Peter berada di pintu sebelum waktu yang disepakati, menunggu sampai Sabelle membukakan. Shalter sudah memakai sepatu dan memegang daftar yang semalam diperiksa. Untuk beberapa saat anak itu hanya menatap ayahnya, lalu mengatakan Daddy benar-benar datang. Peter menjawab ya, hari perjalanan mereka telah tiba. Ia tidak menambahkan lelucon mengenai siapa yang lebih tidak sabar, karena kalimat putranya membawa penantian lebih panjang daripada satu malam.
Mereka memeriksa barang, informasi yang diperlukan, serta waktu komunikasi dengan Mommy. Sabelle menanyakan satu kebutuhan terakhir kepada anak, lalu menerima pelukannya tanpa meminta ia berjanji tidak terlalu merindukan rumah. Shalter boleh menelepon bila ingin. Ia juga boleh menikmati waktu bersama Daddy tanpa mengirim kabar setiap kali merasa senang untuk membuktikan Mommy tidak ditinggalkan.
Perjalanan berlangsung dengan percakapan yang kadang ramai, kadang berhenti karena Shalter memilih melihat keluar. Peter tidak mengisi seluruh waktu dengan cerita pekerjaannya. Ia mendengarkan rencana yang berulang kali berubah dalam mulut anak: ingin melihat ini dahulu, mungkin itu, lalu bertanya apakah masih sempat istirahat. Mereka akan mengikuti hal yang memang dapat dilakukan, bukan mengejar daftar sampai tidak seorang pun menikmati.
Ketika tiba di Disneyland, Shalter berhenti cukup lama sebelum berjalan lagi. Tempat yang dahulu hanya disebut dalam janji kini berada di depannya. Peter memegang barang dan menunggu, membiarkan putranya melihat tanpa segera diarahkan berdiri untuk foto. Ia tidak ingin kenangan pertama menjadi perintah tersenyum supaya orang di rumah tahu semuanya berhasil.
'Daddy,' kata Shalter pelan. 'Kita sudah sampai.'
'Sudah. Kita masuk bersama.'
Mereka mengikuti pengaturan masuk yang sudah disiapkan dan petunjuk di tempat. Peter menjaga perhatian pada anak, bukan pada layar yang terus menawarkan kabar kerja. Pesan pekerjaan yang tidak mendesak ditangani orang yang telah ditugaskan. Telepon tetap dapat digunakan untuk kebutuhan perjalanan serta menghubungi Sabelle. Ia tidak perlu menghilangkan alat komunikasi untuk membuktikan dirinya hadir; ia perlu memilih penggunaannya dengan benar.
Shalter memilih kegiatan pertama, lalu berubah pikiran ketika melihat keadaan di depannya. Peter menerima tanpa mengatakan kesempatan itu terlalu mahal untuk disia-siakan. Mereka melihat pilihan lain dan bertanya kepada petugas bila perlu. Ada waktu menunggu yang membuat anak bosan. Ada langkah yang terlalu cepat sehingga Peter perlu memperlambat. Liburan tersebut tidak berlangsung seperti gambar yang membuat semua orang selalu tersenyum.
Namun di antara antrean serta jeda, Shalter tertawa dengan suara yang bebas. Ia menunjuk sesuatu yang ingin dilihat lagi, menarik perhatian ayahnya, kemudian memastikan Daddy benar-benar sedang memandang arah yang sama. Peter menjawab pertanyaan, mengakui ketika tidak tahu, dan berhenti untuk mencari keterangan alih-alih mengarang supaya tampak memahami semua hal.
Menjelang waktu makan, anak mulai mudah kesal. Peter hampir mengajaknya melakukan satu hal lagi sebelum berhenti, lalu melihat cara Shalter memegang tas. Mereka memilih beristirahat. Setelah duduk dan makan, sebagian kemarahan kecil mereda tanpa ceramah panjang. Shalter mengaku lelah tetapi takut melewatkan sesuatu. Peter mengatakan tidak semua hal harus dilakukan hari itu agar perjalanan tetap berarti.
'Kalau kita berhenti, Daddy tidak kecewa?'
'Tidak. Aku datang bersamamu, bukan untuk menyelesaikan semua tempat.'
Sesudah beristirahat, Shalter ingin berbicara kepada Mommy. Peter membantu menghubungi tanpa meminta percakapan dibuat singkat supaya waktunya tidak diambil. Anak bercerita meloncat-loncat, menyebut yang menyenangkan dan yang membuatnya harus menunggu. Sabelle mendengarkan, bertanya apakah sudah makan, kemudian mengatakan senang mendengar ceritanya. Ia tidak meminta membuktikan kebahagiaan melalui gambar yang harus segera dikirim.
Di toko, setelah panggilan berakhir, Sabelle kembali memeriksa rangkaian bersama Lina. Ada rasa kehilangan karena dirinya tidak berada pada hari yang dahulu pernah dibayangkan bersama. Ada pula kelegaan mengetahui janji kepada putranya benar-benar dilaksanakan. Ia membiarkan kedua perasaan itu ada, lalu meneruskan pekerjaan yang menjadi bagiannya. Perjalanan ayah dan anak tidak perlu menjadi kekalahan bagi ibu yang tidak ikut.
Peter dan Shalter melanjutkan kegiatan setelah tenaga kembali cukup. Ketika seseorang mengenalinya dan meminta foto, Peter menolak dengan sopan karena sedang mendampingi anak. Ia tidak memperkenalkan Shalter untuk membuat penolakan terdengar lebih menyentuh. Mereka bergerak kembali sesuai rencana, tanpa mengubah penampilan keluarga menjadi sesuatu yang harus diberikan kepada orang lain di tempat ramai.
Menjelang akhir kunjungan, Shalter memilih satu benda kecil sebagai kenangan dalam batas yang sudah dibicarakan. Ia lama membandingkan, kemudian menerima bahwa tidak semua keinginan harus dibeli. Peter membayar pilihan yang disepakati, memastikan barang tersimpan, lalu menanyakan apakah ingin foto pribadi bersama. Anak itu mengatakan mau. Mereka mengambilnya untuk disimpan, bukan untuk diunggah sebagai bukti bahwa seorang ayah akhirnya menepati satu janji.
Malamnya, setelah kebutuhan istirahat selesai di tempat singgah sesuai pengaturan, Shalter membuka buku dan menulis beberapa kata yang ingin diingat. Peter duduk dekat tanpa membacanya diam-diam. Anak itu akhirnya memperlihatkan gambar kecil yang sulit dikenali, lalu menjelaskan dengan sangat serius. Ayahnya mendengarkan sampai cerita selesai, sebelum membantu menyimpan barang untuk perjalanan pulang sesuai waktu yang telah diketahui.
'Aku senang hari ini,' ujar Shalter ketika hampir tidur.
'Aku juga senang bersamamu.'
'Besok Daddy masih ada waktu aku bangun?'
'Masih. Kita pulang sesuai rencana, dan aku akan membangunkanmu kalau sudah waktunya.'
Shalter menyerahkan buku agar diletakkan dekat tas, lalu menarik selimut. Ia meminta Daddy tidak membetulkan gambar yang menurutnya tampak miring. Peter mengatakan gambar itu milik Shalter dan akan disimpan seperti yang dibuatnya. Anak tersebut tersenyum mengantuk. Hari yang begitu lama dibayangkan akhirnya meninggalkan jejak yang boleh tidak sempurna, tetapi sungguh dialaminya bersama ayah.
Peter memadamkan lampu setelah memastikan putranya nyaman. Tidak ada panggung yang perlu ditaklukkan, tidak ada tepuk tangan untuk sebuah janji yang terlambat bertahun-tahun. Hanya napas anak yang mulai teratur dan barang perjalanan yang menunggu pagi. Kali ini, ketika Shalter bangun, ayahnya tidak akan menjadi pertanyaan yang ditinggalkan kepada Mommy. Ia berada di sana untuk menjalani sisa perjalanan, termasuk jalan pulang yang sama pentingnya dengan hari yang akhirnya datang.