Andai tidak ada yang memulai drama ini, mungkin aku sudah menyatakan perasaanku padamu. Namun, kepergianmu yang tiba-tiba membuatku lupa, bahwa aku juga salah satu orang yang menjalani peran di drama ini.
**
Mentari bersinar menggantikan purnama yang semalaman terjaga. Beberapa dedaunan beterbangan di terpa angin pagi yang sedikit berembus kencang. Langit biru menyala, kicauan burung mulai menyapa ramah daun telinga.
Seperti biasa, HIS akan di penuhi dengan siswa-siswi dengan segala kesempurnaan yang mereka miliki. Permukaan gedung itu akan di suguhkan pemandangan yang benar-benar membuat geleng-geleng kepala.
Ferrari hitam mengkilap, berhenti tepat di ambang pintu masuk gedung itu. Pria dewasa berpakaian rapi, turun dari bangku sopir, dan berlari kecil guna membukakan pintu untuk sang putra atasan. Sembari menundukkan pandangannya, pria dewasa itu mempersilakan sosok yang ia antar untuk segera keluar.
“Katakan pada ayah, aku akan pulang terlambat hari ini,” ucap pria yang baru turun dari Ferrari hitam yang baru mendarat mulus itu. Sang pengawal dengan sigap mengangguk menerima titah dari putra yang sudah memperkerjakannya.
Evans Bayzar, sosok yang baru saja keluar dari mobil mewah itu. Ia turun sembari memberi titah pada sang pengawal. Evans Bayzar, tidak di ragukan lagi kesempurnaannya, paras tampan, kekayaan, bahkan untuk otaknya saja, benar-benar tak ada cela yang bisa dicerca.
Pria dingin dengan sejuta pesona yang ia miliki. Tatapan lurus ke depan, langkah kaki yang besar, rahang tegas, dan tak lupa, pipi kirinya menampilkan lesung pipi yang membuat pria itu terlihat manis saat tersenyum.
Setelah kedatangan Evans. Mobil BMW X5, kembali mengisi kosongnya tempat yang baru diisi mobil mewah milik Evans. Emilio Butragueno, turun dari dalam sana, sembari membawa satu kaleng minuman favoritnya.
“Jangan datang untuk menjemputku, aku akan naik motor nanti,” titah Emilio pada sopi suruhan ayahnya, sembari menegak minuman kaleng yang sedari tadi ia genggam. Emilio berlalu, setelah menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan. Sebelum benar-benar memasuki gedung mewah itu, Emilio mengedarkan terlebih dahulu pandangannya. Entah apa yang ia cari, namun itulah yang ia lakukan saat datang ke sekolah. Melirik keseluruhan yang terjadi di halaman gedung itu. Sebelum akhirnya ia pergi dan melanjutkan langkahnya.
Tidak lama kemudian, lamborghini silver kembali mengisi tempat itu. Disusul range sport milik putri tunggal dari pasangan Ishita dan juga Gerald. Ayyara dan juga Cheline. Mereka
Seperti itulah pagi dari para siswa HIS. Mereka beradu kesempurnaan yang jelas-jelas sudah tidak di ragukan lagi. Lantai 3 ruangan paling ujung lorong panjang. Kelas XII, yang diisi oleh siswa-siswi yang sebentar lagi akan menjadi alumni.
***
“Siapa yang menaruh ini di sini?” tanya Cheline, saat mendapati sebuah bunga melati di atas mejanya. Cheline mengedarkan pandangannya, dan menatap satu persatu orang yang ada di dalam kelas itu. Tak ada yang menjawab, dan tak ada yang bersuara.
“Apa kalian tuli? Siapa yang melakukannya?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang sedikit menggertak.
“Bisa kau diam? Fokusku buyar Karenamu!” sahut Evans dingin, yang tiba-tiba mendorong sedikit mejanya, guna menimbulkan suara yang sedikit kasar.
Cheline mendengus kesal saat mendengar ucapan Evans baru saja. “Kau yang melakukannya? Ini ulahmu?” tuduh Cheline tanpa bukti yang kuat. Ia dengan lantang memberi Evans sebuah gelar yang tidak ia sukai.
Evans yang sedari tadi fokus pada layar laptopnya, perlahan menarik pandangannya yang tunduk, dan segera menatap lekat wajah Cheline.
“Apa aku terlihat sebodoh itu?” balas Evans bertanya, sembari menatap tajam wajah Cheline.
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dari melati itu?” ujar Emilio bertanya, yang sedang duduk di kursi paling ujung kelas.
Cheline memutar pandangannya menatap Emilio yang baru saja berujar. “Diam kau! Aku sedang tidak berbicara denganmu!” hardik Cheline mulai gusar. Ia menekuk wajahnya, menjadi sangat kesal.
Emilio menaikkan turunkan alisnya sembari meneguk kembali minuman kaleng yang belum juga habis sedari tadi. Evans yang juga tak mendapat jawaban apa pun, kembali fokus pada layar laptopnya.
Beberapa menit pertengkaran kecil itu terjadi. Para siswa yang sedari tadi sudah mengisi kosongnya kursi mereka, perlahan menghilangkan fokus masing-masing, mengingat waktu jam belajar sudah hampir di mulai.
Cheline terpaksa membuang sendiri melati putih itu. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang menaruhnya, dan untuk apa. Gadis itu hanya tidak suka mencium aroma menyengat dari bunga putih itu.
Kelas sudah hampir penuh, hanya tersisa beberapa kursi lagi yang belum diisi oleh si pemilik. Daylon, dan juga Elard, mereka berdua kompak datang di saat yang bersamaan.
“Kau datang?” tanya Elard saat mendapati Daylon yang berjalan sejajar dengannya. Pria tinggi itu sejenak menghentikan langkahnya, dan menatap lekat wajah Daylon.
“Aku ingin masuk, dan segera belajar,” jawab Daylon hati-hati. Pandangan serta raut wajahnya, benar-benar berubah dari apa yang di lihat oleh Elard di roftop kemarin malam.
“Berhenti bersikap seolah kau tersakiti! Kau benar-benar menggunakan topengmu dengan sangat baik,” ucap Elard lagi, yang masih menatap lekat wajah Daylon.
Daylon si kutu buku itu tak terlalu menanggapi apa yang di ucapkan Elard. Pria berkacamata itu segera berlalu, guna memasuki kelas yang akan segera di mulai.
Saat Daylon mencoba menarik langkahnya, dengan cepat Elard mencekal pergelangan tangannya, dan menghentikan langkah pria itu.
“Apa yang kau lakukan pada—.”
Belum selesai Elard mengucapkan seluruh kalimatnya, tiba-tiba saja Mark datang dan menghentikan perdebatan kecil mereka.
“Ini jam belajar. Jika kalian ingin bermain, selesaikan dulu pelajaran kalian,” tegur Mark, menatap lekat wajah muridnya itu secara bergantian.
Elard melepas dengan kasar tangan Daylon, seraya mendengus kesal. “Aku muak saat seperti ini,” gumamnya samar, berharap tak didengar sang guru. Ia memutar bola mata malas, dan segera melangkahkan kedua kakinya memasuki kelas yang sudah terisi penuh.
“Kau mau masuk, atau tetap berdiri di sana?” gertak guru itu lagi, saat mendapati Daylon yang tak bergerak dari tempatnya. Seperti biasa, Daylon akan beranjak setelah ada aba-aba yang di perintahkan. Ia menyusul langkah Elard, dan duduk di kursi miliknya.
Elard menatap tajam Daylon, dan masih mengingat kejadian tempo lalu, saat berada di rooftop. Kau pandai bersandiwara, apa yang kau inginkan? Batin Elard bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Daylon.
Saat di sekolah ia layaknya seorang pria yang tertindas. Tapi, kemarin malam dia benar-benar tidak seperti dirinya. Bahkan, dia berubah hingga 180 derajat dari aslinya.
Elard menatap Daylon sampai ia duduk di kursinya, dan masih mencoba mencari tahu, tentang siapa sebenarnya pria berkacamata itu.
“Saya minta perhatiannya sejenak.” Suara Mark membuat para murid menoleh ke arahnya secara bersamaan. “Hari ini, kelas kita akan kedatangan siswi baru, saya harap kalian bisa lebih menjaga sikap, dan satu lagi, tetap jaga nilai kalian masing-masing, kita tidak tahu sehebat apa siswi baru ini,” Jelaskan Mark setelah mendapat seluruh pasang bola mata mengarah padanya.
“Aku tidak masalah akan itu, hanya satu yang aku takutkan, pak,” sahut Evans menjeda sejenak ucapannya.
Saat seluruh pasang bola mata itu tertuju padanya, dan menanti akhir dari kalimatnya, Evans kembali melanjutkan ucapannya. “ Aku takut, dia satu aliran dengan pria yang tidak masuk dalam menaati aturan sekolah ini,” sambungnya, menyindir Daylon, si kutu buku.
“Aku setuju denganmu, bahkan sampai saat ini aku tidak mengerti bagaimana dia bisa mendapatkan gelar sebagai siswa di sekolah ini,” ujar Elard, yang ikut membenarkan.
“Kalian terlalu fokus pada tampang pria itu, sehingga kalian lupa, bahwa segala syarat yang diajukan sekolah ini, semua memenuhi kriterianya, bahkan untuk IQ-NYA dia jauh lebih tinggi dari kalian.” Ayyara tiba-tiba berucap hal yang membuat para siswa itu terdiam untuk sejenak. Gadis itu tidak membela Daylon atau pun menaruh empati padanya, hanya saja, Ayyara adalah gadis penyuka kebenaran.