? Sepertinya ada hal yang lucu," ucap Ashila. Mila menunjuk Freya.
"Dia bilang tidur dengan orang itu," ucap Mila menunjuk ke arah televisi yang menayangkan berita tentang pria yang Freya sebutkan. Freya melihat ke arah televisi dengan heran.
"Putra tunggal dari Keluarga Abraham akhirnya akan menikah lagi?!" seru Freya terkejut. Dia menatap Mila dan Ashila.
"Kenapa berita buruk seperti ini di tayangkan dengan bahagia?!" tanya Freya kesal. Ashila dan Mila menatap Freya heran.
"Harus bahagia jika dia menikah lagi setelah berpisah dari istrinya dua tahun yang lalu," ucap Ashila menjelaskan. Freya ternganga tidak percaya mendengarnya.
"Dia akan menikah dengan Liliana. Tidak terkejut aktris cantik itu memang pantas dengan Jonathan," gumam Mila. Freya cemberut kesal menatap televisi itu. Freya mengerang frustasi.
"Bagaimana bisa aku tidur dengan pria itu?!" pekik Freya kesal. Mila dan Ashila menatap Freya kaget.
"Kenapa kau begitu percaya sudah tidur dengannya?" tanya Ashila.
"Hemm.., kau bahkan tidak ingat apapun tentang malam itu," sahut Mila. Freya menghela nafas.
"Aku juga tidak akan percaya dengan ini. Tapi uang yang dia kembalikan padaku itu.., dan arrghhh! Menyebalkan sekali!" kesal Freya dan mengacak rambutnya Frustasi. Mila dan Ashila menatap Freya aneh.
"Kenapa sih kau membuat kita jadi penasaran," ucap Mila. Dia mendekat ke arah Freya yang masih seperti orang gila.
"Pantas sejak tadi kau terlihat lesu. Bisa lihat bagaimana caranya kau tahu tidur dengan Jonathan itu? Mungkin saja dia teman kantormu dan mengembalikan uang itu saat kau belum datang," ucap Ashila. Mila menganggukkan kepalanya.
"Ucapan Ashila ada benarnya. Jangan ambil keputusan seperti itu. Kau terlalu berharap," ucap Mila. Keduanya menertawakan Freya.
"Aku serius tahu! Aku punya bukti jelas dan akurat!" kesal Freya. Dia mengambil handphone miliknya dan menunjukkan foto yang sejak tadi membuatnya risau.
Mila dan Ashila terbelalak melihat foto itu. Keduanya melihat foto itu dengan mata terbuka lebar dan berkali-kali membesar kecilkan bagian Jonathan. Mereka bahkan melihat bagaimana bibir Freya menempel di pipi pria dingin itu. Mereka menatap Freya terkejut.
"Itu benar? Bukan editan?" tanya Ashila. Mila mengangguk.
"Tidak aku sangka..," Keduanya saling pandang dan menutup mulutnya. Mereka menatap Freya kembali saling pandang kemudian menjerit dan saling pukul tertawa senang. Freya ternganga melihat itu.
"Kenapa kalian tertawa?! Apa yang harus aku lakukan?!" tanya Freya kesal. Mila dan Ashila menatapnya.
"Temui dia dan tanyakan apa yang dia lakukan malam itu," ucap Mila.
"Dan tanyakan bagaimana caranya meredakan gairahmu yang naik karena obat itu tanpa melakukan s*x," lanjut Ashila.
"Dengan jarinya atau..," ucap Mila menggantung dan keduanya kembali saling pandang lalu menjerit dan tertawa. Freya menatap kedua sahabatnya itu dengan datar.
"Kalian membicarakan apa?!" tanya Freya kesal. Mila dan Ashila menggelengkan kepalanya.
"Dia pasti hebat di ranjang bahkan tanpa melakukan itu bisa membuat Freya puas," ucap Ashila.
"Aku yakin Fey.., kau dan Jonathan tidak melakukan itu," kata Mila.
"Yah karena dia bukan pria sembarangan yang menanamkan benih di mana-mana," lanjut Ashila. Freya menatap keduanya tidak yakin.
"Kalian serius?" tanya Freya. Mila dan Ashila mengangguk yakin.
"Atau kau mau tes?" tanya Mila. Freya menggelengkan kepalanya.
"Jika bisa.., aku akan bertanya langsung," ucap Freya yakin.
"Memang kau berani?" tanya Mila. Freya meringis menatap Mila.
"Kau yang bertanya. Kau-kan dekat dengannya! Maksudku kau bekerja langsung di bawahnya dan saat rapat sering bertemu bukan?" tanya Freya. Mila mendengus kesal.
"Kau pikir aku saat bekerja bisa membahas hal seperti itu?" sinis Mila. Freya meringis mendengarnya.
"Aku harus apa?" tanya Freya bingung.
"Lakukan seperti biasa saja. Jangan pikirkan itu. Pastinya juga Jonathan tidak mengingatmu," ucap Ashila.
"Lagipula dia juga akan menikah," lanjut Mila. Freya menghela nafas.
"Dan kau juga memiliki keuntungan. Bukannya kau bisa menunjukkan foto itu pada Karina? Reno dan Bima jauh di atas Jonathan pengusaha muda yang kaya sejak dia lahir," ucap Ashila. Freya menatapnya senang.
"Kau benar!" ucap Freya senang. Dia tersenyum miring dengan kedua tangan terkepal.
"Karina tidak akan bisa mendapatkan keberuntungan sepertiku hahaha..," ujarnya. Mila dan Ashila saling pandang dengan geli.
"Sayang sekali kau tidak mengingat malam yang beruntung itu," ucap Ashila. Freya menoleh.
"Jika aku menjadi dirimu aku tidak akan segusar ini karena kecil kemungkinan aku bertemu Jonathan. Tapi aku? Aku takut dia akan menemui diriku di kantor. Aku takut sekali," gumamnya sedih. Ashila dan Mila mengangguk.
"Kau benar. Tapi Pak Jonathan tidak mungkin ada waktu untuk mendatangimu. Lagipula kau juga baru tahu bukan jika dia adalah bos di kantor kita," ujar Mila. Freya terkejut menatapnya.
"Aku tahu kau pasti tidak akan mencari dan ingin tahu tentang para petinggi di kantor," ucap Mila. Freya tersenyum cengengesan.
"Untuk apa juga. Toh aku juga bekerja di bawah naungan Bu Heni. Beliau yang menjadi atasanku," kata Freya. Mila memutar bola matanya malas.
***
Pagi ini Freya masuk ke kantor dengan percaya diri. Dia berjalan santai masuk ke dalam karena jam kantor juga masih setengah jam lagi masuk. Freya menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia harus kehilangan sepatu pemberian ayahnya untuk sebuah foto yang tidak sepenting itu. Bahkan foto itu masih belum Freya tunjukkan pada Karina.
DUG!
"Awh..," pekik Freya memegangi kepala belakangnya yang di lempar sesuatu. Freya menoleh kesal dan mendelik melihat siapa yang melemparinya. Freya menunduk melihat sepatu yang di lemparkan ke arahnya. Freya mendelik kesal melihat seorang anak kecil sedang berdiri beberapa meter di belakangnya bersedekap d**a menatapnya dengan senyum miring.
"Kau!" seru Freya kesal. Anak kecil itu adalah anak kecil yang berebut cake dengannya waktu itu.
Freya tidak akan lupa karena dia benar-benar kesal mengingat itu. Freya menghela nafas dan menunduk melihat sepatu yang di lemparkan ke arahnya. Mata Freya terbelalak melihatnya. Dia langsung mengambil sepatu miliknya itu. Freya berjalan mendekat ke arah anak kecil itu.
"Darimana kau mendapatkan sepatu ini?" tanya Freya kesal. Gadis kecil itu mendongak menatap Freya heran. Freya menarik nafas dalam menghembuskannya pelan menahan amarahnya. Dia memaksakan senyumnya.
"Adik kecil.., bisa berikan sepatu yang satunya juga tidak?" tanya Freya hati-hati. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka. Freya mendongak dan tersentak kaget melihat siapa yang menghampirinya. Freya menelan ludahnya susah payah dan langsung berbalik kemudian berlari menjauh. Dia sangat ketakutan melihat Pak CEO yang terhormat.
Freya menggigit bibir bawahnya ketakutan saat sudah ada di dalam lift. Entah kenapa dia merasa takut. Mungkin dia takut di pecat karena menggodanya? Bisa saja dia yang menggodanya karena dia tidak sadar waktu itu. Freya menatap sepatu miliknya dengan sedih.
"Kenapa hanya satu?" gumam Freya kesal. Freya menyenderkan badannya ke lift dengan lemas.
"Sepertinya hari ini bukan hari keberuntunganku," gumamnya.
Dan benar saja. Saat jam istirahat berlangsung anak kecil tadi yang melemparinya dengan sepatu itu berulah dan terus mengganggunya. Freya menatap gadis kecil yang kini sedang asik makan di sampingnya. Dia menatap kesal anak itu.
"Apa kau tidak di ajari sopan santun?" tanya Freya kesal. Dia kesal karena jatah makanannya di ambil. Lauk kesukaannya di ambil oleh anak itu. Tanpa rasa bersalah gadis kecil itu mendongak menatap Freya tidak peduli. Freya mendengus kesal melihat itu.
"Dasar..," gumamnya kesal dan makan dengan kesal. Moodnya semakin buruk saat tiba-tiba saus merah di atas meja tadi sudah mengotori kemeja putihnya. Freya menoleh ke gadis kecil yang terkejut dan tersenyum meringis menatapnya. Freya menarik nafas dalam dan berdiri kemudian menggebrak meja.
"Apa yang kau lakukan?! Lihat pakaianku jadi kotor sekarang! Sebenarnya kau ini siapa sih?!" tanya Freya kesal. Ara menarik Freya dan berbisik.
"Fey jangan membentaknya. Kau tidak lihat sejak tadi Pak Nathan melihat anak itu," bisik Ara. Freya mendelik kaget menatap Ara. Dia menunduk menatap anak kecil yang kini menatapnya dengan nanar.
"Kau siapa?" tanya Freya. Suara tangis anak itu terdengar nyaring membuat Freya panik. Dia kembali duduk dan kemudian menyodorkan semua makanan miliknya.
"Jangan menangis yah.., ambil saja milikku semua boleh kok. Ssttt...," ucap Freya panik. Freya mengambil sebuah permen dari sakunya dan menaruhnya di depan anak itu.
"Ini sebagai bonus tapi jangan menangis," ucap Freya cepat. Seketika tangis anak itu terhenti. Dia langsung mengambil permen itu. Freya mengedarkan pandangannya dan meringis kecil tidak enak. Dan kemudian pandangannya tidak sengaja melihat sosok yang di katakan Ara tadi. Freya tersentak dan kemudian berdiri dari duduknya segera berlalu pergi dengan cepat. Entah siapa anak itu yang pasti Freya harus pergi dan hilang pandangan dari seorang Jonathan.
Rasa-rasanya Freya benar-benar seperti maling saja. Padahal dia tidak salah apapun dan juga tidak melakukan keburukan. Ahh.., tidak juga. Sepertinya ini semua karma dari perbuatan buruknya itu. Niatnya menjebak orang malah dia sendiri yang terjebak. Freya bingung sendiri. Apa yang yang harus dia lakukan?
Masuk ke dalam kamar mandi Freya menatap pantulan dirinya di depan cermin. Freya menghela nafas menepuk kedua pipinya keras menyadarkan dirinya. Dia tidak perlu memikirkan itu bukan? Ingat saja apa kata Mila fan Ashila tadi. Freya menarik nafas dalam dan menghembuskannya untuk fokus pada pekerjaannya di kantor yang menumpuk saja daripada memikirkan hal yang tidak penting. Tidak penting?! Tidak! Ini sangat penting untuk kelanjutan pekerjaannya yang bisa saja keluar dari perusahaan besar ini. Tapi pekerjaan di kantor jauh lebih penting. Jadi Freya harus memikirkan pekerjaan saja.