“Sudah cukup kau bawa koperku sampai sini, biar aku bawa sendiri ke kamarku.” Suri memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Joe.
“Aku antar koper ini sampai depan pintu. Kau tinggal menyebutkan nomor kamarmu.”
Jelas-jelas petugas hotel siap untuk membantu Suri membawa kopernya, tapi kini Joe malah susah-susah membantu. Suri yang sudah lelah enggan berdebat dan akhirnya menjawab, “kamarku 8c.”
Joe benar-benar membawa koper milik Suri hingga depan pintu kamar. Kemudian ia sendiri segera pergi ke kamarnya.
***
Sebuah kamar hotel mewah berpadu dengan alam yang eksotis.
Suri benar-benar terkesima. Ini jauh lebih indah daripada yang aku bayangkan, bisik Suri dalam hati. Sebuah ranjang besar yang menghadap laut. Dengan balkon yang menyatu dengan kolam renang dan terhubung dengan bibir pantai.
Kamar mandi yang dilengkapi dengan bathtub dan fasilitas kamar hotel yang mengagumkan. Suri benar-benar mengagumi tempat ini.
Tak lama kemudian dia membanting tubuhnya ke ranjang. Menikmati aroma wangi ruangan itu dan gerung ombak di luar sana. Suri memejamkan mata sejenak, rileks.
Tak lama kemudian ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang tak dikenal.
“Hallo,” ucap Suri.
“Kau di mana Suri?” Suara yang sangat Suri kenali.
“Untuk apa kau ingin tahu keberadaanku?” Nada kesal Suri tak tertahan.
“Aku merindukanmu sayang, mengapa kau tega kirim pengacara sialan itu ke kantorku? Sumpah demi tuhan aku tidak akan meninggalkanmu.” Suara Yosan terdengar lembut dan merayu.
“Aku yang meninggalkanmu!”
“Suri percayalah aku terbaik untukmu.”
Dengan cepat Suri memotong pembicaraan Yosan, emosinya sudah tak terbendung. “Dan tidak akan ada pria yang mau denganku! Itu yang ingin kau katakan!”
“Kau tahu sendiri bagaimana keadaanmu Suri.” Dari tutur kata Yosan, pria itu sedikit pun tidak merasa bersalah.
Tanpa menunggu lebih lama lagi sebelum pria itu bicara panjang lebar, Suri lebih dahulu mengakhiri telepon itu. Lalu memblokir nomor Yosan. Kemudian melempar ponselnya di ujung tempat tidur.
Suri kini berjalan ke arah kolam renang dengan jantungnya berdebar keras. Sejak kejadian buruk itu, mendengar suara Yosan selalu saja marah dalam diri tak terkendali.
Dengan emosi yang masih tak terkendali, Suri merasa terjun ke air bisa membuat suasana hatinya jauh lebih nyaman.
Lantas ia mengambil baju renang yang di simpan dalam koper. Dan mengganti pakaiannya dengan baju renang.
Suri melesat ke dalam kolam renang.
Badannya meliuk-liuk indah membelah air. Dan benar saja, berenang bisa membuat jauh lebih segar.
Baru saja berenang dua kali putaran, bel berbunyi sebanyak tiga kali. Suri lekas keluar dari dalam kolam renang kemudian meraih kimono di atas meja yang telah disiapkan oleh pihak hotel.
Lalu buru-buru membuka pintu.
“Oh Joe, ada apa?” tanya Suri terkejut dengan kedatangan pria itu lagi.
Joe mantap heran wajah dan rambut Suri yang basah. “Kau berenang?”
“Ya, baru saja.”
“Aku pindah di samping kamarmu. Jika membutuhkan bantuanku kau bisa panggil aku.” Joe tersenyum manis ke arah Suri.
“Hanya itu?” Suri tak sedikit tak yakin jika pria itu susah payah pindah kamar hanya memberitahu hal tak penting semacam itu.
"Ya. Dan ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu Joe?" Suri membuka pintu lebar penasaran dengan pernyataan Joe.
Joe terdiam sesaat, berpikir sesuatu yang masuk akal. Mengapa dia harus bicara sedikit lebih lama dengan Suri.
“Apa yang ingin kau tanyakan Joe?” tanya kembali Suri.
“Oh…apakah kau punya obat mual? Aku khawatir tidak bisa tidur nanti malam karena mabuk laut. Maklum saja baru kali tidur di pinggiran pantai." Ini sebenarnya tidak masuk akal. Tapi Joe tak pandai berbohong, sedangkan ia merasa perlu lebih lama lagi untuk bicara dengan Suri.
“Aku punya. Silahkan masuk!” Suri membuka pintunya lebih luas.
Suri membuka pintu lebih lebar mempersilakan Joe masuk. Dalam hati Joe bersorak gembira, Suri menerima keberadaannya.
Tentu kesempatan ini tidak dilewatkan. Dan berjanji pada diri sendiri meskipun di kamar hanya berdua sejengkal pun dia tidak akan menyentuh Suri, yang sudah memiliki suami.
Suri membuka kopernya. Mengeluarkan satu demi satu barang di dalamnya. Tetapi pouch khusus obat-obatan yang sudah ia siapkan sebelum berangkat tak ditemukan.
“Sepertinya aku lupa menaruhnya.” Suri tersenyum malu ke arah Joe.
Joe mengangkat bahu. “Tidak masalah aku sabar menunggu.”
Tatapan Joe yang berbinar membuat Suri sedikit gugup. Kemudian Suri bangkit dan berkata, “aku membawa beberapa biskuit, makanan, mie instan dari Burston. Sebentar aku akan siapkan untukmu. Silahkan duduk dimanapun tempat yang kau sukai.” Ini cara agar pria itu berhenti menatap dirinya.
“Apakah aku tidak merepotkanmu?”
Suri melangkah ke arah nakas dan meraih tote bag yang berisi makanan ringan lalu dia berikan pada Joe. “Tidak.”
Joe menerima tote bag itu.
“Aku akan duduk di balkon.” Joe melangkah keluar meninggalkan Suri.
Setelah Joe melangkah ke balkon, Suri kembali mencari tas kecil berisi obat-obatan. Setelah sepuluh menit, dua koper yang dikeluarkan isinya semua. Barulah obat mual ditemukan.
“Ini untukmu!” Suri meletakan nampan yang berisi dua gelas oren jus lengkap dengan obat mual; tiga butir. “Anggap saja ini ucapan terima kasih kau telah banyak menolongku.”
Joe tersenyum. “Kau pintar berterimakasih.” Tangan pria itu kemudian meraih gelas itu dan minum hingga separuh. Oren jus di sore yang begitu terik memang kombinasi yang cocok.
“Dan juga permintaan maafku sempat bicara tidak sopan padamu waktu itu.” Spontan nada suara Suri merendah, menahan malu.
"Tidak perlu dipikirkan." Joe tersenyum tipis.
Suri tak langsung bereaksi, kini bola matanya tertuju ke arah pantai. "Aku pikir hanya aku yang single traveler. Ternyata kau juga sendirian." Sedikit pun dia tak ada keberanian menatap Joe.
"Sudah lama sekali aku ingin mengunjungi tempat ini. Jika menunggu aku punya pasangan, rasanya akan sulit sekali. Ibuku pun menolak ajakanku."
“Pria sepertimu akan mudah jika ingin punya pasangan.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Suri.
“Jika aku kemari dengan seseorang. Yang aku inginkan dia adalah pasangan hidup.” Joe terdiam sesaat, begitu juga dengan Suri dengan wajah yang datar.
Kalimat yang diucapkan Joe sesuatu yang mengabarkan keinginan Suri di masalalu. Faktanya dia harus liburan seorang diri.
“Mengapa seorang diri pergi kemari? Bukankan bersama suami akan jauh lebih romantis?”
Suri buang muka, tersenyum getir. Matanya menatap ombak di laut yang meliuk-liuk. "Aku berpisah dengannya."
Kedua mata Joe terbelalak, tak percaya. "Sungguh?"
Kini ia baru mengerti mengapa Suri yang sekarang jauh lebih terbuka dari Suri yang ditemui di bawah rintik hujan. Yang menghardik, hanya karena berniat memberi tumpangan karena sudah bersuami. Saat ini status Suri tidak lagi sama.
Suri mengangguk dua kali, sambil meraih segelas lalu mencicipi sedikit.
"Aku sedang dalam proses perceraian. Karena dia," ucap Suri tak kuasa melanjutkan ucapannya. Wajah menunduk lesu, rasanya ia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya.