“Silahkan, nona.” ucap waiters itu membuat Sindy dan Derico sama-sama mengalihkan pandangan.
“Ah! Anda sudah datang.” Derico bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Sindy untuk duduk. Kemudian waiters itu pun meninggalkan mereka bertiga.
“Ndadada!” Senaf menyadarkan lamunan Sindy soal dompetnya yang akan kering malam itu juga.
“Iya, sayang?” tanya Sindy membuat Senaf hendak meraih gelas di atas meja. Sindy pun segera mengambilnya dan mendekatkannya ke bibir mungil Senaf yang ternyata sedang kehausan.
“Kenapa anda tidak meletakkan Senaf di tempat duduk bayi itu?” tanya Derico menunjuk kearah bangku bayi yang sepertinya sudah direncanakan oleh Derico.
“Tidak. Aku akan memangku Senaf saja.” balas Sindy bersikeras. Kemudian pramusaji datang menyajikan makanan yang ternyata sudah dipesan terlebih dahulu oleh Derico. Sindy yang melihat makanan dihadapannya tersaji cukup banyak, meneguk ludah kasar. Derico yang mengetahui perubahan raut wajah Sindy, tertawa kecil.
“Tenanglah. Malam ini saya yang akan menjamu anda. Lagian saya yang mengundang, maka saya yang bertanggungjawab.” ucap Derico membuat Sindy menatap pria itu bingung.
“Maaf sebelumnya, tuan. Tapi dengan kamu membuat seperti ini, aku jadi makin berhutang budi padamu.” ucap Sindy membuat Derico menatap gadis dihadapannya bingung.
“Kenapa? Anda sudah hadir disini, berarti hutang anda lunas.” balas Derico membuat Sindy tak mengerti jalan pikiran pria dihadapannya.
“Sudahlah, nona. Jangan pikir yang tidak-tidak. Mari kita nikmati makan malam kali ini. Dan saran saya, sebaiknya anda meletakkan Senaf disana.” ucap Derico sambil menunjuk bangku bayi disamping kanan Sindy.
“Baiklah.” Sindy pun menerima saran Derico dan meletakkan Senaf disana. Kemudian mereka pun menikmati makan dengan tenang, walau sesekali Senaf meracau.
“Jadi anda berkuliah, nona?” tanya Derico membuat Sindy sempat menghentikan makannya dan menatap tajam Derico.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Sindy membuat Derico tersenyum.
“Berarti tebakan saya benar.” balas Derico membuat Sindy menyipitkan matanya.
“Sudah semester berapa?” tanya Derico.
“Semester 7.” jawab Sindy.
“Jurusan?” tanya Derico.
“Manajemen Rekayasa Industri.” jawab Sindy lagi sambil menikmati makanannya dan sesekali menyuapi Senaf.
“Wah! Kebetulan perusahaanku baru saja menerima anak baru dari jurusan itu.” ucap Derico membuat Sindy menghentikan makannya. Dia teringat akan surat rekomendasi dari Nico untuknya. Sialnya dia belum sempat mengecek perusahaan apa yang akan dia datangi besok.
“Mungkin kebetulan sama aja.” pikir Sindy.
Mereka pun kembali makan dengan tenang, tanpa berbincang. Namun di ketenangan mereka, banyak yang tak menyangka kalau wanita yang dikencani oleh pengusaha besar negara terkaya di Eropa itu adalah seorang wanita muda yang sudah memiliki seorang anak.
Setelah mereka selesai makan, Sindy melihat Senaf yang sudah terlelap di kursi bayi itu dengan sendok yang masih dipegangnya. Sindy tertawa kecil melihat posisi Senaf saat itu. dengan bersandar pada punggung kursi, Senaf menutup mata dengan mulut terbuka dan sendok yang masih teracung ditangan kanannya.
Ckrek
Sindy terkejut mendengar bunyi kamera. Dia pun mengalihkan pandangan pada arah sumber suara kamera itu dan ternyata Derico tengah memotret pose anaknya.
“Dia lucu. Saya menyukainya.” ucap Derico membuat alis Sindy menyatu.
“Dia memang sangat lucu dan tampan.” balas Sindy.
“Ayo, saya antarkan kalian pulang!” ajak Derico yang diangguki oleh Sindy. Sindy pun membereskan kekacauan yang dibuat oleh Senaf dan menggendongnya. Namun semua terhambat karena tubuh Derico yang mengambil alih untuk menggendong Senaf yang tertidur.
“Ah! Tidak apa, biar aku saja yang menggendong Senaf.” ucap Sindy hendak merebut Senaf. Namun Derico menggeleng membalas.
“No. It’s okay.” balas Derico dan mereka pun berjalan keluar dari restaurant bersamaan. Sekilas mereka tampak seperti keluarga kecil. Sehingga banyak yang bertanya-tanya, siapa wanita dan anak kecil yang bersama dengan pangeran dunia itu?
“Ayo!” ajak Derico membukakan pintu belakang untuk Sindy. Sindy pun masuk ke dalam dan diikuti oleh Derico. Lalu mereka pun meninggalkan restaurant mahal itu menuju rumah Sindy yang ternyata sudah diketahui oleh Derico juga.
Setibanya di depan gang rumah kontrakan Sindy, mobil berhenti. Derico pun keluar terlebih dahulu, baru diikuti oleh Sindy setelahnya. Kemudian Derico memberikan Senaf pada Sindy untuk digendong. Seperti biasa, Senaf sama sekali tidak terjaga dalam tidurnya.
“Terima kasih untuk makan malam dan tumpangannya.” ucap Sindy yang dibalas anggukan oleh Derico.
“Senang bisa makan malam bersama anda dan Senaf.” ucap Derico yang dibalas anggukan oleh Sindy.
“Kalau begitu, aku masuk dulu.” ucap Sindy yang langsung berlalu dari hadapan Derico.
“Biarkan saya masuk ke dalam hidup anda, nona Sindy.”
***
Sindy POV
Pandanganku pada hari pertama aku masuk ke perusahaan rekomendasi dari pak Nico, tidak buruk. Setidaknya mereka memaklumi aku yang datang hanya untuk meneliti tentang manajemen disana. Belum lagi karyawan disana terkesan ramah-ramah.
“Sindy!” seru seseorang yang sangat aku kenal.
“Kris?” aku terkejut. Bagaimana bisa gadis itu ada disini?
“Sin! Lo ngapain disini?” tanya Kris saat dia sudah berada dihadapanku.
“Jadi babu.” jawabku malas membuatnya memukul bahuku cukup kencang.
“Kris!”
“Makanya, kalau orang nanya baik-baik, jawab baik-baik juga.” balasnya membuatku menatapnya tajam.
“Penelitian.” ucapku singkat menjawab pertanyaannya.
“Lha! Bukannya udah selesai kemarin?” tanyanya membuatku menghembuskan nafas kasar.
“Tuh si pak Nico. Sobatnya kulkas.” balasku membuat kening Kris mengerut dan kemudian tawa keluar dari mulutnya.
“Hahaha.. Gila lo! Masa lo samain pangeran sama kulkas? Hahaha..”
Nah! Susah memang kalau menghina pujaan hati mahasiswi kampus.
“Jadi sama apa? Makhluk astral?” balasku lagi membuatnya makin mengencangkan tawanya.
“Nona Sindy?” sebuah suara berat mengintrupsi tawa Kris.
“Gils!” serunya membuatku menutup kedua telingaku, spontan.
“Ah, benar!” ucapnya membuatku menatap kearah sumber suara.
“Derico,” aku cukup terkejut dengan pria dihadapanku.
“What are you doing in here?” tanyanya membuatku menatap kearah Kris sejenak.
“Aku sedang melakukan penelitian disini.” jawabku membuatnya menegang seketika.
“Seriously?” tanyanya yang aku balas anggukan. Memangnya kenapa? Apa perusahaan seperti ini tak pantas aku masuki?
“Jadi anda adalah mahasiswa rekomendasi Nicolas?” tanyanya lagi membuatku menatapnya bingung dan akhirnya mengangguk.
“Wait-wait!” Kris mengintrupsi pembicaraan aku dan Derico.
“Kalian saling kenal?” tanya Kris menatap aku dan Derico bergantian.