Di tempat kerja, Sindy masih terbahak kalau mengingat wajah dosen killer-nya itu yang panik saat dia tertangkap mengoleksi lagu-lagu yang merusak telinga polosnya. Sindy tahu tentang semua itu, namun Sindy hanya menguji dosen pembimbingnya itu. Ternyata Nico langsung panik dan membatalkan makan siang bersamanya karena insiden itu.
“Hahaha..” Sindy kembali tertawa, membuat rekan sekerjanya bingung.
“Lo sehat kan, Sin?” tanya Mei membuat Sindy menahan tawanya dan mengangguk. Mei mengulurkan tangannya menyentuh dahi Sindy dan menggeleng.
“Ga panas.” ucap Mei membuat Sindy mengerutkan dahi.
“Aku baik-baik aja, Meilin.” ucap Sindy membuat Mei menatap Sindy menggeleng.
“Enggak, Sin. Lo ga baik-baik aja, sejak turun dari mobil cowok itu.” balas Mei membuat dahi Sindy kembali mengerut.
“Itu dosen aku.” ucap Sindy membenarkan panggilan Mei. Dia tidak mau ada gosip yang tidak-tidak tentang dirinya. Dia masih nyaman hidup tanpa lawan jenis yang mengikatnya dengan hubungan.
“Terserah! Yang pasti, gue curiga sama lo!” ucap Mei yang dibalas gelengan oleh Sindy.
“Terserah deh, Mei.” balas Sindy, kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kring
Suara pintu cafe terbuka, menandakan kalau ada pelanggan yang datang. Sindy dan Mei pun bersiap di tempat untuk menjamu pelanggan mereka.
“Selamat datang.” ucap Sindy dan Mei bersamaan dari balik meja kasir.
“Hai, nona!” sapa suara berat dengan tatapan kearah Sindy.
“Lho, kamu!” Sindy terkejut dengan pria yang ada dihadapannya.
“Maaf baru muncul lagi.” ucap pria itu merasa bersalah. Sindy yang mendengar itu menggumam.
“Aku pikir udah lupa dan semua selesai. Ternyata datang lagi. Huft!”
“Tidak. Tidak pa-pa.” balas Sindy membuat Mei bingung dengan dua orang dihadapannya.
“Jadi ada yang bisa ku bantu?” tanya Sindy membuat pria itu berpikir sejenak dan mengangguk.
“This. Nanti malam datang ke alamat yang ada di dalam bungkusan itu.” ucap pria itu sambil memberikan sebuah bungkusan pada Sindy.
“Apa ini?” tanya Sindy sambil menerima bungkusan itu dan melihat isinya.
“Ah! Tidak! Maaf. Aku tidak bisa menerima ini.” balas Sindy membuat pria itu menggeleng.
“No! Itu sengaja saya beli untuk anda pakai malam nanti.” ucap pria itu menerima penolakan Sindy. Sindy heran. Kenapa pria sangat suka memaksakan kehendak dan tak menerima penolakan?
“Baiklah. Terima kasih.” balas Sindy yang diangguki oleh pria itu.
“I want a cup of Latte.” ucap pria itu menyebutkan pesanannya.
“Okay.” balas Mei. Sedangkan Sindy berjalan ke arah loker untuk menyimpan bungkusan dari pria yang sudah menyelamatkan Senaf.
“Dari mana dia tahu tempat kerjaku?”
***
Sindy pun pulang setelah jam kerjanya berakhir. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk bisa tiba di rumah dari tempatnya bekerja dengan menggunakan bus.
“Anak bunda!” seru Sindy saat melihat Senaf tengah bersama bu Yeni di depan teras.
“Ndadada!” seru Senaf balik seolah mengerti kalau Sindy akan segera menggendongnya.
Hap
Sindy membawa Senaf ke dalam gendongannya. Senaf tertawa senang saat Sindy membawanya ke dalam gendongannya. Bu Yeni yang melihat interaksi keduanya tersenyum manis.
“Makasih ya, bu. Ibu udah di repotin sama Senaf. Pasti Senaf-nya bunda nakal sama nenek, kan?” Sindy menuduh Senaf dan menunduk meminta maaf pada bu Yeni.
“Ndadada! Nafnafnaf!” Senaf menggerutu karena ucapan Sindy. Sindy yang melihat wajah Senaf yang kesal padanya tertawa. Sedangkan bu Yeni menggeleng melihat tingkah jahil Sindy.
“Nekneknek! Ndadada!” Senaf mengadu ke bu Yeni. Bu Yeni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu jangan iseng, Sin. Nanti kalau Senaf nangis, kamu yang repot.” tegur bu Yeni yang diangguki oleh Sindy.
“Iya, bu. Maaf.” Balas SIndy.
“Jangan sama ibu. Sama anakmu, tuh!” bu Yeni menunjuk Senaf dengan dagunya. Sindy pun menghadap Senaf. Sedangkan Senaf tampak kesal dengan bundanya yang suka menggodanya.
“Senaf maafin bunda, ya.” ucap Sindy membuat Senaf membuang muka.
“Duh! Anak siapa sih? Kok gemesin?” pikir Sindy.
“Bunda mau ajak Senaf makan malam lho, rencananya. Tapi kalau Senaf masih marah, ga jadi deh.” Sindy merayu Senaf.
“Ndadada!” Senaf akhirnya terpengaruh dengan rayuan Sindy.
“Hahaha.. Iya, tampan. Kita pergi, kok.” ucap Sindy.
“Memang kalian mau kemana?” tanya bu Yeni membuat Sindy berpikir sejenak kemudian menjawab.
“Pria yang pernah Sindy ceritakan sama ibu, mengajak Sindy dan Senaf makan malam.”
“Pria yang menyelamatkan Senaf kemarin?” tanya bu Yeni yang diangguki oleh Sindy.
“Ohh. Pergilah. Kalau semakin lama ditunda, keburu kamunya pergi.” ucap bu Yeni yang diangguki oleh Sindy.
“Kalau begitu, Sindy dan Senaf pamit ya, bu.” ucap Sindy yang diangguki oleh bu Yeni.
Sindy dan Senaf pun pulang ke rumah dan segera bersiap. Sindy pun memakai sebuah dress yang ada di dalam bungkusan yang di berikan oleh pria itu dan Senaf memakai baju bayi yang sangat bagus-pemberian pria itu juga.
“Duh! Anak bunda tampannya!” seru Sindy kegirangan melihat Senaf yang terlihat lebih tampan dari biasanya.
“Ndadada tiktiktik!” seru Senaf membuat Sindy tertawa.
“Ayo kita pergi ke alamat ini, sayang.” ucap Sindy membawa Senaf ke dalam gendongannya. Kemudian mereka pun pergi menuju alamat yang diberikan oleh pria itu dengan taxi online pesanan Sindy.
“Sebenarnya bunda mau berhemat. Tapi tidak akan bisa pakai bus ke alamat yang bunda sendiri ga tahu itu dimana? Apa lagi, pakai ojek dengan dress seperti ini.” Ucap Sindy saat mereka sedang dalam perjalanan.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di alamat yang disebutkan di dalam kertas yang diberikan. Sindy menatap restaurant dihadapannya dengan terkejut, sampai dia lupa kalau dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang masuk ke dalam restaurant itu.
Akhirnya dengan percaya diri, dia pun melangkahkan kakinya memasuki restaurant itu. Namun saat dia hendak mendongakkan kepala mencari pria yang membuat janji itu, dia dicegat oleh seorang wanita yang Sindy tebak adalah seorang waiters restaurant itu.
“Maaf, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya waiters itu menatap Sindy sedikit aneh. Aneh mungkin, karena Sindy tidak terlihat seperti ibu-ibu yang memiliki anak, tetapi menggendong anak.
“Saya ingin bertemu dengan seseorang yang menyuruh saya untuk datang kemari.” ucap Sindy.
“Nama nyonya siapa?” tanya waiters itu.
“Sindy.” jawab Sindy membuat waiters itu tertegun.
“Ah, nona. Mari, silahkan. Sir Derico sudah menunggu anda.” ucap waiters itu menuntun Sindy menuju pria yang baru saja Sindy tahu namanya.
Mereka pun berjalan menuju tempat yang sudah di booking oleh pria yang bernama Derico itu. Sindy cukup takjub dengan interior yang dimiliki oleh restaurant itu. Dia juga tertegun sejenak. Bagaimana membayar makan malam mereka? Bisa jadi harga satu porsi sama dengan setengah dari gajinya.
“Silahkan, nona.” ucap waiters itu membuat Sindy dan Derico sama-sama mengalihkan pandangan.