Pasca kejadian itu Suri langsung bertindak cepat.
Bertemu dengan saksi kunci Vallencia, sekertaris Yosan. Dan menawarkan tas mahal seharga ratusan dollar sebagai imbalan, jika wanita bisa memberikan fakta sebenarnya hubungan Yosan dengan Rachel.
Firasat Suri berkata jika ada hubungan haram diantara mereka.
Bukan semata hubungan kekeluargaan yang biasa disebut orang tua Yosan.
Terpaksa Suri melakukan hal nekat ini karena intimidasi yang terus menerus dilakukan oleh Yosan.
Pria itu justru menuduh Suri yang berselingkuh hanya karena dia tidak percaya jika kejadian buruk menimpa Suri semalam. Dan ada orang baik yang menolong hingga memberinya pakaian.
“Jika kau tidak bisa menunjukan siapa orang baik yang kau maksud itu, sampai kapan pun aku tidak akan percaya!”
“Kau katakan itu hanya ingin menutupi perselingkuhanmu dengan Rachel,” desis Suri sinis.
Dia tidak ingin mengatakan siapa orang yang telah menolongnya karena Suri tahu betapa bencinya Yosan dengan Joe di pertemuan pertama mereka.
Vallencia secepat kilat berhasil mengumpulkan bukti perselingkuhan Yosan dengan Rachel, tanpa menimbulkan kecurigaan seseorang. Sebuah foto ketika mereka mesra di ruang kerja Yosan.
Sebenarnya seluruh umat manusia yang berada di Perusahaan Dynasty Bintang Timur mengetahui jika Yosan tengah dekat dengan anak bos besar.
Tepat dihari yang sama ketika Suri menerima foto mesra Yosan, malam hari ketika Yosan baru sampai rumah. Dia langsung mencerca Yosan dengan sejuta pertanyaan.
“Ini apa?” tanya Suri sambil memberikan ponselnya yang menampakan foto Rachel sedang mencium Yosan.
Yosan terdiam menatap gambarnya sendiri.
“Kau katakan tak pernah berselingkuh?”
“Kau dapatkan dari mana foto ini?” Wajah Yosan kemerahan menatap Suri dengan penuh emosi.
“Tidak penting ini foto dari mana yang jelas kau telah menipuku selama ini! Kau pulang larut malam hanya alasan, agar kau bersama wanita itu!” Air mata berlinang sudah tak bisa dibendung.
Yosan berusaha meraih tubuh Suri namun berkali-kali tangan Suri berhasil menepisnya. Empat tahun pernikahan telah ternoda dan bagi Suri ini adalah kehancuran. Pria yang selama ini dia cintai dan percaya berakhir pengkhianatan.
“Jangan pernah menyentuhku!”
“Surinala dengarkan aku!” Yosan berusaha menahan emosi.
“Diam! Mulai malam ini kau bukan suamiku lagi!” Suri berteriak kencang.
Seketika itu tangan Yosan melayang ke udara dan meluncur tepat di pipi Suri. Lalu mencengkam mulut Suri. “Dengarkan aku! Kita adalah pasangan abadi! Kau tak akan bisa pergi dariku!”
Suri tak berdaya ketika Yosan beberapa kali menampar pipinya. Bahkan pria itu juga merenggut rambut Suri dengan begitu kasar dan mengambil ponsel di tangan Suri.
“Kau menuduhku hanya untuk menutupi perselingkuhan. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah memaafkan semua dosamu, termasuk tak bisa memberiku keturunan!” Yosan tersenyum sadis sambil menginjak handphone itu hingga hancur.
“Dan aku jauh lebih baik sendiri daripada seumur hidup harus bersama manusia kejam sepertimu!” Suri meringis menahan sakit di kulit kepala.
Malam ini dia bangun dari tidur panjang. Jika sebelumnya dia seperti kutu sekarang dia seperti singa betina. Matanya bisa menatap Yosan tanpa rasa takut. Rasa kecewa yang sudah tercampur kalis dengan amarah kini memberinya kekuatan untuk menantang pria itu.
“Jangan pernah macam-macam!” Yosan meninggalkan Suri yang tengah terkapar di lantai.
“Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu!” Suri tersenyum ke samping dengan suara jeritan cukup keras.
Yosan kembali menghampiri Suri kemudian sedikit bungkuk, mendekati Suri yang masih terduduk di lantai. “Perempuan yang seperti kau, hanya aku yang bisa menerima. Jika ada laki-laki yang mau denganmu itu hanya mau tubuhmu!”
“Jika memang aku ditakdirkan hidup tanpa seorang pasangan sekalipun aku terima dari pada hidup dengan manusia manipulasi sepertimu!”
“Kau yang manipulasi. Mungkin malam itu kau sengaja meninggalkan pesta untuk tidur dengan pria lain.”
Tuduhan busuk dari bibir Yosan benar-benar melukai harga diri Suri. Bahkan selama menikah empat tahun sedetik pun Suri tidak pernah berkhianat. Untuk pertama kalinya Suri menampar Yosan. Tiga kuku yang tajam cukup membuat pipi Yosan terluka.
Yosan mengerang kesakitan. “b*****h! Pergi kau dari rumahku atau kubunuh!”
Pria itu cepat-cepat melangkah meninggalkan Suri, luka di pipinya benar-benar tak tertahankan.
Susah payah Suri berdiri, dia sudah menduga jika hal ini terjadi. Dia sudah mempersiapkan jiwa dan raga jika Yosan berbuat kelewat batas. Suri telah bersumpah tidak akan diam jika tangan Yosan melukainya.
Suri akan membalas.
Kini bukan hanya wajah Suri yang perih tapi hati yang dipenuhi penyesalan mendalam. Bagaimana dia bisa menikah dengan pria kejam seperti Yosan.
Dia menangis sambil langkah ke kamarnya meraih koper yang sudah dia siapkan sejak sore. Semua barang berharga telah masuk koper, termasuk baju dan kaos milik Joe.
Dia telah berjanji pada Joe untuk mengembalikan pakaian itu lewat ekspedisi. Meskipun Joe melarangnya karena baju dan kaos itu telah menjadi milik Suri.
Pandangan mata Suri beralih ke dinding.
Sebuah gambar foto pernikahan mereka empat tahun lalu masih gagah di dinding kamar pribadi. Suri tersenyum getir, teringat dua tahun pernikahan pertama mereka yang begitu bahagia.
Yosan tak pernah berkata buruk apalagi berbuat kasar semacam ini. Akan tetapi ketika dua tahun pernikahan berlalu sikap Yosan berubah.
Labil, emosional dan kasar.
Dan dua tahun sudah Suri menutupi rahasia rumah tangganya yang begitu kacau. Dengan harapan Yosan yang dulu kembali. Kini dia tak bisa bersama Yosan. Pria itu sudah kelewat batas.
Suri menghubungi sahabatnya Ana. Meminta wanita itu untuk segera menjemputnya. Dan kurang dari tiga puluh menit Ana telah sampai di halaman.
Wanita itu nyaris pingsan mendapati sahabatnya tengah meringkuh dengan wajah begitu mengerikan.
Bercak darah kering tepat di hidup, kedua sisi pipi memar dan rambut sangat acak-acakan.
Perlahan Ana memeluk Suri kemudian mengiring masuk mobil. Tak henti-hentinya wanita berambut ikal itu mengumpat. Sumpah serapah telah dia lontarkan untuk Yosan seorang.
Mereka pergi meninggalkan rumah Yosan. Dan Ana telah memutuskan untuk membeli obat dan perban untuk Suri.
Mobil Ana terparkir di dalam halaman semua apotik, dan Suri menunggu di dalam mobil sambil menahan perih di seluruh wajah.
Sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil Ana parkir. Sosok pria dengan tubuh tinggi keluar. Dan Suri menyadari kehadiran Joe.
Cepat-cepat Suri menutup wajahnya dengan masker medis dan juga topi. Dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun dengan kondisi mengerikan ini. Terlebih lagi harus menjelaskan bencana apa yang membuatnya demikian.
Namun sialnya justru Ana berbincang-bincang dengan pria itu cukup lama. Entah apa yang mereka bicarakan hingga terlihat begitu asik.
Rasanya Suri ingin segera keluar lalu menarik lengan Ana, sebelum wanita itu bicara sesuatu yang berlebihan tentangnya. Tetapi kini Joe menatap ke arah mobil Ana. Pria itu menyadari keberadaan Suri.