Joe dengan penuh percaya diri duduk di samping Suri. Seperti biasa pria lesung pipi itu kini tersenyum sambil menyapa Suri tanpa peduli suasana hati Suri saat ini.
"Kau duduk di sini?" Suri tampak tak yakin dengan apa yang Joe lakukan.
Joe mengangkat bahunya. "Kenapa tidak? Aku sudah bicara dengan pramugari. Mereka mempersilahkan."
"Yeah," ucap Suri dengan senyuman yang dipaksakan dan hal itu jelas bisa dibaca Joe.
"Apakah kau keberatan?" tanya Joe.
"Tidak." Suri terdiam sesaat. "Asal kau tak banyak bicara kali ini."
Lagi-lagi Joe senyum kemudian tertawa. Entah mengapa pria itu mudah sekali tertawa dengan hal-hal yang biasa saja, dan ini sedikit membuat Suri risih. "Ya aku tahu kau sedang ingin sendiri."
Dan hal itu benar Joe lakukan.
Empat jam penerbangan dari Burston ke Maldives terbilang cukup panjang. Sudah satu jam mereka di dalam pesawat, Joe lebih sibuk dengan buku bisnisnya.
Dan Suri sibuk menatap awan sambil mendengarkan musik dan tak terasa kantuk mulai menghampiri. Suri mulai terpejam. Lalu terlelap.
Joe menatap wajah Suri yang bersandar jendela pesawat. Lugu dan manis.
Meskipun wajah Suri bersih dari make up, wanita yang kini duduk di sampingnya begitu menawan.
Seandainya Suri wanita lajang, tentu saja Joe tidak akan segan-segan mendekati.
Akan tetapi saat ini untuk jadi teman pun mustahil, apalagi mencoba mendekatinya.
Dua mata Joe terpejam, dia ingin tidur. Hanya dengan cara itu, yang ampuh menghilangkan pikiran yang mulai bercabang-cabang.
Seandainya dia tak nekat pindah tempat duduk mungkin otaknya tidak akan berfikir macam-macam seperti sekarang ini.
Satu jam berlalu, Suri terbangun dari tidur. Lalu menatap jam tangan di lengannya. Perjalanan masih satu jam lebih.
Kemudian tatapannya beralih ke sosok samping yang juga tengah terlelap, buku ditangan Joe sedikit menarik perhatiannya.
Perlahan-lahan Suri menarik buku itu dari rangkulan tangan Joe. Spontan pria itu kaget.
“Upps maaf,” kata Suri sambil tersenyum malu-malu. “Aku penasaran dengan bukumu.”
“Kau mau baca?” tanya Joe sambil menyerahkan buku itu.
“Jika diperbolehkan.”
“Tentu.”
Suri langsung membaca beberapa lembar buku tersebut. Tapi tidak terlalu menarik untuknya.
Dan buku itu hanya bertahan sepuluh menit kemudian dia kembalikan kepada sang empu.
"Kau tak suka baca buku?" tanya Joe.
"Aku suka novel atau non fiksi yang menurutku menarik saja." Suri mengangkat bahu.
Joe mengeluarkan bungkusan roti yang dia beli di bandara. "Kalo ini kau pasti suka!"
Suri tersenyum, kemudian mengangguk. Siapa yang tak suka dengan roti dan di dalamnya terdapat coklat yang meleleh?
Suri pun tak menolak pemberian Joe, dan dari situlah percakapan mereka dimulai.
Tidak terlalu buruk jika berteman dengan orang baru. Bukankah itu salah satu cara untuk membuka lembaran baru, setelah melewati masa suram? Apalagi sekarang status janda. Itu yang sekarang ada dalam pikiran Suri.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” celetuk Joe dengan nada suara rendah.
Senyum Suri jelas nampak terpaksa. “Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”
“Apakah kau tidak pergi ke psikiater atau psikolog pasca kejadian itu?”
“Untuk apa?” Mata Suri kini menatap Joe dengan sangat serius.
“Kekerasan dalam bentuk apa pun bisa meninggalkan luka pada diri seseorang. Dan sama seperti sakit fisik kita butuh dokter yang membantu kita mengobati luka itu.” Joe tersenyum kembali kemudian melanjutkan ucapannya. “Dukungan orang sekitar juga penting. Apakah suamimu tahu hal itu?”
Suri tertunduk lesu. Rasanya air mata tak terbendung, ucapan Joe benar tapi justru mengorek luka yang dia tutup rapat-rapat. “Maaf Joe aku sedang tidak ingin membahasnya.”
“Maafkan aku Suri.” Wajah Joe berubah datar, rasanya dia menyesal telah membuat wanita disampingnya sedih.
Saat itu Joe hendak pulang, namun di tengah jalan dia mendapatkan panggilan untuk segera kembali ke cafe karena ada masalah. Dia yang mendapati sosok wanita yang terkapar bahu jalam di antara dua pria, membuat suasana hatinya tidak nyaman.
Joe memutuskan untuk membanting stir dan menghampiri mereka. Dan barulah dari jarak dekat Joe menyadari sosok wanita itu.
Pelecehan yang dialami Suri dan dilihat langsung oleh Joe, sungguh menyedihkan. Oleh sebab itu dia bisa mengerti mengapa saat ini Suri enggan banyak bicara akan hal itu.
Namun, diakui Joe jika Suri sosok yang hebat. Pasca kejadian pilu itu wanita itu masih tampak biasa saja, hanya saja tubuh yang semakin kurus.
Suri berdehem coba mengalihkan pembicaraan. “Kau pemilik Sky Night Cafe, kupikir kau staff di sana?”
Kali ini Joe tersenyum, lesung pipinya nampak begitu dalam menghiasi wajahnya yang begitu manis. “Bisa dibilang begitu, aku masih merintis.”
“Aku nyaris tak percaya, kau lebih muda dariku Joe tapi luar biasa kreatif. Sebenarnya aku sangat suka sekali Sky Night Cafe hanya saja.” Suri terdiam wajahnya sedikit murung teringat Yosan kepergok selingkuh di sana.
“Hanya apa?” tegas Joe.
"Kenangan buruk di sana. Sorry Joe aku tak ingin membahasnya."
Belum sempat Suri melanjutkan ucapannya, suara peringatan dari dalam kabin pesawat terdengar.
Jika kurang dari lima belas menit lagi mereka akan sampai di Bandara Internasional Valena, Maldives.
Dan ini menjadi kesempatan untuk Suri lari dari pembicaraan itu. Dia tidak ingin mengungkit kenangan buruk di cafe itu. Saat ini adalah waktunya bersenang-senang bukan mengenang masa lalu.
Setelah keluar dari bandara para rombongan tour naik mobil yang telah di siapkan untuk menuju pelabuhan. Untuk menuju ke pulau Maafushi.
Dan lagi-lagi Joe tak bisa membiarkan perempuan manis seperti Suri harus susah payah mengangkat koper besar ke dalam bagasi bis.
“Serahkan padaku!” pinta Joe. Dan Suri hanya bisa tersenyum pasrah dengan permintaan itu.
Perjalanan menuju dermaga tidak terlalu jauh, kurang dari dua jam. Dan hal itu dipergunakan oleh pemandu wisata bicara tentang tempat mana yang bakal mereka kunjungi nanti. Termasuk bicara penginapan di tengah laut, yang bakal nantinya mereka tempati.
“Empat hari tiga malam kita akan bersenang-senang. Saya harap kalian menikmati perjalanan ini!” Itulah akhir pidato sang pemandu wisata.
Semua nampak bersorak bergembira. Ada pula yang tepuk tangan meriah.
Suri pun tak ketinggalan dia ikut tepuk tangan. Akhirnya setelah menginjak bumi Maldives pikiran tentang Yosan akhirnya lenyap.
Sesampainya di pelabuhan para rombongan disambut oleh dua orang dengan baju seragam putih. Mereka adalah awak kapal beserta nahkoda.
Semua dipersilahkan untuk segera masuk ke dalam privat speedboat, yang ukurannya terbilang cukup besar untuk ukuran kapal motor. Dengan kapasitas lima belas orang.
Suri langsung mencari tempat duduk samping jendela, tak ingin kehilangan momen dimana dia ingin melihat laut dan pantai yang indah di Maldives.
Lima belas menit berlalu speedboat melesat dengan kecepatan sedang.
Cuaca yang cerah dipadukan dengan hamparan laut biru dengan pasir putih bersinar. Benar-benar memanjakan para pelancong. Suri tak henti-hentinya mengagumi apa yang dia lihat kali ini.
Rasanya semua letih dan kepayahan selama ini benar-benar hilang dari pundaknya.
Berkali-kali Suri mengucapkan syukur, tidak membatalkan paket liburan ini. Hampir saja karena Yosan dia enggan untuk berangkat.
Nyatanya liburan seorang diri tidak kalah menyenangkan.
Sesampainya di pulau Maafushi, speedboat berhenti di sebuah dermaga yang terbuat dari kayu dan bambu. Luasnya pun tidak seberapa.
Para rombongan disambut oleh para pria yang bermain musik dengan gendang. Dan masing-masing peserta tour diberikan kalung bunga sebagai ucapan selamat datang.
Hamparan laut lepas terbentang di sepanjang dermaga, batu karang dan pasir putih tampak kelihatan dari atas. Terlihat dari kejauhan beberapa orang sedang bermain pasir pantai.
“Nomor kamarmu berapa?” tanya Joe pada wanita yang berjalan di sebelahnya.
Suri menatap Joe serius, ragu untuk menjawab. Untuk apa pria itu bertanya letak kamarnya.