“Ini untukmu!” Yosan menyerahkan totebag itu sambil melangkah masuk kamar diikuti Rachel berjalan sambil sorak gembira dengan hadiah yang diberikan Yosan.
“Kau punya selera yang bagus Kakakku Tersayang.” Rachel mengamati lingerie warna putih dengan terkagum-kagum.
Yosan tersenyum tipis. “Jika kau suka boleh kau kenakan sekarang.”
Kemudian Rachel meraih dua gelas wine yang telah dia siapkan. “Untukmu!” Mengabaikan ucapan Yosan. Dia tidak mau terkesan buru-buru untuk menaklukan hati pria yang saat ini bersamanya.
Yosan meraih gelas itu lalu meminumnya hingga habis kemudian dia letakan kembali di atas nakas. Kemudian duduk ditepi ranjang. Rasanya dia muak melihat lingerie itu.
“Kau tampak kehausan, mau minum lagi.” Rachel tertawa sambil menyodorkan gelas di tangan.
“Ya, terimakasih.” kata Yosan sambil meraih gelas dari tangan Rachel. Lalu menyerahkan kembali gelas itu pada Rachel yang masih tersisa separo.
Kini Rachel duduk di sofa sudut ruangan, sambil memegang segelas wine. “Kau kini telah bebas dan saatnya aku meminta bantuanmu. Kau pasti tahu siapa perempuan yang menjadi simpanan ayahku?”
“Demi Tuhan aku tidak tahu Rachel.”
“Kalo begitu kau harus mencarinya!”
Yosan buang muka, dia dibawah tekanan Rachel. “Mengapa harus aku? Kau punya uang dan segalanya mudah sekali jika kau mau sedikit berusaha.”
Rachel tertawa sambil meletakan gelas di atas nakas lalu berdiri mendekati Yosan. Tubuhnya membungkuk wajahnya tepat di hadapan Yosan. Saat ini belahan d**a Rachel jauh lebih dalam dan menggairahkan dari pada yang Yosan lihat siang tadi.
“Kau yang punya kuasa di Dynasty. Kau adalah orang yang paling dipercaya ayahku ketimang aku anaknya sendiri.” Kedua tangan Rachel melingkar di antara leher Yosan.
Rachel perlahan mendorong tubuh Yosan dan pria itu kini telah terkapar di ranjang. “Aku memiliki rencana besar, dan aku yakin rencana itu akan berhasil. Kau akan mendapatkan aku dan kekayaan yang tak ada habisnya.”
Yosan menatap Rachel begitu dalam. Dan entah mengapa bayang-bayang Suri hinggap di wajah wanita itu. Dia menyukai jika Suri berada di atas tubuhnya dan mendominasi.
Namun tawaran Rachel juga tidak kalah mengganggu pikirannya. Termasuk Rachel sendiri yang kini sedang b*******h. Dan mungkin meminta Rachel mengenakan baju milik Suri bisa mengobati kerinduan akan istrinya.
“Tugasmu hanya mencari istri simpanan ayahku. Setelah itu selesai. Jabatan yang kamu punya sekarang akan aman selamanya.” Rachel kembali berucap.
“Akan aku lakukan setelah kau mengenakan hadiah yang aku berikan.”
Rachel tersenyum geli. “Apakah aku buruk malam ini?”
“Tidak. Aku hanya ingin melihat kau dengan apa yang aku inginkan.”
Rachel bangkit dari pangkuan Yosan. Kemudian meraih lingerie di atas sofa. “Demi kau akan aku turuti permintaan kecil ini.” Langkah kaki Rachel pergi meninggalkan Yosan ke toilet. Menatap diri sendiri di pantulan kaca. Rachel terpesona, Yosan lebih romantis dari pada bayangnya.
Hadiah dari Yosan berhasil membuat Rachel benar-benar bahagia.
Wanita itu keluar dengan busana jauh berbeda. Lingerie transparan membuat seluruh lekuk tubuh Rachel tampak. Dan itu benar-benar membuat Yosan terbelalak.
Aku tak bisa membayangkan jika yang aku lihat itu Suri-ku, batin Yosan. Betapa bahagiannya saat ini. Namun, dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan menatap bidadari indah malam ini.
Rasanya sesuatu dalam diri Yosan sudah lama kehilangan fungsi sejak Suri pergi. Akan tetapi tidak untuk malam ini.
Meskipun tidak mencintai Rachel akan tetapi bercinta tidak selalu berlandaskan cinta dan perasaan. Begitulah pria.
Rachel telah berdiri tepat di hadapan Yosan. Dengan tangan menangkup wajah Yosan dengan kedua tangannya. “Aku tahu kau masih mencintai istrimu. Tapi aku bersedia menjadi obat dan pengganti. Belajarlah mencintaiku.”
Yosan tersenyum getir.
“I love you.” Rachel berbisik tepat di daun telinga Yosan. Dan membuat pria itu sedikit menggigil mendengar suara Rachel yang sedikit mendesah.
Rachel kembali menatap Yosan dengan begitu lembut. Dari pancaran matanya jelas cintanya begitu nyata. “Mengapa diam saja?”
“Karena belajar mencintai juga butuh waktu,” jawab Yosan lembut.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu.” Rachel beranjak pergi dari hadapan Yosan. Tiba-tiba Yosan menariknya hingga jatuh dipelukannya. Dan mereka rebah di atas ranjang.
Yosan merangkul erat tubuh Rachel kemudian menggulirkan ke samping. Tubuh langsing itu kini telah berada dibawah kuasa Yosan. Bibir Yosan mendarat tepat di kening Rachel.
Dan biasanya hal itu dia lakukan ketika bersama dengan Suri ketika diatas ranjang.
Berbeda dengan yang dirasakan Rachel, wanita itu begitu merasa sangat disayang dengan segala perlakuan halus Yosan.
Yosan tidak terburu-buru bertindak. Pria yang satu ini begitu lembut meskipun belum bisa mencintai Rachel sekalipun.
Pria itu mencium kening, kemudian pipi lalu turun ke leher dan tulang selangka. Sejengkal demi sejengkal bibir Yosan bergerak indah di permukan kulit Rachel.
Tangan Rachel menyentuh bagian belakang kepala Yosan, kadang sedikit menekan ketika pria itu mencium bagian sensitif tubuhnya.
Perlahan Rachel melucuti pakaian Yosan. Dan membiarkan kain itu teronggok di lantai. Seluruh tubuh Yosan telah panas, detak jantungnya semakin bergetar hebat dan hasratnya telah berada di ubun-ubun.
Rachel hanya bisa pasrah dengan apa yang pria itu lakukan terhadap dirinya.
Perlahan Rachel mengambil alih posisi, dia mengulirkan tubuh Yosan. Dia ingin lebih bebas. Pinggulnya bergerak meliuk-liuk indah diatas tubuh Yosan. Sambil bibirnya mencumbu leher dan d**a bidang Yosan.
Mata Yosan terpejam, merasakan sesuatu yang sudah lama dalam dirinya. Meskipun saat ini sejengkal pun Suri tak bisa hilang dari benaknya. Yosan tidak peduli.
Yosan kini yang mendominasi. Bergerak dengan ritme semakin cepat. Dan di menit tiga puluh Yosan telah sampai di titik pelepasan.
Mereka sama-sama terkapar di ranjang. Rachel memeluk Yosan dengan erat. Malam ini baginya adalah surga, dia mendapatkan pria itu seutuhnya.
“Apakah kau menikmatinya?” tanya Rachel dengan pelu di sekujur tubuhnya.
“Sangat menikmati.”
“Bagaimana jika kau kecanduan denganku?”
Yosan menatap ke samping ke arah Rachel. Lalu memeluk dengan cara menindihnya. Kadang-kadang wanita muda ini menggemaskan. “Kau yang mengatakan akan membayar perpisahanku dengan Suri.”
“Ya, bahkan akan aku ganti berkali-kali lipat.” Rachel tersenyum dengan tatap mata penuh ke wajah Yosan.
Yosan tersenyum getir. “Dengan cara apa?”
“Cari wanita simpanan ayah!”
Yosan menjauh dari Rachel kemudian bangkit dari ranjang. "Kau gila Rachel!"