Ini sudah sebulan berjalan sejak pertemuan Sean dan Mike. Sean sudah keluar dari rumah sakit 2 minggu lalu, dan akan datang ke rumah sakit seminggu sekali untuk Check Up. Sedangkan Mike sudah menjalani operasi keduanya dan sudah pulang sejak kemarin.
Selama itu Sean tetap mengunjungi dan merawat Mike atas permintaan Robert. Sean tidak meminta bayaran. Bagaimana pun, sebanyak apa pun dirinya ingin membayar, dibandingkan dengan apa yang Sean dapatkan, itu tidak akan cukup. Namun Robert tetap bersih keras. ia membayar Sean untuk menjaga dan merawat Mike. Dan di sinilah Sean sekarang. Sean baru sampai di depan rumah Mike Anderson dengan koper nya. Sean tidak dapat memungkiri bahwa ini adalah rumah ter mewah dan terbesar yang pernah ia masuki. Tapi di saat yang bersamaan terasa sangat sepi dan sunyi. Tidak ada pelayan atau bahkan penjaga. Rumah milik Mike memiliki 2 lantai, dan 1 lantai basement. Lengkap dengan kolam berenang dan setengah lapangan basket di bagian belakang. Selain itu masih ada tempat bersantai, tempat BBQ dan lainnya. Ah….. lebih tepatnya inilah yang orang sebut mansion.
Sean melihat Rob membukakan pintu. Memberikan tour sekeliling rumah, dan menyerahkan Sean kertas yang berisi apa yang di suka dan tidak disukai Mike, sebelum akhirnya Robert mengantar Sean ke kamar Mike. Sean benar-benar dibuat kagum dengan isi mansion Mike, ini sejenis Mansion artis-artis yang pernah ia lihat di YouTube.
Masuk ke kamar Mike, membuat Sean lupa menutup mulutnya. kamarnya sangat luas bahkan lebih luas dari ruang tamu di rumahnya. Bahkan ada satu set sofa lengkap dengan TV serta pantry kecil di kamar Mike. Belum lagi design kamar yang terlihat elegan dan mewah.
Sean memandang sekeliling dan dapat melihat foto Mike dan sang istri di sana, masih menggantung di dinding kamar, serta 1 lagi di meja dekat tempat tidur. Mike masih tertidur, jadi ia tidak melihat Sean yang datang.
"aku harus segera pergi ke kantor. anggap saja rumah sendiri. kau bebas menggunakan dapur, dan saat kau ingin istirahat kau bisa melakukannya di kamarmu tepat di sebelah kamar Mike" ujar Robert seraya menunjukkan kamar Sean. dan lagi Sean hanya bisa meneguk ludah. Ia tidak menyangka akan bisa tidur di kamar seperti ini. Ini seperti kamar Hotel. Meski tidak seluas dan se mewah kamar Mike, tapi ini jauh lebih luas dan mewah dari pada kamarnya di rumah.
"Obat Mike ada di atas meja tidurnya, kabari aku perkembangan Mike dan jika terjadi sesuatu juga jangan ragu untuk memberi ku kabar" lanjut Robert yang di iya kan oleh Sean.
"Dan ini, gunakan ini untuk membeli keperluan rumah dan Mike. Kau juga dapat menggunakannya jika ingin membeli sesuatu, tidak perlu sungkan" ujar Robert menyerahkan kartu berwarna hitam. Sean hanya mengangguk sembari menerima kartu kredit dari Rob.
"Rob…. kalau boleh bertanya mengapa sangat sepi di sini? maksudku biasanya rumah sebesar ini bukankah memiliki pelayan?" tanya Sean pelan, ia takut mengatakan sesuatu yang salah
"oiya…. untuk itu, aku meminta mereka datang 3 hari sekali. Hanya di sore hari untuk bersih-bersih, Mike tidak ingin orang lain melihatnya seperti ini, bahkan ia tidak ingin menerima keluarganya yang lain untuk menjenguk nya. Jadi aku mempercayakan Mike padamu. Aku akan sering berkunjung. Kau bisa mengurus makan Mike dan dirimu, aku tidak masalah jika kau menggunakan layanan pesan antar, hanya saja pastikan Mike makan sehat" papar Robert
"Baiklah, aku mengerti" Sean mengangguk
"Jadi kau tidak perlu khawatir untuk membereskan rumah. hanya untuk kamar Mike kau yang bertanggung jawab, aku pergi. Ingat Mike tidak menerima tamu, siapa pun itu " ujar Robert
"baiklah.... hati-hati di jalan" ujar Sean seraya mengantar Robert ke depan.
Sebenarnya Robert tidak mudah dalam mempercayai orang lain, tapi ia memiliki perasaan yang baik kepada Sean, setelah melihat Mike. Robert tau Mike tidak ingin pemuda itu pergi. Mungkin karena merasa dekat dengan Sean berarti dekat dengan sang istri. Karena bagaimana pun jantung sang istri sekarang sudah menjadi jantung Sean juga. Tapi apa pun itu, Mansion Mike memiliki CCTV serta tingkat keamanan yang tinggi. Jadi Rob merasa tenang meninggalkan Mike.
Sementara setelah mengantar Robert, Sean kembali ke kamar Mike dan mengangkat piring kotor lalu mencuci nya. Memperhatikan ke dapur ia sadar perlu membeli bahan makanan lagi, terutama buah-buahan dan sayur. Sean kembali ke atas lalu duduk di sofa kamar dan melihat kertas yang diberikan Robert. Sean mempelajari kebiasaan Mike dan apa yang Mike suka dan tidak. Sean menggelengkan kepala
‘apakah semua orang kaya sangat pemilih seperti ini’ batin nya.
Sean perlahan masuk ke kamar Mike, berfikir jika seandainya Mike bangun dan memerlukan sesuatu, ia dapat membantunya segera..
"Anda sudah bangun?" Sean mendekati Mike, saat melihat Mike telah duduk bersandar.
Sedangkan Mike yang ditanya tidak menjawab. seolah-olah tidak mendengar apa pun. Pandangan matanya masih kosong. Mike sudah dapat berjalan meski masih dengan bantuan tongkat karena kaki kanannya masih di balut. Bahu kanannya yang masih di perban karena operasi terakhirnya juga lebih baik. Tapi Mike juga masih kesulitan untuk melakukan aktivitas biasa seperti mandi dan berganti pakaian.
"Saya akan membeli bahan makanan apakah anda mau ikut? Sekalian mencari udara segar" ujar Sean, tersenyum hangat sekaligus merapikan selimut di pangkuan Mike. Mike tidak menjawab, matanya memandang foto pernikahannya dan sang istri di dekat pintu. Sean tidak masalah, ia telah terbiasa dengan sifat dingin Mike. Sean mengambil gelas dan meletakkannya di depan bibir Mike
"Minumlah, anda perlu minum banyak air terutama setelah bangun tidur" ujar Sean masih lembut dan dengan telaten membantu Mike meminum air. tangan satunya refleks ia taruh di bawah dagu Mike, seandainya ada air tumpah itu tidak membasahi Mike.
"Saya akan bersiap-siap" ujar Sean
Ia tetap berbicara, meski tidak menerima jawaban, menuju kamarnya mengambil jaket lalu turun menyiapkan kursi roda Mike untuk ia taruh di mobil nya. Ya Sean membawa mobil nya sendiri. Meski bukan mobil mewah, Sean bangga dapat memilikinya. Ia membelinya dengan jerih payahnya sendiri, meski ia jarang menggunakannya karena kondisi tubuhnya dahulu.
Setelah selesai dengan persiapan nya, Sean segera ke atas. Menghampiri Mike, Sean melirik sekeliling ruangan mencari lemari dan matanya tertuju pada pintu lain di dalam ruangan
"Saya akan mengambilkan anda jaket, di luar cukup dingin" ujar Sean masih dengan senyumnya dan beranjak menuju ruangan lainnya yang masih di kamar yang sama. Sean terkejut, ini adalah walk in closet yang besarnya hampir sama dengan kamar Mike, sebelah kanan adalah kamar mandi, pintunya tertutup tapi Sean yakin itu kamar mandi sedangkan kirinya adalah butik mewah pribadi. Segala sesuatunya tersusun rapi dan pastinya barang-barang mahal. Sean merasa miskin sekarang.
'Bagaimana Mike bisa menerima kepergian sang istri jika masih seperti ini' batin Sean setelah melihat masih banyak barang istrinya di sana.
Sean segera memilih kan Mike jaket yang terlihat simple namun juga tebal dan nyaman. Setelah itu, Sean segera menghampiri Mike. Mike memandang Sean untuk pertama kalinya semenjak Sean datang tadi.
"Mari berjalan-jalan sejenak, itu akan sangat baik untuk tubuh anda" sembari membantu Mike menggunakan jaket, tetapi Mike tidak beranjak.
"Jangan seperti ini. Dokter juga memberi tau anda untuk melatih kaki anda" Sean menyentuh tangan Mike dan memandang Mike dengan tatapan khawatir. Sean kaget saat melihat Mike menarik tangannya cepat. Sean mencatat dalam benaknya untuk tidak menyentuh Mike jika tidak diperlukan.
"Ayo…" ujar Sean seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dan melihat Mike yang tidak melakukan penolakan, Sean membantu Mike berdiri, menyerahkan tongkatnya dan berdiri di samping Mike untuk menuntunnya. Mereka berhenti di tangga, di saat seperti ini memiliki kamar dilantai atas merupakan hal yang merepotkan. Saat Mike hendak turun ke anak tangga. Sean segera menghentikannya lalu berdiri di hadapan Mike.
Mike memandangnya tidak mengerti.
"Naiklah, saya akan menggendong anda" senyum Sean masih tidak lepas dari wajahnya
"Dokter memang mengatakan anda harus melatih kaki anda, tapi saya rasa akan berlebihan jika naik turun tangga sebanyak ini" ujar Sean.
Mike hendak menolak, matanya memperhatikan punggung kecil di hadapannya yang terlihat meragukan. Apalagi meski Mike semakin kurus, namun tubuh Mike tetap lebih besar dibandingkan Sean. Tapi Sean tidak peduli, ia mengambil tangan Mike dan menaruhnya di bahu lalu menggunakan punggungnya mengangkat Mike.
"Aku bisa sendiri. Apa yang kau lakukan?!" hardik Mike.
Mike tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
"Anda jangan banyak bergerak. Jika tidak kita akan jatuh" ujar Sean tidak mempedulikan teguran Mike. Mau tidak mau, Mike berhenti menolak sembari mengerutkan alis nya, kedua tangan Mike juga memegang tongkat di depan. Setelah sampai di bawah, Sean menurunkan Mike lalu tersenyum sambil berkata
"Bukankah sudah saya katakan saya akan membantu anda, jadi percayakan saja pada saya"
Mike menghela napas dan tetap bisu, namun tetap mengikuti Sean menuju mobil. Mike terdiam sejenak melihat mobil di hadapannya. Ia masih takut untuk naik mobil, bahkan saat pulang dari rumah sakit, ia harus mendapatkan bius agar tetap dapat tenang.
"Apa yang anda pikirkan?" Sean bertanya, namun ia memiliki firasat buruk karena wajah Mike terlihat pucat
"Apa anda masih takut naik mobil?" ujar Sean kembali setelah mengingat sesuatu. Mike akhirnya mengalihkan pandangannya ke Sean. Tapi tidak mengatakan apa pun.
"Anda tunggu sebentar di sini" ujar Sean sebelum masuk lagi ke rumah, dalam sekejap Sean kembali sembari membawa beberapa barang, ia tetap menuntun Mike untuk masuk ke mobil. Setelah Sean ikut masuk, ia dengan telaten membantu Mike menggunakan sabuk pengaman setelah menaruh tongkat di belakang. Sean dapat melihat wajah Mike semakin pucat dan panik, bahkan tubuhnya sedikit bergetar.
"gunakan ini" ujar Sean sembari menggunakan Mike penutup mata, Mike ingin menghentikannya, tapi tangannya dihentikan Sean yang memasang kan headset ke telinga nya.
"a…pa yang kau lakukan" ujar Mike datar dan dingin. Mike tidak dapat melihat
"jika seperti ini, anda tidak perlu merasa takut, karena anda tidak melihat jalan, dan mendengarkan musik adalah pilihan yang baik. nah pegang in…..i" ujar Sean. Mike merasakan tangannya mendekap sesuatu yang lembut.
"Namanya Bobo. Dia adalah boneka kelinci putih kesayangan saya. Saat sedih atau takut, jika memeluknya saya akan merasa lebih tenang. Saya biasanya tidak mengizinkan orang lain menyentuhnya, Tapi anda dapat meminjam nya sebentar” ucap Sean lalu terkekeh pelan.
Mike masih tidak mengganti ekspresi nya, tapi ia tidak berbohong saat merasa lebih baik. Ia merasakan Sean menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum memutar kan musik yang Mike tidak tau apa, tapi itu membantunya tenang.
Tubuh Mike menegang saat merasa mobil dinyalakan, tapi berusaha membuat dirinya nyaman, panik yang tadi telah berangsur hilang, kembali menyerangnya. Sean tersenyum melihat Mike mengeraskan pelukan nya pada Bobo. Lalu salah satu tangan Sean menepuk pelan d**a Mike yang tertutupi selimut, seolah-olah mengisyaratkan Mike untuk tenang. Karena macet, perlu waktu 40 menit agar mereka sampai di tempat tujuan. Sean sudah memarkir mobil nya lalu terdiam sejenak memperhatikan Mike yang terlihat sedang tertidur, gerakan dadanya terlihat teratur.
'Saya akan membantu anda sebaik mungkin. Terima kasih dan maaf' batin Sean.