Kesempatan melihat latihan akhirnya mempunyai waktu yang jelas. Peter mengirim rincian kepada Sabelle sebelum memberi tahu Shalter: tempat yang dipakai, siapa yang bekerja di dalam, lama kunjungan yang mungkin dilakukan, serta bagian yang tidak memerlukan pengambilan gambar. Itu tetap ruang kerja dengan alat serta orang lain, bukan tempat yang dapat diserahkan sepenuhnya kepada seorang anak hanya karena ayahnya bernyanyi di sana.
Sabelle menanyakan beberapa hal, kemudian memeriksa kesesuaiannya dengan kegiatan Shalter. Ia memilih menemani dan mempunyai cara pulang sendiri bila anak merasa tidak nyaman. Tidak ada kewajiban menghadiri seluruh latihan. Setelah jawaban jelas, mereka membicarakan undangan kepada putranya. Shalter menatap Peter melalui panggilan, seolah perlu memastikan kali ini bukan kemungkinan yang masih menunggu banyak orang mengatakan boleh.
'Sudah ada waktunya?' tanyanya.
'Sudah. Kalau kamu mau datang setelah kita membicarakan caranya.'
Anak itu segera mengatakan mau, lalu mengajukan pertanyaan tentang tempat duduk dan apakah bunyinya keras. Peter menjelaskan sesuai pengaturan yang telah diperiksa. Shalter boleh keluar sebentar atau mengakhiri kunjungan. Tidak ada alasan memaksanya bertahan demi menunjukkan dirinya penggemar yang baik. Sabelle menambahkan bahwa mereka akan mengikuti petunjuk orang yang bertugas, termasuk mengenai bagian yang tidak boleh disentuh.
Pada hari kunjungan, Shalter membawa barang seperlunya, bukan hadiah yang harus diberikan kepada Daddy sebelum masuk. Sabelle memastikan waktu kedatangan, kemudian menemani putranya melalui pintu yang sudah disepakati. Penghubung menyambut singkat dan memperkenalkan orang yang membantu pengaturan. Tidak ada sapaan keras yang mengumumkan hubungan mereka kepada seluruh gedung.
Peter datang dari bagian latihan, tersenyum ketika melihat Shalter berdiri dekat ibunya. Ia tidak mengangkat anak itu tanpa bertanya. Setelah sapaan singkat, ia menunjukkan tempat duduk serta jalur keluar yang akan dipakai bila perlu jeda. Shalter memandang alat-alat dengan mata lebar, lalu bertanya siapa yang memainkan bagian musik yang biasanya hanya didengarnya dari rekaman.
Seorang pemusik menjelaskan singkat sebelum kembali memeriksa alat. Peter menunggu anak selesai bertanya, lalu mengingatkan bahwa orang-orang di sana juga perlu bekerja. Shalter mengangguk dan duduk. Sabelle memilih kursi di dekatnya, meletakkan tas di tempat yang tidak menghalangi, lalu melihat Peter kembali ke posisinya. Untuk beberapa saat ia merasa berada di tepi kehidupan yang dahulu selalu mengambil lelaki itu menjauh.
Latihan dimulai dengan pembicaraan teknis yang tidak semuanya dipahami Shalter. Ada bagian diulang karena masuk terlalu cepat, ada bunyi yang diperiksa, dan ada jeda ketika Peter meminta mencoba kembali. Anak itu menoleh kepada ibunya, heran bahwa bernyanyi tidak selalu berlangsung sekali dari awal sampai akhir. Sabelle berbisik singkat bahwa mereka sedang berlatih, kemudian membiarkan ia memperhatikan sendiri.
Ketika akhirnya satu lagu dinyanyikan lebih utuh, Shalter duduk tegak. Ia mengenali suara yang pernah membuatnya tenang sebelum tidur, sekaligus suara dari layar yang dahulu dimatikan Mommy ketika terlalu menyakitkan. Tidak ada lirik yang diminta dihafalkannya. Ia boleh hanya mendengar, menggoyangkan kaki sedikit, lalu tersenyum ketika Daddy sempat memandang ke arahnya tanpa menghentikan pekerjaan orang lain.
Sabelle merasakan mata mulai panas. Peter memang dapat membuat ruangan mendengarkan. Dahulu kemampuan tersebut sering bercampur dengan harapannya bahwa orang yang dapat menyampaikan perasaan melalui lagu tentu akan memahami kesepian di rumah. Kini ia tahu kedua hal tidak otomatis sama. Ia dapat menghargai suara itu tanpa menjadikannya jawaban atas pernikahan mereka.
Pada jeda yang sudah diatur, Peter mendekat dan menanyakan bagaimana bunyinya bagi Shalter. Anak itu mengatakan menyukai bagian tertentu, lalu menambahkan bahwa ia ingin keluar sebentar karena perlu bergerak. Peter menerima tanpa tampak kecewa. Sabelle menemaninya ke tempat yang diperbolehkan, memberi kesempatan minum serta beristirahat. Tidak ada orang mengikuti untuk merekam percakapan keluarga di luar ruang latihan.
'Daddy benar-benar nyanyi lama,' kata Shalter.
'Itu pekerjaannya. Kamu tidak harus menunggu sampai semua pekerjaannya selesai.'
'Aku mau dengar sebentar lagi, Mommy. Habis itu kita pulang.'
Mereka kembali sesuai waktu yang diperbolehkan, mendengarkan bagian berikut, lalu bersiap pergi sebelum latihan berakhir. Peter mendapat kesempatan berpamitan pada jeda yang telah diperiksa. Ia tidak meminta Shalter tinggal supaya dapat berfoto bersama alat musik. Ketika seseorang menanyakan apakah keluarga menginginkan gambar kenangan, Sabelle menolak dengan sopan. Peter mendukung jawaban itu, tidak menjadikannya kesedihan baru yang harus dibujuk.
Shalter meminta memeluk ayahnya sebelum pulang. Pelukan diberikan singkat, kemudian anak itu mundur sendiri dan mengatakan kini benar-benar pernah melihat Daddy menyanyi lagi. Peter tersenyum, menanyakan apakah ingin membicarakan bagian yang disukai pada panggilan berikut. Anak itu mengangguk. Mereka tidak membuat janji baru yang besar ketika satu keinginan lama baru saja terlaksana.
Sebelum menjauh, Shalter menunjuk gitar dan bertanya mengapa ada bekas pada salah satu sisinya. Peter menunjukkan dari jarak yang tidak mengganggu alat lain, mengatakan benda yang sering dipakai dapat mempunyai tanda. Ia tidak membiarkan anak mengambilnya tanpa persiapan, tetapi menjawab pertanyaan mengenai senar yang tampak berbeda. Shalter menghitung sebentar dengan telunjuk di udara, lalu bertanya apakah salah menekan dapat membuat lagu ikut salah. Peter tertawa dan mengakui bahwa itulah salah satu alasan ia perlu berlatih. Anak itu tampak puas mengetahui Daddy juga harus mengulang bagian yang belum berhasil.
Dalam perjalanan pulang, Shalter menceritakan bunyi yang ternyata dibuat orang lain, bagian yang harus diulang, serta kursi yang menurutnya terlalu membuat kaki menggantung. Sabelle mendengarkan semuanya, termasuk keluhan kecil. Pengalaman yang berarti tidak perlu diceritakan sebagai sesuatu yang sempurna. Putranya telah melihat ayah bekerja dan tetap mempunyai hak lelah, penasaran, serta ingin pulang.
Peter kembali melanjutkan latihan setelah mereka pergi. Tidak ada unggahan keluarga dari pengelola pada malam itu. Sabelle menyimpan rincian kunjungan tanpa membuka komentar untuk mengetahui apakah orang lain akan menyebutnya kesempatan berharga. Bagi Shalter, yang penting lebih sederhana: Daddy mengingat permintaannya, memberi waktu yang nyata, dan membiarkannya menikmati lagu tanpa harus menjadi bagian pertunjukan.