Sean adalah seseorang yang berhati lembut, melihat bagaimana Mike seperti ini, dirinya juga sedih. Tangan kanannya menyentuh dadanya, Sean bingung karena jantungnya akan berdetak cepat setiap dia melihat atau bersama Mike.
'Mungkin karena ini adalah milik istri anda Wang' batin Sean kembali dan tersenyum lirih.
Membangunkan Mike yang yang masih tidak bergerak. Sean menyentuh tangan Mike, setelah melepaskan headset.
"Kita sudah sampai"
Tidak ada jawaban.
Sean tersenyum, Mike tertidur nyenyak. Sean menepuk pelan tangan Mike kembali, Sean dibuat kaget saat Mike menangkap tangannya dan menggenggam nya erat. Jantung Sean berdetak semakin cepat, membuat Sean tanpa sadar menahan napas.
"Bella..." ucap Mike pelan.
Mendengar itu Sean tidak mengerti apa yang ia rasakan, jantungnya berdetak cepat, tapi ia tidak suka apa yang ia dengar, Sean merasa tidak nyaman. Menghela napas, Sean harus memahami posisi nya, ia mengguncang tubuh Mike pelan sambil memanggilnya, saat Mike bangun. Mike sadar telah menggenggam tangan Sean dan segera melepasnya. Keduanya berpura-pura tidak terjadi apa pun.
Melihat Sean mengeluarkan kursi roda, Mike tidak menyangka, ia kira ia harus latihan berjalan.
"Jika dengan tongkat, itu akan berlebihan jika harus sambil berbelanja. Saya ingin anda menikmati suasana luar. Dan saya akan tetap membawa tongkat jika anda nanti ingin berjalan" Mike tidak bertanya atau meminta, tapi ia akui Sean sangat mempertimbangkan keadaannya.
Mike hanya diam, ia mendengar bagaimana Sean mencoba berbicara dengannya, tapi Mike memilih untuk diam saja, karena memang sifat alami Mike yang pendiam dan dingin, terlebih suasana hatinya memang sedang berduka, membuat Mike terkesan semakin dingin dan tak tersentuh. Sedangkan Sean mengerti bagaimana sifat Mike, jadi ia memilih tidak terlalu mengambil hati.
Mereka berkeliling dengan Sean yang menaruh keranjang belanjaan pada pangkuan Mike. Sedangkan satu lagi ia menggunakan tas belanja di lengannya. Mike jujur tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, meski yatim piatu, ia memang sudah kaya sejak awal. Jika berbelanja akan ada orang yang melakukannya untuknya, sedangkan meski mendiang istrinya dari panti asuhan, Mike selalu mengusahakan agar Bella tidak kesulitan, jadi selama mereka berpacaran terlebih menikah Mike menyediakan semuanya untuk istrinya. Mike tidak kekurangan pelayan dan asisten pribadi.
Mike tidak protes saat Sean mengajak nya berkeliling dan menunjukkan banyak hal. Mike tidak berharap banyak, namun Mike akui bahwa perhatiannya sedikit teralih kan. Tapi ia akan sedih jika melihat pasangan yang sedang berbelanja bersama. Melihat itu Mike sadar bagaimana Sean akan berhenti dan tiba-tiba diam di hadapannya, berpura-pura sibuk memilih apa pun yang ada di rak dan terkadang bertanya kepada Mike, berharap mengalihkan perhatian Mike.
2 jam Sean memutuskan sudah saatnya mereka membayar. Sean membeli bahan makanan, sayuran, dan juga bahan kue. Ya Sean terampil dalam memasak atau pun membuat kue. Hal tersebut karena sakit jantungnya, membuat Sean tidak memiliki teman dan menghabiskan waktunya di rumah. Jadi untuk menghilangkan jenuh nya, Sean belajar apa pun, dari belajar bahasa asing, menjahit, memasak, design, merajut dan banyak lagi. Bagaimana pun 28 tahun hidupnya dia habiskan di rumah sakit atau di rumah.
Sebelum pulang, Sean mengajak Mike untuk pergi ke taman. Mike hanya mengikuti Sean tanpa berbicara, karena Mike menyadari niat baik Sean. Suasana taman tidak begitu ramai. Mungkin karena ini bukan hari libur. Menikmati matahari sore, Sean bahkan secara diam-diam menuntun Mike ke arah ayunan. Membuat Mike berfikir entah kapan terakhir kali ia main ayunan.
Melihat seekor anjing berjenis Golden Retriever besar menghampiri mereka, Sean terlihat sangat bersemangat dan segera mengelus nya.
“Mike…… lihatlah!!! bukankah dia sangat lucu” ucap Sean, ia bertanya kepada Mike, tapi terlihat tidak memerlukan jawaban Mike. Mike memperhatikan interaksi Sean dan anjing besar itu. Mike yakin bahwa mata Sean terlihat penuh bintang.
Sang pemilik anjing, seorang perempuan dengan pakaian olah raga ketat yang membalut tubuhnya sempurna, terlihat berlari di belakangnya.
“Ah…. Bobby~ kau di sini!” ujar perempuan tersebut. Ia menegur sang anjing, tapi matanya tidak lepas dari Mike.
“Maaf mengganggu kalian, dan terima kasih, anjing ku terkadang suka berlarian”
Mike mengerutkan kening nya, tapi tetap diam.
“Tidak apa-apa… ia anjing yang lucu” ujar Sean, kembali menaruh perhatiannya kepada anjing yang sedang berusaha memeluknya.
“Aku tidak pernah melihat kalian di sini. Oh…. namaku Diana” perempuan itu tersenyum manis, rambut pirang nya terlihat semakin pirang di bawah sinar matahari sore. Bahkan kulit coklat nya terlihat mengkilap.
“Ini kedua kalinya aku datang kemari, dan ini pertama kalinya bagi Mike. Aku Sean” Sean tersenyum manis.
“Ah…. benarkah? Kalian harus sering kemari, ini tempat yang bagus. Oh…. apa yang terjadi denganmu?” Sejak awal Diana selalu menaruh perhatiannya kepada Mike. Bagaimana pun sosok Mike sangatlah tampan dan menarik perhatian, ia tinggi, memiliki rambut pirang gelap, mata biru keabu-abuan, hidung mancung dan garis wajah tegas. Orang akan mengira jika mereka melihat model.
Mike tetap tidak menjawab. Merasa suasana akan canggung dan melihat Mike yang terlihat tidak nyaman, Sean yang memang cukup peka, berdiri menutupi Mike.
“Dia terjatuh” balas Sean, lalu melihat jam tangannya. “Mike! Kita harus segera kembali, aku lupa ibuku ingin membeli kue”
Sean menoleh ke arah Mike, mengulurkan tangannya kepada Mike, sembari tersenyum hangat. Mike tidak mengeri, mungkin karena cahaya matahari sore, atau memang karena senyuman Sean, ia merasa terpana dan hangat. Tangannya tanpa sadar bergerak, menggapai Sean.
Memastikan Mike berdiri dengan stabil. Sean mengucapkan selamat tinggal kepada Diana yang terlihat berdiri canggung di sana. Mike tau bahwa gadis itu terlihat cantik, Mike mengira Sean tertarik padanya, tapi siapa yang akan menyangka bahwa sepanjang perjalanan pulang, yang Sean bicarakan adalah anjing nya.
“Mike… kau liat Bobby begitu besar, anjing seperti itu akan sangat nyaman dipeluk”
“Kau harusnya menyentuhnya, bulunya sangat halus dan lembut. Aku penasaran ia menggunakan sampo apa”
“Tapi jika diperhatikan, ia pasti sering ke salon. Bahkan ia begitu wangi”
“Aku pernah melihat anjing jenis itu di YouTube, mereka tidak sebesar itu”
“Apakah ia bisa tambah besar?? jika bisa wow….. itu akan sangat bagus”
Mike jujur cukup membenci orang-orang yang banyak bicara, namun ucapan-ucapan Sean, membuatnya terhibur. Mike tidak buta, dan ia sadar perempuan tadi sengaja menghampiri mereka, dan melepaskan anjing nya. Mike sering mengalaminya, ia bahkan sering di goda oleh pegawainya, atau saat ia hanya makan di restaurant. Ini bukan hal baru, namun Mike tidak pernah peduli. Tapi ia tidak menyangka bahwa Sean terlihat sama sekali tidak peduli. Mike mengingat bagaimana Sean saat menutupinya dari perempuan itu dan bagaimana saat Sean mengulurkan tangannya.
Sampai di rumah Mike, Sean menurunkan Mike dan mengantarkannya ke kamar. Kali ini Mike memilih berjalan sendiri, ia tidak ingin digendong. Mike merasa harga dirinya jatuh jika Sean yang tubuhnya kurus seperti itu membawanya ke atas.
Setelah membereskan barang belanjaan Sean segera memasak, setelah selesai, ia segera pergi ke kamar Mike. Mengetok pintu lalu masuk, di sana Sean dapat melihat Mike yang hanya terdiam dengan pandangan mata kosong. tidak peduli Sean masuk. Sean merasa sedikit sedih, tadi ia merasa bahwa mood Mike sudah lebih baik, namun saat pulang, Mike kembali menjadi boneka hidup.
"Mike…. saya sudah selesai masak, ayo berbilas dulu"
Mike hanya diam.
Sean tersenyum "Saya akan membantu mu berbilas, mari" ujar Sean
Lalu membantu Mike berdiri, Mike tidak menjawab, ia hanya diam namun tetap menurut. Bahu Mike hasil operasi masih belum dapat ia gerakan dengan leluasa, oleh karena itu, Mike perlu bantuan untuk mandi dan berganti pakaian. Menuju kamar mandi Mike hanya diam, membiarkan Sean menyiapkan air panas, lalu mengambil pakaian, sedangkan Mike duduk di salah satu kursi di kamar mandi. Tidak mempedulikan Sean. Matanya jatuh pada skin care sang istri yang masih setia tertata rapi di atas wastafel.
Hati Mike semakin sakit ketika kenangan-kenangannya bersama sang istri masuk ke kepalanya. Sadar akan apa yang dilihat Mike, Sean berusaha mengalihkan perhatian Mike.
“Airnya sudah saya siapkan. Mari saya bantu" Sean mengubah posisi Mike untuk menghadap nya, lalu membuka kemeja Mike perlahan, Mike hanya diam.
"Saya akan mengganti perban di bahu anda dengan yang anti air"
Sean berusaha memberitahu Mike semuanya, agar Mike tidak terkejut atas tindakannya. Dengan telaten Sean mengganti perban Mike
"Katakan sesuatu jika sakit" tambah Sean
"Saya akan melepas perban di kaki anda"
Setelah membantu Mike melepas celananya, Sean mengikatkan handuk kecil pada pinggul Mike. Sebelum membantu Mike melepaskan dalaman nya. Jujur saja Sean merasa sedikit canggung. Ini pertama kali ia membantu seseorang mandi, ini berbeda dengan memandikan anak kecil, tapi Sean berusaha bersikap profesional.
Sean membantu Mike masuk ke bathtub lalu mulai menggosok punggung Mike dengan handuk basah.
"Katakan jika airnya kurang hangat, atau saya menggosok terlalu keras" ujar Sean .
Ia menundukkan kepalanya menggosok punggung Mike setelah menarik ke atas lengan sweater nya. Sean membantu Mike membersihkan punggung, tangan, d**a dan kaki Mike. Sedangkan bagian, perut dan paha Mike menggosok nya sendiri dengan tangan kirinya.
Mike merasa lebih lega setelah dapat mandi, sejak di rumah sakit ia hanya dapat membilas tubuhnya dengan lap. Apalagi cara Sean memandikannya benar-benar unik baginya. Mike hanya berfikir mandi dengan mengegoskan badan dengan sabun, tapi Sean menggunakan handuk basah untuk menggosok nya terlebih dahulu, membilas nya lalu baru menggunakan sabun. Mike tidak pernah mandi seperti ini. Dan ia merasa benar-benar bersih.
Sean meminta Mike bersandar sebelum mulai membantu Mike membasuh rambutnya, jujur saja bagi Mike ia awalnya tidak nyaman, ia tidak pernah dimandikan seseorang, meski ia beberapa kali pernah mandi dengan sang istri, tapi ini berbeda. Mike tidak terlalu suka kontak fisik, tapi ia merasa dirinya tidak dapat melakukan banyak pilihan dengan kondisi nya sekarang. Tapi yang terpenting adalah fakta bahwa Mike tidak membenci sentuhan Sean.
Mike semakin merasa nyaman dan relax, apalagi setelah Sean membantunya membasuh rambutnya, Mike merasa mengantuk, Sean memastikan busa dan air tidak masuk ke mata Mike. Menggosok pelan kepala Mike, beberapa kali memberi pijatan-pijatan halus. Sean pernah ke salon untuk mencuci dan memotong rambut, jadi sedikit banyak, Sean tahu beberapa gerakan dan apa yang harus ia lakukan.
Sean terkekeh melihat Mike seperti tertidur, setelah selesai ia membangunkan Mike untuk meminta Mike mencuci wajahnya, lalu membantu membilas tubuh Mike terakhir.
"Pastikan handuk nya terpasang. Saya akan membuang airnya, lalu membilas anda untuk yang terakhir" ujar Sean.
Ia bergerak dari belakang Mike menuju ke bagian kaki Mike, hendak menarik tutup bathtub, lupa dengan lantai licin akibat sisa sampo, Sean terpeleset dengan punggung mendarat terlebih dahulu.
‘DUGGHHH'
"AKKKHH...." erang Sean.