“ Lima, empat, tiga, dua, satu. Berhenti di sana!”
Polos, lugu, tak tahu apa-apa. Daylon lagi-lagi datang terlambat memasuki kelas yang baru dimulai lagi setelah berbulan-bulan diliburkan. Berdiri mematung tepat di ambang pintu masuk kelas. Sesaat seorang guru yang mengajar di kelasnya menggertak menyuruh berhenti. Disusul Seluruh pasang bola mata yang kini mengarah padanya.
“Pria gila!”
“Aku tidak yakin berada di ruang yang sama dengannya!”
“Bagaimana dia bisa menempati sekolah ini!”
Satu persatu siswa yang tidak menyukai kehadiran Daylon merutuknya jengkel. Menatap remeh, sebelum akhirnya mengalihkan kembali pandangan mereka.
“Kau terlambat! Keluar!” ucap tegas guru yang berdiri tegak di depan para murid yang berjumlah 18 orang itu. Menatap tajam seperti biasa.
“Ta-tapi pak,”
“Keluar!!” teriak guru yang benar-benar menjalankan tugasnya.
Sontak Daylon terkejut dan bergerak mengikuti irama teriakan yang sekilas menggema. Manik cokelatnya tak berani mengangkat pandangannya, sejenak tubuh itu terpaku, dan sulit melayangkan satu ucapan apa pun.
Kedua tangannya kompak memeluk erat beberapa bukunya. Terdiam tak bergeming. Perlahan Daylon mengangkat pandangannya mencoba memberanikan diri menatap manik gurunya itu.
“Ma-maaf pak, saya tadi ha–.”
“Keluar!” potong Mark lagi, masih dengan nada tingginya. Tanpa berpikir dua kali. Pria bodoh itu menarik langkah dan meninggalkan kelas yang belum sempat ia duduki.
“Pak! Bisakah kita mulai mata pelajaran hari ini? Ini sudah 15 menit masuk jam kelas, dan masih belum di mulai,” ucap Emilio, pemilik mata abu-abu itu.
“Kamu benar! Mari kita mulai pelajaran hari ini,” jawab Mark, membenarkan.
“Berhubung ini hari pertama kita masuk kembali, maka pelajaran hari ini tidak akan terlalu berat. Saya akan menguji kalian dengan mengarang sebuah cerita non-fiksi. Terserah itu cerita apa, kisah apa, atau apa pun itu, asalkan benar-benar non-fiksi. Kalian mengerti’ kan?” Sambung Mark, memulai pelajaran.
“Membuat sebuah antologi? Benarkah?” tanya Elard, dengan jawaban benar.
“Bukankah ini terlalu easy, pak?” timpa Emilio bertanya.
“Bahkan dalam hitungan detik itu sudah selesai di tanganku, tidak bisakah aku mendapatkan latihan otak yang lebih baik dari ini?” ujar Evans yang juga ikut membenarkan semua ucapan para temannya.
“Sebaiknya kalian pahami lagi kalimat saya. Kalian masih ingat bukan? Saya tidak mengulangi kalimat yang sama?” jawab dingin Mark, menatap datar para muridnya.
“Kalian terlalu serius,” gumam gadis yang duduk di pojok kiri di kursi kedua dari depan. Seluruh pasang bola mata kini mengarah padanya.
“Ucap seorang gadis yang suka membuat cerita non-fiksi. Ahh Daebak.” Evans menjawab ucapan gadis berambut panjang itu, seraya mengalihkan kembali pandangan.
Ayyara memutar bola matanya malas, seraya menarik ujung bibirnya menatap Evans tajam.
“15 menit dari sekarang, saya tidak akan menerima jika terlambat satu detik pun.” Sebelum memulai tugas yang diberikan, Mark menjelaskan kembali peraturan kelasnya. Dan kembali mengalihkan pandangan menatap intens layar laptopnya.
“Pak,” panggil Ayyara, gadis yang duduk di pojok kiri kursi kedua dari depan. Seraya mengangkat tangan kanannya memberi aba-aba.
“Ada pertanyaan?” saut Mark, selaku guru yang mengajar.
“Bagaimana jika di awal latihan otak ini, berikan waktu yang sedikit lebih singkat? Aku rasa itu akan lebih menyenangkan,” jelaskan Ayyara maksud dan tujuannya.
Siswa yang berjumlah 18 orang itu kini memutar tatap mengarah pada Ayyara secara bersamaan.
“Dasar gadis pencari perhatian,” Celetuk Evans yang sedikit geram dengan perkataan Ayyara.
“Dia benar-benar membuatku jengkel,” timpa Elard yang juga ikut geram.
“Kalian takut? Oh, ayolah, ini hanya sebuah tugas biasa, sesulit itu untuk kalian?” ucap Ayyara dengan senyum simpul di wajahnya.
“Baiklah!” ujar Mark mengejutkan para siswanya.
“10 menit dari sekarang. Saya tidak menerima pertanyaan lagi, kumpulan tugas kalian jika sudah selesai tepat waktu. Dan yang belum juga selesai, saya menyarankan kalian untuk segera membakar buku kalian itu.” Mark menjelaskan semua yang ingin ia ucapkan, sebelumnya akhirnya ia larut kembali pada layar laptopnya.
“Aku membenci gadis itu,” gumam Evans tak bersuara keras. Ia meraih sebuah buku dan memulai tugas yang baru saja di berikan.
Semua murid kompak memegangi pena yang menari bebas di atas kertas putih milik mereka. Seperti biasa, hening, senyap, tak bersuara. Semua fokus pada tulisan masing-masing. Detak jarum jam pun seakan menggema di ruangan itu.
****
“Kau benar-benar menjengkelkan!”
“Bukankah itu menyenangkan? Aku rasa cukup untuk melatih otakmu yang sempat padam untuk beberapa bulan ini.” Ayyara dan juga Cheline sedang berjalan menuju ruangan makan siang.
“Oh iya Ra, kau tahu apa penyebab kita di liburkan? Bahkan itu bukan waktu yang lama untuk hanya sekedar libur biasa.” Cheline bertanya tentang libur yang diadakan, namun tak tahu pasti apa penyebab mereka diliburkan.
Seraya meraih piring yang sudah di siapkan untuk mengambil makan siang masing-masing, Ayyara mengangkat sekilas bahunya bersamaan dengan kedua alisnya. Memberi tanda bahwa ia juga tak tahu.
BRAKK!!
“Aku sudah mengatakan padamu! Berhenti muncul di hadapanku!”
Tiba-tiba saja suara teriakan Evans mengalihkan seluruh pasang bola mata yang ada di sana. Menatap penuh heran, namun tetap bungkam setelah melihat apa yang di lakukan pria bermata cokelat itu.
Cheline dan juga Ayyara menghentikan sejenak langkah mereka, dan menatap intens kelakuan teman satu kelasnya itu.
“Bahkan ini hari pertama, dan dia sudah membuat ulah,” gumam Ayyara masih dengan piring kosong di genggamannya.
“Aku benar-benar muak melihat ini,” timpa Cheline yang juga ikut menyaksikan.
“Apa kau tuli? Apa kau buta? Sudah berapa kali aku mengatakan padamu! Berhentilah muncul di hadapanku! Pria bodoh!” rutuk Evans pada Daylon. Nada tinggi yang ia luapkan benar-benar menggema di ruangan makan siang itu.
Tubuh Daylon jatuh tersungkur akibat tendangan kasar dari Evans. Seluruh tubuhnya di lumuri makanan yang tadinya berada di meja makannya.
“Ma-maaf, aku hanya ingin makan siang,” Jawab Daylon dengan nada bicara khasnya. Terbata-bata, lemah, tak bersuara lantang.
Pria berkacamata itu membenarkan letak posisi kacamatanya, guna melihat jelas pandangannya. Dan mengada menatap Evans yang berdiri tegak tepat di depannya.
Evans mendengus kesal mendengar jawaban Daylon. Dan tanpa aba-aba apa pun, Evans meraih piring makan yang masih terisi milik Elard, dan dengan cepat melemparkan ke arah Daylon.
Piring yang terbuat dari keramik itu, sukses menghantam wajah Daylon dan kembali melumuri tubuhnya dengan isi yang ada di piring Elard.
Menggema, memecahkan suasana keheningan ruangan itu.
Seluruh sorotan mata jengkel mengarah pada tubuh Daylon yang benar-benar menyedihkan.
“Aku benar-benar muak dengan semua ini!” tiba-tiba suara lantang Elard mengejutkan semua orang. Lagi-lagi, suasana makan siang itu di bumbui pertengkaran yang tak ada habisnya.
Elard yang tadinya akan memulai santapan makan siangnya, kini di hancurkan Evans yang benar-benar tidak merubah sikapnya pada Daylon.
Elard menendang kasar mejanya, sehingga menumpahkan seluruh isi yang ada di meja makannya itu, sembari berdiri menghadap Evans yang berada di sisi kanannya.
“Tidak bisakah kau membiarkan aku makan dengan tenang?” tanya Elard memandang sinis Evans.
“Bahkan ini masih hari pertama, tidakkah terlalu dini untuk mengeluarkan tenagamu?” sambungnya bertanya.
“Aku sulit meredam emosi, kau tahu itu kan?” jawab Evans, menatap Elard sebelum akhirnya kembali menatap Daylon, si pria bodoh.
“Baiklah, karena kau sudah memulainya, biarkan aku mengakhirinya.” Elard menarik langkah dengan gaya yang tidak bisa lepas dari seorang pria bermata abu-abu itu.
Kedua tangannya menetap di saku celana, d**a tegap, sorot mata dingin mengintimidasi. Melangkah perlahan ke arah Daylon. Dan, sebotol minuman kaleng milik Emilio, sukses menyirami tubuh pria yang tak bergeming sedikit pun dari tempatnya.
Secara perlahan air yang berbau sedikit menyengat itu, membasahi tubuh Daylon. Diiringi senyuman manis dari wajah Elard, pertanda ia menikmati aksinya yang tak patut untuk di contoh.
Bak tak terjadi apa-apa. Seluruh siswa yang ada di sana hanya sekedar menatap lalu kembali fokus pada aktivitas masing-masing. Orang dewasa atau penjaga ruangan makan siang itu juga tak ikut ambil pusing dengan kelakuan para siswa yang seharusnya ditegur.