“Kenapa kau bicara dangen Joe lama sekali?” tanya Suri.
“Ada yang salah?”
“Apa kau bicara sesuatu tentangku pada Joe?”
Ana menatap Suri begitu serius. “Bahkan kami tidak membicarakanmu!”
“Jadi dia tidak tahu aku di sini?”
Kini tawa Ana pecah. “Mobill Ana itu canggih! Kaca mobil ini semua privacy glass! Dijamin seribu persen Joe ngak lihat kamu.”
Akhirnya kini Suri bisa bernafas lega, jika apa yang dia bayangkan tidak seburuk itu. Rasanya sejak kejadian malam mengerikan itu Suri sulit sekali mengontrol emosi. Yang jelas dia mudah marah dan juga panik.
“Kenapa sih kok panik gitu?” tanya Ana.
***
Butuh beberapa hari untuk Suri pulih dan benar-benar kuat untuk keluar dari rumah Ana. Tiga hari sudah cukup lama dia bersembunyi meratapi kesedihan yang cukup menyiksanya.
Yosan sebenarnya sudah berkali-kali minta maaf dan meminta salah paham diantara mereka segera dilupakan. Namun, Suri sudah yakin tidak ingin lagi bersama Yosan.
Suri memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Dan Ana dengan senang hati mengantar Suri.
Dengan memar yang sudah tak ketara, jiwa yang jauh lebih tenang Suri bisa menjelaskan kepada orang tuanya apa yang sebenarnya terjadi.
“b*****h itu membuatku marah besar,” komentar pertama Herry setelah mendengar pernyataan putrinya. “Akan kuhajar dengan tanganku sendiri!”
“Ayah, saat ini bukan saat yang tepat untuk hal itu. Aku sudah bukan istrinya lagi. Ayah bisa membantuku untuk mencari pengacara yang membantu proses perceraianku.” Suri berusaha sekuat tenaga agar Herry tidak dikuasai emosinya.
Khawatir jika Herry benar-benar bertemu dengan Yosan padahal untuk berjalan saja kadang kala Herry harus mengenakan tongkat.
Fione menepuk bahu suaminya. “Jangan kau marah saat seperti ini kasihani jantungmu. Fokus dengan putrimu, Pak Tuaku.”
“Aku sendiri yang akan mencari pengacara dan memastikan perceraian kalian berjalan mulus!” Herry menarik nafas panjang sambil menyandarkan tubuh di bahu sofa.
Ana bukan hanya mengantar Suri pulang ke rumah orang tuanya tapi juga pergi ke rumah orang tua Yosan. Mereka berhak tahu betapa buruk, anak laki-lakinya.
Dengan keraguan yang menyelimuti hati, Suri bertekad untuk bicara dengan mertuanya tentang perceraian mereka, termasuk kekerasan fisik yang dilakukan pria j*****m itu.
Tak butuh lama, tiga puluh menit mereka telah sampai di pekarangan keluarga Viktor.
Wajah keriput dengan kacamata katarak pria itu menatap sinis ke arah luar, di mana Suri bersama Ana melangkah mendekatinya.
Suri membungkukkan badan sambil mengucapkan salam. Namun, pria itu enggan bereaksi.
Beberapa detik berikutnya Mei Ling muncul dari balik pintu bersama sosok yang cukup Suri kenal. Pria bermata sipit dengan perban di pipi kirinya.
Yosan tersenyum menjijikkan di belakang ibunya.
“Mau apa kau ada di sini?” sapaan Mei Ling khusus menyambut Suri.
Suri tetap berusaha tersenyum, lututnya sedikit bergetar menatap Yosan. Jiwanya sedikit terguncang namun tetap memutuskan untuk tetap tegak berdiri.
Jemari Ana meraih telapak tangannya, meremas kuat seakan memberikan kekuatan untuk Suri.
“Kita perlu bicara Pa, Ma,” ucap Suri lemah lembut.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Viktor dengan suara yang keras mengerikan.
Suri baru menyadari dari pria itu benar-benar mirip Yosan ketika sedang marah. Kaku dan begitu mengerikan.
“Tentang aku dengan Yosan.”
Suri dan Ana masih dipersilahkan duduk di kursi teras rumah. Yosan ikut duduk di antara kedua orang tuanya. Wajahnya putih namun tidak bisa menutupi betapa masam dia saat ini.
Dia lebih memilih bungkam, hanya saja dua mata sipit itu yang terus menatap Suri penuh intimidasi.
“Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!” tutur Viktor mengerikan.
“Kami hendak bercerai Pa.” Belum selesai Suri melanjutkan kalimatnya Viktor langsung memotong dengan kalimat, “bagus.”
Nafas Suri terasa berat. Namun Ana berkali-kali meremas tanganya berusaha menyakinkan Suri jika dia bisa menghadapi mertuanya yang culas. “Yosan tengah melakukan kekerasan dan dia berselingkuh.”
Suri meraih ponselnya kemudian mengirim foto Rachel dan Yosan ciuman, ke handphone Mei Ling dan Victor. “Bukti perselingkuhan itu sudah aku kirim ke kalian.”
Viktor langsung menatap ponselnya. Tersenyum kecut, begitu pula dengan Mei Ling tak ada bedanya.
Sial. Umpat Suri dalam hati.
“Aku mengenal Rachel dan orang tuanya sejak dalam kandungan. Kau tahu sendiri kami dekat dengan mereka sebelum kau jadi istri Yosan. Hal seperti ini kau cemburu?” Viktor sedikit tertawa ke arah istrinya.
“Sudah aku katakan berkali-kali, Rachel bagi kami seperti anak perempuan. Sama seperti kau.” Mei Ling ikut berkomentar.
Tulang rusuk Suri terasa nyeri, bagaimana bisa dia disamakan dengan jalang itu?
“Kau yang kelewat batas cemburu dan membuat anak kami terluka!” kata Mei Ling.
“Itu tidak benar! Aku jadi saksi yang masih hidup hingga saat ini. Anak andalah yang salah!” Ana berdiri dengan mata melotot mengerikan ke arah Yosan.
“Hay kau ini siapa ikut campur keluarga kami?” Yosan tersenyum kecut.
“Diam kau b*****h j*****m, menyesal aku dahulu membantumu mendapatkan Suri!” Telunjuk Ana tepat di wajah Yosan.
Suri lekas menarik tangan Ana, agar sahabatnya itu tidak semakin berlebihan.
“Mungkin Yosan telah memutar balikan fakta. Aku sudah tidak peduli. Yang jelas kami bukan suami istri lagi! Kami pamit pulang.” Suri berdiri lalu melangkah menarik tangan Ana.
Mereka telah melangkah keluar dari rumah Viktor. Sedikit menyayangkan mengapa Yosan harus berada di sini, sungguh diluar perkiraan mereka. Dan hal itu membuat kacau. Suri sedikit pun tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, kejelasan yang sebenarnya pun tidak akan merubah pemikiran soal Rachel. Keluarga Victor akan selalu membela keluarga Tan, tanpa syarat.
Namun, ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil Yosan berlari ke arah mereka dan teriak memanggil Suri.
Suri menatap Yosan. Sedangkan Ana sudah berada dalam mobil memberi isyarat untuk Suri hendak masuk mobil.
“Suri, maafkan aku,” kalimat pertama yang diucapkan Yosan cukup membuat Suri terkejut. “Kemarin itu aku tak sengaja, aku dalam keadaan emosi.”
“Tak sengaja?” Suri buang muka sambil tertawa kecut.
“Aku tahu kau akan memaafkan aku. Sungguh aku tidak ada hubungan apa pun dengan Rachel. Aku begitu mencintaimu Suri.” Yosan mendekat satu langkah dengan mata yang kini begitu teduh.