Ke esok harinya Suri dengan kepala yang begitu berat, terbangun.
Pandangnya menatap ke seluruh ruangan. Dan ini ruangan yang belum pernah dia kunjungi.
Baju yang dia kenakan pun juga sudah beda. Kaos ukuran jumbo dan celana olahraga selutut.
Perlahan Suri bangkit dan membuka tirai. Di luar masih gelap, wajar saja waktu masih menunjukan pukul empat pagi.
Suri kembali duduk di tepi ranjang, menatap perban yang menempel pada kedua lututnya. Dia berusaha kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi hingga bisa berada di sini.
Dan semua yang terjadi tadi malam masih kental di dalam ingatannya. Hanya saja setelah kejadian buruk di halte bus, Suri benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
Seseorang yang terakhir dengan Suri ialah Joe. Bisa saja ini adalah tempat tinggal pria itu, termasuk pakaian yang sekarang dia kenakan.
Dan Suri mulai menduga pria itu juga yang tengah menganti pakaiannya. Bisa saja pria itu macam-macam saat Suri tak sadarkan diri. Sial, Suri mengumpat berkali-kali.
Membayangkan itu semua membuat Suri mual. Pria itu benar-benar kurang ajar!
Dan saat itu juga Suri akan membuat perhitungan dengan Joe. Tangan Suri membuka pintu lalu membanting dengan kasar. Hingga menimbulkan dentuman yang teramat keras.
Hingga seseorang datang dengan tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Mana pria kurang ajar itu?" Sontak Suri bersuara keras terhadap wanita paruh baya yang baru saja ditemui.
Wanita paruh baya itu justru berbalik badan, berlari dengan tubuh gemuknya naik ke lantai dua. Kemudian mengetuk pintu sebuah kamar dan memanggil nama Joe.
Suri dengan amarah yang tak berbendung kemudian ikut naik ke lantai dua.
Meskipun Joe tadi malam telah menjadi pahlawan tapi masih ada kemungkinan pria itu bertindak kurang ajar, pikirkan saja Suri kini tengah mengenakan baju pria.
Joe keluar dari balik pintu dengan mata yang masih kantuk.
"Tuan dia sudah bangun," ucap wanita itu dengan wajah ketakutan. "Dia marah."
"Kita harus bicara Joe," kata Suri sambil melangkah mendekati mereka berdua.
"Bibi bisa tinggalkan kami berdua."
Mendengar ucapan Joe, wanita paruh bayang yang disebut Bibi pergi begitu saja sambil melewati Suri dengan wajah tertunduk.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi semalam?”
“Kau pingsan. Karena aku bingung membawamu kemana dengan terpaksa aku bawa ke rumah. Maafkan aku jika lancang. Tapi tengah malam juga aku memanggil dokter untuk memeriksamu,” ucap Joe dengan tenang.
Mendengar ucapan maaf membuat Suri sedikit lega. Setidaknya pria itu masih punya etika.
“Ini baju siapa?”
“Bajuku. Dokter mengatakan pakaianmu yang basah kuyup bisa membuatmu tambah sakit. Aku disini tinggal hanya bersama seorang asisten rumah tangga. Tidak mungkin kau aku kasih baju milik Bibi. ”
“Siapa yang mengganti pakaianku?
“Bibi.”
Pertanyaan Suri sungguh membuat Joe serasa dituduh berbuat tidak senonoh.
“Kau yakin?” Suara Suri kini jauh lebih rendah. Melihat cara bicara dan gestur tubuh Joe yang sangat tenang dia sebenarnya yakin jika dia pria baik-baik.
“Tanyakan saja pada Bibi apa yang terjadi jika kau tak percaya!”
Suri tersenyum tipis, malu dengan emosinya yang tak terkendali pada orang sudah berjasa untuknya. “Maafkan aku Joe seharusnya aku…”
Joe lantas memotong kalimat Suri. “Tidak masalah aku mengerti.”
“Aku terimakasih kau telah menolongku.” Wajah Suri tertunduk malu.
Joe menatap Suri, baju yang sekarang dia kenakan jadi terkesan lucu dan menggemaskan. Ukurannya terlalu besar dengan tubuh Suri yang bertubuh mungil. Seandainya Joe akrab dengan Suri pasti dia tak segan menggodanya.
“Tidak masalah.”
Suri akhirnya meninggalkan rumah Joe dengan taxi tepat pukul lima pagi. Dia harus segera pulang dan menyelesaikan urusannya dengan Yosan.
***
“Dari mana saja kau Surinala?” tanya Yosan dengan wajah cemas ketika menatap Suri yang tengah berdiri di ambang pintu.
“Aku nyaris mati setelah melihatmu dengan b*****h itu.”
“Aku bisa jelaskan semuanya Suri. Tenanglah!” Yosan berdiri dan berusaha menyentuh kedua lengan Suri, dengan cepat Suri menampiknya.
“Jangan kau sentuh aku!”
“Aku hanya bicara soal pekerjaan dengan Rachel. Dan itu rahasia perusahaan tidak mungkin aku bicara di pesta. Mengertilah Suri, kau tahu bagaimana keras kepala Rachel-kan? Meskipun aku seorang direktur, tapi dia anak Tuan Tan, anak pemilik perusahaan. Aku bisa apa Suri, jika dia memintaku untuk bicara empat mata.”
Suri tersenyum miring mendengar penjelasan Yosan, yang terlalu dramatis. “Omong kosong Yosan!”
“Sumpah Demi Tuhan Suri, yang aku katakan benar.”
Suri tertawa dengan suara yang dibuat-buat, mendengar sumpah Yosan yang semakin dramatis. “Bicara soal kerjaan dengan bersentuhan dengan jarak begitu dekat. Oh…mungkin itu yang disebut profesional?”
“Diam!” Teriakan Yosan menggema ke seluruh ruangan.
Habis sudah kesabaran Yosan menyakinkan Suri jika yang dia katakan hal yang benar. “Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan, yang jelas aku tidak ada hubungan dengan Rachel!”
“Sejak empat bulan kau menjabat direktur, enam kali kau luar kota bersama perempuan itu. Kau selalu menghindar setiap kali dia telpon. Dengan itu semua kau suruh aku diam? Aku bukan betina bodoh Yosan!”
Yosan semakin muak dengan tuduhan itu. “Karena dia anak Tuan Tan!”
“Lalu apa gunanya kau menjadi pemimpin perusahaan?”
“Asal kau tahu, karena Rachel aku bisa menjadi seperti sekarang!”
Kalimat yang terakhir yang terucap dari bibir Yosan membuat kaki Suri lemas. Energi dalam badan Suri seakan sudah sirna dalam sekejap. Perlahan Suri mundur dan menjauh dari pria yang berdiri di hadapannya. “Apa maksudmu?”
“Kau harus tahu Suri.” Yosan terdiam sesaat, mengatur nafas. ““Kau harus tahu Suri.” Yosan terdiam sesaat, mengatur nafas. “Jabatanku tergantung pada Rachel sebagai pewaris Dynasty Bintang Timur.”
Bibir Suri tersenyum ke samping. “Oh begitu berharganya perempuan itu. Mengapa kau tidak ceraikan aku lalu kau kawin dengan wanita itu!”
“Sampai mati kau tak akan aku ceraikan kau Suri!”
“Tapi aku ingin kita pisah!”
Yosan melangkah mendekati Suri dengan tatapan begitu menusuk. Dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari istrinya saat ini. “Baju yang kau kenakan ini pakaian pria. Dari mana kau semalam?”
Suri terdiam. Yosan kini benar-benar mengerikan.
“Dari mana?” bentak keras Yosan. “Mana gaunmu?”