Raja dan Ratu akhirnya mendekat ke arah kerumunan yang berisikan tamu undangan ulang tahun untuk putri kedua mereka, putri Hera.
Melihat ada yang tidak beres, Raja buru-buru berjalan ke arah dimana kedua putrinya berada, sedangkan Ratu setia mengikuti di belakang.
Lain hal dengan putra mahkota kerajaan Zephyra, pangeran Aeron yang tak lain adalah kakak kandung dari Putri Hera dan Xynerva, dengan santai hanya duduk manis tanpa berniat ikut campur dan bergabung.
"Ada apa ini?" Tanya Raja alias ayah kandung Hera dan Xynerva.
Sontak mereka yang tadinya tengah mencaci-maki perbuatan putri ketiga kerajaan ini tiba-tiba langsung senyap terhenti, diikuti hormat dari beberapa tamu termasuk pangeran Charles, Xynerva dan Hera.
Ratu yang sedang berdiri di samping suaminya menoleh mendapati Xynerva ada disini, mengenakan gaun yang memalukan.
"Putri Xynerva, kau disini?" Tanya Ratu pura-pura terkejut.
"Y-ya ibunda." Jawab Xynerva terbata.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya lugas yang Ratu, dirinya sudah cukup dibuat malu dengan segala kelakuan putri ketiganya ini.
"I-ini kehendak saya sendiri, ibunda." Sahut Xynerva dengan pandangan tertunduk.
"Sungguh berani sekali, apakah putri Hera mengundangmu?" Tanya kembali sang Ratu, jelas dengan suara rendah yang hanya bisa di dengar keduanya.
"T-tidak Ratu." Xynerva sebenarnya tidak terima, ibundanya memperlakukan dirinya secara tidak adil dibandingkan dengan kedua saudaranya, tapi setiap kali dirinya diintimidasi, ia hanya bisa tertunduk dan menjawab secara terbata seperti yang dilakukannya saat ini.
Pundak Ratu disentuh sebelum Ratu sempat mengusir putri Xynerva.
"Sudah, ayo kita duduk saja. Oh ya maaf mengganggu, lanjutkan saja ya." Ucap Raja, tanpa menunggu jawaban, pamit undur diri. Sebenarnya ia ingin lebih lama berada di sini, agar putri Xynerva tidak terlalu di pandang buruk oleh orang lain, apalagi dengan tindakan bodohnya tadi yang menggoda pangeran Charles. Walaupun mereka berdua memang akan dijodohkan kedepannya tapi tindakan Xynerva yang sekarang adalah seorang putri kerajaan sangat tidak pantas. Tapi melihat istrinya sepertinya selalu tidak bisa mengendalikan diri saat berhadapan dengan putri terakhirnya itu, maka ia mengalah dan menyeret agar tidak menimbulkan permasalahan baru.
Setelah melihat kepergian Raja dan Ratu, bisik-bisik kembali terdengar membuat Xynerva lebih dalam menundukkan kepalanya, sedangkan Hera malah tampak pongah mengangkat kepalanya angkuh.
Putri Hera berjalan mendekat ke putri Xynerva yang masih terdiam sedangkan pangeran Charles sudah berjalan menjauh, pergi sesuai perkataannya tadi, dengan berbisik putri Hera berbicara tepat di samping telinga Xynerva.
"Pergilah, kau hanya membuatku dan kakak tertua malu." Ucap putri Hera keji.
"T-tapi-"
"Sudahlah pergi!" Dengan geram putri Hera mendorong pelan Xynerva, Hera jelas masih ingat kondisi dimana mereka berdua masih menjadi pusat perhatian para tamu yang datang.
"Pangeran Charles!" Entah sudah tidak punya muka atau memang tuli, Xynerva malah dengan lantang memanggil pangeran Charles yang terlihat berjalan menjauh di kelilingi pengawalnya.
Pangeran Charles yang mendengar panggilan itu hanya acuh tetap melangkah pergi, tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun, bikin malu saja pikirnya.
Xynerva yang sudah memantapkan keberanian untuk memanggil sang pujaan hanya bisa menitikkan air mata, antara malu dan sedih bercampur menjadi satu. Selalu saja dirinya diabaikan, padahal perjuangannya mendekati pangeran Charles yang paling berani diantara putri bangsawan lain.
Sedangkan Mary di belakangnya dengan sigap mengulurkan sapu tangan, tak ada yang menyadari, pelayan cantik itu tengah tersenyum. Dengan sedikit mendekat, Mary berucap di samping tuannya.
"Putri, baiknya anda berjuang."
Xynerva yang mendengar kalimat itu langsung di buat semangat kembali, mengucapkan terimakasih kepada Mary, setelah itu Xynerva lantas berlari dengan gaun yang mengembang bewarna pink terang berkibar-kibar terbawa angin. Pandangan itu tidak sedikit membuat para putri bangsawan lain menutupi mulut mereka menahan tawa, bahkan ada yang sudah menitikkan air mata dengan kipas lipat yang sengaja untuk menutupi raut muka, menghargai bahwa tuan rumah mereka adalah kakak kandung dari si pembawa tawa.
Hera yang melihat itu bukannya tertawa, putri kedua itu berwajah merah menahan amarah. Jelas perlakuan adiknya itu selalu bikin malu, apakah adiknya itu tidak bisa berpikir panjang. Dasar bodoh buruk rupa, batinnya berkata.
Aeron masih sibuk meminum minuman yang di sediakan pelayan, kakinya tertumpu, dengan tangan terangkat memegang gelas, Aeron tampak memukau. Kekehan kecil keluar dari mulutnya, melihat tindakan bodoh sang adik buruk rupa.
Entahlah, mungkin Aeron sudah cukup kenyang dengan tindakan memalukan yang dilakukan oleh adiknya, Xynerva. Hingga membuatnya terbiasa dan tidak berniat untuk ikut campur seperti Hera dan ibunya, Aeron akan berperilaku sama seperti para tamu, seperti bukan siapa-siapa Xynerva. Bagi Aeron seperti ini terasa lebih menyenangkan.
Xynerva berlari menubruk para pengawal pangeran Charles yang tidak berani menahan seorang putri kerajaan Zephyra, kerajaan yang tengah di pijakan kakinya oleh mereka. Dengan keberanian tinggi Xynerva dengan cepat memeluk tubuh tegap pangeran Charles dari belakang, tangannya tertaut di depan perut keras pangeran Charles.
Beberapa menit seakan terhenti, para tamu hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar tanpa ada yang berani bersuara. Hanya ada kekehan kecil yang terdengar di waktu sunyi itu, kekehan pangeran mahkota, pangeran Aeron si kakak tertua.
Raja dan ratu yang melihat kejadian itu tampak menundukkan kepala, malu kepalang.
"Kau apa-apaan putri Xynerva!" Bentak Hera menarik tubuh adiknya dari pelukan pangeran Charles yang masih terdiam kaku.
Hera tampak kesusahan menarik tubuh Xynerva yang dengan kuat memeluk pangeran Charles, beberapa waktu akhirnya Hera menyerah dan hanya diam menatap pasangan yang bepelukan di depannya.
Selang beberapa waktu terdengar suara jatuhnya putri Xynerva yang di dorong kuat oleh pangeran Charles, mereka semua yang menonton hanya bisa meringis ngilu tanpa ada yang berniat menolong. Bahkan raja dan ratu sekalipun, sedangkan putri Hera tersenyum culas.
Hanya Mary yang mendekat dan menolong putri Xynerva yang masih dalam posisi jatuh terjerembab, sebelum tangan Mary menyentuh pundak putri Xynerva, tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh Pangeran Charles yang sejak tadi menatapnya.