"Ya, nanti Rika coba bicara sama dia."
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, Rika pun berpamitan mengakhiri perbincangannya dengan seseorang lewat telpon.
"Sepertinya Marvin sudah datang, Rika tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."
Sesaat kemudian, terdengar pintu terbuka.
"Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikum salam."
Seperti biasa, Marvin bersalaman dan mengecup tangan Rika.
"Tumben baru jam dua sudah pulang, Nak" tanya Rika sambil menengok jam dinding di ruang tamu. "Biasanya kalau belum maghrib belum pulang."
Marvin tersenyum kecut. "Tadi ada rapat, selesai rapat aku langsung pulang." Ia berjalan mendekati lemari es, dan menyambar minuman dingin kesukaannya. "Kepalaku pusing, Bund."
Hanya dengan Rika lah Marvin bisa ber aku-aku ria, meski kadang lebih sering menyebut dirinya dengan nama panggilannya, setidaknya bukan dengan sebutan saya-anda seperti yang dilakukan dengan orang lain selain Rika.
"Ya sudah. Istirahat, sana."
"Lagi males ke atas."
Rika yang mendengar itu langsung mengulaskan senyumnya sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja.
"Bund ..."
Rika yang sudah peka dan hafal betul bagaimana Marvin, langsung duduk mendekatinya.
"Kenapa Papa dulu menjual perusahaan ke Opa Fikri? Kenapa bukan ke orang lain?"
"Karena Pak Fikri orang baik. Papamu sangat mempercayai beliau. Jika di jual ke perusahaan lain, mungkin kita tidak bisa hidup seperti ini. Usiamu dulu masih sangat muda untuk menjalankan perusahaan Papa, dan kamu juga masih kuliah. Apalagi kuliah kamu juga bukan jurusan Bisnis."
"Kalau dulu Marvin ambil jurusan bisnis, apa Papa juga akan tetap menjual perusahaannya?"
"Entahlah. Mungkin juga seperti itu. Papa meninggal saat usia kamu masih belasan tahun, belum cukup umur dan kemampuan kamu untuk menjalankan perusahaan. Sementara, jika kita mempekerjakan orang lain sebagai CEO, kita tidak tahu orang itu bisa dipercaya atau tidak. Terlalu beresiko, Nak."
"Tapi kenapa Pak Fikri mengangkatku untuk menjadi CEO di perusahaannya? bagaimana jika aku berhianat?"
"Artinya, Beliau sudah sangat mempercayai kamu, baik kemampuan maupun pemikiran kamu. Apapun keputusan Pak Fikri, beliau pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Jika Pak Fikri mempercayaimu tanpa syarat, percayailah beliau seperti beliau mempercayaimu"
"Bunda ..." suara Marvin lemah sampai hampir tak terdengar. Detik berikutnya ia menceritakan semua yang terjadi di kantor beberapa waktu ini. Mulai dari kedatangan Alya, pengangkatan Alya sebagai IT Supervisor, sampai pertengkarannya dengan Fikri yang membuat ia berlaku tidak sopan dan pulang lebih awal dari biasanya.
"Minta maaf lah, nak"
"Tapi, Bund."
"Minta maaf lah."
Marvin menarik napas gusar. "Jabatan itu sebenarnya semu. Tidak ada sebelumnya, dan pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawabku.”
"Apapun yang terjadi, kamu sudah berlaku tidak sopan dengan Beliau. Istirahatlah. Nanti sore pergi ke rumahnya dan minta maaf." Rika kembali tersenyum. "Bunda mau buat kue dulu. Bawalah ke rumah beliau. Lisa pasti suka." Mata Rika berbinar saat menyebut nama Lisa.
***
Dua bulan yang lalu
"Ini rumah kamu?" Mata Alya berkeliling memandang rumah megah yang ia masuki.
Yang ditanya malah tertawa meng-iya-kan. "Ini rumah, apa istana? Besar banget."
"Udah, ah. Masuk, yuk."
Mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Bik, tolong buatin minum, ya." Lisa berbicara dengan asisten rumah tangga nya.
"Iya, Mbak. Mbak Lisa mau minum apa?" jawab sang Asisten sedikit menunduk
"Es jeruk, ya, Bik, panas-panas gini pasti seger." Lisa menoleh ke arah Alya "Mau minum apa, Ran?"
"Samain kamu aja"
"Iiih ... Kayak lagi pesan makanan sama pacar aja," cengir Lisa. "Es jeruk dua ya, Bik, makasih."
"Sama-sama".
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Alya dan Lisa kompak.
Lisa menjabat tangan laki-laki itu. "Opa, kenalin ini Alya. temen aku di Cakrawala."
"Alya." Alya menyebutkan namanya saat menyalami laki-laki itu setelah Lisa.
"Kakeknya Lisa." Ia tersenyum ramah.
Mereka duduk bersama.
"Oh, jadi ini yang namanya Alya? Lisa sering cerita tentang Nak Alya."
"Ceritanya pasti yang jelek-jelek, ya?" Alya menampakkan raut marah yang dibuat-buat.
"Hahahhahahaaa ...." Mereka semua tertawa.
"Kata Lisa, kamu anak Teknik. Benar?"
"Iya, Kek."
"Waah ... Kebetulan. Saya sedang butuh tenaga ahli IT buat pembangunan cabang perusahaan baru. Kakek bisa minta kamu jadi konsultannya, kan?"
"Kalau boleh tahu, perusahaan bidang apa, kek?"
"Perhotelan. Sama dengan perusahaan tempat kalian bekerja."
"Maaf, nih, sebelum saya bekerja sebagai programer. Kok sekarang mendadak jadi konsultan, ya?" Tawa Alya sedikit sumbang. "Tanggung jawabnya besar, saya tidak yakin juga bisa meng-handle nya, takut tidak sesuai dengan pemikiran kakek."
"Kalau kamu belum mencoba, bagaimana bisa tahu. Lagian ini juga kan keahlian kamu, sudah kamu pelajari waktu kuliah dulu." Fikri mencoba memberi semangat ke Alya. "Ini cuma penginapan kecil dekat wisata pegunungan, bukan hotel mewah seperti Cakrawala. Kakek yakin kamu pasti bisa."
"Baiklah. Saya coba, Kek." Alya tersenyum penuh kebahagiaan. Akhirnya dia bisa memegang apa yang seharusnya dia pegang. "Tapi … soal gaji, bagaimana?" imbuhnya seraya mengernyitkan dahi dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Hahahhaaa... kamu minta berapa? Ternyata Ibu Alya ini matre juga." semuanya ikut tertawa.
"Becanda, Kakek. Kakek percaya dengan saya saja sudah bahagia."
"Para pekerja sudah siap di sana. Kamu cuma merancang saja apa perlu dibutuhkan. Biar mereka yang mengerjakan."
"Tapi saya juga bisa turun tangan sendiri, Kek. Kalau seperti ini rasanya saya kayak boss, ya?" Alya tersenyum.
"Memang kamu itu Boss-nya. Kamu konsultannya di sini."
"Tapi saya boleh bantu mereka, kan? Gatel nih tangan udah lama nggak pegang begituan."
"Tentu. Dan selama 2 bulan dari sekarang kamu harus bisa menyelesaikannya. Karena penginapan akan memang akan dibuka 2 bulan lagi."
"Oke." jawab Alya penuh semangat.
"Jadi, selamat bekerjasama, Bu Alya." Sambil memasang tangan siap untuk bersalaman.
"Terima kasih." Alya menjabat tangan Fikri.
Dan dua bulan selanjutnya, Alya pun bekerja menjadi konsultan IT proyek penginapan barunya Fikri, namun dia masih tetap bekerja menjadi "pembantunya" Marvin.
Hingga dua bulan itu selesai, perangkat IT sudah terpasang sempurna di penginapan tersebut, dari komputer beserta OS dan softwarenya, jaringan internet, telepon, kamera CCTV, dan semua pernak perniknya. Alya cukup lega dan senang melihat "hasil karyanya" yang sudah dia tinggalkan selama bertahun-tahun. Fikri pun takjub melihat kemampuan Alya, dia bukan hanya merancang konsep, tapi ikut terjun dan membantu para pekerja dalam pengerjaan proyeknya.
***