Tiga hari sudah Suri berada di dalam kamar, menatap layar komputer dengan pikiran begitu kosong. Padahal ada beberapa desain iklan diambang dateline.
Kejadian buruk itu membuat gagasan di dalam kepala Suri seakan mati. Setiap kali mengingat dua berandal dan Yosan yang memukulnya membuat kepala Suri terasa sakit.
Bahkan kata-kata Yosan yang begitu menyakitkan seperti nyanyian sumbang di dalam kepalan.
“Tidak ada pria yang mau hidup denganmu.”
“Kau tak bisa memberiku keturunan.”
“Kau begitu mengecewakan.”
Jika kalimat-kalimat itu sudah berputar-putar lincah di dalam kepala Suri, perutnya mulai bergejok dan merasakan mual begitu hebat.
Suri kehilangan keseimbangan berpikir. Dan hasilnya dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan semaksimal mungkin. Dan ini sebenarnya bahaya untuk kedepannya karena sebagai digital marketing kreatifitasnya tidak boleh menurun.
Bahkan untuk makan pun Suri tak lagi berselera. Jika bukan karena ibunya yang terus menerus cerewet memintanya untuk makan masakannya dia tak akan makan.
Kini pandangannya menatap ke pojok ruangan, tepatnya di koper warna merah, satu-satunya barang yang dia bawa pergi dari rumah Yosan.
Isinya hanya surat berharga, beberapa baju yang dia sukai, barang berharga. Termasuk baju dan celana milik Joe.
Suri meraih dua benda itu kemudian menatapnya cukup lama, terbayang-bayang bagaimana pria itu begitu gagah perkasa melawan begundal yang coba melukai Suri. Belum lagi setiap tutur kata yang tenang.
Saat inilah Suri baru menyadari jika pria itu sebenarnya cukup menarik. Menarik siapapun wanita yang bertemu dengannya.
Suri meraih ponselnya kemudian membuka aplikasi i********: dan mencari kolom pencarian dengan nama “Joeslin.”
Dan berhasil, Suri mendapatkan akun i********: pria itu.
Di beranda hanya ada sepuluh koleksi foto, delapan diantaranya bergambar pemandangan alam dan gambar Sky Night Cafe. Dua sisanya gambar Joe.
Suri menatap gambar Joe dengan kue ulang tahun bertuliskan angka 30 tahun. Itu artinya pria itu jauh lebih mudah tiga tahun dari Suri. Senyuman Suri mengembang sempurna, Joe benar-benar menarik.
Atau ini hanya perasaan Suri yang sedang labil pasca perceraian?
Pandangan Suri beralih ke koper yang masih terbuka. Sebuah tumpukan kertas berserakan terselip di antara baju-baju.
Kwitansi pembayaran, tiket pesawat dan brosur paket liburan ke Maldives.
Air mata kembali menetes. Sebuah kejutan untuk Yosan yang sudah disiapkan satu bulan lalu kini telah kandas.
Paket liburan eksklusif ke Maldives, pulau impian Suri bersama Yosan kini telah sirna.
Tiket pesawat atas nama Yosan dengan sengaja Suri hancurkan dan dimasukan ke dalam tong sampah. Kemudian dia menatap kembali brosur di atas tempat tidur.
Ribuan pulau dengan pantai indah di dalamnya. Membayangkan bagaimana dia berenang dengan mengenakan bikini merah jambu yang sudah dia siapkan sambil menikmati matahari tenggelam, bersama dengan Yosan.
Dan itu hanya bayangannya di waktu itu. Justru sekarang membayangkan semua itu justru membuatnya mual.
Suri membanting tubuhnya ke ranjang. Kemudian menutup wajah dengan kertas di tangan.
Satu menit.
Lima menit.
Suri telah memutuskan sesuatu yang besar di hidupnya. Jika Yosan tidak bisa dipertahankan, tapi dia tidak boleh kehilangan ratusan dolar dengan sia-sia.
***
Satu minggu kemudian.
Suri memeluk erat tubuh Fione dengan sangat erat. Sambil menyakinkan ibunya itu jika semua baik-baik saja. “Aku hanya butuh waktu untuk sendirian beberapa saat,” ucap Suri dengan lembut.
Lalu berganti memeluk Herry, sang ayah. Wajah pria usia enam puluh tahun itu sedikitpun tak bisa tersenyum dengan kepergian Suri. Bahkan sudah beberapa kali mencoba menghalangi kepergian Suri, namun tetap saja keputusan putrinya itu tidak bisa dibatalkan.
“Aku hanya pergi liburan. Kalian bisa hubungi biro travel jika tak percaya aku pergi liburan, bukan menghilang.” Suri tersenyum haru menatap dua wajah yang begitu mencemaskan keadaannya.
“Kau bisa ke Singapura. Di sana kau bisa tinggal dengan kakakmu,” ucap Fione, ibunya dengan tutur yang begitu lembut..
Bibir Suri tersenyum dengan begitu hangatnya. “Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun.”
Tak berselang lama Suri mantap melangkah memasuki pintu kaca besar yang dijaga oleh penjaga khusus bandara.
Salah seorang pegawai biro perjalanan menyapa Suri, sambil memberikan name tag dan sebungkus makanan ringan.
“Silahkan ikuti saya untuk berkumpul dengan peserta lain,” kata pria itu sambil mengulurkan tangan ke samping.
Suri mengangguk sambil ikut melangkah di belakang pegawai itu. Ini paket liburan eksklusif, total yang berangkat sepuluh orang. Namun, berkurang satu setelah nama Yosan dicoret dari daftar peserta.
Semua yang berangkat rata-rata berpasangan. Jika bukan bersama pasangan mereka pergi bersama sahabat atau sanak keluarga.
Dan diantara mereka Suri mengenal sosok yang cukup dia kenal. Pria dengan tubuh kekar bermata sipit menatap ke arah Suri.
‘Dia di sini, ikut tour?’ batin Suri.
Jagad raya ini luar biasa luasnya, tuhan menciptakan ribuan pulau dan ratusan manusia mengapa harus bertemu dengan sosok itu lagi. Suri menggerutu dalam hati.
Kepergian kali ini Suri hanya ingin sendiri tanpa sosok yang mengenalnya. Hanya itu. Tapi alam juga tidak merestui itu.
Suri tetap berjalan dengan langkah kaki yang malas melangkah.
“Hallo akhirnya kita berjumpa lagi?” sapa Joe sambil mengulurkan tangan dengan senyuman khas yang teramat manis. Lesung pipinya nampak begitu jelas membuat pria itu semakin elok untuk dipandang.
Sepertinya dia sudah kembali ke jati dirinya yang luwes.
Suri membalas uluran tangan Joe. “Ya kita berjumpa lagi.” Sungguh ini di luar dugaan, bisa bertemu dengan Joe.
Dan yang membuat malu Suri ialah hampir sebulan baju dan celana Joe belum dikirim.
“Kau sendirian? Mana sua…”
Suri langsung memotong ucapan Joe. “Aku sendirian.”
“Oh maaf,” ucap Joe sedikit malu dengan jawaban Suri.
Kemudian Suri melangkah pergi ikut dalam gerombolan para pelancong lainnya. Rasanya dia tidak ingin terlalu dekat atau akrab dengan pria pun selama proses perceraian.
Dari kejauhan mata Joe terus memantap sosok Suri, ada yang berbeda dengan wanita satu ini.
Yang pertama, tubuhnya jauh lebih kurus.
Yang kedua, dia terlihat murung. Seharusnya keberangkatan tour ini bisa membuat semua orang bahagia, namun kenapa dia terlihat tidak antusias?
Joe penuh tanda tanya.
Suri duduk di samping jendela, pandangannya terus ke arah luar. Dia lebih tertarik dengan orang-orang yang sibuk di bawah pesawat, dari pada menatap pramugari sedang memberikan demo.
Lebih tepatnya dia sedang berusaha untuk tidak mengingat pria itu lagi. Pria yang seharusnya duduk di sampingnya. Dan bangku itu saat ini kosong.
Sedangkan para peserta tour lainnya sedang asik mengabadikan moment mereka dengan foto berdua. Sungguh ini suatu siksaan tersendiri bagi Suri.
Empat tahun menikah dan kini dia belum terbiasa menerima garis takdir sebagai janda.
Tiga menit berlalu, sesuatu mengejutkan Suri.