"Kau tak perlu mengatakan sesuatu yang sedih hari ini. Kita akan bersenang-senang di sini. Kau tak boleh bersedih." Joe menatap Suri dengan bibir tersenyum, ia tahu betul ada sesuatu hal yang Suri sendiri sebenarnya berat untuk berkata apa adanya.
Suri mengangguk setuju.
"Berarti aku bebas ya jika dekat denganmu?" ucap Joe dengan percaya diri, akan tetapi buru-buru dia memperbaiki ucapanya setelah melihat wajah Suri yang berubah datar dan dingin.
"Maksudku selama kita disini. Rasanya kurang pas saja jika liburan seorang diri. Kita butuh teman."
Suri menjawab dengan senyuman. Benar kata Joe, ia membutuhkan teman. Karena pasca malam mengerikan itu, kala Suri sedang sendirian rasa takut dan was-was menghampiri. Terlebih sekarang Suri memaksakan diri untuk traveling seorang diri.
Jika bukan karena tekad kuat, tak ingin menghambur-hamburkan uang. Mungkin saja Suri enggan untuk pergi seorang diri ke Maldives.
Karena pasca kejadian pelecehan dan kekerasan yang dilakukan Yosan ada sesuatu yang lain dalam Suri. Ia selalu merasa was-was jika bertemu dengan orang dengan ukuran tubuh yang besar.
Bahkan hingga saat ini Suri masih menghindari pergi di malam hari.
Suri berjalan di bibir kolam renang, kemudian melepas kimono. Secepat kilat tubuhnya meluncur ke dasar kolam renang.
Bergerak seperti seekor lumba-lumba, kemudian muncul di tengah kolam renang. “Kau bisa berenang? Jangan jadi penonton!” Bibir Suri jelas sekali mencibir Joe yang terpaku menatap dirinya.
Joe tak menjawab dia berdiri kemudian melepas kemeja yang dia kenakan. d**a bidang dengan otot-otot perut yang nampak jelas. Sinar matahari membuat tubuh Joe berkilau. Pria itu semakin terlihat menawan.
Gugup kembali menyerang Suri. Sedikit penyesalan mengapa dia harus menantang Joe berenang.
Tak berhenti di situ, Joe segera melepas celana pendek yang ia kenakan. Kini pria itu hanya mengenakan celana bokser pendek dan melangkah mendekati pinggiran kolam renang.
Dada Suri bergetar hebat. Joe kali ini mengerikan. Dia menawan tapi bagi Suri hal itu menyeramkan.
Bayang-bayang begundal yang melepas celana di hadapnnya malam itu kini kembali hadir. Bagaimana jika pria itu berbuat macam-macam? Batin Suri dengan tubuh bergetar.
Suri mundur perlahan, ingin lari.
Berada di panti dengan baju renang atau bikini adalah kesukaan Suri. Namun tidak sekarang, betapa menyesal sekarang dia baru menyadari jika badan hanya berbalut bikini.
Jika Joe berbuat asusila tentu akan mempermudah kinerja pria itu, dengan kostum yang Suri kenakan saat ini. Terlebih lagi mereka sekarang di dalam kamar hotel berdua.
Nafas Suri sesak, kepalanya kembali pusing.
Dalam hitungan detik perutnya terasa diaduk-aduk, Suri mual.
Sedangkan Joe telah meluncur dan berenang ke arah Suri. Tubuh Suri yang tak stabil berjalan di dalam kolam lalu terpeleset. Suri kemudian memutar tubuhnya berusaha keras menghindari Joe.
Namun, pria itu justru berenang jauh lebih cepat dari perkiraan. Suri merasa Joe tengah mengejarnya lalu menikam.
Kepala Suri kembali muncul di pinggir kolam. Terengah-enggah dengan wajah panik.
Joe yang berdiri tepat di samping Suri sadar sesuatu tengah terjadi. “Ada apa Suri?” Joe menyentuh lengan Suri.
Dengan kasar Suri mengibaskan sentuhan Joe. “Jangan sentuh aku!” pekik Suri keras. “Menjauh dari aku Joe.”
Wajah Joe masam. Dia mundur dan keluar dari kolam. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Suri, tanpa sedikit pun menatap kebelakang.
***
Rumah minimalis berlantai dua itu tampak sepi. Ya, biasanya memang sepi hanya dihuni dua orang. Yosan dan Suri. Namun sejak kejadian kekerasan itu rumah itu tak lagi berpenghuni.
Yosan lebih memilih tinggal bersama orang tuanya. Dia benci jika harus pulang tanpa Suri.
Setelah satu bulan dia berpisah dengan Suri, pagi ini dia menyempatkan pulang.
Mobil Yosan berhenti tepat di halaman rumah, dia enggan turun. Sejenak menatap rumah minimalis itu dengan tatapan pilu.
Terlihat tanaman di teras lunglai, tidak ada bunga yang mekar seperti beberapa bulan lalu. Bahkan sebagian sudah ada yang mati. Daun-daun kering berserakan di teras, termasuk debu yang terlihat jelas di kaca jendela.
Yosan menarik nafas pelan lalu turun dari mobil. Ada perasaan menyesal mengapa perpisahan dengan wanita yang begitu dia cintai harus berpisah.
Seadainya Suri bisa mengerti dan tidak mudah cemburu dengan Rachel, semua ini tidak akan terjadi.
Yosan bukan menginginkan Rachel tapi jabatan yang dia tawarkan. Dengan cara itu dia bisa mendapatkan singgasana itu.
Berkali-kali Yosan menggerutu. Kadang kala dia juga menyalahkan diri sendiri mengapa begitu keras pada Suri. Tapi tak bisa dipungkiri Yosan benci tidak mendapatkan kebebasan.
Yosan melewati ruang tamu, lalu menuju kamar. Kamar pribadi tempat dia tidur bersama Suri. Tidak ada yang spesial kecuali foto mereka berdua yang masih berdiri kokoh di dinding.
Kemudian Yosan membuka lemari, terlihat seluruh baju Suri tertata dengan rapi. Dia pergi tak membawa sehelai baju pun. Pandangan Yosan terpanah dengan bilik lemari gantung.
Lingerie warna warni tergantung di sana. Itulah baju tidur yang biasa Suri kenakan. Yosan menyentuh satu persatu, teringat bagaimana cantik dan menggairahkan Suri ketika mengenakan lingerie.
Yosan berkali-kali mengumpat dalam hati, tak terima hidupnya harus tanpa Suri.
Dari sekian banyak lingerie ada satu yang belum pernah Yosan lihat. Lingerie warna putih, seluruhnya transparan. Belahan dadanya terlihat dalam dan lingerie itu sangat pendek.
Yosan mengeluarkan lingerie itu dari dalam lemari. Bandrol harga dan merk masih menyatu. Semuah lingere baru yang sama kali belum pernah dikenakan.
Kemudian Yosan memutuskan untuk pergi lebih cepat dengan membawa lingerie putih itu. Semakin lama dia di rumah itu semakin tersiksa.
Dia mulai bersumpah akan membawa Suri kembali ke rumah ini. Bagaimana pun caranya.
Siksaan perihal Suri belum bukan hanya itu saja. Surat gugatan perceraian telah berada di atas meja kerjanya.
“b*****h!” Yosan membuang surat-surat itu ke pojok ruangan.
Dan sialnya belum lima menit kejadian itu berlangsung, sosok wanita cantik dengan setelan jas dan rok pendek memasuki rungan Yosan.
“Ada apa Pak Direktur? Berantakan sekali ruangan anda?” tanya Rachel dengan nada sangat santai.
Yosan hanya menyunggingkan bibirnya.
Rachel langsung berjalan ke arahan kertas yang berserakan dan meraih seluruh kertas tersebut. Membacanya sambil duduk kursi tepat di depan Yosan.
“Serahkan padaku!” ucap Yosan ketus. “Kau tidak berhak membacanya!”
“Jika aku memaksa, lalu kenapa?” Rachel tetap fokus menatap kertas di tangan.
“Rachel! Aku tidak suka dengan orang keras kepala.” Yosan terus menatap Rachel dengan geram.
Bibir Rachel tersenyum ke samping. “Aku memang keras kepala.” Lalu dia meletakan tumpukan kertas itu tepat di hadapan Yosan. “Aku kembalikan surat perpisahan ini.”
“Kau tampak senang aku bercerai?” tanya Yosan semakin panas.
Rachel berdehem mengabaikan pertanyaan Yosan. "Kamu melakukan kekerasan?" Rachel menatap Yosan dengan mata tak berkedip.
"Tak sengaja," jawab Yosan singkat. “Dia juga menamparku.”
Ucapan Yosan terkesan lucu bagi Rachel. Membuat wanita muda itu tertawa. “Kalian seperti anak kecil.”
“Wanita yang cemburu memang seperti anak kecil. Tidak terkecuali kau.”