Peter menemukan foto lama ketika merapikan salinan gambar yang ingin disimpan pribadi. Shalter masih kecil pada foto tersebut, wajahnya menghadap sesuatu di luar jangkauan kamera. Tidak ada keterangan tentang Disneyland. Namun Peter teringat percakapan sebelum meninggalkan rumah, jari kelingking yang dikaitkan, serta janji yang mudah diberikan ketika ia belum perlu menyediakan waktu untuk menepatinya.
Selama pertemuan yang mulai teratur, janji itu tidak pernah sungguh diwujudkan. Ia telah bermain, menelepon, menjemput, dan memberi kesempatan Shalter melihat latihan menyanyi. Semua mempunyai tempat sendiri, tetapi tidak boleh dihitung sebagai pengganti sesuatu yang pernah disebut dengan jelas. Disneyland tetap menjadi janji lama yang belum selesai, bukan hal yang hilang hanya karena anak jarang menanyakannya lagi.
Ia tidak langsung menelepon putranya membawa kabar gembira. Pertama-tama ia memeriksa kemungkinan waktu bersama Sabelle. Ia menjelaskan bahwa ingin membicarakan perjalanan ayah dan anak untuk memenuhi janji lama, tetapi belum menyebutkannya kepada Shalter. Tidak ada maksud mengundang mantan istrinya sebagai keluarga yang kembali bersama. Izin serta pengaturan perlu dibahas sebelum anak menerima harapan baru.
Sabelle membaca pesan itu dengan perasaan yang tidak sederhana. Ia ingat bagaimana dahulu menjelaskan kepergian Daddy sebagai usaha mengumpulkan uang untuk perjalanan, karena belum sanggup mengucapkan kenyataan yang lebih berat. Kalimat tersebut pernah membuatnya merasa dapat melindungi putra, tetapi juga membuat anak menunggu sesuatu yang tidak memiliki tanggal. Ia tidak ingin kesalahan itu diulang melalui niat yang sekarang terdengar lebih baik.
Mereka berbicara pada waktu ketika Shalter tidak berada di dekat. Peter mengatakan belum mempunyai pemesanan atau kejutan yang telanjur dibayar. Ia ingin memeriksa jadwal anak, waktu kerja, durasi yang sesuai, serta kebutuhan komunikasi. Jika Sabelle tidak setuju pada pilihan awal, mereka dapat mencari bentuk lain tanpa memberi tahu anak seolah ibunya penyebab perjalanan batal.
'Dia perlu boleh memilih mau atau belum,' kata Sabelle. 'Bukan diberi tahu semua sudah disiapkan lalu merasa harus senang.'
'Aku setuju.'
Mereka meninjau waktu yang mungkin, memastikan tidak mengambil kegiatan penting sekolah, serta menentukan cara membicarakan perubahan bila terjadi sesuatu. Peter akan menjadi orang yang mendampingi sepanjang perjalanan, bukan menitipkan Shalter kepada orang kerja sementara dirinya menerima undangan. Sabelle meminta informasi tempat singgah, cara menghubungi, serta rencana pulang. Mereka tidak menjadikan pengaturan itu alasan membuka seluruh kegiatan pribadi masing-masing.
Setelah ada pilihan yang cukup jelas dan persetujuan awal, Peter berbicara kepada Shalter. Ia menyebut janji Disneyland yang pernah diberikan ketika anak masih lebih kecil. Ia mengatakan janji tersebut belum ditepati dan dirinya ingin menyediakan waktu untuk melakukannya, bila Shalter menginginkan. Tidak ada kalimat bahwa Daddy sekarang pantas mendapat kepercayaan karena telah mengirim uang atau mengakui keluarga di depan media.
Shalter memandangnya melalui panggilan cukup lama. Ia bertanya apakah Mommy juga pergi. Peter menjawab rencana yang sedang dibicarakan adalah waktu berdua sebagai ayah dan anak, dengan persetujuan serta pengaturan bersama Mommy. Ia tidak menambahkan harapan bahwa suatu saat mereka mungkin berangkat bertiga lagi. Perjalanan itu bukan cara menyembunyikan keputusan perpisahan di balik nama liburan keluarga.
'Kalau aku mau, kapan?'
Peter menyebut pilihan waktu yang sudah diperiksa, kemudian menjelaskan mana yang masih perlu diselesaikan sebelum dapat dipastikan. Ia tidak meminta anak menyimpan rahasia dari ibunya supaya kejutan lebih menyenangkan. Shalter boleh menanyakan hal yang sama kepada Mommy dan mendapatkan jawaban yang sejalan. Jika belum ingin menjawab, mereka dapat memberinya waktu.
'Aku ingat Daddy janji pakai jari,' kata Shalter.
'Aku juga ingat. Aku terlambat menepatinya.'
'Dulu aku nunggu.'
Peter menerima kalimat tersebut tanpa menyuruh anak melihat masa sekarang saja. Ia mengatakan tahu dirinya membuat Shalter menunggu, dan perjalanan nanti tidak mengubah bahwa hal itu pernah terjadi. Anak tidak harus berhenti marah agar boleh ikut. Ia dapat membicarakan pertanyaannya lebih dahulu sebelum memilih apakah ingin berangkat.
Setelah panggilan, Shalter menemui Sabelle dan meminta memastikan dirinya tidak akan ditinggal di tempat ramai saat Daddy bekerja. Ibunya mengatakan mereka sedang membicarakan pengaturan yang berbeda dari perjalanan kerja. Daddy mendampingi, informasi akan diperiksa, dan anak dapat menghubunginya. Ia tidak memberikan jaminan dunia tidak mempunyai masalah. Ia memberikan rencana yang dapat dipahami dan hak bertanya bila sesuatu terasa tidak sesuai.
Sore itu Shalter menggambar sesuatu yang menurutnya ingin dilihat, lalu mencoretnya karena belum yakin. Sabelle tidak menyebutnya terlalu besar untuk begitu senang. Ia juga tidak mengirim gambar kepada Peter sebagai bukti semua keraguan sudah hilang. Anak sedang memikirkan sebuah perjalanan yang bercampur dengan penantian lama. Ia boleh bersemangat pada satu menit dan kembali bertanya pada menit berikutnya.
Peter memeriksa kebutuhan nyata setelah menerima kabar bahwa Shalter tertarik dan ingin melanjutkan pembicaraan. Ia mengatur waktu kerja, memastikan tidak menyisipkan wawancara keluarga, serta menyiapkan rincian untuk ditinjau bersama Sabelle. Tidak ada materi promosi yang menyebut anak sebagai tamu istimewa. Janji kepada putranya tidak perlu menjadi kabar yang dibeli dengan perhatian orang lain.
Ia juga menanyakan apakah anak masih ingin membawa benda tertentu agar merasa nyaman ketika beristirahat. Sabelle meminta hal tersebut dibicarakan langsung dengan Shalter, kemudian diperiksa bersama agar barang penting tidak tertinggal. Peter mencatat, menyadari pengetahuan tentang putranya tidak berhenti pada permainan yang mereka nikmati. Ada kebiasaan, rasa lelah, serta kebutuhan kecil yang selama ini lebih diketahui ibunya. Ia perlu belajar menanyakan tanpa menyerahkan seluruh persiapan kembali kepada Sabelle. Perjalanan yang dijanjikannya juga berarti mengambil bagian pekerjaan yang membuat perjalanan dapat dijalani.
Malamnya, sebelum tidur, Shalter mengangkat kelingkingnya sendiri dan memandang sebentar. Sabelle melihat tanpa memaksa percakapan. Anak itu kemudian bertanya apakah boleh menyiapkan daftar barang meskipun belum semua selesai dipastikan. Ia mengatakan boleh, selama mereka membedakan keinginan dengan rencana yang sudah pasti. Kertas baru diletakkan di meja. Kali ini, sebelum sebuah janji berubah menjadi hari yang ditunggu, ada orang dewasa yang sedang mengerjakan langkah agar hari tersebut benar-benar datang.