Di Kediaman Fikri Himawan
"Nih." Marvin memberikan kardus box berukuran kecil pada Lisa. "Dari Bunda.”
Terlihat Lisa menerima box itu dan mencium sedap bau yang keluar dari dalamnya. "Hm ... wangi sekali, pasti enak nih. Makasih, ya."
Marvin mengangguk tanpa suara. "Opa mana?"
"Ada. Di kamar. Bentar, ya, aku panggilin."
Belum juga Lisa memanggil, Fikri sudah muncul. "Marvin? Duduk, Vin."
"Terima kasih."
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali tidak ke rumah ini, jangan-jangan kamu sudah melupakan kami?" Senyum dan kata-kata Fikri penuh basa basi.
sungguh orang tua ini sangat pengertian, belum juga dapat 5 jam mereka bertengkar di ruang rapat, sekarang seakan pertengkaran itu tidak pernah terjadi. Fikri menyambutnya dengan hangat. Membuat Marvin semakin merasa bersalah.
"Alhamdulillah, baik, Opa"
Fikri bangkit dari duduknya, "sebentar, Opa ambil minuman dulu." Ooh … bahkan dia sendiri yang mengambilkan minum buat Marvin. Lengkap sudah rasa bersalahnya.
Beberapa detik kemudian Fikri sudah datang dengan membawa teh kemasan botol dengan aroma daun mint kesukaan Marvin. " Maaf ya, Vin, cuma teh botol. Kebetulan daun mint di rumah habis."
Marvin tersenyum. "Tidak apa-apa, Opa, Saya juga suka ini. Terimakasih."
"Bundamu apa kabar?"
"Alhamdulillah Bunda sehat."
Mereka berdua ngobrol ngalor-ngidul dengan akrab. Membahas masa kecil Marvin dan Lisa dan banyak lagi, seakan Marvin lupa apa tujuan utamanya datang ke mari. Ia bukan lupa, hanya tidak tahu cara memulainya. Seorang Marvin Pantang untuk minta maaf. Entah karena dia memang tidak pernah salah, atau karena harga dirinya yang terlalu tinggi. Dan apapun itu, Marvin harus tetap membulatkan tekadnya untuk minta maaf.
"Opa ... Maaf." Akhirnya kata-kata itu terlontar juga dari mulutnya.
"Ya?" Jawaban Fikri dengan raut penuh tanda tanya. Bahkan laki-laki ini sepertinya benar-benar lupa tragedi di kantor tadi siang.
"Maaf atas kelancangan saya di ruang rapat tadi. Saya sudah tidak sopan pada Opa, tidak seharusnya saya bersikap seperti itu." Marvin menjeda ucapannya. "Saya benar-benar menyesal. Tolong maafkan saya, Opa."
Marvin begitu ketara dengan wajah tegangnya, lain halnya dengan Fikri. Orang tua itu terlihat lebih santai menghadapi ketegangan Fikri, bahkan dia tertawa, memperlihatkan sederetan gigi yang tak lagi sempurna.
"Tidak apa-apa, Nak. Justru opa yang seharusnya minta maaf. Opa mempekerjakan Alya tanpa diskusi denganmu dulu." Fikri mengambil minuman yang ada di meja dan meminumnya. "Padahal di sini kamu direkturnya," Imbuhnya.
Marvin tersenyum malu. "Dan opa pemilik perusahaannya."
"Alya itu hebat lho, Vin." Lisa tiba-tiba muncul di antara mereka sambil membawa piring berisi potongan brownies buatan Rika. "Meski dia bukan lulusan luar negri, tapi dia mampu menjalankan tugas dan tantangan Opa." Ia sengaja menekankan kata ‘luar negri’ untuk menyinggung Marvin. Lisa melirik Fikri. "Benar, 'kan, Opa?" Dan Fikri pun mengangguk mengiyakan.
"Tugas? Tantangan?" Marvin masih bingung dengan apa yang dikatankan Lisa barusan.
"Iya. Opa nugasin dia buat meng-handle penginapan baru di Gunung Mas. Dan kamu tau, dia berhasil mengerjakannya. Sekarang penginapan itu sudah beres. Mulai dari perangkat keras, perangkat lunak, akses jaringan telepon dan internetnya juga sempurna." Lisa memuji hasil kerja Alya.
"Huh .... Kalau cuma pasang-pasang seperti itu, anak-anak SMK Teknik komputer juga bisa."
"Sombong, kamu. Dia yang ngerjain semuanya mulai dari anggaran, perencanaan, sampai realisasi pengerjaanya. Program-program aplikasinya dia yang buat sendiri. Dan menurut pekerja yang ada di sana, Alya juga yang memasang sendiri kabel-kabel yang entah ada berapa jenisnya itu."
"Serius, kamu?"
"Nggak percaya? Jelas aja kamu nggak percaya. Biasanya kalau kamu yang ngerjakan paling cuma duduk manis ngerancang apa yang mau dibuat dan menyerahkan hasilnya pada bawahan. Setelah selesai, kamu tinggal ngecek hasilnya. Kalau hasilnya bagus, kamu yang dapat pujian opa. Kalau hasilnya jelek, semua pekerja yang kena amukan kamu."
"Saya kan konsultan, bukan pekerja. Bukan tugas saya mengerjakan semua itu," elak marvin.
"Bilang saja kalau kamu nggak mampu. Program aja beli! Kalo nggak ada yang sesuai di pasaran, mentok kamu pesan ke Gilang, gratisan, pula. Kayak Alya, dong, bisa bikin sendiri,” cerocos Lisa tak henti-henti. “Eeh tapi jangan-jangan program yang kamu pesan di Gilang itu buatan Alya"
"Kamu ...." Wajah menyeramkan Marvin muncul. Sungguh, dia tidak terima dibanding-bandingkan dengan orang yang belum genap 3 bulan dikenalnya.
"Sudah ... sudah. Kok kalian malah bertengkar." Fikri menengahi berdebatan mereka.
"Vin, yang Lisa katakan itu benar. Alya lah yang mengerjakan bagian IT di Gunung Mas. Bukan maksud Opa tidak mempercayai kamu untuk meng-handle-nya, opa lihat kamu beberapa bulan belakangan ini begitu sibuk. Entah benar-benar sibuk atau memang sengaja menyibukkan diri." Sekilas Fikri melirik ke arah Marvin.
"Bahkan untuk menengok Opa pun, kamu tidak ada kesempatan. Mana mungkin Opa tega untuk menambah pekerjaan kamu. Dan Lisa mengajukan Alya, teman barunya, untuk mengerjakan ini. Sebelumnya Lisa juga banyak cerita ke Opa tentang Alya. Opa pikir tidak ada salahnya mencoba mempercayakan ini pada Alya. Dan setelah selesai, hasilnya pun sangat memuaskan. Sama memuaskannya seperti hasil pekerjaan kamu."
"Lebih canggih rancangan Alya, Opa." Lisa menyelutuk tanpa permisi.
"Lisa ...." Opa sengaja menegur Lisa dan membuat kembali diam.
"Setelah melihat kesempurnaan hasilnya, Opa jadi berinisiatif untuk mempekerjakan Lisa di Cakrawala. Dia sangat cerdas, lincah, dan berpotensi. Sayang sekali kalau kemampuannya itu harus dipendam dan hanya menjadi pembantu kamu."
Sial. Kenapa Lisa juga cerita soal ini. Mulut wanita memang seperti odong-odong coin yang rusak. Tanpa dimasuki koin pun suara bisa jalan sendiri. Batin Marvin mengumpat.
"Supervisor IT lah yang cocok untuk dia. Kalau kamu mau, dia juga masih bisa untuk tetap membantu kamu. Kalian sama-sama anak IT. Seharusnya kalian bisa menjadi partnet kerja yang kompak untuk Cakrawala."
Kali ini Marvin tersenyum atas penjelasan Fikri. "Pekerjaan kamu sebagai direktur juga sangat padat. Bagaimana kalau saat kamu tugas di luar kota, tiba-tiba ada masalah dengan CCTV, masa iya opa harus telpon dan nyuruh kamu balik hanya karena CCTV. Tidak sebanding dengan mahalnya harga tiket pesawat." Guyonan kecil Fikri kembali membuat Marvin tersenyum. Lebih lebar dari yang pertama.
"Iya, Opa. Sekarang saya bisa mengerti."
"Kalian harus jadi Partner satu tim yang solid untuk Cakrawala. Buat Cakrawala Corp berkibar dan mendunia," ucap Fikri mantap.
"Siap, Opa!"
"Opa lihat-lihat … kalian juga cocok untuk menjadi partner dunia akhirat."
Lisa ikut tersenyum bersama Fikri. Namun senyum Marvin sedikit memudar. Lisa menyadari hal itu, namun tidak bagi Fikri.
Tidak. Maaf, Opa. Hati ini masih utuh untuk Yuri.
"Opa juga melihat kalian berdua menghadiri resepsi pernikahan Yuri bersama-sama. Kalian pasangan yang serasi."
Oh tidak. Kini senyum Marvin benar-hilang dari bibirnya. Ingatan dan hatinya melayang jauh dan tertuju pada satu nama, nama yang baru saja diucapkan oleh Fikri. Yuri, Yuri Aurelia.
***